Water Teapot

Water Teapot
S2 : akal-akalan Juan..


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


"Jadi kamu mau sewain apartemen kamu ?" tanya Juan sambil menurunkan kacamatanya.


"Ngak tau, kalau aku sewain sama Aa Riki, aku tinggal dimana ?" tanya Iis bingung, walaupun Iis sudah sering nginap di apartemen Juan tapi Iis lebih suka diam di apartemennya sendiri disaat-saat tertentu.


"Disini kamar banyak, Yang. Kamar aku masih kosong malah, ranjang aku gede loh... terus kalau kedinginan ada aku yang meluk kamu, kalau kamu mau kelonan tingal nemplok ke aku, terus kalau kamu lagi sakit pinggang gara-gara PMS bisa langsung aku elus-elus punggungnya. Pokoknya paket lengkap deh," promo Juan.


Iis langsung tertawa renyah, Iis sudah tau akal-akalan Juan, Juan ngak bakal nyerah sampai kapan pun buat Iis tinggal di apartemennya dari mulai alasan yang masuk akal sampai alasan yang aneh.


"Tapi..."


"Apa, takut aku 'makan' ?" tanya Juan gemas, sebenernya selama ini Juan benar-benar berjuang untuk tidak memakan Iis, kadang Pertahanan Juan suka jebol, tapi Iis masih suka sadar dan menendangnya dengan sukses bila tangannya sudah merayap kemana-mana.


"Kenapa tau ?" tanya Iis penuh selidik pada Juan sambil menatap Juan lekat-lelat.


"Hahahhaaa... udah aku janji ngak bakal nakal, kamu tidur dikamar tamu aja, ngak usah dikamar aku, gimana ? Yang penting kamu disini aja deh," paksa Juan sambil menyelipkan anak rambut Iis kekupingnya.


"Bener ?"


"Iya, janji deh aku ngak nakal, kalau kelepasan juga paling aku ditendang, udah biasa aku mah ditendang kamu, udah kuat...!!" ujar Juan sambil memeluk Iis.


"Ya udah aku telepon Taca deh, eh aku ketempat dia aja deh, katanya ada Aa Riki, Abah saka Kang Rozak," ujar Iis sambil beranjak dari duduknya.


Mendengar nama Kang Rozak Juan langsung siaga, masalahnya Iis memang sudah tidak suka dengan Kang Rozak, tapi kalau Kang Rozak ? Mana Juan tau.


Juan langsung melihat baju yang dipake Iis, kaus putih dan celana jeans panjang, yang jadi masalah kaos putih Iis benar-benar menunjukkan kedua bukit kembar kesayangan Juan dengan indahnya.


"Bentar..." ujar Juan sambil mencium Iis tiba-tiba, Iis kaget mendapatkan serangan tiba-tiba mencoba mundur sedikit, tapi Juan terus menekan bibirnya memaksa Iis membuka bibirnya untuk memberikan akses pada Juan untuk menjelajah bibirnya.


Bibir Juan turun ke leher Iis memberikan bukti kepemilikan dileher Iis, bukan satu tapi Tiga, entah apa maksud dan tujuan Juan.


"Mas..." napas Iis tersenggal saat Juan menghentikan serangannya. Iis dibuat semaput, andai Juan tidak menahan pinggangnya mungkin Iis saat ini sudah terduduk di lantai apartemen.


"Done," ujar Juan puas melihat hasil karyanya dileher Iis, dengan cepat Juan mengambil jaket milik Iis dari gantungan kemudian memasangkan jaketnya pada Iis.


"Done apaan ?" tanya Iis bingung sambil memakai jaket dibantu Juan.


"Ngak bukan apa-apa, yuk kita ketempat Adipati," ujar Juan sambil mendorong Iis keluar dari apartemennya.


•••

__ADS_1


"Hai, Bi Yuli. Taca ada ?" tanya Iis sambil tersenyum manis pada Bi Yuli.


"Ada Neng Iis, Den Juan. Masuk dulu."


Iis dan Juan pun masuk dan langsung disambut Taca dengan perut yang sangat besar.


"Iis, kangen..." ujar Taca sambil memeluk Iis.


"Sama, gede banget perut kamu. Kembar pengantin 'kan?" tanya Iis antusias.


"Iya... iya, kata dokter bulan depan aku ngelahirinnya tapi karena pinggul aku kecil jadi aku harus caesar,"ujar Taca sedih.


"Aku ke Adipati dulu yah," Juan pamit pada Taca dan Iis, Juan mencium pipi Iis kemudian pergi meninggalkan Taca dan Iis.


