
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Tanpa terasa Adipati sudah ngobrol hampir sepanjang hari dengan teman-temannya. Semua diobrolkan. Mulai dari kenakalan mereka saat remaja, bahkan sampai apa yang mereka lakukan saat ini.
Dari obrolan itu juga Adipati mengetahui bahwa Markus sudah menjadi seorang polisi dan Monica saat ini sudah menikah dengan seorang pria kaya raya di Itali. Seperti yang Adipati kira, semua temannya kaget saat mengatakan dirinya adalah seorang ayah tiga anak dan Taca adalah istrinya. Siapa yang menyangka seorang cassanova bertekut lutut pada gadis asia.
Adipati saat ini sedang berjalan ke arah lift hotel, bermaksud untuk ketempat Abah untuk melihat ketiga anaknya. Saat sedang menunggu lift Adipati melihat Juan dan Iis yang sedang mendorong stroller berjalan ke arahnya.
“Juan, Iis. Dari mana?” tanya Adipati santai sambil melihat mereka berdua.
“Dari muter aja, jalan-jalan. Iis tiba-tiba ingin makan ice cream,” ujar Juan sambil berdiri disamping Adipati.
“Ah... Taca pasti makan ice cream paling banyak,” ujar Adipati sambil menatap Juan dan Iis.
“Taca? Wah kalau ikut dia bakal ngabisin banyak ice cream. Dia mah jurig (hantu) ice cream, Di,” ujar Iis sambil membenarkan letak tali tasnya.
“Jurig?” tanya Juan bingung, kadang istrinya ini selalu mengeluarkan kosa kata yang membuat dirinya bingung.
“Hantu, Mas. Jurig itu hantu,” perjelas Iis sambil masuk kedalam lift yang terbuka.
Adipati dan Juan langsung mengikuti Iis untuk masuk kedalam lift. “Hantu, Juan. Hantu,” ujar Adipati sambil menahan tawa.
Pintu liftpun tertutup dengan sempurn.
“Iis, tadi Taca emang beli apa aja?” tanya Adipati pada Iis. Adipati merasa bingung mengapa tidak ada bunyi notifikasi belanjaan dari kartu kredit milik Taca. Bisa dipastikan Taca berbelanja menggunakan uang cash atau di traktir Juan dan Iis.
“Beli? Beli apaan?” tanya Iis bingung.
Adipati langsung mengalihkan pandangannya dari layar handphonennya ke wajah Iis. “Taca pergi sama kalian kan?”
Iis langsung mengerjapkan kedua matanya bingung, “Taca nggak pergi sama kita kok,” jawab Iis sambil menatap Adipati.
“Hah... Taca nggak sama kalian?” tanya Adipati kaget.
“Nggak... Taca nggak sama kita, dari tadi kita cuman bertiga,” ujar Juan sambil menunjuk dirinya sendiri, kemudian Iis lalu Liz yang ada didalam stroller.
“Taca nggak sama kalian? Tadi dia bilang mau jalan-jalan sama Iis,” ujar Adipati sambil menunjuk Iis.
Iis kaget dengan perkataan Adipati, “Iya emang tadinya kita mau jalan-jalan. Tapi, aku tuh nungguin Taca ampir sejam didepan hotel. Tapi, Tacanya nggak keluar-keluar. Aku telepon nggak bisa di chat nggak dibales, makanya aku langsung pergi sama Mas Juan.”
Air muka Adipati langsung berubah saat mendengar perkataan Iis, astaga ada apa ini. Kemana Istrinya? Dengan cepat Adipati mengotak ngatik layar handphoennya dan menelepon Taca.
Tut...tut...
Sama sekali tidak ada, Taca tidak mengangkat teleponnya. Astaga kenapa ini? Kenapa Taca tidak mengangkat teleponnya.
-Amore kamu dimana?
Adipati langsung menchat Taca, tapi sialnya hanya cheklist satu. “Nggak bisa dihubungin dong.”
“Coba ketempat Abah, mungkin lagi sama Abah,” Iis mencoba menenangkan Adipati.
Adipati langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda menyetujui perkataan Iis. Tapi, entah kenapa perasaannya tidak enak. Ini memang bukan kota Ostia, dimana masih banyak mafia italia berseliweran. Ini Roma, tapi tetap saja jantung Adipati bertalu-talu mencari Taca. Orang hilang di Italia jangan harap bisa ditemukan dengan cepat.
__ADS_1
Ting...
Begitu pintu lift terbuka dengan cepat Adipati berlari ke arah pintu kamar mertuanya dan kakak iparnya.
Tok...tok...tok...
Adipati langsung mengetuk pintu kamar Abah, Adipati lupa kalau pihak hotel menyediakan bel disamping kamarnya.
“Abah... Rozak, Riki....” teriak Adipati tidak sabaran, berusaha untuk mengetuk pintu kamar sekeras mungkin.
Klik...
“Aya naon? Gandeng sateh, eta si Kama, Kalila jeung Kafta keur sare,” bentar Abah sambil menatap Adipati dengan tatapan tajam. Tidak taukah, kalau menindurkan tiga anak balita itu membutuhkan perjuangan extra.
(Ada apa? Berisik kamu tuh, itu Kama, Kalila sama Kafta lagi tidur)
“Maaf Bah, ada Taca?” tanya Adipati.
“Taca?”
“Iya Taca, tadi ada Taca nggak? Taca kesini nggak?” tanya Adipati kebingungan.
“Taca, kan sama kamu, belum kesini sama sekali, kenapa emangnya?” tanya Abah.
“Nggak kesini, Bah?” tanya Adipati bingung.
“Nggak, coba kamu ke kamar mungkin Taca disana, tau sendiri dia lagi jetleg. Yang ada dia tidur dikamar,” usul Abah sambil menunjuk ke arah pintu kamar Adipati.
“Ah, iya... aku kekamar dulu yah, Bah,” ujar Adipati sambil berjalan ke arah pintu kamarnya.
Abah langsung menutup pintu kamarnya dengan sedikit mengomel, karena takut Kama, Kalila dan Kafta bangun dari tidurnya.
Adipati berjalan kearah pintu kamarnya, tidak sengaja dia bertemu dengan Markus.
“Di, mau kemana?” tanya Markus.
“Kekamar, aku mau cari istri aku. Dia ditelepon nggak bisa, di chat juga nggak bisa,” ujar Adipati kebingungan.
“Dia tadi emang kemana?” tanya Markus ikut was-was.
Markus yang sudah biasa mengurusi hilangnya turis di Italia langsung siaga. Masalahnya, Taca adalah incaran empuk para rampok disana.
“Katanya dia mau jalan-jalan sama sahabatnya tapi tadi, Iis pulang bareng anak dan suaminya, istri aku nggak ada. Terus aku tadi tanya mertua aku juga nggak ada,” ujar Adipati lagi.
“Coba kamu cari ke kamar kamu,” ujar Markus.
“Ini mau, Mark,” ujar Adipati sambil membuka kunci kamar dengan tergesa-gesa.
Setelah pintu kamar terbuka, Adipati langsung masuk dan mencari Taca sambil berteriak-teriak.
“Amore... Amore...”
“Adipati, kayanya nggak ada disini deh,” ujar Markus.
“Astaga Taca trina berutti..!” teriak Adipati keras sambil mengedarkan pandangannya kesetiap penjuru kamar.
“Di, kayanya kita harus tanya satpam hotel deh,” Markus memberikan ide pada Adipati.
__ADS_1
“Kita kebawah,” ujar Adipati lagi.
•••
“Maaf, kamu pernah liat dia,” tanya Adipati sambil menunjukkan photo Taca yang berada dihandphonennya.
Bellboy hotel melihat photo yang ditunjukkannoleh Adipati, Bellboy tersebut ingat dengan jelas wanita yang ditunjukkan oleh Adipati.
“Ah, Signorina....”
“Signora Berutti, dia istri saya,” Adipati membenarkan panggilan untuk Taca.
“Ah, maaf. Saya sangka dia belum menikah,” ujar bellboy tersebut.
“Oke, dimana kamu liat istri saya?”
“Tadi, dia disini katanya menunggu sahabatnya, tapi tiba-tiba ada anak jatuh didepannya. Jadi, istri anda menolongnya dan mengajaknya ke klinik,” jawab bellboy itu sambil tersenyum mengingat kejadian tadi.
“Itu kapan kejadiannya?” tanya Markus cepat.
“Ah, itu saat awal saya bekerja, sekitar pukul satu,” jawab Bellboy itu tenang.
Markus melihat jam ditangannya, saat ini jam 7 malam, walau masih jam 7 malam, matahari belum tenggelam sama sekali. Matahari tenggelam pukul setengah 9 malam.
“Di, gimana kalau kita cari kesana,” ujar Markus.
“Oke, kita cari kesana,” Adipati menyetujui perkataan Markus.
“Pak, apa anaknya ini?” tanya Markus sambil menunjukkan photo seorang anak kehadapan bellboy tersebut. Markus berdoa didalam hatinya moga bukan anak itu yang mengajak Taca ke klinik. Kalau anak itu bisa berabe urusannya.
“Ah... bukan, bukan anak itu. Yang tadi minta tolong itu anak biasa bukan anak komplotan perampok,” bellboy tersebut menenangkan Markus.
Markus langsung tersenyum kemudian mengajak Adipati berjalan kearah klinik, ketempat Taca harusnya ada disana.
“Perampok? Gerombolan perampok? Maksudnya gimana?” tanya Adipati bingung.
“Di, zaman makin susah, sekarang makin banyak perampok yang sasarannya turis asia, karena turis asia dianggap selalu membawa uang cash dan mereka itu lebih ramah, tingkat kewaspadaannya rendah,” ujar Markus.
“Saat ini, banyak perampok anak kecil atau anak dibawah umur, pura-pura sakit atau jatuh didepan para turis, mengemis iba untuk mengantar mereka ke klinik, agar diobati. Tapi, diperjalanan ke klinik mereka dirampok,” ujar Markus.
Mendengar penjelasan Markus membuat Adipati berjalan lebih cepat lagi. Taca benar-benar harus cepat ditemukan, Taca terlalu polos dan terlalu gampang percaya orang.
•••
Nah kan... Tacanya ilang...
gimana ini hadeuh...
Taca itu terlalu polos dan gampang percaya orang masalahnya....
Ayooo temukan Taca, kalau nggak ketemu ini bisa jadi sad ending ceritanya *ditimpuk gallon sama pembaca hahahaa...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon...