
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Tiga hari sudah berlalu, Juan dan Iis saat ini sedang didalam mobil untuk mendatangi Dokter Tanto.
“Yang... aku deg degan sama hasilnya,” ujar Juan sambil memarkirkan mobilnya.
Juan benar-benar kalut saking kalutnya dia hanya diam menatap keluar mobil tanpa bergerak sama sekali. Tiba-tiba saja dia merasakan tepukkan lembut di pahanya, tepukkan itu mampu menyadarkan Juan.
“Yang....”
“Yuk, apapun hasilnya aku nggak kemana-mana kok, janji,” ujar Iis sambil tersenyum pada Juan.
“Janji?” Juan benar-benar butuh diyakinkan, dia benar-benar tidak mau Iis pergi lagi.
“Janji, aku nggak bakal ningalin kamu,” ujar Iis lembut.
“Apa jaminannya?” tanya Juan pada Iis.
Iis kaget dengan perkataan Juan, “Jaminan? Emang koperasi?”
“Eh, pokoknya sekarang harus ada jaminannya, kamu tuh kalau nggak ada jaminannya suka pergi gitu aja, kabur nggak tau kemana,” ujar Juan kesal sambil menyentil hidung Iis.
Iis dengan cepat menyentuh hidungnya sambil mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah gantungan kunci, gantungan kunci yang semenjak Ayahnya meninggal selalu Iis bawa kemanapun. Gantungan kunci daun semanggi berdaun empat.
“Ini,” ujar Iis sambil memberikan gantungan kunci itu ketangan Juan.
Juan mengambilnya kemudian melihatnya dengan seksama, “Ini ‘kan gantungan kunci dari Ayah.”
“Iya, itu benda berharga aku, kamu bawa deh. Itu jaminannya kalau aku bakal selalu ada disamping kamu sampai kapan pun,” ujar Iis sambil mengusap pipi Juan.
“Oke, aku sandra gantungan kunci ini, awas kamu kalau pergi,” ancam Juan.
“Iya, jangan hilang yah, itu kenangan aku sama Ayah,” pinta Iis sambil mencium pipi Juan dengan cepat.
Juan dan Iis pun turun dari mobil dan berjalan ke arah ruangan dokter Tanto.
•••
“Pak, Bu... saya sudah lihat hasilnya,” ujar Dokter Tanto sambil menggunakan kacamatanya dengan cepat.
“Iya Dok,” jawab Iis sambil tersenyum.
“Setelah saya periksa lagi Pak Juan tadi dan mencek hasilnya, maaf Pak Juan saya tidak menemukan sp*rma di air m*ni anda,” ujar Dokter Tanto.
“Jadi saya nggak punya sp....”
“Iya, Pak. Tidak ada sperm* di air m*ni anda.”
“Jadi, saya benar-benar nggak bisa punya anak sama sekali? Nggak ada kesempatan?” tanya Juan dengan suara paling lesu yang pernah Iis dengar dari Juan.
__ADS_1
Iis langsung mengelus paha Juan dan tersenyum pelan. “It’s oke, Mas,” lanjut Iis.
Juan langsung menggenggam tangan Iis pelan. Rasanya bila tidak ada Dokter Tanto, mungkin Juan sudah menangis. Pedih rasanya mengetahui kenyataan ini.
“Pak, Bapak maaf, Bapak pemakai?” tanya Dokter Tanto.
“Hah? Gimana Dok?” tanya Iis sambil menatap Dokter Tanto.
“Maaf, saya tanya hal ini, tapi saya harus tau. Apakah Pak Juan pemakai narkotika?” tanya Dokter Tanto lagi.
“Dulu, saya sudah bersih sekarang Dok,” jawab Juan Jujur.
“Pantes...” ujar Dokter Tanto lagi.
“Pantes gimana?” tanya Iis.
“Begini Bu, Pak Juan ini mengalami Azoosperm* obstruktif. Jadi, sperm* Pak Juan itu tidak mengalir bersama air man* saat ejakul*si.”
“Ada solusinya?” tanya Juan mengutuki nasibnya karena kebodohannya sendiri dia mandul.
“Bapak sama Ibu ingin punya anak?” tanya Dokter Tanto.
“Iya, saya mau, Dok. Saya benar-benar ingin memiliki anak,” jawab Juan cepat sambil menatap Iis disampingnya yang hanya bisa tersenyum. Iis benar-benar sudah dalam tahapan ikhlas. Ikhlas menerima segala-galanya.
“Ada caranya, tapi biaya...”
“Berapapun,” jawab Juan cepat sambil menggenggam tangan Iis kencang. Saking kencnagnya Iis sampai meringgis.
“Saya bisa ngehamilin istri saya?” tanya Juan cepat.
“Tenang, Pak. Keberhasilan untuk hamil mungkin naik, tapi hamil atau tidaknya harus dikembalikan pada yang maha kuasa. Tapi, kalau Bapak dan Ibu benar-benar ingin punya anak. Nanti, setelah operasi kita bisa langsung melakukan Inseminasi buatan. Bagaimana? Kalau belum berhasil juga nanti kita lakukan program bayi tabung. Tapi, semua kembali lagi kepada yang maha kuasa,” ujar Dokte Tanto bijak. Dokter Tanto memang seorang dokter, tapi dia hanya seorang perantara saja.
“Yang?” Juan menatap Iis meminta persetujuan Iis. Sebenarnya Juan ingin berteriak iya, detik itu juga. Tapi, Juan benar-benar harus meminta ijin istrinya.
Iis hanya menatap Juan bingung, bukan tidak mau. Mendengar perkataan dokter, hanya satu yang Iis takutkan. Kekecewaan.
Iis takut bila sudah menjalani serangkaian prosedur perawatan dan sebagainya. Tapi, ternyata tidak berhasil, mungkin Iis kuat menelan kekecewaan yang ada. Tapi, Juan?
Iis tidak bisa membayangkan kekecewaan yang bakal Juan alami. Bisa semaput dirinya kalau Juan balik lagi ke obat-obatan terlarang. “Mas, kamu yakin mau lakuin ini semuanya?”
“Kamu nggak mau?” tanya Juan.
“Mau, aku mau. Tapi, kamu siap menelan kekecewaan? Mas aku nggak mau kamu frustasi terus balik lagi ke obat-obatan sialan itu lagi. Aku nggak sanggup harus liat kamu OD lagi, aku nggak sanggup,” ujar Iis sambil menggelengkan kepalanya dan menatap Juan lemah.
“Yang, aku....”
“Dokter bisa saya sama Suami saya pikirin dulu?” tanya Iis sambil menatap Dokter Tanto.
Dokter Tanto langsung menganggukkan kepalanya pelan. Sudah biasa bagi dirinya untuk menunggu keputusan suami istri. Ini keputusan besar, keputusan yang akan memakan biaya yang tidak sedikit dan untuk keberhasilannya tidak dapat dipastikan sama sekali. Kepastiannya, masih diawang-awang, masih belum jelas belum pasti.
“Nanti, saya balik lagi, Dok,” ujar Iis sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan Juan untuk meninggalkan ruangan praktek Dokter Tanto.
•••
__ADS_1
Iis diam menatap blender, saat ini Iis sedang memblender jus strawberry untuk dirinya sendiri. Tapi, saking terlalu banyak yang Iis pikirkan, blender itu sudah menyala selama 15 menit. Strawberrynya sudah benar-benar sudah berubah menjadi cairan.
Tek...
Juan mematikan blender itu dengan cepat sambil menatap Iis.
“Kamu kenapa?” tanya Juan sambil membuka tutup blender.
“Hah... apa? Aku? Aku nggak papa, aku cuman lagi blender doang,” ujar Iis sambil menatap Juan lembut.
“Kebisaan, kamu kenapa? Kamu mikirin apa?” tanya Juan lagi sambil menuangkan jus strawberrynya ke gelas. Iis langsung mengambil gelas itu dan meminumnya sampai tandas.
“Yang, ayo ngomong. Kamu kalau lagi mikirin sesuatu kaya gini deh, linglung. Semenjak pulang dari dokter Tanto, kamu nggak mau bahas tentang operasi aku ataupun masalah anak,” ujar Juan sambil mengambil kedua tangan Iis dan menggoyangkannya kedepan dan kebelakang.
“Mas aku cuman takut....”
“Takut apa?” tanya Juan lagi.
“Takut kalau kamu pas ngelakuin prosedur itu semuanya. Tapi, aku nggak hamil juga, aku takut kamu kecewa yang berujung frustasi terus kamu balik lagi pake obat-obatan biadap itu lagi, Mas, cukup kemarin aku nangis sampe bengek. Cuman karena kamu OD,” Iis memperingatkan Juan sambil menatap Juan dengan tatapan tajam.
Juan langsung memeluk Iis, “Yang dengerin aku, inget yah, ini janji aku ke kamu, aku nggak bakal balik lagi ke obat-obatan itu. Aku janji.”
“Beneran, aku nggak mau liat kamu balik lagi, Mas. Aku nggak bakal kuat liat kamu kaya kemarin lagi, jantung aku nggak bakal kuat,” ujar Iis sambil menepuk dadanya pelan.
“Iya, aku nggak bakal pakai obat-obatan itu lagi. Asal...”
“Asal apaan? Nggak usah pake syarat dan ketentuan lah. Jangan bikin aku kesel, Mas,” ujar Iis sambil memijat dahinya karena kesal.
“Asal kamu disamping aku, nggak kabur-kaburan lagi. Aku capek juga Yang, nyari kamu kesana kemari,” ujar Juan.
Iis langsung tersenyum mendengar perkataan Juan, “Aku nggak bakal kemana-mana. Aku nggak bakal kabur-kaburan lagi, janji.”
“Jadi kamu ijinin aku operasi dan kamu siap lakuin semua prosedurnya?” tanya Juan lagi. Iis langsung menggangukkan kepalanya.
“Kita siap, Mas.”
•••
So... apakah berhasil atau Gagal....
Kaget yah, kaka Gallon update jam segini? Hahaha... nggak papa Kaka Gallon lagi nggak ada kerjaan.
Nggak usah tungguin update yang jam 9 pagi, nggak bakal ada. Update lagi jam 3 sore yah...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1