
"Morning, Yang..." ujar Juan sambil membenarkan anak rambut Iis.
Iis yang baru bangun langsung mengedipkan matanya beberapa kali, matanya silau karena matahari pagi yang langsung mengenai matanya.
"Pagi, Mas..." jawab Iis sambil merenggangkan tubuhnya, kemudian menelusupkan kepalanya ke dada Juan.
Juan tersenyum melihat kelakuan Iis yang suka menyelusup ke dadanya. Dengan cepat Iis mengusap rambut Iis yang hitam dan tebal. "Mau tidur lagi ? Kalau mau tidur lagi kita check outnya besok aja," ujar Juan.
"Hah... ngak usah, Ayah aja udah pulang dari kemarin, lah kita diem mulu disini ngak beraktifitas apapun," ujar Iis sambil mengeratkan pelukkannya.
"Masalahnya, kalau kamu meluk gini, beneran ngak akan bergerak ini, pikiran aku kemana-mana, Yang..."
"Bodo, pikiran kamu yang kemana-mana, bukan pikiran aku," ujar Iis sambil tersenyum manis.
"Tega kamu, Yang..."
Detik berganti menit, menit terus bergulir dengan cepat bagi Juan dan Iis mereka hanya saling memeluk dan mengecup kening, mata, rambut.
"Mas yang kamu bilang kemarin beneran ?"
"Yang, mana ?" tanya Juan sambil mengecek handphonenya di nakas.
"Yang, kamu mau ningalin keluarga kamu, kalau keluarga kamu ngak setuju aku nikah sama kamu, Mas."
"Iya..." jawab Juan mantap dan cepat membuat Iis bangkit dari tidurnya.
"Kenapa ? Itu orang tua kamu loh," ujar Iis cepat.
"Iya, emang mereka orang tua aku, tapi aku ingin bahagia, Yang. Aku capek ikutin keinginan mereka. Untungnya Mamih aku setuju aku nikah sama kamu, tapi Papih aku ngak tau. Diotaknya kepentingan perusahaan adalah segalanya. Dulu Papih hobi banget ngejodohin aku sama anak-anak koleganya," kenang Juang sambil duduk menyender di hardboar ranjang.
"Terus kenapa sekarang kamu ngak dijodohin ?" tanya Iis bingung.
'Karena aku punya kekurangan, Yang. Mau ditaro dimana muka Papih kalau kekurangan ini diketahui calon besannya,' batin Juan.
"Ngak tau, mungkin Papih nyerah. Tapi, aku yakin 100% Papih bakal setuju. Ngak mungkin dia nolak perempuan selucu dan secantik kamu, Yang," gombal Juan sambil menjawil hidung Iis.
"Tapi, kata kamu cantikkan Cicil."
"Emang cantikkan Cicil...."
BRUKKKKK
Bantal kecil langsung melayang kemuka Juan, Juan langsung terkekeh mendapatkan pukulan tersebut.
"Sana, sama Cicil sekalian bikin video swinger lagi sana, sama unggas terus sekalian sama setan...!!!!!" rutuk Cicil sambil menendang kaki Juan.
"Hahahaha.. ampun-ampun, ngak lagi-lagi. Itu masa lalu, Yang. Kejadian udah lama, entah kenapa otak aku mau ngelakuin kaya gitu," Juan mengingat masa kelamnya, masa penuh kebebasan dan minuman keras. Kehidupan tidak sehat. Party everytime and everywhere.
"Emang kamu ngak cemburu, badan Cicil dilihat Adipati ?" tanya Cicil bingung dengan otak Juan.
"Ngak... entah lah pokoknya, ngak ada rasa cemburu sama sekali." jawab Juan sambil mengaruk hidungnya.
__ADS_1
"Kalau badan aku diliat Kang Rozak atau Adipati, gimana ?" tanya Iis pada Juan.
Juan lansung memundurkan kepalanya mendengarkan pertanyaan Iis. Rasa cemburu dan marah langsung timbul di dada Juan.
"Si Rozak mau aku cemplungin ke sawah Ayah ? Mau aku tendang, hah ? Terus si Adipati mau aku bikin bangkrut ???," ujar Juan kesal sambil menarik badan Iis kepelukkannya.
"Kan Cicil aja..."
"Yah itukan si Cicil, bukan kamu. Nih kalau kamu aku ngak ridho, Yang. Ngak ridho, awas aja kalau ada yang liat-liat badan kamu. Aku colok matanya. Enak aja, aku aja belum liat, lah orang lain mau liat-liat. NGGAK ADA...!!" cerocos Juan sambil mengeratkan pelukkannya sambil menciumi rambut Iis.
"Jadi, kalau kamu udah liat. Berarti ngak papa orang lain liat ?"
"Tetep ngak bisa, pokoknya cuman aku yang boleh liat.. ini kenapa sih malah ngomongin badan kamu. Udah ngomongin yang lain. Bikin darah tinggi aja. Pokoknya ngak ada yang boleh liat-liat kamu...!!!" ujar Juan kesal sambil menutupi badan Iis dengan selimut.
"Mas, kok aku jadi kaya bola salju gini, sih..." ujar Iis kesal karena Juan membelitkan banyak selimut ketubuhnya.
"Hahahaha... cantik loh kamu gini," canda Juan dan dengan cepat dia mendapatkan pukulan di kakinya.
"Ngaco ih, udah ah aku mau mandi," ujar Iis sambil berdiri.
