Water Teapot

Water Teapot
S2: Daun semanggi


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sesampainya di rumah sakit, Iis langsung berjalan kearah kamar rumah sakit. Sedangkan, Juan langsung meluncur ke tempat rapat bersama Adipati.


“Ayah...” panggil Iis sesaat sampai di dalam ruangan rawat Ayah. Ayah yang sedang makan disuapi oleh susternya langsung tersenyum manis pada Iis.


“Udah Sus, anak saya udah dateng. Saya mau ngobrol sama anak saya,” ujar Ayah sambil mendorong sendok yang sudah diangkat dekat bibirnya.


Suster langsung membereskan seluruh perlengkapannya. Kemudian memberikan tempat obat pada Iis.


“Bu, nanti Bapak suruh minum obat dulu sebelum tidur. Bapak belum tidur sama sekali hari ini, Bu,” ucap Suster tersebut sambil menatap Iis dengan tatapan khawatir.


“Iya nggak papa, nanti saya yang kasih. Makasih banyak yah, Sus.” Iis langsung mengambil tempat obat dari tangan Suster pribadi Ayah.


“Yah, kok ngak tidur?” tanya Iis sambil mengusap bahu Ayah pelan.


Ayah tersenyum mendengar pertanyaan Iis, anak gadisnya ini mulai cerewet seperti Ibunya. Ah, Ayah tiba-tiba rindu Istri pertamanya. Gadis manis kembang desa di Citeko, memilik mata bulat seperti Iis dan rambut panjang hitam. Iis itu photo copy-an Ibunya.


“Ayah tuh lagi sakit, mending Ayah tidur, istirahat. Kenapa sih Ayah ngak mau tidur?” tanya Iis sambil menarik kursi mendekat ke kasur.


“Ayah nunggu kamu, nggak bisa tidur kalau belum ngeliat muka anak Ayah,” jawab Ayah sambil menahan batuknya.


Dengan cekatan Iis mengambil serbet di meja, lalu melap mulut Ayah dengan cepat. “Pelan-pelan Yah.”


“Ayah mau minum, Is,” pinta Ayah.


Iis mengambil minum kemudian memberikannya pada Ayah. “Pelan-pelan ....”


Setelah meminum air putihnya sampai tandas, Ayah memberikan kembali gelas kepada Iis.


“Ayah, mirip Mas Juan, kalau ngak ada aku nggak bisa tidur malah uring-uringan. Saking kesalnya aku marahin Mas Juan tuh,” cerocos Iis.


“Janganlah kamu marahin Juan, kasian dia. Nanti dia lagi stress kalau kamu tinggalin,” canda Ayah sambil mengusap rambut Iis.


“Yeh ... Ayah malah bela Mas Juan, untung orangnya ngak ada, coba kalau ada bisa gede itu idungnya.”


Iis menatap Ayahnya yang sedang tertawa mendengar ocehannya. Ada rasa hangat menjalar ketubuhnya. Ah... perasaan ini sudah lama tidak Iis rasakan, rasa yang membuat Iis selalu tersenyum setiap harinya.


Pikiran Iis langsung berlari pada masa-masa berbahagia bersama Ayah. Masa dimana Iis diajarkan baca, naik sepeda, main gelembung sabun, pergi ke pasar malam, dan jalan-jalan kepasar.

__ADS_1


Saat-saat dimana tidak ada yang namanya Kokom Hollykom didalam keluarga mereka, saat dimana Iis bangun tidur dengan senyuman dan tidur kembali dengan senyuman. Saat Ayahnya adalah miliknya dan milik Ibunya seutuhnya.


“Iis ....” panggil Ayah membuyarkan lamunan Iis.


“Iya, Yah...” jawab Iis sambil menatap Ayah.


“Maafin Ayah yah, Ayah terlalu berambisi memiliki anak laki-laki,” Ayah meminta maaf sedalam-dalamnya pada Iis.


“Nggak papa, mau bagaimanapun Ayah itu Ayah Iis. Mau jelek mau bagus, Ayah itu Ayah Iis. Karena nggak pernah ada mantan Ayah ‘kan?” ujar Iis.


“Iya, memang tidak ada mantan Ayah. Tapi —“ Ayah menggantungkan perkataannya sambil mengambil sesuatu dari dalam laci.


“Tapi apa Yah?” tanya Iis.


“Tapi, jangan jadikan Ayah panutan, Ayah nggak pantes Iis, Ayah bukan teladan yang baik dan Ayah menyesal seratus persen,” ujar Ayah sambil menyimpan suatu benda di tangan Iis.


“Yah...” panggil Iis sambil melihat apa yang diberikan Ayah pada dirinya.


“Nggak papa Ayah udah ikhlas tidak dijadikan panutan oleh Juan. Karena, Ayah memang merasa Ayah tidak pantas,” ucap Ayah.


“Yah ini ...” ujar Iis sambil mengambil benda yang diberikan oleh Ayah di tangannya.


“Ini daun semanggi yang pernah kamu kasih ke Ayah dulu. Inget?” Ayah mencoba menggali kenangan Iis. Kenangan manis yang sangat Ayah ingat. Iis kecil yang suka bermain di sawah, pulang-pulang membawa daun semanggi yang memilik 4 helai daun.


“Iya, Ayah selalu bawa kemanapun. Bukan sebagai jimat. Tapi, sebagai pengingat kalau Ayah punya anak cantik bernama Iis. Anak gadis yang suka makan coklat sampai gigi depannya keropos,” ujar Ayah sambil terkekeh.


Iis hanya menahan emosinya mendengarkan perkataan Ayahnya. “Nggak usah dibahas juga kalau Iis ompong gigi depannya.”


“Hahahahhaaaa ... maaf-maaf abis kamu waktu kecil tuh tomboy terus hobinya maen disawah. Mainnya bareng Rozak sama Riki. Terus pulang-pulang warna baju udah berubah,” kenang Ayah sambil terkekeh senang.


“Nah, sekarang kamu simpen itu gantungan kuncinya. Ayah bikinnya susah loh,” ujar Ayah sambil tersenyum manis.


Iis langsung tersenyum kemudian menatap gantungan kunci dari Ayah, gantungan kuncinya bakal Iis simpan didompet aja.


“Tau nggak artinya ke empat daun di daun semanggi? tanya Ayah sambil menatap Iis.


“Empat daun itu melambangkan Faith (kepercayaan), Hope (harapan), Love (cinta) dan yang terahir adalah Luck ( keberuntungan).”


Iis hanya bisa menggangukan kepalanya saat mendengar penjelasan Ayah.


“Dan Ayah mau kamu mendapatkan keempat hal tersebut. Faith, hope, love dan Luck. Hampir setengah hidup kamu Ayah rusak karena egoismya Ayah yang ingin punya anak laki-laki,” ujar Ayah sambil berusaha untuk bernapas.


“Its oke...”

__ADS_1


“Kamu maafin Ayah?” tanya Ayah sambil menatap Iis lekat, Ayah menatap Iis seperti ingin mengphoto copy wajah Iis kemudian menempelkannya disetiap ruang otak milik Ayah.


Iis mengangkat wajahnya kemudian menatap manik mata Ayah yang berwarna kelabu. Dianggukkannya kepala Iis dengan lembut. “Iis selalu maafin Ayah, Iis selalu berdoa untuk kebaikkan Ayah. Iis....”


“Iya, Nak ....” potong Ayah.


Iis beranjak dari duduknya kemudian memeluk Ayah dengan erat, menelusupkan kepalanya ke bahu ringkih Ayahnya, menghirup wangi tubuh Ayahnya yang seperti wangi obat.


“Iis sayang Ayah ....” isak Iis sambil menitikkan air matanya.


Ayah tersenyum mendengarkan perkataan anak perempuannya. Tak terasa air matanya mengalir pelan membasahi pipinya, rasa hangat langsung menyergapnya tanpa ampun di hatinya. Haru, marah, menyesal, sayang, pedih, semua-semua perasaan bercampur menjadi satu di dalam diri Ayah.


“Ayah juga sayang Iis, maafin Ayah yah,” ujar Ayah sambil mengelus rambut hitam Iis.


“Nak, sini duduk,” pinta Ayah sambil menepuk kasur disampingnya.


Iis langsung menurut dan duduk membelakangi Ayah. “Ayah mau apa?”


Ayah mengambil dua ikat rambut dari dalam laci rumah sakit, kemudian membagi dua bagian rambut Iis.


“Dulu, yang suka kepang rambut kamu Ayah, Ayah ingin kepang rambut kamu lagi,” ujar Ayah sambil mengepang rambut Iis dengan cepat.


“Iya, tiap pergi sekolah pasti Ayah yang paling repot kepangin rambut Iis, dulu Iis ngerengek ingin potong pendek, tapi selalu ditolak Ayah. Ayah bilang rambut Iis wajib panjang biar Ayah ada kerjaan,” kekeh Iis sambil mengusap air matanya yang tadi tiba meloncat keluar dari mata Iis.


“Terakhir Ayah kepang kamu itu....”


“14 tahun yang lalu,” jawab Iis cepat sambil mengelus kepangan rambut Ayahnya yang tidak rapih bahkan aneh, tapi entah kenapa Iis menyukainya.


“Saking Iis ingin Ayah kepangin rambut Iis lagi, Iis ngak pernah potong rambut Iis jadi pendek, sekalinya kemarin ingin potong pendek, eh Mas Juan ngamuk-ngamuk. Katanya panjang aja, kalo pendek aneh,” cerocos Iis sambil melirik Ayahnya yang sedang tersenyum pada dirinya.


“Iis, Ayah ngantuk tolong elusin punggung Ayah yah, Ayah ngantuk,” pinta Ayah sambil berbaring di kasur rumah sakit.


Iis dengan cepat mengelus punggung Ayahnya pelan-pelan. tak berapa lama Ayah Iis tertidur dengan tenang. Dengkuran halus terdengar dengan jelas di kuping Iis. Iis tiba-tiba merasa ngantuk dan tertidur disamping kasur Ayahnya. Tertidur pulas tanpa tau apa yang akan terjadi saat dia bangun, tanpa tau apapun. Tuhan berikan kebahagiaan untuk Iis...


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2