
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻 jangan lupa komen juga yah, please...
Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Neng Taca... Neng..." pangil Abah dari dapur.
"Iya, Bah. Kenapa ?"
"Beliin Abah gula merah, abis ini gula merahnya," ujar Abah sambil menunjukkan kotak yang harusnya berisikan gula merah.
"Oke, Diiii...Diii. Anterin aku kepasar, yuk. Kamu bisa naik motor 'kan. Anterin ke pasar yuk," pinta Taca sambil menguncang-guncangkan kunci motor.
"Amore, peluk yang kencang. Aku mau ngebut nih," ujar Adipatib sambil menggenggam kedua tangan Taca yang sudah memeluknya.
"Oke..." jawab Taca Riang.
•••
"Di, katanya mau ngebut, ini mah ngak ada ngebut-ngebutnya."
"Pelan-pelan aja, biar ngak celaka. Tapi kamu tetep peluknya yang kenceng nanti jatuh," perintah Adipati pada Taca sambil mengelus-elus tangan Taca.
"Modus...!!" pekik Taca yang langsung dijawab tawa oleh Adipati.
Adipati dan Taca pun langsung memparkirkan motornya ditempat yang telah disediakan. Mereka berdua langsung masuk kedalam pasar. Suasana di pasar langsung heboh. Heboh karena kedatangan Adipati yang disangka Artis.
Bahkan, ada beberapa ibu-ibu yang meminta tanda tangan atau berphoto bersama Adipati. Adipati menolak mereka dengan halus.
"Hmmm dimana yah tukang gula merah?" tanya Taca sambil mengedarkan pandangannya, sampai manik matanya bertemu dengan...
"Taca.." sapa Entis, disebelah Entis tak lupa ada Rani yang berdiri disamping Entis.
"Oh, hai Ntis, Ran. Lagi ngapain kesini ?" tanya Taca sambil menyungingkan senyum palsunya.
"Aku mau beli emas, Ta. Buat Mas Kawin. Kamu kesini mau ngapain ?" tanya Rani lagi sambil sesekali melirik Adipati yang ada dibelakang Taca.
"Oh... aku sama Adipati mah, mau beli gula merah, tapi dimana tukang gula merahnya, yah ?" tanya Taca kebingungan.
"Oh tukang gula merah itu ada disamping toko emas yang mau aku datengin." ujar Rani
"Bareng aja, yuk," ajak Rani sambil menarik Taca berjalan.
Taca yang tangannya ditarik Rani hanya bisa pasrah mengikuti Rani, sedangkan Adipati dan Entis berjalan mengekor mereka berdua.
"Kenal Taca dimana ?" Entis mulai mengorek informasi dari Adipati sambil berjalan disamping Adipati.
"Di kantor," jawab Adipati cepat, dia sedang malas berbasa basi, apalagi berbasa basi dengan orang yang pernah mengejar-ngejar Taca.
"Oh, satu kantor. Emang kalau satu kantor boleh yah, jadi pasangan suami istri." tanya Entis lagi.
'Boleh-boleh aja lah, mau aku pecat orang yang keberatannya ?' batin Adipati.
"Oh.. kalau diperusahaan kami sih, boleh-boleh saja," jawab Adipati cepat.
"Wah, kalau tidak salah Taca itu bekerja di perusahaan unicorn terbesar di Indonesia 'kan ?" tanya Entis sambil tersenyum.
"Iya."
Entah setan apa yang merasuki pikiran Entis, tiba-tiba dia ingin melakukan sedikit kebohongan.
__ADS_1
"Saya kenal dengan CEO nya, orangnya baik loh. Saya sering ngobrol-ngobrol sama dia," dusta Entis, entah kenapa Entis ingin terlihat lebih hebat dimata Adipati. Dia merasa tidak ingin tersaingi oleh Adipati, sehingga melakukan sedikit kebohongan.
Adipati yang mendengar perkataan Entis, langsung menghentikan langkahnya, kemudian menatapa muka Entis, berjuang menggali ingatannya pernah atau tidak dia bertemu dengan Entis. Nihil, dia merasa tidak pernah bertemu apalagi akrab dengan Entis.
"Kamu kenal CEO Toko. CEOnya ? Bukan wakil atau bagian keuangan atau apalah gitu ?" tanya Adipati memastikan kembali perkataan Entis.
