
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Kamu baik-baik didalem yah, jangan manja-manja sama Mamih. Jangan bikin Mamih mual-mual, kasian Mamih,” Juan berbisik di perut Iis, sambil mengusap-ngusap perut Iis yang masih rata.
Iis hanya bisa tersenyum melihat tindakan Juan. Seharian ini Juan melarang Iis berdiri dari tempat tidur. Seharian ini Juan selalu mengelus perutnya, bahkan kemanapun Iis pergi Juan benar-benar mengekori Iis dengan dalih suami siaga. Suami siaga macam apa yang mengekori istrinya sampai kekamar mandi...!?
“Yang, besok kita ke dokter Tia,” ujar Juan sambil terus mengelus perut Iis.
“Iya, besok kita ke Dokter Tia. Mau kasih tau Papih sama Mamih kapan?” tanya Iis sambil menatap Juan.
“Besok, besok setelah pulang dari pemeriksaan. Aku udah bilang sama Papih, Mamih, dan Nenek, minta mereka makan siang di rumah Papih dan Mamih, aku bilang buat acara perpisan Papih dan Mamih yang mau ke Hongkong,” ujar Juan.
“Ah, nanti reaksi mereka gimana, yah?” tanya Iis bingung. Iis tidam tau seperti apa reaksi mertua dan Nenek Juan. Kemarin, Iis memberitahukan kalau dia hamil pada Bernard, Bernard langsung meminta berteriak-teriak dan berjanji akan pulang ke Jakarta saat liburan.
“Nggak tau, tapi aku bisa yakinin Mamih bakal teriak keras banget. Seinget aku dulu pas tau aku keterima masuk Harvard, Mamih teriak paling keras ampe-ampe Papih semaput,” kekeh Juan saat mengingat betapa hebohnya kelakuan Papih dan Mamihnya saat tau Juan masuk harvard, padahal kelakuan Juan saat senior high school di New Zaeland begajulan tiada tara.
“Hahahaa... kaget dia yah, anak nakalnya bisa sekolah di sana,” ujar Iis sambil mengusap perutnya.
“Bukan kaget lagi, ampe pingsan Mamih,” jawab Juan.
Iis langsung mengusap perutnya pelan, “Nak, nanti kalau udah gede jangan begajulan kaya Papih, Yah. Biasa aja, jangan jadi playboy. Jangan mainin peresaan perempuan....”
“Kata siapa anaknya laki-laki?” tanya Juan sambil memandang Iis.
Iis kaget dengan perkataan Juan, “Kamu mau anaknya perempuan?”
“Iya, biar cantik kaya Mamihnya, kelakuannya juga kaya Mamihnya. Jangan, kaya Papih yah, pecah kepala Papih kalau kelakuan kamu kaya Papih,” bisik Juan.
“Astaga, sadar kelakuan kamu suka bikin onar?” tanya Iis sambil tertawa geli.
“Sadar banget, makanya aku berdoa moga kelakuan anak aku nggak kaya aku. Jangan kaya aku lebih tepatnya,” pinta Juan sambi mengatupkan kedua tangannya.
“Aamiin,” teriak Iis dengan cepat, jelas dan tegas.
“Jangan juga kaya Mamihnya, yang hobinya kabur-kaburan kalau marah. Terus suka nendang Papih dulu pas lagi pacaran....”
“Haiyaaaa... kenapa jadi bawa-bawa hobi nendang aku sih,” ujar Iis sambil mencubit perut Juan.
“Aw... jangan buat anakku jadi tukang cubit, Tuhan. Cukup istriku saja, bisa habis perutku di cubitin dua bidadari,” ucap Juan sambil terkekeh geli karena melihat ekspressi Iis yang sudah membulatkan matanya karena geram dengan perkataan Juan.
“Kalau anaknya cowo gimana? Kamu kenapa ingin anak perempuan?” tanya Iis.
“Biar aku jadi cowo paling ganteng dirumah ini, Yang. Kan asik tuh, pasti bakal banyak yang iri,” ucap Juan sambil mencium kening Iis kemudia berbaring disamping Iis.
“Kalau lahirnya laki-laki gimana?” tanya Iis.
“Nggak gimana-gimana. Berarti kamu paling cantik dirumah ini,” jawab Juan sambil tertawa.
__ADS_1
“Aku mau laki-laki, mau perempuan sama aja. Yang penting anaknya ini lahir dengan selamat dan nggak kurang satu apapun.”
“Aamiin.”
•••
Juan dan Iis sudah melalukan pemeriksaan bersama dengan dokter Tia. Selama pemeriksaan Juan benar-benar cerewet. Semua Juan tanyakan dari a sampai z. Iis hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Juan menanyakan segalanya, segala-galanya. Mulai dari makanan yang dilarang sampai cara berjalan yang benar bagi ibu hamil. Bisa kalian bayangkan? Emang ada cara jalan yang salah pada saat hamil? Untungnya Juan tidak bertanya bagaimana cara bernapas yang baik bagi ibu hamil.
“Mas dari sini kita ke Taca yah, aku mau jengukkin Kafta,” pinta Iis sambil berjalan disamping Juan.
Juan hanya menganggukan kepalanya sambil memperhatikan alas kaki yang digunakan Iis.
“Kamu kesana duluan aku ada urusan,” ujar Juan sambil mencium pipi Iis dan pergi meningalkan Iis.
Iis lalu kembali berjalan keruangan rawat inap Taca. Saat membuka pintu Iis langsung mendengar suara teriakan Kama dan Kalila, Abah, Riki, Rozak dan Taca yang sangat-sangat memekakkan telinga.
“Kama, jangan dimakan,” teriak Riki saat melihat Kama sedang asik memakan plastik di pojokan.
“Kalila ngapain kamu disana nanti kesetrum,” teriak Rozak saat melihat Kalila sedang merangkak kebelakang lemari es.
“Pokoknya namanya harus Tatang..!?” ujar Abah sambil menggendong Kafta.
“Nggak mau, namanya Kafta pokoknya....” rengek Taca sambil mengangkat tangannya dengan maksud meminta Kafta dari Abah.
“Aduh, itu anak kamu dua namanya udah Kama sama Kalila, udah yang ini Tatang aja, bagus,” ujar Abah sambil menyerahkan Kafta pada Taca.
“Nggak mau, atuh kasian nanti. Kalau acara keluarga. Kakak-kakaknya namanya bagus-bagus, lah nama dia Tatang, masa nanti dipanggil. Kama Trina Berutti, Kalila Tina Berutti, lah anak bungsunya namanya Tatang Trina Berutti. Kasian Abah,” rengek Taca sambil menyusui Tatanga eh salah Kafta.
“Iis, sini,” panggil Taca.
“Mana liat Tatangnya,” ujar Iis sambil menatap Kafta.
“Nah kan, bagusan Tatang. Iis aja setuju,” ujar Abah.
“Kafta, namanya Kafta,” rengek Taca kesal.
“Iya, Kafta Tatang Berutti,” canda Iis yang langsung mendapatkan cubitan maut dari Taca. “Aw...”.
“Ide bagus, Abah mau kasih tau Adipati dulu,” ujar Abah sambil pergi keluar kamar dengan maksud mencari Adipati untuk memberitahukan ide gilanya itu.
“Abah... woi Abah...” panggil Taca frustasi. Astaga Abah benar-benar tidak bisa ditolak keinginannya. Tapi, masa anaknya namanya Tatang.
“Udah, udah... Adipati mana berani ganti nama anak kalau nggak ada ijin dari kamu, Ta,” Iis berusaha menenangkan Taca yang sudah semaput.
“Tau ah, kesel aku.”
“Udah biarin aja, kan lucu namanya Tatang,” ujar Riki sambil mengendong Kama.
“Aa kalau punya anak mau di kasih nama Bulao?” tanya Taca kesal.
__ADS_1
“Naha kudu bulao? (Kenapa harus biru?)” tanya Rozak bingung.
“Atuh, ah... awas aja yah, kalau Aa sama Akang setuju nama anak Taca Tatang, Taca doain jomblo seumur hidup..!?” ancam Taca sambil menatap Riki dan Rozak.
“Aduh, ancamannya berat,” kata Riki sambil tertawa pelan.
“Aku mah nunggu Iis janda ajalah,” canda Rozak sambil mengerling nakal pada Iis yang langsung di balas pelototan oleh Iis.
“Udah ah, nyebelin semuanya ini mah,” kata Taca kesal.
Sesaat Abah dan Adipati masuk kedalam kamar. Abah sedang merayu Adipati untuk memberikan nama Tatang pada anak ketiganya.
“Di, nama Tatang itu hokinya bagus,” ujar Abah.
“Aduh, Bah. Aku ikut Taca aja, kata Taca Kafta,” Adipati menolak halus permintaan Abah.
“Ah, nyebelin. Ya udah, Iis kapan kamu hamil?” tanya Abah sambil menunjuk Iis.
Spontan Taca dan Adipati langsung terdiam mendengar perkataan Abah. Abah, Riki dan Rozak sama sekali tidak tau kalau Juan mandul.
Iis tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan Abah. “Sekarang lagi hamil Bah,” jawab Iis malu-malu.
“HAH...” teriak Taca dan Adipati berbarengan.
“Wah, selamat Iis. Si semprul itu bisa juga akhirnya ngehamilin kamu,” ujar Abah sambil memeluk Iis.
“Kok bisa?” tanya Taca.
“Kamu mah aneh, yah, bisa lah. Juan juga sering kuda-kudaan sama Iis pastinya ‘kan?” tanya Abah tanpa filter pada Iis. Iis hanya bisa menganggukan kepalanya saja, yang waras ngalah....
“Selamat Iis,” ujar Rozak sambil tersenyum tulus.
“Selamat Aunty Iis,” ucap Riki sambil mengerakkan tangan kama kekanan dan kekiri.
“Maaf telat,” ucap Juan yang masuk tiba-tiba keruangan.
“Bro... Iis hamil?” tanya Adipati sambil merangkul bahu Juan.
“Hah... iya hamil,” jawab Juan sambil tersenyum.
“Anak siapa?” tanya Adipati polos yang langsung mendapatkan pukulan di bahunya.
“Anak gue lah, monyong,” pekik Juan kesal.
“Jadi berhasil?” tanya Adipati.
“Iya, inseminasi buatannya berhasil. Sekarang gue bakal jadi ayah sama kaya lo,” ujar Juan sambil terkekeh.
“Selamat yah, gue tau perjuangan lo,” ujar Adipati.
•••
__ADS_1
Yeah.... satu kampung udah tau tinggal mamih sama papihnya.....
Ah... gimana kalau nama anaknya Juan Iis kalau laki-laki namanya Tatang Wijaya *yakin bakal ada yang ngambek ini mah 🤣🤣🤣