Water Teapot

Water Teapot
Two sweet man


__ADS_3

"Siapa yang nelpon, Is ?" Tanya Juan bingung melihat Iis teriak-teriak.


"Taca, ini anak kenapa sih. Kebanyakan makan kamper atau baygon ?" jawab Iis bingung dengan kelakuan Taca.


"Mungkin kebanyak dicium Adipati kali."


"Kayanya, diciumin mulu ampe dewer deh tuh bibir, hahahahahaaa."


Iis tertawa renyah sambil memasukkan kembali handphonenya kedalam tasnya. Kemudian merenggangkan badannya.


"Ju, nanti di depan belok kanan aja, biar lebih cepet sampai apartemen aku, kalau lewat kiri takut macet."


Mendengar penjelasan Iis, Juan langsung membelokkan mobilnya ke kiri.


"Eh kok kiri ? Macet, Ju."


Juan hanya tersenyum mendengar perkataan Iis. Entah kenapa, semenjak bertemu dengan Iis, Juan sering memikirkan Iis. Seperti saat ini, Juan senang maximal mendengarkan celotehan Iis yang seperti gerbong kereta api. Rasanya sexy mendengarkan Iis berbicara.


"Ngak papa, biar lama."


"Lah, dahlah... emang kagak pegel pantat kamu ? Lama loh macetnya, ada perbaikkan jalan."


"Ngak papa."


"Ih.. aneh jelma, teh. Beuki kana macet."


(Ih.. anah orang tuh. Suka sama kemacetan)


"Artinya apa, Is ?"


"Oh.. artinya kamu baik udah mau nganterin saya," Iis berbohong.


Juan yang percaya cuman bisa mengangukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iis, emang kamu ngak mau punya hubungan sama, saya ?"


"Hah.. hubungan apaan ?" tanya Iis bingung, kenapa semua orang hari ini bikin Iis bingung. Ngak Taca ngak Juan bikin bingung semuanya.


"Hubungan birokrasi," canda Juan.


"Emangnya situ politisi, ngaco ih..."


"Hahahaa.. maksudnya, emang kamu ngak mau jadi pacar, aku ?" tanya Juan lugas. Entah kenapa dia benar-benar ingin menjadikan Iis pacarnya.


"Pak Juan Wijaya, otaknya ngak konslet 'kan ?" Iis kaget dengan pertanyaan Juan, bukan apa-apa mereka baru ketemu 4 kali. Yah, walaupun didalam hati kecil Iis, sedang bersorak sorai karena Iis pun sebenarnya ada rasa pada Juan.


"Hahahaha.. ngak Iis. Otak aku masih bagus."


"Oh sangka konslet gara-gara ngurusin Adipati, hahahahahaaa..."


"Wah, keram otak saya, kalau ngurusin Adipati. Pusing hahahaa."


Iis menatap Juan, tanpa sadar Juan pun menatap Iis, mereka saling bertatapan selama beberapa menit, sampai suara klakson mobil lain membuyarkan semuanya.

__ADS_1


"Maju, Kang," spontan Iis memangil Kang pada Juan, entah kenapa pangilan tersebut meluncur dari mulut Iis.


Juan langsung menjalankan mobilnya.


"Kang ?"


"Eh.. maaf, Kang tuh pangilan adik ke kakanya."


"Oh..."


Juan dan Iis terdiam selama perjalanan, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesampainya di depan lobby apartemen Iis, Adipati menghentikan mobilnya.


"Makasih, Ju."


Juan tiba-tiba berinisiatif membukakan safety belt milik Iis, membuat tubuh mereka hampir tidak berjarak. Iis terdiam, indra penciumannya langsung mencium wangi white musk kesukaannya dari tubuh Juan.


"Is.." panggil Juan sambil menolehkan wajahnya yang berjarak beberapa senti dari wajah Iis.


"Yah.." jantung Iis berdetak kencang saat bertatapan dengan Juan. Tiba-tiba Iis ingin salto ditempat.


"Aku ngak mau jadi Kaka kamu, aku maunya jadi pacar kamu."


Mata Iis langsung membesar, jantungnya copot seketika itu juga. "Nga..ngaco kamu, mah ih...".


Iis langsung mendorong tubuh Juan, kemudian turun dari mobil Juan. "Makasih tumpangannya, Juan. Permisi."


Juan hanya tersenyum melihat Iis yang pergi menjauh.


•••


"Astaga, Amore. Kenapa kamu ada disini ?"


"Aku ngantuk, Di. Mau tidur tapi ngak mau sendirian," rengek Taca sambil mengeratkan pelukkannya.


"Yah, kenapa tadi kamu usir aku."


"Maaf," ujar Taca sambil mengangkat wajahnya, kemudian menatap Adipati.


Adipati yang tadinya mau marah langsung mengurungkan niatnya. Jempol Adipati langsung mengusap bibir Taca dengan lembut. Kemudian Adipat mencium bibir Taca, mengesap manisnya bibir Taca yang sudah menjadi candu sendiri bagi Adipati.


"Masih ngambek ?" Tanya Adipati lagi sambil, mengeser badan Taca kearah kanan.


"Masih tapi dikitttttt..." jawab Taca sambil mengedipkan matanya.


Adipati langsung mengecup bibir Taca, sekesal apapun Adipati pada Taca, Dia tak bisa memarahinya sama sekali. Rasa sayang dan cintanya sudah mengalahkan rasa kesal juga marahnya pada Taca.


"Amore.. jangan gerak-gerak kakinya."


"Kenapa ? Kan enak jadi anget," jawab Taca sambil terus mengesekkan kakinya dengan kaki Adipati.


"Celana aku sesak ini, kalau makin sesak aku ngak bisa puasa."

__ADS_1


"Ihhh... aku kan cuman mau cuddle (pelukkan) doang," ucap Taca geram, sambil mengeratkan pelukkannya, membuat dadanya menekan dada Adipati dengan sempurna.


"Astaga, Taca, kalau kaya gini aku ngak bakal kuat puasa, apalagi sampai penghulu teriak SAH...!" Adipati mengingatkan ucapan Taca tadi.


"Arghhh... kamu nyebelin ah, aku cuman mau cuddle doang, Di."


Adipati langsung mengelus mukanya kesal. Masalahnya, walau cuman cuddle doang, kalau yang cuddlenya Taca beda ceritanya. Rasa-rasanya Adipati ingin merobek baju Taca, dan bermain-main di kedua gunung kembar milik Taca.


"Masalahnya, celana aku sesak ini, kamu bilang aku harus puasa. Ini aku nurut loh, aku puasa, tapi kalau kamu meluk aku kaya gini, puasa aku bisa batal ditempat...!!!"


"Arghh.. kamu nyebelin, ih. Udah ah, aku mau tidur dikamar aja." dengan kesal taca bangkit dari tidurnya.


"Astaga Taca, kamu kenapa sih hari ini," ujar Adipati sambil menarik Taca kembali Kepelukkannya.


"Kamu PMS ?" tebak Adipati karena bingung dengan kelakuan Taca.


"Iyah.. aku lagi PMS, huhuhuhuhuu... pinggang aku sakit. Kepala aku pusing mikirin status hubungan Juan dan Iis, terus kamu nyebelin," rengek Taca kesal.


Adipati langsung menepuk dahinya, ternyata benar omongan Papanya, jangan pernah bikin perkara dengan wanita yang sedang menstruasi, kalau ngak mau kena omel.


"Ya udah, mana yang sakitnya ?" Tanya Adipati sambil memeluk Taca erat.


"Ini.."


"Uh.. sayang sini aku elus yah, disini ?"


Taca hanya bisa mengangukkan kepalanya saat Adipati mulai mengelus pinggangnya dengan lembut, sampai sesekali mencium pucuk kepalanya dengan mesra.


"Nanti, pagi-pagi kamu minta bikinin jamu, yah. Sama Bi Yuli, dia pintar bikin jamu-jamuan. Minta jamu buat redain sakit pinggang kamu, yah."


"Siapa Bi Yuli ?" tanya Taca penasaran.


"Oh, dia assisten rumah tangga aku, nanti juga dia datang jam 7 pagi buat beres-beres apartemen aku."


"Ok..ok..." jawab Taca sambil memberika tanda oke dengan tangan kanannya, Taca terbuai dengan usapan Adipati dipunggungnya, hingga tanpa sadar Taca sudah tertidur diatas badan Adipati.


Adipati yang sadar bila Taca sudah tidur, kemudian menghentikan elusannya dan ikut tidur.


•••


Hahahhaaa Juan tipe-tipe laki-laki sabar ngak banyak omong tapi langsung ke intinya.


Kalau Adipati tipe-tipe otak mesum


Eh coba tulis di comment, kuat ngak Adipati puasa sampai penghulu teriak SAHHH ??? Hahahahaa


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2