
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Sudah sebulan ini kasus Bunda berjalan sangat alot di pengadilan. Pihak Idad dan BPR benar-benar berjuang untuk mendapatkan kembali hak-haknya. Berkali-kali Bunda berteriak-teriak histeris di dalam persidangan, makin hari bobot tubuh Bunda berkurang sangat banyak.
Bernard menolak dengan tegas untuk menemui Bunda ataupun keluarga Bunda, Bernard terus tinggal bersama Ayah dan mengurus Ayah dengan semampunya anak umur 12 tahun.
Sedang Iis bolak-balik kepengadilan karena Ayah ingin selalu hadir dipersidangan. Berkali-kali Juan melarang Iis, Juan selalu meminta Iis beristirahat dan menyuruh Saka atau supirnya yang mengantar Ayah kepangadilan. Tapi, Iis menolaknya, dia merasa harus mendampingi Ayah.
Iis melihat Ayahnya yang sedang berbincang dengan salah satu polisi disana. “Yah.”
“Ah.. Iis dari mana?”tanya Ayah bingung karena tadi Iis tiba-tiba menghilang dari radar miliknya.
“Iis dari kamar mandi, terus tadi Mas nelpon,”jawab Iis jujur.
“Oh, Ya udah sekarang kita jadi pulang?”tanya Ayah pada Iis sambil berdiri dengan pelan.
“Iya,”jawab Iis sambil membantu Ayah untuk berdiri.
Ayah dan Iis berjalan kearah lapangan parkir, Iis berdiri disamping Ayah, saat berjalan dilorong yang menghubungkan ruang sidang dengan parkiran mobil. Iis melewati satu ruangan. Ekor matanya menangkap sosok Juan.
“Mas..”
“Kenapa, Nak?”tanya Ayah saat Iis menghentikan langkah kakinya.
“Itu Mas Juan ‘kan?”tanya Iis sambil menunjuk Juan yang berada didalam ruangan.
Ayah melihat kearah yang ditunjuk Iis, “Iya itu Juan, ngapain dia disana sama Bunda juga Idad?”
“Nggak tau Yah, Ayah mau masuk ?”tanya Iis sambil menatap Ayah. Ayah mengganggukkan kepalanya tanda memberikan persetujuan.
Ayah dan Iis pun masuk kedalam ruangan itu, ruangan tersebut terdapat sekat yang memisahkan orang yang baru datang dengan orang yang ada di dalamnya. Hal itu membuat orang yang didalam ruangan tidak akan bisa melihat orang yang baru masuk.
Brakk....
Suara gebrakkan meja membuat Iis dan Ayah menghentikan langkahnya. Terdengar suarah Idad menggema di ruangan tersebut.
“Jangan bikin saya ketawa..!”
“Ketawa? Saya sangka masalah disini ngak ada yang harus diketawain,”jawab Juan dingin, Juan yang ditempa dari kecil untuk bersikap tenang dan dingin dalam segala situasi benar-benar santai menghadapi amarah Idad yang meletup-letup.
“Juan, udah cukup. Ngak puas kamu nyiksa saya?”suara Bunda terdengar bergetar, sebulan di penjara benar-benar merubah Bunda menjadi perempuan yang memiliki kecemasan tinggi. Pengalamannya di penjara membuat dirinya mengalami kecemasan yang sangat-sangat parah sampai membuat dirinya mengalami sakit leher belakang.
“Nyiksa gimana yah? Saya ngak merasa nyiksa kamu,”jawab Juan tenang sambil menyilangkan kedua kakinya.
“Kamu yang buat saya masuk penjara Juan, saya udah tau dari pengacara saya. Kamu yang pegang surat-surat tanah Idad..!! Kamu maunya apa?”jerit Bunda sambil mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya.
__ADS_1
“Hm... mau saya?”tanya Juan sambil menatap Bunda tajam, “kamu jujur sama Ayah Iis tentang siapa Bernard sebenarnya..!”
Deg....
Jantung Iis berdetak cepat, Suaminya saat ini pasti sedang memaksa Bunda untuk mengakui siapa sebenarnya Bernard. Ah..sial ada ayah disampingnya, Iis merasakan badan Ayah bergetar hebat.
“Yah...kita pulang aja, yuk..”ujar Iis sambil menarik lembut badan Ayah, sayangnya badan Ayah seperti terpatri di tempat, Ayah menolak untuk pergi dari sana.
“Yah... ayo kita pulang, Ayah belum minum obat ‘kan. Kasian juga Bernard di hotel sendirian,”bujuk Iis lagi.
“Bentar Neng, ini Juan mau ngasih tau rahasia apa,”ujar Ayah penasaran.
Ah..gawat, Ayah pasti ambruk. Gimana ini ? Iis dengan terburu-buru mencari handphonenya di tas Tory Burch Gemini merah miliknya.
“Bernard anak saya, saya yang ngelahirinnya, apa lagi yang mau dibuka?”ujar Bunda dengan nada suara sedikit bergetar karena menahan kebohongan yang selama 12 tahun ini Bunda tutupi.
“Saya bukan nanya Ibunya, yang saya tanya itu siapa Bapaknya?”tanya Juan sambil menatap Idad.
Idad yang ada dihadapannya benar-benar salah tingkah ditatap oleh Juan. Detik ini Idad sadar dia berurusan dengan orang yang salah.
“Jawablah,”pinta Juan sambil mengangkat tangannya ke arah Saka. Saka langsung memberikan dua buah kertas kepada Juan.
“Jawab apa, Bernard anak saya, itu kenyataannya Juan..!” pekik Bunda sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Ini mau ngomongin apa, ini masalah ngak ada urusan sama saya. Saya mau pergi,”ujar Idad sambil bangkit dari duduknya, namun pergerakkannya terhenti saat Juan melemparkan surat kepada Idad.
“Akui itu semua Pak Idad. Kalau Bapak akui itu semua, saya pastikan semua tanah dan sertifikat Bapak kembali lagi,” ujar Juan sambil mengambil surat sertifikat tanah berwarna hijau dari Saka.
“Ini salah satunya, sertifikatnya dibagi 10 ‘kan?”tanya Juan sambil menyodorkan salah satu dari 10 surat tanah yang sudah ada ditangannya.
“Ryan?”
“Oh maaf kalau Ryan saya ngak bisa tolong, kalau mau minta tolong masalah Ryan silahkan minta tolong pada Adipati Berutti, suami Taca.”
“Taca?”tanya Idad, kepalanya langsung pusing. Dia ingat siapa Taca, anak keparatnya itu hampir memperkosa Taca dan memperkosa Tasya, kakak kembar Taca.
“Iya, Taca gadis yang Kakak kembarnya anak kamu perkosa dengan brutal,”Juan mengingatkan kelakuan Ryan.
Idad kembali duduk dikursinya, pandangannya kosong. Pikirannya kalut, apa yang harus diperbuat olehnya.
“Jadi gimana ? Mau akuin kelakuan kamu dan dapetin tanah kamu lagi atau mau tetep menutupi kebenaran yang sudah membuat keluarga istri saya hancur dan saya bikin kamu miskin sampe ke tulang-tulangnya?”Juan memberikan pertanyaan ini pada Idad sambil menatap tajam Idad.
Berrrr....
Bulu kuduk Idad meremang, tatapan Juan benar-benar membuat keberaniannya menyentuh titik terendah. Juan tidak pernah memakai kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Juan menggunakan taktik untuk menundukkan musuh-musuhnya, membunuh secara perlahan adalah keahliannya.
“Saya...”
“Idad...!! Jangan sampai kamu buka itu, ingat kalau sampai terbuka memang kamu mau tanggung jawab, ingat masa depan Bernard masih panjang...”
__ADS_1
“Nggak usah mikirin masa depan Bernard, biar saya sama Iis yang urus. Saya yang tanggung jawab akan segalanya. Nggak perlu saya bantuan dari kamu, Idad,”ucap Juan.
‘Sial,’ batin Bunda, Bunda benar-benar dibuat tidak berkutik sama sekali, semua celah benar-benar ditutup Juan. Dia seperti tikus yang tertangkap di dalam kurungannya. Bernard anaknya yang selalu menjadi tameng untuk mendapatkan apapun, saat ini sudah tidak bisa Bunda pakai lagi. Bernard sudah benar-benar diambil alih oleh Juan dan Iis.
“Jadi kalau saya ngakuin ini semua, tanah saya bakal balik lagi ditambah saya tidak perlu mengurus anak itu?”tanya Idad pada Juan.
“Pegang kata-kaya saya, kamu ngak usah direcokin masalah Bernard. Biar saya sama Iis yang urus,”jawab Juan mantap, Juan yakin Iis bisa mengurus Bernard dan Juan yakin Bernard memiliki semangat belajar tinggi.
“Idad, kamu tau apa yang bakal terjadi sama saya kalau kamu akuin itu semuanya?”tanya Bunda.
“Paling ancur, Bunda...”jawab Juan sambil tersenyum licik.
“Juan kamu maunya apa? Saya udah hancur, mau kamu hancurin kaya apa lagi. Apa saya terlihat kurang menderita dimata kamu? Saya jadi jongos di penjara, bahkan saya harus membersihkan kotoran manusia untuk bertahan hidup...!!!”pekik Bunda histeris tangannya ditepuk-tepukkan ke dadanya.
Juan hanya melengos menatap Bunda. Muak, hanya satu kata itu yang terlintas dipikiran Juan. Juan muak dengan kelakuan Bunda..!
“Itu karma kamu Bunda, saya ngak peduli. Sakit kamu ngak ada setai kukunya sakit hati Istri saya,”jawab Juan santai.
“Idad...”mohon Bunda sambil menatap Idad yang masih berpikir apa yang harus dilakukan oleh dirinya.
Idad berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Dia tidak mau hidup miskin, umurnya sudah tua, dia butuh ketenangan hidup. Mengakui semua ini tidak akan merugikan dirinya, lah wong anak itu nanti diurus oleh Juan dan Iis, bukan oleh dirinya.
“Idad..”mohon Bunda lagi dengan suara extra lirih.
Idad menatap Bunda dengan tatapan dingin sebelum beralih menatap Juan, “Baiklah, Juan. Iya, Bernard adalah anak saya, tapi saya menolak mengakuinya, akhirnya Kokom menjebak Apo agar bertanggung jawab atas Bernard,”ujar Idad sambil menatap Juan.
Juan tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Saka yang langsung mengacungkan ibu jarinya tanda sudah merekam perkataan Idad.
Tiba-tiba...
“AYAHHHH.....”
•••
Kan udah pada tau yah Bernard bukan anak Bapaknya Iis. Tapi ini Bapaknya Iis gimana jadinya...
Haduhh... gimana ini gimana?????
*kaka gallon auto panik 🙈🙈
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1