Taca langsung menarik Iis kedapur, dengan cepat Taca menunjukkan rujak dimejanya. Taca memakan lemon yang di balur bumbu rujak ditambah garam diatasnya, membuat Iis meringis melihatnya.


"Taca, kamu ngak sakit perut ?" tanya Iis sambil mengusap lehernya karena tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.


"Enak tau, mau ?"


"Embung teuing, Taca...!"ujar Iis sambil terus meringis.


(Ngak mau banget)


"Ih enak tau, eh...." Taca tiba-tiba melihat leher Iis, mata Taca membulat.


"Ituu... leher kamu..." ujar Taca sambil menunjuk leher Taca.


"Hah kenapa, kenapa leher aku ?" ujar Iis bingung sambil mengusap-usap lehernya bingung.


"Itu... astaga Juan bikin bukti kepemilikannya banyak banget ada 1,2,3 ada 3, merah banget besok jadi ungu deh," ujar Taca sambil tertawa kecil melihat tanda yang dibuat Juan.


Iis langsung membulatkan matanya, dengan panik Iis mencari sesuatu untuk melihat lehernya, entah itu kaca, botol, sutil aluminium atau apapun. Iis langsung menemukan pantat panci yang lumayan bisa memantulkan refleksi lehernya dengan baik.


"Astaga, Massss...!!!" cicit Iis kesal sambil mengusap-ngusap tandanya. Kepalanya langsung sakit.


"Hahahahaaa.... astaga Iis, Juan nakal yah," kekeh Taca sambil menggigit lemonnya.


Iis yang melihat Taca mengigit lemonnya lagi-lagi bergidik. "Tacaaaa, ngilu liatnya."


"Enak tau.."


Iis langsung bergidik. Iis dengan cepat mencari Juan. Saat mata Iis bertemu dengan manik mata Juan, Iis langsung menunjuk lehernya.


Juan yang sedang berbicara dengan Adipati, Abah dan Aa Riki hanya bisa tersenyum dan menjulurkan lidahnya saat melihat Iis yang menunjuk lehernya dengan tatapan geram.

__ADS_1


"Ihhh... Mas," ujar Iis kesal dengan kelakuan Juan, Iis hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Nyebelin emang si Mas, otaknya bener-bener mesum. Lelah aku Taca..." ujar Iis gemas sambil mengelus dadanya.


"Ya udah mau gimana lagi, resiko kita berdua punya suami dan pacar settingan otaknya sama," kekeh Taca sambil tersenyum manis.


"Tau ah, hmm Taca Aa Riki udah nemu apartemen ?" tanya Iis pada Taca.


"Belum, kenapa ?"


"Ehmm... kalau mau sewa aja apartemen aku, ngak papa heheee. Aku udah ngobrol sama Mas katanya aku boleh tinggal di apartemennya." ujar Iis sambil tersenyum pada Taca.


"Yakin ?" tanya Taca lagi.


"Iya, uangnya lumayan buat. Kamu tau kan ?" ujar Iis sambil tersenyum manis pada Taca.


Taca hanya menganggukan kepalanya mengerti arti dari perkataan Iis. Rahasia yang selalu Iis pendam sendirian. Rahasia yang selalu membuat Iis berhemat dalam segala hal. Taca bersyukur saat ini Iis bersama Juan, walau Iis tidak pernah menggunakan Kartu Kredit yang di berikan oleh Juan. Tapi, Juan selalu mentrasfer uang kerekening Iis, membuat Iis bisa sangat-sangat berhemat dan mampu menyelesaikan masalah Ayahnya di Citeko.


"Oke... aku nanti bilang Aa Riki yah, apartemen kamu juga lumayan gede kan, walau tipe studio tapi posisinya juga strategis," ujar Taca lagi.


"Iya, makasih yah, Taca. Hmmm jangan bilang-bilang Mas yah, kalau Ayah..."


"Iya, ngak akan aku kasih tau Juan. Aku janji."


"Makasih Taca..." ujar Iis sambil memeluk Taca erat.


Taca tiba-tiba menyentuh bukti-bukti kepemilikan yang ada di leher Iis dengan gemas membuat Iis meringis.


"Udah sana kekamar mandi, tutup pake foundation punya aku yang full cover. Sana..." ujar Taca sambil mendorong Iis untuk cepat kekamar mandi.


"Iya, iya... bumil ini cerewet banget beneran, deh..." ujar Iis sambil berjalan ke arah kamar mandi tamu apartemen Taca.


•••


Setiap manusia pasti punya rahasia, setiap manusia pasti punya masalah...


ya iyalah kan situ manusia bukan biji wijen hahahahaa


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2