Water Teapot

Water Teapot
S2: Wellington


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Wusssshhhh.....


Angin langsung menyapa Iis saat Iis keluar dari gedung bandara Welington. Angin itu memainkan rambut Iis dengan nakalnya. Rasa dingin langsung menusuk ketubuh Iis, Iis benar-benar mengigil kedinginan.


Juan yang sudah mengurus segalanya langsung menggenggam tangan Iis kemudian memasukkan ke dalam saku longcoatnya.


“Dingin yah ?” tanya Juan.


“Mas, ini beneran musim panas? Musim panas macam apa dingin gini?” tanya Iis, ini ngak ada musim-musim panasnya, ini 100% dingin.


“Yah, di sini suhu paling hangat itu 23 sampai dengan 26 derajat celsius, Yang,” ujar Juan yang mengigil kedinginan, seandainya bukan karena alamnya yang indah dan penduduk lokalnya yang ramah, mana mau Juan datang ke sana, Juan ngak kuat dingin.


“Astaga, dingin Mas, ini mah bukan Summer, Winter yang ada..!!” Iis benar-benar mengeratkan jaketnya.


“Hahahaa.. ya udah ayo cepet masuk kemobil, dingin disini. Enak di mobil ada penghangat,” Juan menarik Iis kedalam mobil yang sudah disediakan hotel.


Setelah masuk kedalam mobil Iis merapatkan tubuhnya ke Juan, udara dingin benar-benar membuat Iis mencari kehangatan.


“Ada untungnya juga yah datang kesini,” ujar Jun kalem.


“Kenapa ?”


“Kamu jadi, suka nyusup-nyusup gini kebadan aku. Di Jakarta mana mau kamu deket-deket gini, Yang,” ujar Juan sambil menyelusupkan tangannya ke pinggang Iis.


“Hiihh... dingin, tangan kamu dingin,” protes Iis sambil memukul tangan Juan yang sudah ada di pinggangnya.


“Hahhaaa...”


“Mr. Wijaya welcome to Wellington New Zaeland. I am Chicco and I will be your driver while in New zaeland,” Chicco memperkenalkan dirinya sebagai supir yang akan mengantar Iis dan Juan selama di New Zaeland.


Iis mengerutkan keningnya, astaga aksen New Zaeland Chicco benar-benar membuat Iis tidak mengerti apa yang Chicco bicarakan.


“Mas, aku ngak bego-bego banget bahasa Inggris tapi aku ngak ngerti orang itu ngomong apa, Mas,” ujar Iis sambil menatap Juan.


“Itu dia pake aksen New Zaeland kalau ngak ngerti kamu bisa bilang ke mereka untuk berbicara lebih lambat.”


Iis menganggukkan kepalanya tanda mengerti, sepertinya dia harus banyak-banyak berkonsentrasi bila berbicara dengan orang-orang di sana.


“Kalian kesini untuk berbulan madu ?” tanya Chicco untuk mencairkan suasana. (Anggap pake bahasa English yah, kaka gallon males nulis dua kali hehee)


“Bukan kita kesini untuk photo prewedding,” jawab Juan.


“Wah... kalian akan prewedding di sini?”

__ADS_1


“Bukan, kita akan lakuin di Queenstown, tapi saya kesini ingin makan gellato yang deket trem dan minum flatwhite kopi di L’affare.”


Perkataan Juan membuat Iis menaikkan salah satu ujung mulutnya, orang macam apa yang jauh-jauh ke Wellington cuman buat beli gellato dan minum kopi ?! Beli di Jakarta juga ada Pak Juan Wijaya..!


“Mas, kita mau ngelakuin video pre wedding di Queenstown? Kenapa ngak di sini aja?” Iis yang buta dengan keadaan New Zaeland merasa kalau mereka melakukan photo di Wellington pun masih bagus-bagus aja.


“Queenstown lebih bagus pemandangannya, Yang,” ujar Juan.


“Aku kesini cuman mau makan gelato sama minum kopi doang,” Juan mengedipkan salah satu matanya pada Iis.


Terserah... terserah lah..!! Jauh-jauh ke Welington cuman mau beli gelato atau mau beli kopi doang. Sakarepmu lah Mas, Iis manut bae..!


•••


Kelakuan Juan benar-benar membuat Iis geram, sampai hotel, Juan langsung mengajak Iis untuk minum kopi di salah satu tempat minum kopi yang sudah terkenal di Wellington.



Juan memesan kopi khas disana, sedangkan Iis harus pasrah memakan steak daging domba. Sumpah demi apapun Iis ingin makan nasi. Iis butuh nasi, sebagai gadis beas (beras) yang menganut kalau ngak makan nasi artinya ngak makan, Iis sangat tersiksa.


“Kenapa Yang ?” tanya Juan bingung melihat Iis yang ogah-ogahan memotong steak daging domba di hadapannya. Setahunya Steak daging domba di tempat itu sangat enak.


“Mas, aku teh orang Indonesia, aku teh butuh nasi. Ini dari mulai di pesawat ampe detik ini aku ngak nemu nasi, aku bisa semaput ini,” ujar Iis lirih.


Juan menahan tawanya mendengar perkataan Iis, Iis benar-benar orang Indonesia sejati.


“Udah makan dulu itu steaknya, nanti dihotel nanti aku pesenin makanan yang ada unsur nasinya.”


“Bisa nanti aku bilang ke chefnya, nanti mereka bakal bikinin menu ada unsur nasinya,” ujar Juan sambil mengesap kopinya dengan nikmat.


Senyuman Iis langsung merekah, dia benar-benar butuh karbohidrat dari nasi..!!


“Sekarang kamu mau kemana ?”


“Kemana yah, ngak tau. Aku ngak pernah ke New Zaeland,” ujar Iis bingung.


“Gimana kalau kita ke hotel aja ? Kita kelonan...” Juan mengusap paha Iis pelan.


Usapan Juan seperti mengandung listrik bagi Iis. Iis tiba-tiba merasakan sengatan listrik. “Mas, kita jalan-jalan aja gimana? Muter-muter gitu,” pinta Iis.


Juan mengerucutkan bibirnya, tau gini dia tidak mengajak Iis minum kopi, lebih baik dia kelonan sama Iis dihotel.


“Jangan ngambek Mas, kita jalan-jalan terus kita beli ice cream gellato vanilla yuk,” ujar Iis sambil mengepalkan kedua tangannya.


Mendengar kata ice cream vanilla mata Juan langsung berbinar-binar. New Zaeland terkenal memiliki rasa ice cream yang mankjubkan membuat semangat Juan langsung naik 100%.


“Oke, ayo... kita sekalian naik kereta kabel,” ujar Juan bersemangat sambil menarik tangan Iis untuk cepat-cepat pergi ke kedai ice cream kesukaannya.


Iis hanya bisa menggelengkan kepalanya, membujuk Juan sangat-sangat mudah, cukup dengan sescoop ice cream vanilla. Astaga bayi besarnya ini benar-benar menggemaskan.

__ADS_1


•••


Juan dan Iis saat ini sudah duduk dengan manis sambil menikmati pemandangan jalan kota Wellington sambil menikmati gellato, vanilla untuk Juan dan rasa cherry untuk Iis.


Mereka duduk sambil menunggu jadwal giliran mereka untuk menaikki kereta kabel yang akan membawa mereka ke Botanical Garden.


“Enak ?” tanya Iis sambil menatap Juan yang sedang memakan ice creamnya dengan hikmat.


Juan hanya menganggukkan kepalanya sambil terus memakan ice creamnya. Iis sampai tertawa melihat kelakuan Juan.


“Mas sini, liat sini,” ujar Iis sambil bersiap dengan handphone bersiap untuk memotret kelakuan Juan.


“Apa..”


Klik...


“Hahahaa..yeah dapet,” ujar Iis sambil tertawa riang, Juan hanya bisa mencubit perut Iis kesal.


“Aw... sakit ih.”


“Kadang kamu nyebelin,” ujar Juan.


Iis melihat ada ice cream di ujung bibir Juan, dengan spontan Iis melap ujung bibir Juan, membuat Juan menghentikan gerakannya.


“Belepotan, Mas.”


Entah karena apa Juan langsung memakan ice creamnya lagi dengan lebih belepotan, hampir semua bibirnya tertutup Ice cream. Iis yang tidak sadar dengan kelakuan Juan masih dengan santainya memakan Ice creamnya menggunakan sendok.


“Yang..”


“Hemm... astaga Mas, kok malah makin belepotan gitu,” Iis kaget dengan bibir Juan yang makin belepotan dan sialnya dia tidak ada tissue basah.


“Hehee.. bersihin Yang,” pinta Juan manja.


Iis memutar otaknya, tiba-tiba terlintas ide gila diotaknya. Ah.. sudahlah sedang tidak di Indonesia juga.


“Sini..”


Juan terdiam saat merasakan lidah Iis menyapu sudut bibirnya, sensasi dingin dan rasa asam karena Iis memakan gelato rasa cherry memberikan sensasi kejut pada diri Juan, tanpa perlu dikomando Juan langsung memeluk Iis dan mencium Iis dengan hangat, menikmati candunya yang manis.


Sehangat sinar matahari kota Wellington yang menyinari Iis dan Juan.


•••


Kita tinggalkan Kokom hollykom, let’s holidayyyy...!!!!!!


For more video kota Wellington yang indah dan penduduk yang ramah...


Check di Ig dan fb yah ☺️

__ADS_1


Ig : storyby_gallon


fb : gallon


__ADS_2