
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Iis sedang duduk di restoran hotel menatap kosong pada cangkir kopi dihadapannya. Iis benar-benar tidak tau harus melakukan apa. Diliriknya handphonennya puluhan misscall dan chat dari Juan menggempurnya. Iis sama sekalintidak bernapsu untuk mengangkat teleponnya sama sekali.
Nangis?
Entah kenapa air mata Iis tidak mengalir sama sekali, ah... Iis benar-benar butuh sendiri, sakit memang mengetahui kalau keluarga Juan, Bi Sur, dan Cicil mengetahui kalau Juan mandul. Tapi, mungkin itu mereka lakukan untuk menutupi aib Juan.
Oke menutupi aib, tapi kenapa Iis nggak dikasih tau? Padahal Iis nggak akan marah, malah Iis akan lebih legowo menerima itu semuanya. Iis nggak mungkin kaya orang sinting beli test pact banyak, melakukan suntik HCG atau menulis kapan masa suburnya.
Iis tidak marah tapi dia hanya kecewa, iya kecewa kenapa Juan tidak jujur. Iis memaklumi kalau keluarganya dan Cicil menutupinya. Kalau, Iis punya anak memiliki kekurangan pasti Iis akan dengan senang hati menutupinya.
Tapi, entah kenapa Iis merasa berita bahwa Juan mandul sudah banyak orang yang tahu, karena dilihat dari reaksi teman-teman nenek Lia, Taca, Adipati, Cicil dan beberapa orang selalu meminta Iis tidak terlalu memikirkan tentang anak. Astaga, Iis harus mencari tahu, dengan cara dan jalan apapun.
“Bu...”
Iis mengalihkan pandangannya dan melihat Saka sedang membawa buket bunga mawar putih yang sangat besar.
Ah... Mas Juan pasti sudah melacak keberadannya. “Iya Saka? Itu dari Mas Juan?”
“Iya, Bu. Tadi, Pak Juan suruh saya beli bunga terus kirim ke Ibu,” ujar Saka.
“Simpen aja bunganya disana,” jawab Iis sambil tersenyum.
“Sama ini Bu, kata Pak Juan minta dipake,” ujar Saka takut-takut sambil memberikan cincin nikah Iis.
Iis kaget saat melihat cincin nikahnya ada ditangan Saka, sejak kapan dia melepas cincinnya? Ah.. mungkin saking marahnya dia melepas cincinnya.
“Ah iya, tadi ketinggalan dirumah,” dusta Iis sambil mengambil cincinnya dari tangan Saka dan langsung menggunakannya lagi.
“Kalau gitu saya permisi dulu, yah Bu.”
“Saka.”
“Iya, Bu” jawab Saka.
“Duduk,” perintah Iis sambil menatap Saka.
Saka hanya bisa pasrah ditatap oleh istri bossnya, dia tau kalau istri bossnya ingin bertanya sesuatu pada dirinya. Dengan cepat Saka duduk.
“Iya.”
“Berapa lama kamu kerja di tempat Mas Juan?” tanya Iis sambil mengambil sumpit kayu yang ada di meja makan.
__ADS_1
“Udah 10 tahun Bu,” jawab Saka jujur, lulus kuliah dia langsung bekerja menjadi sekertaris Juan.
“Berarti kamu kerja sebelum Mas Juan sama Adipati bikin perusahaan?” tanya Iis.
“Iya Bu, saya dulu sekertaris Pak Juan di perusahaan kelurganya,” jawab Saka, kenapa tiba-tiba dia seperti sedang di wawancara oleh HRD perusahaan.
“Oh... selama kerja sama Mas Juan kamu pernah denger gosip?”
“Gosip apa Bu?” Saka benar-benar waspada sepertinya Bossnya sedang ada masalah rumah tangga dengan istrinya. Saka harus siaga 1.
“Gosip Mas Juan, apapun yang ada hubungannya dengan perempuan,” ujar Iis sambil menatap Saka sambil tersenyum manis.
“Nggak ada Bu, Pak Juan bersih dari gosip,” ujar Saka.
“Yah mungkin kaya Mas Juan gonta ganti pacar, atau sesuatu kaya perempuan yang datang tiba-tiba gitu.”
“Bukannya Bu Iis tau kalau Pak Juan itu Playboy, Bu?” tanya Saka takut-takut.
Iis mengetuk-ngetukkan sumpitnya dengan berirama ke meja, Iis benar-benar menatap Saka setenang mungkin, “Iya saya tau, tapi saya mau tau pernah ada wanita datang ngaku hamil nggak?”.
“Hah... Nggak Bu, Pak Juan ‘kan nggak bisa hamilin perempuan,” spontan Saka menjawab pertanyaan Iis.
“Nggak bisa hamilin perempuan gimana?” tanya Iis cepat.
“Hah? Ah maaf saya salah ngomong. Maksud saya...”
“Maksud kamu, Boss kamu mandul?” Iis benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menanyakan pertanyaan jackpot nya.
Pletak...
Sumpit kayu ditangan Iis tiba-tiba patah menjadi dua bagian karena Iis menggenggamnya dengan sangat kuat.
Saka langsung membulatkan matanya, dia sadar sudah melakukan tindakan bodoh. Kenapa bibirnya tidak bisa diajak kerja sama. Sudahlah pasti dia akan di pecat...!!!
‘Pengangguran here I come,’ batin Saka.
“Bu...”
“Sejak kapan dan tau dari mana kamu tentang kabar itu?” tanya Iis memedam amarahnya.
“Bu, ini bukan ranah saya,” ujar Saka.
“Jawab, saya nggak peduli ini ranah kamu atau bukan,” ujar Iis sambil menatap Saka tajam.
“Tapi, Bu.”
“Jawab atau saya adukan kamu ke Pak Juan kalau kamu fitnah dia mandul,” ancam Iis, Iis akan melakukan berbagai cara untuk mencari tau tentang siapa saja yang tau tentang Juan yang mandul.
__ADS_1
“Bu, maaf Bu. Saya tau masalah ini semenjak Bu Cicil dan Pak Juan memutuskan tali pertunangan, banyak yang bilang Bu Cicil meninggalkan Pak Juan karena Pak Juan mandul,” ujar Saka, sudahlah sepertinya saat ini dia harus mencari pekerjaan baru, astaga selamat tinggal uang tunjangan dan gajinya.
“Siapa aja yang tau?”
“Bu....”
“Siapa aja Saka..!?” desak Iis sambil menatap Saka.
“Bu Saya masih mau kerja sama Pak Juan...”
“Ya kamu bakal kerja sama Mas Juan, saya yang bakal pastiin itu. Tapi jawab saya jujur, saya tau kamu royal sama Mas Juan. Tapi, tolong hati nurani kamu jalan, saya istrinya dan saya berhak tau,” ujar Iis sambil menatap tajam Saka.
Saka menatap Iis, sebenarnya Saka merasa kasian pada Bu Iis. Hampir semua orang dari kalangan Juan tau kalau Juan mandul. Bu Iis yang dari kalangan sama seperti dirinya benar-benar seperti ditipu oleh Juan. Untungnya, Bu Iis baik, kalau seandainya Bu Iis kelakuannya kaya Ibu-ibu pejabat OKB (Orang Kaya Baru), mungkin Saka akan tetap tutup mulut.
“Oke Bu, yang tau masalah Pak Juan mandul itu hampir semua orang dari kalangan Pak Juan. Kolega-kolega, Bu Cicil, Pak Adipati, Bu Becca....”
“Becca tau?” tanya Iis kaget, kepalanya langsung pusing saat mengetahui kalau Becca mengetahui itu semuanya. Si mahluk astral itu tau kalau Juan mandul..!?
“Tau Bu, kan bu Becca itu sahabat nona Cicil, jadi bu Becca tau tentang itu,” jawab Saka.
“Siapa lagi?”
“Setau saya cuman itu, Bu,” ujar Saka.
‘Cuman?! Itu bukan cuman Saka, itu mah satu kadipaten tau kalau Juan mandul...!?’ batin Iis sambil mengurut dahinya.
“Bu...”
Iis membuka kembali cincinnya lalu menyerahkan cincinnya kepada Saka.
“Bu...”
“Bawa lagi bunga dan cincinnya, bilang sama Pak Juan, kalau mau saya pulang suruh dia datang kesini. Bilang saya nggak akan pulang kalau bukan dia yang datang kesini...!” ujar Iis sambil berdiri dari duduknya.
“Jadi, Pak Juan harus kesini, Bu ?” tanya Saka.
“Bilang kalau dia masih laki-laki dan masih mau saya jadi istrinya suruh dia datang kesini,” ucap Iis sambil pergi meninggalkan Saka yang menatap Iis.
“Baik, Bu.”
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon