
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Aroma panas menguar dari tubuh dua pasangan halal yang sedang melakukan sesuatu. Desaha-desahan terdengar meloncat keluar dari pasangan tersebut. Lampu yang bersinar malu-malu dan alunan lagu yang mampu membuat libido melonjak naik ke titik paling atas membuat kedua insan manusia itu makin terhanyut melakukan aksinya.
“Yang, aku...”
Suara erangan panjang langsung terdengar di kuping Iis, dengan capet Iis melakukan yang harus dilakukan. Menampung segala-galanya pada tempat yang sudah disediakan.
“Yang sekali lagi yuk,” bisik Juan di telinga Iis. Bulu kuduk Iis langsung meremang. Iis memang membantu Juan, tapi masalahnya ini bukan membantu sama sekali, Iis benar-benar dipergunakan sebaik-baiknya oleh Juan.
“Mas nanti...”
Juan langsung membungkam mulut Iis dengan mulutnya, merengguk candunya dengan cepat. Tangan Juan kembali bergriliya di bagian-bagian tubuh sensitif Iis, membuat suara Iis berloncatan keluar dari mulutnya, menambah suasana panas yang ada.
Juan dan Iis benar-benar terlena dengan suasana dan udara yang benar-benar panas sampai...
TOK TOK TOK TOK...
Juan dan Iis menghentikan permainan mereka dan saling tatap. Iis dengan cepat memperbaikki summer dressnya yang sudah melorot ke bagian perut. “Siapa?” bisik Iis.
Juan meletakan jarinya di bibir mungil Iis, memberikan tanda bahwa Iis harus diam. “Diem Yang.”
Iis menurut dan mengunci mulutnya sambil terus menatap Juan.
“Bapak dan Ibu Wijaya?” panggil seseorang dari luar pintu.
“Iya,” jawab Juan sambil menyisir rambut Iis dengan menggunakan tangan kanannya.
“Masih lama?” tanya suara diluar pintu.
“Kenapa emangnya?” tanya Juan sambil berdiri dari duduknya dan memerintahkan Iis memperbaikki kembali pakaiannya yang sudah tidak karu-karuan.
“Maaf Pak, ini udah lama. Terlalu lama malah, Pak jangan keenakan, ini yang ngantri banyak..!!!” ujar suara diluar sana.
Juan dan Iis saling tatap kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan seseorang diluar sana.
“Pak, ruangan cuman satu, Bapak keluar saya harus sterilin ruangan lagi, butuh waktu 30 menit buat di sterilin, mana ini yang mau pake ruangannya ada 3 orang. Kasian Pak, ayo Pak, dilanjut dirumah aja. Kasian ini yang lain, ngantri,” ujar suara itu lagi sambil mengetuk pintu ruangan itu lagi.
“Oke, oke... sebentar kita keluar,” ujar Juan sambil menggunakan celananya dan menahan tawanya.
“Mas, kok kita kaya pasangan mesum yang pake hotel jam-jam an yah, yang suka digerebek ama satpol pp,” kekeh Iis sambil menyisir rambut Juan dengan jari-jari tangannya.
Juan dengan cepat memperbaiki tata letak baju Iis, Juan paling kesal bila melihat Iis menggunakan baju sedikit terbuka apapun alasannya. “Nggak tau, besok-besok ini ruangan aku booking seharian, sekalian aku ganti semua majalah sama filmya. Lawas semuanya, nggak ada yang terbaru apa,” ledek Juan sambil menarik tangan Iis.
__ADS_1
Klik...
Juan dan Iis keluar dari kamar tersebut kemudian menyimpan tabung di nampan yang sudah disediakan. “Lama yah, Sus?”
“Haduh, Pak. Ini ngantri masalahnya, dilanjut dirumah ajalah yah, nggak usah disini,” ujar Suster itu lagi sambil menatap Juan dan Iis dengan tatapan jutek.
“Maaf Sus,” cicit Iis sambil menganggukkan kepalanya.
Juan dan Iis pun berjalan meninggalkan ruangan tersebut, saat melewati pasangan-pasangan lain. Juan dan Iis langsung digunjingkan oleh pasangan yang ada.
“Astaga lama bener, nafsu kali yah.”
“Lama amat, Pak.”
“Haduh, saya sampe jamuran nunggu disini.”
“Keasikkan Pak?”
Ledekan-ledekan terdengar dengan jelas dikuping Iis, sampai-sampai membuat muka Iis memerah saking malunya. Karena, Iis berjalan sambil menunduk, Iis tidak sadar kalau Juan menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Iis menabrak punggung Juan.
“Aw...” teriak Iis sambil mengusap hidungnya yang menabrak punggung Juan. “Mas, kok berhenti?”
Juan berbalik dan menatap para pasien yang tadi menggunjingkan Juan dan Iis tanpa merasa berdosa sama sekali.
“Maaf yah, Bapak-bapak dan Ibu-ibu kalau saya lama, yah mohon maaf, istri saya imut gini, masa saya sia-siain.”
“Ngiri, yah Pak, nggak punya istri seimut istri saya?” teriak Juan sambil terkekeh.
“Astaga, Mas... udah ah, pulang yuk, suer yah kamu malu-maluin,” ujar Iis sambil mendorong Juan lebih cepat lagi.
“Istri saya wah jangan di tanya....”
“Mas...!! Malu suer yah, astaga kamu itu semenjak sadar dari koma kemarin, kadar nyebelin dan tengilnya naik 200%,” potong Iis sambil menutup pintu dibelakangnya dan menundukkan kepalanya setunduk-tunduknya.
“Hahahaa... abis nyebelin, bibir mereka nggak bisa diem aja gitu, nggak tau apa kalau istri aku...”
“Mas... udah ah, malu,” ujar Iis sambil menutupi mukanya dengan tangan kanannya.
“Iya... iya udah, udah,” ujar Juan sambil tersenyum tengil dan merangkul Iis.
Iis hanya bisa menghela napas, kelakuan Juan benar-benar membuat Iis malu. Argh... rasanya Iis ingin berubah jadi batu kerikil kalau Juan sudah mulai membuat ulah.
•••
“Mas, kenapa sih Mas jahil banget, malu tau tadi,” ujar Iis sesaat mereka sudah sampai kedalam mobilnya.
“Hahahaa... maaf, maaf. Aku kesel masalahnya ngeliat kelakuan mereka, jadi pingin jahil sedikit sekalian membanggakan istriku tercinta,” ujar Juan sambil tersenyum.
__ADS_1
“Itu mah bukan ngebanggain tapi malu-maluin, Mas,” protes Iis sambil memukul paha Juan dengan gemas.
“Udah ah, aku laper. Kita makan yuk,” ajak Juan sambil menjalankan mobilnya.
“Hayo, mau makann dimana? Ah... tapi tadi Taca ngajak kita makan bareng,” ujar Iis sambil mengambil handphonennya.
“Ah, ya udah makan bareng mereka aja. Sama Adipati kan? Kalau nggak sama Adipati aku anterin kamu aja,” ujar Juan.
“Kenapa, kok nggak ikut makan?” tanya Iis pada Juan.
“Astaga kalian berdua itu berisik banget, suara kalian berdua nyaingin suara 50 orang yang lagi nonton bola tau, nggak? Berisik banget,” ujar Juan sambil menarik kuping kirinya.
“Ih... biarin atuh, kan aku teh bercerita,” ujar Iis lagi.
“Nah, masalah lainnya kalau kalian berdua udah disatuin, aku roaming nasional. Kalian nyerocos pake Bahasa Sunda dan aku nggak ngerti sama sekali,” ujar Juan lagi.
“Belajar atuh,” ujar Iis sambil menunjukkan deretan gigi-giginya pada Juan.
“Aku nggak bisa, nggak paham. Mending ngobrol pake bahasa Prancis, Yang.”
“Aduh, malah aku yang nggak ngerti kalau kamu ngomong bahasa Prancis,” ujar Iis.
“Gantian....”
“Yeh, kamu pendendam yah, ckckckc...”
“Biarin, ini Adipati ikut nggak?” tanya Juan lagi.
Iis menggangukkan kepalanya dengan yakin, “Iya, Adipati ikut.”
“Bagus, kalau Adipati Ikut aku punya temen yang nggak ngerti ocehan kalian berdua,” ujar Juan lagi.
“Oke, aku Chat Taca yah,” ujar Iis sambil mengutak ngatik layar handphonennya.
“Oke, sip...”
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1