Water Teapot

Water Teapot
POV


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Cuman saran bacanya sambil dengerin lagu POV-Ariana Grande heheheee..


•••


"Ini photo kapan ?" tanya Iis sambil menahan tawanya, tawanya kembali pecah saat melihat photo itu lagi.


Juan hanya bisa pasrah dijadikan bahan bulan-bulanan Iis. "Pas aku SMP atau SMA, lupa Yang."


"INI APAAAA ???" jerit Iis kesal saat melihat 30 photo Juan bersama wanita-wanita yang berbeda sedang bermesraan. Iis makin kesal saat melihat salah satunya adalah Cicil, mana diphoto tersebut Juan terlihat bahagia sedang mencium Cicil.


"BUKAN APA-APA...!!" teriak Juan cepat sambil mengambil photo-photo tersebut kemudian memasukkannya ketempat sampah. 'Hadeuhh kenapa ngak kamu buang sih, Ju." rutuk Juan didalam hati.


Iis memicingkan matanya pada Juan.


"Udah aku buang, Yang. Tuh ketempat sampah tuh." ujar Juan sambil menunjukkan tempat sampah disampingnya.


Iis mengambil kembali ke 30 photo tersebut dari tempat sampah, melihat wanita-wanita tersebut. Demi semua Lurah dan Camat di Jakarta kenapa semuanya cantik...!!!!.


"Ini semuanya peranakan ? Bule ? Ngak ada yang lokal ?" tanya Iis penasaran, kenapa si bangsul ini mantannya cantik semuanya. Bahkan ada yang mukanya mirip Barbara Palvin salah satu model Victoria Secret.


"Hahahahaaaa... udah ah, sini." Juan langsung mengambil photo-photo mantan-mantannya, kemudian memasukkannya ke tong sampah. "Iyah semuanya bule, blesteran. Cuman Neng Iis aja yang mojang Citeko seorang." goda Juan sambil menciumi pipi Iis.


"GOMBAL..." jerit Iis sambil mencubit pipi Juan. Iis kembali melihat-lihat photo yang ada.


"Ini, Adipati ?" tanya Iis sambil melihat photo Juan dan Adipati saat muda.


"Iya, Adipati waktu SMA kelas 3, aku baru lulus kuliah."


"Ih.. lulus kuliahnya 6 tahun. Lama amat, Pak," canda Iis.


"Ihhh... biarin, yang penting aku sukses sekarang. Emang bakal ada yang nanya ke aku, heh.. Juan lulus berapa lama kamu kuliah ? Kalau lebih dari 5 tahun, aku ngak mau jadi partner bisnis kamu. Ngak ada Yang, ngak ada" bela Juan sambil mencubit pipi Iis. Entah kenapa Juan terobsesi dengan pipi Iis.


"Ih ngeles aja...!"


"Iyahlah, aku ngeles biar pinter...!" jawab Juan sambil memutar-mutar kedua pipi Iis mengunakan kedua telapak tangannya.


"JAYUSSS IHHH..." teriak Iis sambil memukul tangan Juan.


"Hahahaaa..."


"Kamu kenal Adipati dimana ? Kok bisa sahabatan. Beda umur kamu sama Adipati lumayan jauh, loh."


"Hmmm... kalau kamu sama Taca ?"


"Ih malah balik nanya, aku sama Taca dan Tasya tuh udah temenan dari bayi kayanya." Iis mengingat-ngingat.


"Hahahaa.. ya udah, mau tau ? Janji ngak marah ? Yang tau ini cuman Adipati, Om Gio, Papi, Mami, sama beberapa teman Kuliah aku." ujar Juan sambil menggaruk kepalanya.


"Cicil ?"


Juan mengelengkan kepalanya, Cicil tidak pernah tau kisah kelam Juan yang ini.


"..."


"Aku ketemu Adipati, saat penerimaan mahasiswa baru di Harvard, Adipati itu, mahasiswa baru paling tengil. Tapi entah kenapa aku sama dia bisa deket, trus..."

__ADS_1


Juan menggulungkan lengan baju tangan kanannya. Iis terdiam melihat bekas-bekas suntikkan di lengan Juan, tanpa sadar Iis mengelus lengan Juan. Selama ini Iis tidak pernah sadar bekas-bekas suntikkan tersebut. Pantas selama ini Juan paling pantang pakai baju berlengan pendek.


'Astaga, seburuk apa sih. Kehidupan seorang Juan Wijaya ?' tanya Iis didalam hati.


"Shab*?" tanya Iis pasrah. Bukan hal baru bagi Iis melihat hal ini. Beberapa kliennya bahkan ada yang lebih parah dari ini.


"Kok kamu tau ? Kamu ?" Juan menghentikan pertanyaannya setelah melihat Iis menggelengkan kepalanya.


"Klien aku, klien aku banyak yang begini, Ju." jawab Iis sambil menatap mata Juan kemudian tersenyum. Iis mengubah posisi duduknya menjadi menghadap lengan Juan, lengan Juan Iis simpan dipahanya.


"Aku, pemakai Yang. Shab*, aku hampir menjadi pecandu berat dan sekali Over dosis. Seandainya Adipati tidak nolongin aku, dan paksa aku masuk panti rehab. Mungkin aku ngak bakal kenal kamu, Yang." ujar Juan sambil menciumi pucuk rambut Iis.


Iis diam dahinya dia sandarkan ke lengan Juan. Juan yang merasa sesak dengan diamnya Iis, memanggil Iis "Iis.."


"Mama, Papa kamu kemana ? Kok Adipati yang nolong kamu ?" tanya Iis polos.