"Iya, kenal. Mau saya telepon ?" tanya Entis sambil mengeluarkan handphonenya, dengan penuh keyakinan.
"Hah ? Oh ngak usah, ngak usah," ujar Adipati kebingungan.
Entis langsung bernapas lega dengan penolakan Adipati, karena jujur Entis tidak punya nomernya, bahkan nama atau mukanya pun Entis tidak tau.
"Makanya, Di. Gimana mau saya promosikan kamu ke CEO perusahan kamu, biar naik pangkat. Gampang itu mah heheheee..." kekeh Entis.
'Sepertinya orang ini satu spesis sama Becca. Cocok nih kalau dinikahin, sama-sama halu hahahaaaa' batin Adipati sambil menahan tawanya.
"Oh, oke sip. Nanti kalau saya mau naik jabatan bakal saya hubungi kamu, Ntis. Keren kamu Ntis bisa kenal sama CEO perusahaan kami," ujar Adipati sambil menahan tawa. Adipati bersumpah dia tidak pernah berteman dengan mahluk jejadian di sampingnya ini.
"Disini tokonya, ayo Kang Entis cepet katanya mau beliin aku perhiasan. Ayooo..." pinta Rani sambil menarik tangan Entis manja.
Adipati hanya melihat toko emas tersebut, 'Toko perhiasan macam apa ini, mungil banget' batin Adipati.
"Di, yuk udah. Aku udah beli gula merahnya." Ujar Taca sambil menarik jaket yang dipake Adipati.
"Oke, Entis aku pergi dulu yah..."
"Eh.. mau kemana sini, Ta. Temenin aku pilihin emas-emasnya. Hayu...!" potong Rani sambil menarik tangan Taca tanpa permisi.
Taca akhirnya pasrah kembali harus menemani Rani yang ribut memilih perhiasan.
"Ta bagusan ini atau yang ini ? Atau yang ini atau yang ini ?" tanya Rani sambil terus memilih emas di depannya.
Taca yang pusing hanya bisa menganguk-anggukkan kepalanya. Bukan tidak suka perhiasan, tapi Rani itu tipe wanita yang sangat berisik. Mulutnya ngak berhenti 24 jam/ hari, ngomoooongggg terus.
"Hmmm kang boleh aku beli semunya ? Tanya Rani manja pada Entis dan langsung dijawab dengan anggukkan.
"Wohh asik, Taca kamu ngak minta beliin ?" Tanya Rina dengan senyuman yang extra nyebelin.
'Hah... she we go again...' batin Taca sambil menghela napasnya.
"Ngak ah, Rin... Adipati udah pernah kasih aku kalung sama cincin ini, ini juga udah cukup," ujar Taca sambil menunjukkan kalung chophar dan cincin Tiffany and Co miliknya.
Rina melihat kalung dan cincin Taca dengan seksama, kemudian tersenyum 'kalung gitu doang palingan 15 gram yah 14 jutaan lah, cincinnya lumayan tuh bagus, palingan 8 jutaan. Murah.' batin Rina pongah.
"Ih, kalung sama cincin doang. Palingan 23 jutaan, coba sini buka. Kita tanya ke si cici berapa harga kalung sama cincinnya. Jangan-jangan kalung dan cincin mainan lagi." pinta Rina sambil berusaha membuka kalung Taca.
"Ngak Rin, ngak usah. Ngak papa mainan juga, aku suka kalung sama cincinnya," ujar Taca menolak sambil sedikit mendorong tangan Taca.
"Huh... bilang aja kamu malu kalau ketauan kalung sama cincinnya murah." olok Rina sambil mengembikkan bibirnya.
Astaga, entah harus sesabar apa Taca menghadapi tetangganya ini. Tuhan... kenapa hidupnya dipenuhi orang-orang absurd, apa salah Taca TUHAAAANNN...!
"Semuanya 90 juta, Rin. Kamu beli 100 gram ini totalnya. Harga emas segram 900.000 rbu," ujar Ci Li pemilik toko emas tersebut dengan senyuman cerah ceriah.
"Kang, bayarin itu. Cepet..." minta Rani sambil tersenyum.
