
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Sepulangnya Iis dari tempat Juan, Juan benar-benar uring-uringan kekesalannya pada Papih masih Juan rasakan.
"Ini apa sih, Saka. Huruf apa ini ? Ini huruf B kan ?" tanya Juan pada Saka sekertarisnya.
"Iya, Pak itu huruf B," jawab Saka.
"Kok kurus banget huruf B-nya ngak kamu kasih makan apa ini huruf B-nya ? Ganti-ganti semua ketikan ini style hurufnya jadi comic sans jangan times new roman lagi, saya ngak suka itu kenapa B-nya kurus banget," ujar Juan sambil menyerahkan setumpuk dokumen pada Saka yang sudah komat kamit menahan emosinya.
"Iya..iya, Pak. Saya ganti yah," ujar Saka pasrah, alamat dia lembur lagi cuman buat print ulang berkas yang ada.
"Sama Saka tolong ambilin saya Kopi," ujar Juan sambil memijit keningnya kelelahan.
"Baik, Pak..."
Klik...
Saka berjalan kearah mejanya, rasanya Saka ingin membenturkan kepalanya kemejanya, astaga apa salah huruf B ini, sampai di bilang kurang makan. Astaga.
"Happy place...happy place...happy place...." ujar Saka berulang-ulang untuk menenangkan batin dan jiwanya. Saka sudah hapal betul hari ini pasti akan menjadi neraka bagi dirinya. Semenjak Juan mendapatkan telepon dari Pak Kevin Wijaya mood Juan benar-benar amburadul.
Saka langsung pergi ke pantry untuk membuatkan kopi untuk Juan, di pantry Saka sudah menemukan Sherlly yang sedang membuat Kopi untuk Adipati.
"Sher, happy banget lo," ujar Saka sambil mengambil gelas khusus milik Juan.
"Hai, Saka... kenapa lo, muka lo sepet amat," ujar Sherlly sambil mengambil gula kemudian dimasukkan kedalam gelas kopi milik Adipati.
"Pusing pala gue, Pak Juan hari ini uring-uringan, biasa ditelepon Pak Kevin, abis tuh telepon di lempar," ujar Saka sambil mengelengkan kepalanya.
"Udah lo telepon pawangnya ?" tanya Sherlly.
"Pawangnya tadi udah dateng, udah tenang kan hidup gue, eh pawangnya pulang jadi lagi dong," ujar Saka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Saka benar-benar hampir gila akhir-akhir ini karena ke absurd-an Juan. Entah kenapa Boss nya itu sering punya permintaan aneh-aneh. "Apa Bu Iis hamil yah, terus yang ngidamnya Pak Juan ?" tanya Saka pada Sherlly.
__ADS_1
"Hah, mana bisa," ujar Sherlly sambil duduk di kursi yang disediakan pantry.
Pantry itu adalah pantry khusus untuk Juan dan Adipati semua makanan dan minuman disana memang disimpan untuk mereka berdua, sehingga orang yang bisa masuk pantry tersebut hanya orang-orang tertentu saja.
"Kenapa ngak bisa ?" tanya Saka bingung, seorang playboy cap kabel insyaf kaya Pak Juan mana mungkin tahan tidak melakukan 'transfusi darah putih' dengan seorang wanita. Saka yakin seyakin-yakinnya Juan dan Iis sudah sering melakukannya.
"Kamu ngak tau rumors yang beredar ?" tanya Sherlly pada Saka sambil melihat kanan kirimya takut ada orang lain diruangan tersebut.
"Apa ?"
"Pak Juan itu mandul..!" bisik Sherlly sambil menatap Saka.
"HAH..."
"Shuttttt.... pelan, ini top secret. Gue baru banget dapat rumors ini. Katanya rumors ini tuh udah kesebar ampir 2 tahun yang lalu, tapi cuman dikalangan kelas atas aja," ujar Sherlly sambil memelankan suaranya, bisa dipecat dia kalau ketauan Juan.
"Ngak mungkin lah, gue ngak percaya," ujar Saka sambil duduk disamping Sherlly.
"Gue juga masih ragu, Saka. Tapi katanya tunangan Pak Juan yang dulu, inget ngak?" Sherlly mengingatkan Saka pada Cicil Bouw.
"Inget, yang cantiknya kaya bidadari, yang bodynya udah ngalahin gitar spanyol ? Yang saban kesini gue harus pake headset biar ngak denger mereka ngelakuin 'transfusi darah putih' didalam ruangan Pak Juan ?" cerocos Saka mengingat penderitaannya saat Pak Juan bertunangan dengan Cicil, demi apapun darah jomblonya meronta-ronta setiap Cicil datang kesana.
"Nah, Cicil itu membatalkan pertunangannya karena itu, karena Pak Juan mandul. Sedangkan, lo tau sendiri siapa Cicil, dia anak satu-satunya keluarga Bouw yang sangat mengharapkan keturunan," ujar Sherlly.
Saka mengerjapkan matanya berkali-kali, otaknya bekerja dengan cepat untuk menyaring semua informasi yang baru saja dia terima. Gila... ini terlalu mind blowing, ternyata bossnya mandul.
"Tapi, kenapa Bu Lizbet mau sama Pak Juan ?" tanya Saka sambil mengambil camilan yang harusnya milik Juan, bodo amat dia butuh asupan.
"Ada dua kemungkinan, pertama Bu Lizbet ngak tau kalau Pak Juan mandul dan yang kedua..." Sherlly memberikan efek misterius dengan menggantungkan ucapannya membuat Saka memberikan perhatian penuh pada perkataan Sherlly.
"Apa..."
"Bu Lizbet gold digger.."
"Wah ngaco, mana ada Bu lizbet gold digger, ngak ada tampang-tampang Bu Lizbet suka ngeruk harta kekayaan," ujar Saka sambil melambaikan tangannya didepan wajahnya beberapa kali.
"Who know... kita ngak pernah tau kan, tapi aku sih lebih percaya rumors yang pertama, liat Bu Taca, dia sahabat Bu Lizbet kan. Bu Taca boro-boro gold digger, lah wong dia pas pacaran sama Pak Adipati aja dia masih kerja disini. Dan baru setelah nikah aku liat kartu kredit atas nama Bu Taca dipakai," ujar Sherlly.
"Hmmm..."
__ADS_1
"Apaan ?" tanya Sherlly penasaran.
"Kemarin aku cek pemakaian kartu kredit atas nama Bu Lizbet ada transaksi gede banget di satu hari yang sama, kalau ngak salah sehari setelah Pak Adipati nikah. Tagihannya bikin ngurut kening, pas aku konfirmasi ke Pak Juan, Pak Juan cuman senyum doang, katanya bayar aja," Saka mengingat-ingat berapa besaran yang harus Pak Juan bayar.
"Berapa Saka, lo inget ?"
"Hmm kalau ngak salah lebih dari 50 juta tapi kurang dari 100 juta, pokoknya itu di kartu kredit atas nama Bu Lizbet aja. Tapi cuman hari itu doang, setelahnya ngak ada pemakaian lagi sampai detik ini," ujar Saka mengingat-ingat transaksi kartu kredit bossnya yang selalu dia urus setiap bulannya.
"Lah, kalau gitu sih, palingan beli kado buat Bu Taca sama Pak Adipati kalau gitu," ujar Sherlly sambil tersenyum.
"Bisa jadi, tapi beneran gue penasaran sama rumors yang bilang Pak Juan mandul, itu bener ngak sih ?" tanya Saka penasaran.
"Gue ngak tau, kita liat aja ntar kalau Pak Juan nikah sama Bu Iis, punya anak atau ngak, gampang kan," ujar Sherlly santai sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi dibelakangnya.
"Tapi..."
Brakkk...
"Astaga Saka, Kopi saya mana ?" bentak Juan yang kesal karena kopinya tidak kunjung datang, dia benar-benar butuh kafein saat ini.
"Astaga makjan, siap Pak ini kopinya Pak....!!!" ujar Saka spontan berdiri dari kursinya.
"Kopi ke ruangan saya sekarang atau saya potong gaji kamu 4 bulan, Saka...! Saya ngak main-main," teriak Juan sambil pergi meninggalkan Saka dan Sherlly yang saling tatap, bersyuruk Pak Juan tidak mendengar gossip mereka berdua.
"Cepet...kopinya, lo mau 4 bulan makan nasi sama garem doang ?" ujar Sherlly sambil menyodorkan air panas.
"Happy place...happy place..happy place..." ujar Saka membayangkan tempat kesukaannya sambil mengatur napasnya.
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1