
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Dimas sini..!” panggil Iis sambil menarik Dimas menjauh dari sink di dapur bersih.
“Apaan?”
“Kamu gimana sih pacaran sama Yaraa?” tanya Iis.
“Hah gimana?”
“Udah ngapain aja sama Yaraa?” tanya Iis.
Pertanyaan Iis langsung membuat Dimas salah tingkah, “Bentar ini maksudnya gimana? Ngapain aja gimana..!”
Iis langsung menepuk kedua tangannya dihadapan Dimas supaya Dimas fokus pada dirinya. “Fokus Dimas Wijaya.”
“Ini udah Fokus Bu Iis,” ujar Dimas.
“Kamu kalau sama Yaraa pacarannya gimana?”
“Yah gitu, nonton-makan-nonton-makan...”
“Nggak bosen?” tanya Iis pada Dimas.
“Banget, bosen pake banget. Mana setiap jalan sama dia aku harus menahan segala hasrat yang ada. Naek mobil aja pelan-pelan, mau ngajak olahraga extreem aja mikir dulu aku, takut dia ketakutan terus mundur teratur,” curhat Dimas.
Dimas yang tidak berpengalaman pacaran dengan anak ABG benar-benar harus banyak-banyak menahan hawa nafsunya. Mana dia takut kalau Dimas menunjukkan sisi liarnya yang ada Yaraa lari tunggang langgang.
“Dimas...!! Dengerin omongan aku yah. Kamu harus jadi diri sendiri dihadapan Yaraa, jangan ditahan-tahan,” ujar Iis sambil menepuk bahu Dimas.
“Tapi kalau Yaraa kabur gimana?” tanya Dimas bingung.
“KEJAR..!”
“Kejar ?” tanya Dimas.
“Iya kejar, liat bang Juan, aku kabur sampe keujung dunia pun tetep dikejar sama Juan. Dari yang tadinya nggak cinta sama sekali sama Abang kamu, sekarang aku kaya dijerat sama dia dan nggak bisa kemana-mana lagi saking cintanya. Jadi tunjukin aja kelakuan Dimas Wijaya yang sebenernya..!” saran Iis sambil kembali menepuk bahu Dimas.
“Tapi, dia masih 18 tahun, aku bahkan belum nyium dia sama sekali, waktu di Bali aku mau nyium dia, dianya kabur..!?”
“Yah, cuman perempuan sinting yang mau dicium sembarangan sama cowo yang bukan pacarnya Dimas,” ujar Iis gemas, oke abaikan kelakuan Taca dengan Adipati.
“Jadi, kalau sekarang aku nyium dia?”
“Aku nggak bisa bilang boleh atau nggak yah, situ pikirin sendiri lah,” ujar Iis lagi.
“Kalau aku buka se...”
“Woi... anak orang..! Kalau mau buka segel nikahin dulu. Sabar..!!” pekik Iis cepat.
“Lah kamu sama Abang...”
“Aku sama Mas Juan buka segel pas bulan madu, Abang kamu hebat bisa menahan hawa nafsu yang ada,” kikik Iis sambil mengingat kejadia-kejadian dimana Iis menendang Juan setiap malamnya kalau Juan sudah mulai tidak bisa dikontrol.
“Wah keren, jadi ini aku harus nunjukkin kelakuan aku?”
__ADS_1
“Iya, bosen kali pacaran gitu-gitu doang,” ujar Iis sambil mengedipkan matanya.
“Iya sih, aku ampe gumoh bulak balik ke bioskop,” ujar Dimas.
“Semoga beruntung Dim, aku doakan Yaraa jodoh kamu. Aku mau pulang dulu yah. Dadah...” ujar Iis sambil pergi meninggalkan Dimas.
•••
Dimas dan Yaraa saat ini sudah perjalanan pulang kerumah Yaraa. Sepanjang jalan Yaraa hanya diam mencoba menelaah perkataan Juan tadi.
