Water Teapot

Water Teapot
S2: Amore jangan tingalin aku...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis sudah menelepon berkali-kali Adipati, Adipati sedang dalam perjalanan bersama Juan. Abah juga sedang dalam perjalanan ke rumah sakit itu bersama Rozak. Iis duduk di ruang tunggu, beberapa orang lewat dihadapannya. Taca detik ini masih di Unit Gawat Darurat, Taca belum mendapatkan kamar bersalin karena penuh.


Iis diam ditempat sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Jantungnya berdegup kencang, ketakutan sedang menyelimuti dirinya. Dokter tadi mengatakan air ketuban Taca sudah pecah.


“Ayang.”


Teriakan dari suara yang sangat Iis kenal langsung membuat Iis mengangkat kepalanya. “Mas, Adipati.”


“Mana Taca?” tanya Adipati sambil berjalan mendekati Iis.


“Taca di...”


“Neng Iis, mana anak Abah?” tanya Abah lagi sambil berlari kearah Iis bersama Rozak.


“Taca mana,” tanya Adipati dan Abah berbarengan pada Iis.


“Taca didalem,” ujar Iis sambil menunjuk ruangan UGD.


Tiba-tiba dari dalam ruangan tersebut seorang suster keluar, dengan cepat Adipati menanyakan keadaan Taca. “Maaf, Suster. Ada istri saya di dalam yang bernama Taca? Yang sedang melahirkan.”


“Ah, Yang sedang dalam keadaan kritis gara-gara ketubannya pecah,” jawab Suster tersebut.


“Kritis?” ucap Adipati dan Abah berbarengan.


Rasa cemas langsung melanda Adipati, napas Adipati benar-benar seperti tercekat ditenggorokkannya. Taca kritis? Bagaimana kalau dia meninggal? Bagaimana kalau dia ningalin Adipati seperti Ibunya Roses Berutti meningalkan dirinya?


“Bah, Taca...” ujar Adipati sambil menatap Abah dengan tatapan bingung.


Adipati makin cemas saat melihat Abah yang sama sekali tidak menunjukkan tatapan jenaka dan tengilnya. Tatapan Abah menunjukkan perasaan ketakutan dan cemas, Abah sama-sama ketakutan. Abah tidak bisa kehilangan putri satu-satunya.


“Ayo kita masuk dulu, Adipati,” ujar Abah sambil menepuk-nepuk bahu Adipati berusaha menguatkan Adipati dan dirinya sendiri.


“Dimana istri saya?” tanya Adipati lagi.


“Didalem, Pak. Di sebelah kanan di bed yang ke dua...”


Adipati dan Abah langsung masuk kedalam UGD, mereka langsung mencari tempt yang dibicarakan oleh Suster tersebut. Bed kedua sebelah kanan. Saat menemukannya, Adipati dan Abah mendengarkan suara gaduh dari tempat tersebut. Spontan Adipati dan Abah mendekati tempat yang tertutupi tirai rumah sakit tersebut.


“Amore, jangan tingalin aku, sayang,” desis Adipati sambil membuka tirai rumah sakit tersebut.


Dibalik tirai tersebut, Adipati sama sekali tidak bisa melihat jelas siapa yang ada di bed karena tertutup beberapa orang. Tapi, samar-samar terdengar kalau orang di bed tersebut harus dioperasi, hati Adipati langsung mencolos.


“Sayang jangan tingalin aku, aku cinta sama kamu,” teriak Adipati dan berjalan kearah bed sambil menahan air mata yang sudah menggedor-gedor untuk meminta keluar dari sumbernya. Napas Adipati sesak. Adipati mendorong orang-orang yang mengelilingi bed yang ada dihadapannya. Adipati ingin melihat wajah cantik Istri kecilnya, istri yang sudah berjuang untuk melahirkan anak ketiga untuk dirinya.

__ADS_1


“Amore, jangan tingalin aku, aku cinta sama kamu Sayang,” ujar Adipati sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan kanannya.


“Amoreeeee....” teriak Adipati sambil menutup matanya dan memeluk tubuh yang ada di bed didepannya.


Sreeett....


Terdengar suara tirai dibuka kemudian Adipati merasakan suatu benda menghantam badannya.


Bruk...


“ADIPATI... kamu lagi apa!?”


Adipati yang kaget mendengar teriakkan Taca yang melengking tajam. Teriakan yang akan Taca teriakkan kalau Adipati menyimpan handuk basah di kasur atau saat Adipati melakukan kesalahan apapun yang membuat Taca naik darah.


“Amore ?” bisik Adipati sambil mengangkat kepalanya melihat wanita yang sedang dipeluknya, Isri...


“STRONZO...!!?” maki Adipati menggunakan bahasa Italia.


“De, Nenek bahagia kalau Ade cinta sama Nenek. Tapi, anak Nenek udah 10, cucu Nenek 23 orang kalau Ade mau nerima Nenek, Nenek ikhlas nikah sama kamu,” jawab Nenek-nenek yang sedang Adipati peluk dengan erat. Nenek-nenek itu sedang mengedip-ngedipkan matanya seperti orang sawan tak lupa bibirnya dimaju-majukan berharap bisa mencium Adipati.


Adipati spontan langsung melepaskan pelukkannya dan mundur dua langkah kebelakang. Rasa kaget dan panik langsung menyelimuti Adipati.


“Om bule mau nikahin Nenek saya?” tanya seorang pria disamping Adipati.


“Bukan salah, saya sangka dia istri saya,” jawab Adipati bingung sambil menatap sekelilingnya. Matanya langsung terkunci pada sosok Taca yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal.


“Di, aku disini. Masa kamu bisa salah peluk. Kenapa malah peluk nenek-nenek?” tanya Taca sambil mengangkat kedua tangannya.


“Itu...”


“Pak, Bu dan Nenek, maafkan menantu saya. Dia sedikit kekurangan kadar otaknya jadi suka ngayal,” ujar Abah sambil menarik Adipati kearah kasur Taca. Dengan cepat Abah menutup tirai yang memisahkan Taca dan Nenek-nenek disebelahnya tadi.


“Kamu kok bisa salah sih, Di?” tanya Taca sambil menggaruk kepalanya dan menahan sakit yang makin menjadi.


“Itu kata susternya bed ke dua, jadi aku sangka nenek tadi kamu,” cicit Adipati sambil menatap Taca bingung.


Abah langsung memukul bahu Adipati lembut, “Nggak papa, pengalaman hidup. Kapan lagi kamu meluk Nenek-nenek sexy kaya gitu,” canda Abah.


“Amit-amit Abah, kalau kata Abah sexy, buat abah aja deh,” ujar Adipati sambil menunjuk tirai dibelakangnya dengan menggunakan jari telunjuknya.


“Sorry, Di. Dia sexy tapi bukan tipe Abah, tipe Abah itu yang yahut kaya Mamih Juan,” ujar Abah sambil mengacungkan jempolnya.


“Aww... awww...” teriak Taca tiba-tiba saat merasakan kontraksi yang makin mendera dirinya.


“Amore, napas sayang,” pinta Adipati sambil memeluk Taca, Taca hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Napas... hu hu hu..” ujar Taca sambil menahan rasa sakitnya, pengalaman melahirkan anak kembar membuat Taca banyak belajar ilmu pernapasan untuk melahirkan anak ke tiganya ini.


“Neng, ayo neng pasti bisa,” ujar Abah sambil mengelus-ngelus tangan Taca.

__ADS_1


Seorang suster masuk kedalam, dengan cepat Suster tersebut memeriksa bukaan Taca, ternyata bukaan Taca sudah bukaan 9. “Bu, Pak. Ini sudah bukaan 9, kita pindahkan keruang bersalin yah. Jalan lahirnya bagus, terbuka lebar,” ujar Suster tersebut sambil tersenyum malu-malu pada Adipati dan Taca.


Taca hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Suster didepannya saat mengatakan jalan lahirnya terbuka lebar. Terima kasih atas kerja kerasnya Bapak Adipati Berutti yang selalu membuka jalan lahir bagi anak ketiganya. Terima kasih banyak.


•••


Iis, Juan dan Rozak menunggu diruang tunggu yang sudah disediakan. Iis menolak menemani Taca. Iis merasa tubuhnya agak meriang. Tubuhnya terasa sangat-sangat tidak enak badan.


“Yang, kamu kenapa? Kamu nggak enak badan?” tanya Juan pada Iis.


Iis hanya bisa tersenyum lemah, Iis benar-benar merasa tidak enak badan. Tubuhnya, rasanya seperti orang sakit masuk angin.


“Aku kayanya masuk angin, Mas. Nggak enak badan banget,” ujar Iis lagi.


“Coba kita ke Dokter gimana?” tanya Juan pada Iis.


Iis langsung menyetujui saran Juan. Setelah berpamitan pada Rozak. Juan dan Iis pun pergi menuju dokter umum. Karena, kosong Iis langsung ditangani oleh dokter umum tersebut.


“Bu, ibu sudah dari kapan merasakan gejala sakitnya?” tanya Dokter Tria.


“Sekitar seminggu yang lalu,” jawab Iis.


Dokter Tria langsung tersenyum kemudian meminta sesuatu pada suster dibelakangnya. “Ibu tolong ikutin susternya yah, biar diperiksa sama susternya,” ujar Dokter Tria, Iis dengan patuh mengekor suster tersebut meninggalkan Dokter Tria dan Juan.


Iis dibawa ke kamar mandi oleh suster tersebut, Saat itu Iis diminta masuk kedalam salah satu bilik kamar mandi.


“Mau apa, Sus?” tanya Iis bingung, pemeriksaan apa yang harus dilakukan di kamar mandi.


Suster tersebut tersenyum dan memberikan sesuatu ditangan Iis. Iis terdiam melihat apa yang diberikan oleh Suster tersebut.


“Sus...”


“Periksa yah, Bu,” jawab Suster itu sambil tersenyum manis.


“Iya...”


•••


Apaan yah? Tau ah.... tunggu besok aja yah, Kaka Gallon mau beres-beres lagi aja heheee...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


-Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2