"Ikut, Yang..."
"Ngak, jangan bikin perkara..! Tunggu disini..!" pekik Iis sambil menutup pintu kamar mandi keras.
•••
Juan yang sudah selesai mandi langsung keluar ke ruang tamu dikamar hotelnya. Matanya langsung terdiam saat melihat wanita yang tengah duduk di kursi ruang tamu. Wanita tersebut sedang membalik-balikkan majalah Vogue dengan santai.
"Juan.... astaga mamih kangen," ujar Mamih sambil berdiri kemudian memeluk Juan.
"Mamih, dari mana ? Nikahan Adipati sama Taca udah kemarin , Mih." ujar Juan sambil membalas pelukkan Mamih, wanita yang telah melahirkannya ini masih terlihat sempurna dan menawan diumurnya yang sudah berkepala 5.
"Iya, Mamih kemarin masih di Hongkong. Juan. Kerjaan Mamih banyak banget. Ini aja Papih kamu masih di sana. Tapi, Mamih bawa kado kok buat Adipati dan Taca," ujar Mamih sambil menunjukkan 2 dus besar.
"Tapi, mereka masih disini kok. Nanti, aku anterin Mamih..."
"Mamih kesini penasaran sama pacar kamu, Mamih mau kenal, siapa namanya ?" tanya Mamih sambil menatap anaknya.
"Iis.. Iis.."
"Iis dahlia ???" tanya Mamih menyebutkan salah satu nama artis dangdut Indonesia.
"Hahahaa.. bukan, Mih. Namanya Lizbet Sandia tapi panggilannya Iis, ngak pake dahlia yah, Mih," canda Juan sambil mengaruk kepalanya.
"Namanya, Iis ? Dia bapaknya kerja..."
"Mih, Iis bukan dari keluarga seperti kita, Iis cuman anak petani biasa. Tolong jangan tanya-tanya hal kaya gitu sama Iis, Mih," ujar Juan sambil membenarkan posisi duduknya.
"Oh... kaum biasa.."
Juan hanya bisa memaklumi perkataan Mamihnya, Mamih dari lahir sudah menjadi anak orang kaya begitu pula Papih. Mamih lahir dari keluarga pemilik Bank swasta terkenal di Indonesia, sedangkan Papih jangan tanya hampir semua orang tau siapa keluarga Wijaya.
__ADS_1
"Mih, walau Iis kaum biasa. Iis sayang Juan. Dia ngak mandang nama keluarga Juan. Bahkan pas pacaran awal-awal Iis nyangka keluarga kita yang punya koperasi di kampungnya, hahahaaa...."
"Hah... dia ngak tau keluarga kita ? Masa ?" tanya Mamih kaget.
"Ngak dia ngak tau, sampai detik ini juga dia tidak terlalu tau, Mih. Aku kasih Kartu kredit ngak pernah dia pakai sama sekali. Sampai aku bingung sendiri, terus aku tanyain kamu ngak belanja ? Dia jawab belanja apa ? Barang aku bagus semuanya," ujar Juan mengingat tingkah laku Iis.
"Dia kerja apa ?"
"Dia Psikolog anak di biro Jakarta," ujar Juan menyebutkan pekerjaan Iis, ada rasa bangga diperkataannya.
Mamih tersenyum mendengar pekerjaan Iis, calon mantunya ternyata seorang wanita yang mandiri dan biro yang disebutkan Juan juga bukan biro kacangan.
"Oke..oke... Mamih setuju deh, apapun yang terbaik untuk kamu, Juan. Asal jangan Cicil, Mamih ngak mau pokoknya. Cewe kurang ajar...!" ujar Mamih mengingat perlakuan Cicil.
"Gara-gara dia kamu pergi, terus bikin usaha sama Adipati. Untung usahanya jalan kalau ngak Mamih bisa abis di omelin Papih kamu," cerocos Mamih.
Juan seperti tersadar kalau Iis dan Mamih cerewetnya sama, sebelas duabelas. "Iya, udahlah Mih. Sekarang semuanya udah berlalu. Juan udah sama Iis. " ujar Juan.
"Mamih cuman berdoa semoga Papih dan nenek kamu tuh, nerima Iis. Tau sendiri kan mereka kaya apa ?" ujar Mamih sambil mengesap Tehnya.
Manik mata Mamih langsung melihat sesosok wanita berkemeja dan bercelana jeans keluar dari kamar. Mamih mengkerutkan dahinya kaget bukan main melihat wanita tersebut.
"Ayang, sini. Ada Mamih aku. Sini, Yang..." ujar Juan sambil berdiri kemudian berlari mendekati Iis yang terdiam menatap wanita cantik didepannya.
"Mamih ka..mu..." cicit Iis sambil meremas kemejanya.
Jantung Iis langsung bertalu-talu, dengan cepat Iis merasa insecure. Tau begini Iis akan mengunakan pakaian terbaiknya. Bukan kemeja milik Juan dan celana jeans. 'Astaga, gimana ini ?!' batin Iis panik.
Mamih hanya melihat Iis dari atas kebawah sebelum mengembangkan senyumannya.
"Kamu, Iis ?"
"Iya..." jawab Iis sambil menelan salivanya, jantungnya berdetak cepat, dag dig dug derrr....!?
•••
Ketemu camer emang bikin dag dig dug duarrrr
Ayooo masih inget ngak pertemuan pertama sama camer ??
Hehehehee...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1