
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please...
Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
###
Juan duduk dilantai kamar apartemennya, diam menatap cincin nikah milik Iis yang belum digunakan oleh Iis lagi. Juan benar-benar sudah hilang akal. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali Iis. Segala cara sudah Juan lakukan, tapi, istrinya benar-benar menolak untuk kembali kepelukkannya lagi. Apalagi mendengar jawaban Iis tadi, makin membuat Juan ketar ketir.
"Mungkin" monolog Juan sambil menghentakkan kakinya berkali-kali ke lantai.
"DAMN, dia bilang mungkin? Mungkin? Sinting, nggak bisa Yang. Mau kamu gugat cerai aku kaya gimanapun, aku nggak bakal ijinin kamu pergi, aku nggak bakal kabulin gugatan kamu, nanti...!" bentak Juan sambil melemparkan cincin nikah Iis ke dinding.
Juan benar-benar kesal dan marah, saking kesal dan marahnya Juan menendang lemari khusus baju bersih yang ada di kamar mandi sampai terjatuh, semua baju terjatuh begitu saja.
"Ah... sial." Juan dengan cepat berajak dari duduknya dan mengambil baju yang berserakkan.
Pluk....
Juan langsung melihat sesutu yang terjatuh dari saku celana jeans miliknya, sepertinya Bi Sur tidak memeriksa celananya sama sekali atau....
Juan mencium celana tersebut langsung tersenyum, Bi Sur lupa mencuci celana jeansnya. Hah... semenjak Iis pergi dari apartemennya, semua pekerjaan Bi Sur benar-benar aneh. Terkadang Bi Sur lupa membereskan kamar Juan selama dua hari.Saat, Juan tanyakan kenapa, Bi Sur bilang biasannya Bu Iis yang membereskan kamar Juan sendiri.
Juan langsung mengambil benda yang terjatuh tersebut dan tersenyum. Sepertinya, Juan bisa mengenang masa lalu. Juan tidak ambil pusing dari mana benda itu bisa ada di kantung celanannya. Yang dia tahu, ini saatnya dia mengenang masa lalu.
###
Iis turun sambil membawa sebuah bungkusan, sesuatu yang dia beli tadi dijalan. Walau tampak terburu-buru Iis yakin kalau Juan menyukainnya. Iis berjanji tahun depan Iis akan mempersiapkan segalanya lebih baik lagi.
Iis langsung berjalan ke arah lobby dengan terburu-buru, dia ingin secepatnya bertemu dengan Juan. Diotaknya saat ini hanya ada Juan, Juan, Juan, dan Juan. Mungkin, nanti setelah bermaafan dengan Juan, Iis bisa memeluk Juan seharian.
Iis memencet tombol lift, tak berapa lama pintu lift terbuka, Ii dengan cepat masuk kedalam lift, tanpa menyadari ada dua orang yang sedang menatapnya.
"Iis...."
Iis langsung melihat sumber suara, senyuman langsung merekak di bibinya. "Taca, Adipati. Mau kemana?" tanya Iis ceria.
__ADS_1
"Mau jemput sikembar," jawab Adipati sambil menatap barang bawaan Iis kemudian melihat tanggal dihandphonennya.
"Ah... ya udah, nggak keluar?" tanya Iis bingung kenapa Taca dan Adipati tidak keluar dari dalam lift.
"Di, kamu ke mobil duluan. Aku mau ngobrol sama Iis dulu," pinta Taca pada Adipati, yang langsung dijawab anggukkan oleh Adipati. Adipati pun berlalu dari sana, meninggalkan Taca dan Iis didalam lift.
"Iis."
"Ta."
Taca dan Iis sama-sama berkata secara serempak, perkataan mereka lagsung membuat Iis dan Taca tertawa renyah. Taca dengan cepat mengambil tas Iis dari tangan Iis yang kerepotan membawa banyak barang.
"Nggak usah, Ta. Kamu 'kan lagi hamil," ujar Iis sambil mengambil kembali Tas miliknya dari tangan Taca. Tapi, Taca tetap menggenggam tas Iis dengan keras.
"Nggak papa, aku pilih yang paling ringan, kok," ujar Taca bersikeras.
"Ya udah, makasih yah," ujar Iis sambil tersenyum lagi.
Setelah Iis berkata, suasana langsung hening seketika, Iis dan Taca benar-benar saling diam tidka berkata apa-apa. Rasa sungkan langsung menyelimuti mereka berdua.