"Iya, Neng," jawab Entis sambil mengeluarkan keresek hitam dari kantongnya kemudian memberikan pada Ci Li.
"Wah, emang anak juragan Darmawangsa emang beda. Beli emas 90 juta kaya beli kacang," Ci Li memuji Entis setinggi langit.
Entis yang mendengar perkataan Ci Li langsung tersenyum jumawa. "Ah, Ci Li ini bisa saja, diitung dulu Ci."
__ADS_1
Taca hanya bisa menghela napas melihat pasangan calon suami istri didepannya ini. Rasa-rasanya ingin Taca melempar mereka berdua dengan gula merah ditangannya. Bener yah, tuhan itu menjodohkan seseorang dengan cerminan dirinya. Cocok bener Entis sama Rina sama-sama sombong ngak jelas.
Melihat Taca yang menghela napas, Entis tiba-tiba memegang tangan Taca kemudian menyelipkan cincin di jari manis Taca.
"Ambil aja ini, angap kado perpisahan dari saya," ujar Entis sambil memberikan senyuman menggoda.
Tiba-tiba Adipati menarik tangan Taca, kemudian membuka cincin yang baru dipasangkan Entis, lalu menyimpannya di meja.
"Ngak perlu, Ntis. Biar saya yang beliin. Ngak perlu kamu kasih kado-kado perpisahan, emang siapa yang pisah ?" tanya Adipati sambil menyembunyikan Taca di belakang badannya.
"Oh, ngak ada yang pisah. Saya cuman ingin ngasih kado aja buat Taca." jawab Entis dengan wajah tanpa dosa.
"Ngak usah, Taca ngak butuh cincin murah." Jawab Adipati kesal, rasa cemburu benar-benar menggelora didadanya.
"Ih.. enak aja cincin murah, mahal tau. Cincin ini tuh 5 gram. Harganya 4,5 juta. Kamu cuman bisa beliin Taca 1 cincin sama 1 kalung aja, sombong," cecar Rina sambil menunjuk-nunjuk Adipati.
Adipati terdiam melihat tingkah Rina yang menunjuk-nunjuk dirinya. Kemudian berbisik ditelinga Taca. "Lepas kalung sama cincin kamu."
"Buat ?"
"Lepas cepet, aku kok jadi kesel yah sama kelakuan tetangga kamu."
Taca menahan senyumnya kemudian melepas cincin dan kalungnya kemudian menyimpannya di meja.
"Ci kamu bisa menaksir harga perhiasan berlian ?" tanya Adipati.
"Bisa," ujar Ci Li sambil mengambil kalung Taca. Saat melihat kalung Taca, Ci Li langsung terdiam. Dia memang tinggal dikampung tapi dia tau pasti harga kalung Taca. Kalung Taca bukan model replika tapi benar-benar dibeli di tokonya langsung.
Ci Li kemudian berpindah pada cincinnya, lagi-lagi terdiam, tangan kirinya menambil sebuah alat kemudian menyorotkan ke arah batu di cincin tersebut terdengar bunyi PIP PIP PIP yang sangat keras.
"Wah ini mah, beda kelas atuh."
"Beda kelas kumaha ?" tanya Rina penasaran, entah kenapa Rina merasa perhiasan miliknya lebih mahal daripada milik Taca. Pokoknya perhiasan Rina harus lebih WOW...!!
"Ini kalung chopard dan ini cincin Tiffany and Co 'kan."
"Iya."
"Astaga.. saya ngak nyangka bisa megang barang semewah ini. Kalungnya aja harganya 158, cincinnya 1,6 karena ini berliannya 2 karat kan ?" tanya Ci Li dengan mata berbinar, langsung dijawab anggukan oleh Adipati.
"Jadi harganya 158 rbu trus cincinnya 1,6 juta ? Murah kalau gitu mah," cerocos Rina pongah, sambil mendelikkan matanya pada Taca yang tersenyum kuda.
"Bukan, Rin"
"Berapa ?"
"Kalungnya 158 juta, cincinnya 1,6 milyar..."
"APAAAAAA ???????" teriak Rina.
•••
Hah Rin Rin... udah jangan lawan sultan...
pusing yang ada, author aja pusing bikin part ini. Sampe harus bolak balik buka kalkulator wkwkkwk...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon