
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Taca, jangan bawa itu. Udah kamu duduk aja,” pinta Iis saat melihat Taca mengambil ember kosong dipojokan.
Taca langsung menurut pada Iis, akhirnya Taca hanya duduk di sofa ruang keluarga Iis. Taca tau dia hanya akan menjadi beban tapi dia ingin membantu Iis.
Semua orang bekerja untuk membereskan barang-barang yang ada. Apartemen Iis tipe studio tapi barang Iis sangat-sangat banyak. Bangak sekali berkas-berkas, buku-buku, alat tulis bahkan alat test disana. Jadi, mau tidak mau Iis yang harus turun tangan. Dia tidak mau data kliennya tercecer.
Taca hanya bisa melihat dan mengipasi badannya melihat kedua kakanya, Iis, Adipati, Juan dan Abah membereskan semuanya.
Abah dengan cekatan mengsolasi semua kardus-kardus yang ada kemudian menuliskan apa yang ada didalam kardusnya. Aa Riki dan Iis memasukkan barang-barang kedalam kardus. Juan dan Adipati mengorani satu persatu barang yang ada. Sedang Kang Rozak, mengatur furniture yang ada, menjauh sejauh mungkin dari Iis. Sudah 4 kali dia dipelototi Juan, karena tidak sengaja menyentuh Iis.
“Yeahh... tinggal dimasukin kedalam mobil box,” ujar Iis sambil memasukkan buku terakhirnya kedalam box.
“Akhirnya selesai juga,” ujar Abah sambil duduk di sofa.
Iis langsung mengambil beberapa botol minum kemudian memberikan kepada setiap orang disana. Setelah, semuanya mendapatkan minumannya, Iis bingung kenapa masih ada dua botol ditangannya. Ah.. Iis ingat Kang Rozak sedang membongkar meja di kamarnya. Dengan cepat Iis mencari Kang Rozak.
“Kang..” panggil Iis saat menemukan Kang Rozak yang sedang membongkar meja.
“Eh.. Iis, kenapa ?” tanya Kang Rozak sambil menunda pekerjaannya.
“Ini..” Iis menyerahkan botol minuman dingin pada Kang Rozak.
Pada saat Kang Rozak mau mengambil botol minuman Iis langsung mengambil kembali botol minumannya.
“Ih kenapa ?” tanya Kang Rozak kesal.
“Hahaha.. maaf, Kang. Ini Akang yang ngak dingin aja, Akang ‘kan amandel,” ujar Iis sambil memberikan minuman yang ngak dingin pada Kang Rozak.
“Inget aja kamu, Iis. Sini duduk..” ujar Kang Rozak sambil meminta Iis duduk. Iis langsung menurut dan duduk didepan Kang Rozak.
“Kenapa, Kang ?” tanya Iis sambil tersenyum pada Kang Rozak.
Deg..
Hah.. rasanya Kang Rozak ingin mengutuki keputusan bodohnya dulu memutuskan Iis untuk fokus PNS, sekarang dia sudah PNS, Iis malah sudah tunangan dengan Juan. Andai dulu dia tidak melepas Iis mungkin Kang Rozak sudah menikah dengan Iis.
“Kamu bahagia sama Juan ?” tanya kang Rozak sambil membuka botol minumannya.
“Iya, bahagia Kang, kenapa emangnya ? Iis keliatan kaya yang sengsara ?” tanya Iis bingung.
__ADS_1
“Hahahaa... ngak malah kamu keliatan seger, kayanya happy terus, Ayah di Citeko juga sering cerita katanya kamu happy terus,” ujar Kang Rozak.
“Nah, itu udah tau jawabannya, kenapa emangnya ?” tanya Iis penasaran.
Kang Rozak yang tau sifat Iis yang super kepo hanya bisa tersenyum. “Ngak kenapa-kenapa. Syukur kamu bahagia, Akang jadi tenang,” ujar Kang Rozak.
Iis hanya terdiam menatap wajah Kang Rozak, Iis tau ada yang ingin di ucapkan oleh Kang Rozak padanya.
“Ada apa, Kang ? Kalau mau ngomong, ngomong aja,” ujar Iis sambil membuka botol minumnya.
Kang Rozak terdiam kemudian menatap Iis, “Maafin Kang Rozak yah, Kang Rozak udah pernah ninggalin kamu, Akang terlalu percaya diri, Akang sangka kamu bakal mau nerima Akang lagi, ternyata ngak..” ujar Kang Rozak.
Iis menatap manik mata Kang Rozak, “Iya, Iis udah maafin semuanya, pokoknya sekarang Iis mendoakan yang terbaik untuk Kang Rozak, Iis ingin Kang Rozak bahagia,” ujar Iis sambil tersenyum.
“Iya, makasih Yah, Iis. Sekarang Akang lagi nyari yang bisa gantiin kamu,” ujar Kang Rozak.
“Kang, jangan cari ganti aku, ngak bakal ada. Tapi cari orang yang bener-bener ingin Kang Rozak lindungin, sayangin dan cintain,” ujar Iis sambil menatap Kang Rozak.
Kang Rozak langsung tersenyum mendengar perkataan Iis. Iis yang selalu mampu menenangkan Kang Rozak kapanpun dan dimanapun. “Nuhun, Neng. Nuhun tos pernah jadi bagian di hirup Akang.”
(Terima kasih Neng, terima kasih sudah pernah jadi bagian di hidup Akang)
Iis langsung berdiri kemudian berjalan kearah pintu, “Sawangsulna, Kang,” jawab Iis.
(Sama-sama,Kang)
•••
“Dari mana kamu ?” tanya Juan saat melihat Iis yang keluar dari kamar.
“Ngasih minum buat Kang Rozak, jangan cemburu. Aku ngak ngapa-ngapain,” ujar Iis memperingatkan Juan.
Juan yang tadinya mau marah langsung mengurungkan niatnya mendengar ancaman Iis. “Ngak kok, ih kamu pikirannya jelek mulu,” ujar Juan.
“Awas aja kalau cemburu ngak jelas, aku rebus kamu,” Iis memperingatkan Juan.
Iis langsung duduk disamping Taca yang sedang mengipasi dirinya karena kepanasan. “Panas banget sumpah,” ujar Taca sambil terus mengipasi tubuhnya.
“Sabar, padahal ini Ac udah poll,” ujar Iis sambil menatap Abah, Adipati, Juan, Aa Riki dan Kang Rozak yang kedinginan.
“Panas banget beneran,” ujar Taca lagi sambil mengipas-ngipas.
Iis tertawa sambil membagikan makanan yang sudah dibeli tadi, dengan cepat mereka menghabiskan makanan yang ada.
Setelah selesai makan, Iis langsung membereskan bekas makanan yang ada dan membawanya ke tempat cuci piring.
__ADS_1
Zzzrtttt...
Aa Riki langsung mengangkat teleponnya saat melihat nama yang tertulis dilayar ponselnya.
“Iya, kamu udah dibawah, bentar aku kebawah,” ujar Aa Riki kemudian menutup teleponnya.
“Siapa, Aa ?” tanya Abah penasaran, selama di Jakarta ini Abah sudah sering melihat Aa Riki pergi entah kemana dan pulang sambil tersenyum senyum sendiri seperti yang kesambet hantu.
“Ada, pacar Aa. Nanti Aa kenalin ke Abah yah,” ujar Aa Riki sambil tersenyum pada Abah.
“Wahhh... Rozak, tah kamu kapan atuh ? Ini Taca udah mau punya anak terus Aa Riki udah punya pacar, Iis udah mau nikah. Kamu kapan semprul ? Nunggu Abah mati ini teh ?” tanya Abah pada Kang Rozak yang hanya bisa dijawab senyuman oleh Kang Rozak.
“Aa cantik ngak ?” tanya Taca.
Aa Riki langsung tersenyum, “Dia baik udah ah, Aa mau ke bawah dulu, mau jemput,” ujar Aa Riki sambil keluar dari apartemen.
Abah yang duduk di apit Juan dan Adipati hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Aa Riki.
“Siapa pacarnya, Amore ?” tanya Adipati penasaran. Adipati ingin tau wanita seperti apa yang menjadi pacar Aa Riki.
“Biasanya yang cantik, Aa Riki suka yang cantik. Mantan Aa Riki cantik-cantik,” Taca mulai mengingat mantan-mantan Aa Riki.
“Aku mau kekamar mandi dulu,” ujar Iis sambil pergi meningalkan mereka semua.
Klik...
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka kemudian masuklah Aa Riki bersama seseorang dibelakang, bersamaan dengan itu Juan dan Adipati meminum minumannya.
“Semuanya kenalin, ini pacar aku, namanya Cicil Bouw...”
“Hai...”
Bruatttt....
•••
Apaan tuh yang bruutttt ????
Ayo tebak heheheee...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon