Water Teapot

Water Teapot
S2: Motivasi...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Bunda yang pingsan langsung di ungsikan ketempat yang lain oleh kedua polisi yang tadi membawa Bunda kesana.


“Saka nanti tolong kamu uruslah itu semua surat-surat, yang berhubungan dengan perceraian dibawah tangan. Saya nggak ngerti,” ujar Juan.


Saka hanya bisa tersenyum dan menggangukkan kepalanya pasrah. Nasib ... nasib ... nikah aja belum, pacar aja nggak punya, tapi harus ngurusin perceraian, bawah tangan pula. Astaga Saka, sabar..!


“Iya, Pak. Ah ... Pak sama ini, ini masih mau dibawa?” tanya Saka sambil menunjukkan 2 rim kertas tentang test DNA Bernard.


Juan hampir tertawa melihat dua rim kertas dihadapannya. “Nggak usah buat apaan, bawa aja sama kamu, lumayan buat diloakin,” ujar Juan.


“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” ujar Saka sambil berlalu dari sana.


Juan langsung berjalan menelusuri lorong, bermaksud kembali kedalam kamar Ayah. Saat berbelok dia melihat Bernard yang sedang duduk dipojokkan. Bernard duduk sambil memeluk lututnya di dekat jendela. Suara tangis Bernard membuat Juan menghentikan langkah kakinya.


“Heh ... kenapa nangis?” tanya Juan sambil duduk didepan Bernard.


Bernard langsung menatap Juan, mata kecilnya benar-benar terlihat seperti marmut yang mengemaskan. Matanya bulat dan memiliki manik mata hitam pekat.


“Mas Juan, Bernard harus gimana? Bernard malu, sama Ayah sama Teh Iis,” ujar Bernard sambil mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


Juan hanya bisa mengusap pucuk kepala Bernard dengan pelan dan menepuk-nepuknya sedikit.


“Bernard harus kemana? Ke Bapak asli Bernard?” Bernard bergidik saat mengetahui bapak aslinya adalah Idad, orang terkaya di Citeko tapi memliki kelakuan yang tidak baik.


“...”


“Atau nunggu Bunda?” tanya Bernard bingung.


“Kamu masih mau sekolah?” tanya Juan sambil menatap Bernard.


“Masih Mas, tapi siapa yang bayarin? Teh Iis pasti ngak mau ngurus Bernard, Bernard bukan adiknya ... “


“Percaya sama Mas, Teh Iis bakal sekolahi kamu, bahkan ngurus kamu. Udah ngak udah mikirin yang aneh-aneh,” ucap Juan sambil berdiri.


“Tapi ... “


“Astaga Bernard, umur kamu tuh 12 tahun. Bukan, 31 tahun. Tugas kamu yah belajar, belajar dan belajar. Udah kamu belajar aja yang rajin, jangan bikin perkara. Nakal boleh, tapi jangan yang melanggar hukum negara dan agama deh,” ujar Juan sambil mengangkat Bernard untuk berdiri dari duduknya.


Geli juga mendengar perkataannya sendiri, nakal boleh tapi jangan yang melanggar hukum negara dan agama. Astaga, kenakalannya dulu saat remaja selalu melanggar hukum negara dan agama. Ya ampun, Juan Wijaya kamu sudah tua.


“Tapi, siapa yang biaya ....”


“Mas Juan yang bayar, udah jangan dipikirin, sekolah yang bener. Mas bisa kaya gini juga karena sekolah, bukan tiba-tiba bisa kerja di perusahaan,” ujar Juan sambil menepuk-nepuk bahu Bernard.


Yah ... selain dia lahir dikeluarga kaya raya, Juan butuh usaha keras untuk membuat perusahaannya bersama Adipati menjadi sebesar sekarang.


“Makasih, Mas. Tapi, Bernard malu ketemu Teh Iis,” cicit Bernard.


“Baguslah kamu malu, berarti kamu masih normal,” ujar Juan sambil mendorong Bernard untuk berjalan disampingnya. “Tapi, percaya sama Mas, Teh Iis pasti mau ngurus kamu. Teh Iis itu cuman mulutnya aja pedes, padahal hatinya baik.”

__ADS_1


Bernard hanya menggangukkan kepalanya kemudian berjalan bersama Juan. Berjanji didalam hatinya untuk bersekolah dengan baik. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia harus sukses..!


•••


Seharian ini membuat Juan dan Iis kecapean, talak Ayah atas Bunda membuat Iis hampir bersalto ditempat, akhirnya Ayahnya meningalkan mahluk astral itu. Dengan izin Juan, Iis akan mengurus Bernard.


Bunda kembali kepenjara dan menanti sidang yang akan digelar beberapa hari lagi. Bunda kembali kepenjara dengan keadaan seperti orang kurang akal. Tapi, Iis sudah menutup mata dan telinganya. She’s not an angel (dia bukan malaikat), ada rasa bahagia menyelimuti dirinya saat melihat keadaan Bunda.


Ayah sudah diperiksa oleh dokter dan katanya keadaannya stabil, hal itu membuat Iis makin lega. Mungkin ini waktunya dirinya berbahagia, mungkin.


•••


Iis yang tertidur dipelukkan Juan, sedikit terbangun dikarenakan ada yang menelepon ke handphonennya. Iis berusaha meraih handphonenya di nakas tanpa membangungkan suaminya, tapi belitan Juan ditubuh Iis membuat Iis sulit bergerak. Kebisaan tidur Juan yang membuat Iis menjadi guling hidup setiap malam.


Iis melirik jam di dinding apartemen Juan, jam 7 pagi, astaga dia baru tidur 3 jam, terima kasih pada Juan Wijaya yang membuat dirinya tidur hanya 3 jam. Juan benar-benar merayunya habis-habisan tadi malam, mau tidak mau Iis akhrinya pasrah dan melakukan transfusi darah putih dengan Juan.


Zrrrttttt zrrrttttt...


Setelah berhasil terlepas dari jerat Juan akhirnya bisa mengambil handphonenya. Rumah sakit?


“Ngapain rumah sakit nelpon jam 7 pagi?” desis Iis bingung sambil membetulkan rambutnya.


“Iya halo.”


“Ibu Lizbet ?”


“Iya, saya sendiri.”


“Bu, ini Pak Apo mau berbicara dengan Ibu,” ujar suster prinadi yang Juan sewa untuk menjaga Pak Apo.


“Iis.”


“Iis, kamu bisa ke sini sekarang? Ayah mau tidur tapi ingin diusap-usap sama kamu,” ujar Ayah.


“Ha ....”


“Iya, Ayah ingin tidur. Tapi, Ayah kangen sama Iis, ingin dielus gitu,” ujar Ayah lagi.


Iis menggaruk rambutnya yang tidak gatal, permintaan apalagi ini. “Ya udah sekarang Iis kesana yah, Ayah tunggu Iis.”


“Iya, Ayah tungguin yah,” ujar Ayah.


“Bu, udah yah. Maaf mengganggu. Tapi, Pak Apo benar-benar memaksa,” ujar suster pribadi.


“Iya nggak papa, Sus. Bilang ke Ayah nanti saya kesana sekitar jam 10an,” ujar Iis.


“Iya mari, Bu,” suster langsung menutup sambungan teleponnya.


Iis melirik suaminya yang masih tidur, rasanya tidak tega membangunkan suaminya. Tapi, dia harus minta izin untuk pergi ketempat Ayahnya.


“Mas... Mas ....”


“Hmmmm....” Juan menggeliat sambil menyembunyikan wajahnya di bantal.


“Mas ... Mas ...”

__ADS_1


Juan membenamkan kepalanya dibantal, rasa-rasanya dia baru tidur selama 15 menit saja.


“Mas...”


“Apa Yang, ngantuk ini,” jawab Juan akhirnya sambil melirik Iis dengan muka bantal.


“Aku mau ....”


“Mau lagi?” potong Juan sambil tersenyum nakal.


“Ih ... apa sih, mau lagi gimana?” tanya Iis kesal sambil mendorong Juan gemas.


Juan menarik tubuh Iis kedalam pelukkannya. “Mau lagi transfusi darah putih,” kekeh Juan.


“Astaga, remuk badan aku, Mas. Remuk..!” ujar Iis kesal sambil memukul tangan Juan.


“Remuk ... remuk tapi, suka ‘kan, ngaku.”


Wajah Iis langsung memerah, semenjak menikah pikiran liarnya benar-benar tidak bisa dibendung, bahkan beberapa kali Iis yang memintanya pada Juan. Juan sampai tertawa-tawa bila melihat Iis mulai menunjukkan gejala-gejala ‘meminta’ pada dirinya.


“Ngaku, Lizbet Sandia,” paksa Juan.


“Argh... iya iya suka suka, puas. Aku suka,” akhirnya Iis mengalah.


“Hore, ngaku,” ujar Juan riang.


“Mas, aku mau ke rumah sakit ah, Ayah nyuruh aku kesana tadi,” izin Iis sambil berusaha terlepas dari pelukkan Juan.


“Ngapain?”


“Nggak tau, aku disuruh kesana, aku bangunin kamu buat minta izin bukan mau ‘minta’.”


“Ya udah bareng aja kesana, aku juga mau kedaerah sana,” ujar Juan.


Iis langsung tersenyum dan mengusap rambut Juan dengan lembut. Senyum Iis masih berkembang untuk detik ini. Masihkan senyum Iis terbit esok?


•••


Semuanyaaaa haii...


Kaka Gallon disini, akhirnya kaka galon punya GC, mari kita ngobrol disana..


tapi biar asik yang mau masuk ada passwordnya. Pas masuk jawab pertanyaan ini yah,semuanya...


Pertanyaannya


1 apa merk mobil yang sering dipakai Juan


2 siapa nama kucing Cicil


3 bahasa Italy jika kau bukan istriku, aku akan melemparmu ke sungai.


Dan pas masuk jangan lupa intro yah, sayang-sayangku..


yuk mari kita ngobrol di GC, happy-happy yah semuanya...

__ADS_1


Oh sama GC buat 18+ yah jangan kurang nanti sawan denger obrolan yang ada hahaha


Psssttt... jawab pertanyaannya yah ❤️


__ADS_2