"Taca, maaf."
Mereka berdua mengucapkan kata-kata tersebut sambil saling tatap dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Ampun, Iis udah yah, udah kita berantemnya. Aku nggak sanggup ini berantem lama-lama sama kamu," ujar Taca sambil mengusap air mata yang menetes di mata kanannya, akibat tertawa terlalu keras.
"Iya, udah ah. Aku capek berantem lama-lama sama kamu," ujar Iis sambil keluar dari lift kemudin berjalan ke arah pintu apartemennya.
"Kamu, mau pulang ?" tanya Taca.
"Iya, aku mau pulang, Ta. Aku mau nerima Mas Juan, aku bakal disamping Mas Juan apapun yang terjadi. Aku sayang sama Mas Juan. Capek juga kabur-kaburan, mending disini aja enak, bisa ketemu kamu, Kama, Kalila dan jalan-jalan sama kamu kalau lagi bete, bener nggak?" tanya Iis pada Taca, sambil memencet bel apartemennya.
"Bener, aku ampe mati gaya saking bosennya di apartemen, nggak ada kamu. Cuman, ngurus Kama dan Kalila. Kadang jalan-jalan ke Mall, astaga Iis bosen, aku butuh ghibah cantik sama kamu. Walau ghibahan kita nggak jauh dari si Rina, artis sekuter (Selebriti kurang terkenal) atau tentang taneman." ujar Taca sambil mengedipkan matanya.
Klik...
Bi Sur membuka pintu apartemen, wajahnya yang ditekuk delapan tiba-tiba berubah berseri-seri saat melihat Iis sudah ada didepannya bersama Neng Taca.
__ADS_1
"Neng Iis, astaga pulang juga akhirnya, Bibi kangen Neng," ujar Bi Sur sambil membawakan barang-barang yang ada ditangan Iis. Iis langsung membawa tasnya dari tangan Taca.
"Bibi sehat?" tanya Iis sambil mengikuti Bi Sur kearah meja didapur.
"Sehat, Neng. Neng kemana aja sih? Kasian Pak Juan sampai uring-uringan mikirin, Neng." adu Bi Sur.
"Iya, maaf. Janji deh nggak bakal kabur-kaburan lagi," ujar Iis sambil mengeluarkan sesuatu dari bungkusannya.
"Mas Juan mana?" tanya Iis pada Bi Sur.
"Pak Juan, tadi Bibi liat dikamarnya, Neng. Kayanya lagi mandi, karena dari tadi Bibi denger suara air ngalir dari kamarnya." ujar Bi Sur.
"Oh...." ujar Iis.
"Iis ini..?" ujar Taca saat melihat apa yang dikeluargan dari bungkusan yang dibawa oleh Iis.
"Iya, jangan keras-keras, nanti Juan denger." ujar Iis sambil menyentuh bibirnya dengan telunjuk tangan kanannya.
"AH...aku telepon Adipati, aku suruh dia kesini, yah. Biar meriah," ujar Taca sambil mengambil handphonennya kemudian menelepon suaminya.
"Bi, beneran Mas Juan dikamar?" Iis meyakinkan lagi pada Bi Sur. Iis tidak mau kejutannya dirusak hanya gara-gara Bi Sur lupa dimana posisi Juan saat ini.
"Yakin, Neng. Nggak mungkin Bibi lupa,deh," ujar Bi Sur sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Iis langsung tersenyum, Iis kemudian berjalan kearah kamar mereka. Iis mendengar suara televisi yang lumayan keras dari dalam kamar, sepertinya Mas Juan mendengarkan suara TV dengan suara extra keras. Kebiasaan kecil yang selalu memicu pertengkaran kecil diantara mereka berdua.
Iis langsung membuka pintu kamar dengan pelan, kepala Iis muncul pertama kali kedalam kamar mereka. Diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari Juan, namun nihil, Juan tidak ada dimanapun.
"Mungkin di kamar mandi," ujar Iis sambil berjalan melintasi kamarnya. Dengan cepat Iis membuka pintu kamar mandi berharap mengagetkan Juan yang sedang mandi.
"Happy birthday to you, happy brithday, happy birthday, happy brithday Mas Juan," Iis bernyanyi, menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk suaminya sambil membawa kue ulang tahun untuk Juan yang ternyata berulang tahun hari ini. Tapi.....
"MAS......?!??"
###
-Penyesalan itu datangnya diakhir-
__ADS_1