"Hahahaa... Mami sibuk sama urusannya, arisan, kumpul sana kumpul sini. Papi ? Jangan ditanya dia sibuk ngurus perusahaan."


"Jadi kamu sendirian di Cambridge ?" tanya Iis.


"Iya, Papi sama Mami paling cuman telepon, itu juga seminggu sekali, kalau inget itu juga."


"Pacar ?" Cicit Iis, sebenernya dia tidak mau menanyakan itu.


"Hahahah.. malah pacar aku yang ngenalin aku Shab*, Iis." tawa Juan lirih. "Untung ada Adipati, kalau ngak aku tinggal nama."


Iis terdiam, Juan memang tertawa saat menceritakan segalanya. Tapi, Iis tau dibalik tawanya, Juan menahan rasa sedih dan malu.


"Yang..."


Iis tetap diam, dahinya dia bentur-benturkan ke lengan Juan pelan. Tiba-tiba Juan merasakan ada air mata di lengannya.


Iis kemudian melirik Juan, air matanya tergenang di kedua matanya.


"Yang.. kok nangis."


"Aku..aku ngak bisa ngebayangin betapa kesepiannya kamu, Juan. Kamu pasti kesepian banget yah." Iis terisak diakhir kalimatnya, hatinya pedih.


Deg...


Juan diam, ada sesuatu yang membuatnya sadar. Seperti ada yang mendobrak kesadarannya. Damn, ternyata selama ini, selama ini dia kesepian. Astaga kenapa dia baru sadar sekarang ?.


"Ju..." panggil Iis sambil menggesekkan kepalanya kelengan Juan. "Mulai sekarang, kamu ngak bakal kesepian lagi. Ada aku, Ju."


Lidah Juan kelu, dia tidak bisa berkata apapun lagi. "Hahahahahaaaa...hah..hah..." tawa Juan berubah menjadi tangisan, ditekan kedua matanya menggunakan jempol dan telunjuknya. Juan berusaha menyembunyikan tangisannya.


Iis langsung memeluk kepala Juan, ditekannya kepala Juan keperutnya, diciuminya kepala Juan sambil terus berbisik. "Kamu ngak sendiri, Juan Wijaya. Ada aku."


Juan memeluk Iis dengan erat, sangat erat seperti takut Iis hilang.


•••


Saat ini Iis dan Juan sedang berbaring di kasur, bersiap tidur.


"Yang.."


"Hem..." jawab Iis sambil menciumi tangan Juan.


"Aku cengeng yah ?" tanya Juan, ada rasa malu karena habis menangis tadi.

__ADS_1


"Ngak, wajar kok kamu nangis. Kamu kan manusia bukan ulekan." jawab Iis tenang.


"Hahahaa..."


"Tapi, nangisnya didepan aku aja, yah. Awas kamu kalau nangis didepan orang lain. Aku pelintir idung, kamu." ujar Iis sambil tersenyum.


"Yang, kamu masih mau sama aku ?" tanya Juan penasaran.


"Mau, emang kenapa ?"


"Aku mantan pemakai, mantan bangsul, pernah ngelakuin yang aneh-aneh sama Cicil. kamu beneran masih mau ?" tanya Juan takut-takut.


"Ya udah aku ngak ma..."


"Enak, aja mau sama siapa ? Mau sama siapa, hah ? Mau nikah sama siapa kamu ? Enak aja, mau sama siapa ?" tanya Juan kesal sambil mengeratkan pelukkannya.


"Hahahaaa... Juan sesak, Juan..."


"Kamu tuh, mau siapa hah? Emang ada yang lebih baik dari aku ?"


"Ya udah, iyah... sama kamu aja."


"Kenapa ?" tanya Juan.


Rasanya ingin Iis menendang Juan, dia bilang ngak mau, Juan ngambek. Dia bilang mau, malah ditanya kenapa. Hadeuh...


"Aku ngak peduli kamu mantan bangsul, mantan pemakaian atau apapun itu. Yang aku tau, kamu ngak mukul aku, dan kamu janji bakal setia sama aku, aku pegang janji kamu, Ju..." jawab Iis sambil mengelus lengan kanan Juan.


"Kalau kamu kenapa mau sama aku ?" tanya Iis lagi.


Juan terseyum, dieratkan pelukkannya. Tangan kanan Juan langsung menggenggam salah satu bukit kembar Iis.


Iis hanya bisa menghela napas, "Kamu tuh kebiasaan deh,"


"Apa ?" tanya Juan bingung, 'apa yang salah ?' batin Juan bingung.


"Hah... udahlah. Jawab cepet."


'Bener-bener bangsul, ampe kebiasaan tidur aja bangsul kaya gini.' batin Iis kesal


"Aku mau sama kamu. Because, nobody ever loved me like you do, and i'd love to see me from your point of view, Lizbet Sandia."


(Karena, tidak ada yang pernah mencintaiku seperti kamu, dan aku suka saat kamu melihat diriku dari sudut pandang kamu, Lizbet Sandia).


•••


Iyah..iyah kayanya ini Mas Juan kok hidupnya ribet bener. Makanya awalnya aku mau bikin bagian Iis dan Juan ini buku sendiri, tapi karena aku ngak multitasking, jadi mending aku satuin aja.


Jadi mohon bersabar yang mau liat Taca sama Adipati nikah. Ini Mas Juan sama Iis mau lewat dulu yah. Hahahaa...


Oh sama maaf untuk hari ini author gallon cuman bisa Up 2 episode. Author mau jalan-jalan dulu. Mau senang-senang heheheee...


See you 😘😘


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2