Masa sih laki-laki disampingnya ini suka balapan dan olahraga menantang maut. Sekarang aja Dimas cuman ngejalanin mobilnya 40 km/jam. Udah kaya siput mau lahiran. Argh... rasanya Yaraa ingin berteriak keras. Itu tuh gas bukan odading diinjek coba...!
“De, kamu kenapa?” tanya Dimas sambil menatap Yaraa. Ade adalah panggilan sayang Dimas pada Yaraa.
“Nggak papa, cuman mau pulang aja,” jawab Yaraa datar. Sudahlah Yaraa tidak akan percaya dengan omongan Om Juan. Sepertinya Om Juan tukang bual.
“De, kamu bosen?” tanya Dimas lagi.
‘Saking bosennya rasanya ingin kabur ke Timbuktu,’ batin Yaraa sambil menghela napas dan melihat keluar jendela.
“Kak Dimas, buat apa sih beli mobil Ferrari 812 Superstar kalau dijalaninnya paling mentok cuman 60km/jam,” ujar Yaraa sambil menekan tombol didasbor bagian depan kursinya. Dengan cepat Yaraa bisa melihat angka speedometer disana.
“Padahal mobil Kaka ini bisa loh 100km/jam cuman dengan 2,9 detik doang. Mesinnya juga 6000 cc lebih. Kan sayang, kalau cuman dijalanin 60km/jam pake Avanza aja, Kak,” dengus Yaraa.
Dimas kaget dengan perkataan Yaraa, okelah kalau Yaraa tau apa nama mobil dan tipenya. Tapi sejak kapan kekasihnya itu tau spesifikasi mobilnya? Apa jangan-jangan yang dimaksud Iis itu....
Dimas melirik jalan kearah pintu tol dihadapannya. Mungkin bisa dicoba, tapi kalau Yaraa histeris gimana? Ah... bodo dicoba aja.
Dengan tenang Dimas membelokkan mobilnya ke arah jalan tol, Yaraa terdiam melihat Dimas membelokkan mobilnya.
“Rumah Ade disana, Kak,” ujar Yaraa sambil menunjuk jalan yang harusnya mereka datangi.
“Iya tau, De. Tapi kayanya Kaka mau ngelakuin sesuatu,” ujar Dimas sambil masuk kedalam pintu gerbang tol.
Yaraa melirik Dimas, kemudian menatap kedepan lagi. Dimas benar-benar menyalip semua mobil di hadapannya dengan cepat dan tepat. Yaraa sama sekali tidak merasakan gerakan yang menghentak sama sekali, mungkin juga karena akselerasi yang baik dari mobil milik Dimas.
Tiba-tiba dihadapan mereka terdapat kemacetan, sialnya dengan kecepatan itu, seandainya Dimas menginjak rempun pasti Dimas akan menabrak mobil Avanza silver didepannya.
“Damn...!” maki Dimas sambil berusah menginjak remnya, jantungnya bertalu-talu, adrenalinnya langsung berada dititik tertingginya.
‘Sial nabrak ini...!’ batin Dimas.
Yaraa yang juga sama-sama merasakan adrenalinnya berpacu dengan sangat cepat ditambah jantungnya yang menggedor-gedor dadanya, langsung berpikir cepat, ditenggoknya bahu jalan didepannya. Kosong...
“Kaka, bahu jalan kosong, banting stir ke kiri sesuai aba-aba Ade,” jerit Yaraa.
Entah bagaimana tapi naluri Dimas memintanya untuk mempercayai Yaraa. Kecepatan menurun sedikit demi sedikit.
“NAYARAA SEBASTIAN...!” teriak Dimas, mencoba mengingatkan Yaraa kalau dia belum memberikan aba-aba sama sekali.
“Gas, Kak sekarang...!” teriak Yaraa.
Dengan sekali sentak Dimas membelokkan mobilnya ke arah bahu jalan dan menambah kecepatan mobilnya, namun saat melihat apa yang ada didepannya, Dimas tersentak....
Didepannya sekitar 500 meter ada truck yang sedang parkir dan sialnya truck itu membawa besi baja batangan bulat yang panjang. Seketika itu juga Dimas tersentak. Jantungnya menggedor dengan keras, keringat dingin sudah membanjiri telapak tangannya dan dahinya.
Dimas kebingungan mau dibanting kemana mobilnya. Ke kanan? Tidak mungkin mobil dibagian kanan masih berjalan pelan sepelan keong dan tidak mungkin memberikan jalan untuk Dimas. Banting kiri?! Sinting bisa-bisa mobilnya nabrak pohon.
Dimas melirik Yaraa, Dimas takut Yaraa ketakutan atau menutup matanya. Tapi, semuanya salah, Yaraa tampak serius memperhatikan bagian kanan jalan sambil tersenyum.
__ADS_1
‘Sinting, jantung gue udah mau copot. Lah pacar gue malah senyum..!’ batin Dimas sambil kembali fokus ke arah depan.
Napas Dimas sudah tinggal satu satu, sesak bukan main. Jantung Dimas tiba-tiba sudah menari poco-poco didalam rongganya. ‘Tamat riwayat gue...!?’ batin Dimas.
“Sebentar Kak, sebentar....” ujar Yaraa sambil menghitung jarak antara truk didepannya dengan laju mobil disamping kanannya.
300 meter lagi....
“YARAA....!!!” Dimas berteriak keras bahkan hampir membuat gendang telinganya sendiri pecah.
Tuk...
Dimas merasakan tangan Yaraa dipahanya meremasnya. “YARAA...!”
250 meter lagi....
“DAMN YARAA....!!!”
“SEKARANG BANTING STIRNYA KE KANAN DAN GAS...!!!” teriak Yaraa sambil meremas paha Dimas.
Tanpa disuruh dua kali Dimas membanting stirnya ke kanan dengan cepat, menerobos mobil Brio Satya yang sedang berjalan pelan.
Deru mobil Dimas mengangetkan pengemudi Brio, dengan cepat pengemudi Brio menginjak remnya, untungnya dalam keadaan macet membuat mereka tidak menjalankan mobilnya dengan cepat, sehingga terhindar dari tabrakkan.
“‘Kak, bahu jalan kosong...!” ujar Yaraa lagi.
Mendengar perkataan Yaraa, Dimas langsung membanting kembali stirnya ke kiri dan menambah kecepatan mobilnya, kemudian berbelok keluar dari jalan tol.
•••
Saat ini Dimas dan Yaraa ada didepan gerbang pintu masuk rumah Yaraa. Mereka berdua masih mengatur napasnya dan hormon adrenalin masih menyelimuti mereka berdua.
“Tadi itu....” ujar Dimas dan Yaraa berbarengan sambil saling tatap dan mengatur napas.
“Sinting...” ujar Dimas.
“Gila...” ucap Yaraa.
“Tapi, nagih..!” ujar Dimas dan Yaraa berbarengan sambil tertawa.
“Kak...”
Dimas menatap Yaraa dan kaget saat Yaraa meloncat pada dirinya dan memeluknya erat, tatapan mata mereka berdua beradu. Yaraa mendekatkan bibirnya kearah bibir Dimas dan mereka pun saling merekatkan bibirnya dengan lembut.
Dimas mengusap bagian belakang punggung Yaraa, rasanya Dimas ingin berteriak penuh kemenangan, akhirnya dia mendapatkan pelukkan hangat juga dari kekasih kecilnya ini.
•••
Cuman mau ngasih tau harap bersabar sesabar-sabarnya buat Juan jujur.
Karena masalah Juan jujur adalah masalah terakhir dari pasangan JuLiz...
Kaka Gallon ingin bikin Iis berada di titik paling pas buat bikin masalahnya meledak...
Jadi mohon sabar....
spoiler aja yah....
Kalau Juan sama Iis bakal ....................... tapi lewat ......................... terus mereka bakal bahagia selama-lamanya.
__ADS_1
Oke, sip gimana spoilernya? Keren kan ☺️☺️☺️
Ciaooo...