Water Teapot

Water Teapot
S2: Sebuah Pertolongan


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Minggu depan jangan lupa datang lagi yah, Mbak,” ujar Iis pada seorang Baby Sister yang membawa anak usia 3 tahun untuk melakukan terapi bicara.


“Iya, Bu Lizbet. Mari, Bu,” ujar Baby Sister tersebut sambil menggendong anak tersebut.


“Dadah, minggu depan ketemu lagi, oke,” ujar Iis sambil melambaikan tangannya.


“Da...” ujar anak tersebut dengan senyum ceriannya.


Iis tersenyum kemudian berbalik, bermaksud kembali keruangannya, namun ekor matanya menangkap seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


“Ada apa Pak Edo ?” tanya Iis pada rekan sejawatnya bingung karena melihat Pak Edo dengan tatapan kebingungan.


“Bu Lizbet, ibu lagi kosong ngak jadwalnya ?” tanya Pak Edo sambil mendekati Iis.


“Kosong, Pak. Saya ngak ada janji temu klien lagi. Kenapa emangnya ?” tanya Iis.


“Hmmm mau bantuin saya ngak? Jadi nanti ada pasangan yang mau melakukan konseling pernikahan, masalahnya berat.”


“Terus, Pak Edo kan paling ahli masalah pernikahan, aku ngak mampu Pak. Aku belum nikah juga, nanti pasti mereka bilang kamu tuh belum nikah ngak bakal ngerti masalah kami,” ujar Iis.


“Halah, omongan klasik. Emang dokter jantung harus punya sakit jantung dulu buat ngobatin pasiennya ? Ngak kan ?” Ujar Pak Edo gemas dengan omongan orang awam pada profesi mereka.


“Hahahahaa.. bener sih Pak, tapi saya ngak mampu buat konseling pernikahan....”


“Kamu pegang anaknya di ruangan lain,” potong Pak Edo sambil menatapa Iis dengan tatapan memohon.


“Eh, mereka bawa anaknya ?”


“Iya, anaknya usianya 5 tahun, mereka suka bawa anaknya biasanya anaknya sama Mbaknya, nah masalahnya Mbaknya ini sakit katanya jadi ngak bisa nemenin, mereka minta orang buat nemenin anaknya,” ujar Pak Edo.


“Hah kok aku ?”


“Aku pilih kamu karena aku khawatir sama anaknya,” Pak Edo langsung memberikan pandangannya.


“Kenapa ?”


“Awal-awal mereka datang anaknya masih senyum, ketawa bisa diajak ngobrol. Udah seminggu ini boro-boro senyum yang ada dia diem gitu menutup diri. Aku kasian Bu Lizbet,” ujar Pak Edo prihatin dengan keadaan Caca.


“Kenapa, masalah orang tuanya berat ?”tanya Iis serius, entah kenapa kalau masalah anak membuat Iis maju paling depan.


“Lumayan, pokoknya coba kamu temani dia yah, kayanya juga aku mau minta tolong sama kamu. Kalau sendainya istrinya minta hypnotheraphy pasti saya minta bantuan kamu, lisensi kamu masih berlaku ‘kan ?” tanya Pak Edo berharap Iis sudah memperpanjang lisensi hypnotheraphynya.


“Iyah, masih Pak Edo.” ujar Iis sambil tersenyum senang.


“Oke, nanti jam 2 yah, Bu Lizbet.”


“Oke...”


•••


Jam 2 Iis sudah siap diruangan Pak Edo, dia duduk manis sambil membaca berkas-berkas mengenai Caca, anak yang akan Iis temani selama dua jam.


“Bu Lizbet, ini Bu Sarah dan Pak Lex,” ujar Pak Edo mengenalkan kliennya.


Iis tersenyum manis kemudian menjabat tangan Bu Sarah dan Pak Lex. Bu Sarah terlihat sangat cantik dan elegant, begitu pula dengan Pak Lex yang tampak perlante.

__ADS_1


“Dan ini Caca,” ujar Pak Edo sambil menunjuk seorang anak kecil berumur 5 tahun yang menenteng Ipad seri terbaru dan menggunakan tas Jacquemus berwana hijau.


Iis langsung tau mereka dari keluarga berada atau bisa dibilang golongan kelas atas dengan melihat penampilan keluarga tersebut.


“Hai, Caca kenali nama saya Lizbet. Panggil aja tante Lizbet,” ujar Lizbet sambil berjongkok guna mensejajarkan pandangan Lizbet dan Caca.


“Hai...” jawab Caca malu-malu dan itu membuat Iis gemas.


“Bu Lizbet adalah salah satu Psikolog anak disini, jadi Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir. Dan semua rahasia Bapak dan Ibu tetap terjaga,” ujar Pak Edo sambil membuka pintu ruang konsultasinya.


Pak Lex langsung masuk kedalam ruang konsultasi tanpa menyapa Lizbet atau berbicara dengan Caca, berbeda dengan Bu Sarah yang ikut berjongkok disebelah Iis.


“Ca, Mamih masuk dulu yah, kamu disini sama Tantenya, jangan nakal, yah,” ujar Bu Sarah sambil mencium pucuk rambut anaknya.


“Iya, Mih.”


“Mari, Bu Lizbet,” ujar Bu Sarah pamit.


Iis haya tersenyum melihat Bu Sarah yang berjalan mendingalkan mereka berdua.


Caca langsung duduk di sofa kemudian membuka ipadnya dengan tatapan sendu. Iis yang penasaran dengan Caca langsung duduk di samping Caca.


“Main apa ?”


“Baby bus, Tante,” ujar Caca singkat sambil membuka aplikasi baby bus dan memainkan salah satu permaianan baby bus.


“Mau main doh ngak ?” tanya Iis sambil menatap Caca.


Caca langsung mengalihkan perhatiannya dari ipad miliknya, “ Doh?”


“Iyah, doh. Tau kan mainan lilin malam,” ujar Iis sambil mengeluarkan doh dari kantong blezernya.



“Mauuu, aku mau..!” pekik Caca sambil melemparkan Ipadnya kesamping kemudian mengambil doh dari tangan Iis.


Iis langsung tertawa melihat betapa semangatnya Caca, “Main dimeja itu aja, Oke.”


“Oke,” ujar Caca sambil berlari kearah meja yang ditunjuk oleh Iis, “Ayo tante, cepet...!”


“Iya.”


Iis dan Caca kemudian bermain Doh dengan serunya, awalnya Iis menanyakan tiap warna yang ada disana, Caca langsung menjawab dengan cepat mengunakan bahasa Inggris, Mandari dan Indonesia.


“Oke let’s count,” ujar Iis sambil mengambil bulatan-bulatan lilin malam yang sudah Caca dan Iis bentuk sebelumnya.


“Oke, one two three four five,” ujar Caca menghitunh banyaknya jumlah bola-bola lilin malam yang ada.


“So, how many, Ca ?” tanya Iis sambil tersenyum pada Caca.


“Five, Tante,” jawab Caca sambil tersenyum senang.


“Good job, so if Tante take two, how many balls are there ?” Iis ingin menguji Caca apakah dia bisa menghitung pengurangan sederhana.


Caca menghitung dengan cepat ada berapa bola-bola lilin yang tersisa di mejanya, “ i think i have three, Tante,” ujar Caca sambil menggulirkan bola-bola lilin malam miliknya.


“Excellent, Caca...” ujar Iis takjub, Iis awalnya tidak berharap banyak Caca bisa menjawab pertanyaannya.


“Hi 5,” ujar Iis sambil menunjukkan kelima jarinya untuk melakukan tos dengan Caca.


“Hi 5, Tant....”

__ADS_1


Brakkkkkk..


“KAMU YANG BRENGSEK, LEX....!”


Tersengar suara teriakkan dari dalam ruangan konsultasi Pak Edo, Caca langsung mengerutkan badannya berharap dirinya menghilang dari sana.


Iis yang kaget langsung memeluk Caca, Caca mengkerut di pelukkan Iis menyembunyikan kepalanya di dada Iis, ketakutan.


“Tante, Caca takut.” Isak Caca sambli mencengkram blezer milik Iis erat-erat.


Tidak ada lagi tawa dan senyuman Caca yang manis. Tidak ada lagi celotehan Caca yang polos. Yang ada hanya rasa takut diwajah Caca.


“Iya, ada Tante disini, udah ngak papa,” ujar Iis sambil memeluk Caca erat berharap pelukkannya mampu menyalurkan keberanian pada Caca.


“Papih sama Mamih setiap hari berantem, Tante. Caca takut dengernya, Mamih, Mamih bakal dipukul Papih,” Isak Caca sambil memeluk Iis erat.


“Papih bilang, Mamih J*lang. Papih bilang Papih lebih bahagia sama Tante Susi dari pada sama Mamih, Papih bilang Mamih g*blok,”


Nyitttttt....


Hati Iis langsung teriris mendengarkan perkataan Caca, anak umur 5 tahun sudah tau kata-kata J*lang dan g*blok, astaga kepala Iis langsung sakit. Rasanya Iis ingin menjahit bibir Pak Lex saat itu juga.


Iis selalu kesal dengan orang tua yang tidak bisa mengontrol emosinya didepan anak-anak. Tidak pernah berpikir daya serap dan ingatan anak-anak diumur 1 sampai dengan 5 tahun itu sedang di masa-masa emasnya. Kenapa harus berkelahi dan mengucapkan kata-kata kasar didepan anak mereka. Apa mereka tidak tau dampaknya ?


“Caca sayang, jangan ngomong j*lang sama g*blok lagi yah, ngak bagus.”


“Kenapa ? Papih sama Mamih sering ngomong gitu, kok,” ujar Caca polos.


“Hemmm... itu bad word sayang, ngak boleh yah. Janji sama tante jangan ngomong gitu lagi, Yah...” ujar Iis sambil mengusap kepala Caca.


Caca diam menatap Iis dengan mata kecilnya, “Iya, Tante.”


“Bagus, anak baik...”


BRAAKKKK....


“Aku mau cerai, Lex...!!!” teriak Sarah sambil keluar dari ruang konsultasi.


“Mimpi kamu, sampai kapanpun ngak bakal aku cereiin kamu,” ujar Lex sambil menunjuk Sarah.


“Kenapa ?”


“Karena kamu itu istri pajangan aku, sedang Susi adalah cinta sejati....”


PLAAAKKK.....


•••


Bingung yah kenapa ada mas Lex dan mbak Sarah... siapakah mereka, hmmm...


Baca dulu aja pokoknya Mbak Sarah bakal jadi guardian angel aja...


Hehehee....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2