
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Pak Adipati dan....” Dokter Rindu menatap Iis yang sedang mengisi formulir pendaftaran, sedangkan Taca sudah tidur diruangan bersalin dan sedang dipersiapkan oleh suster dan bidan.
“Saya Iis, sahabatnya Taca..” jawab Iis sambil menulis formulis pendaftaran.
“Oh baiklah, saya nanti akan liat keadaan Bu Taca dulu. Apakah Bu Taca akan melahirkan secara Normal atau Caecar. Karena harusnya Bu Taca melahirkan 2minggu lagi.”
“Tapi Taca ngak apa-apa ‘kan?” tanya Adipati khawatir, astaga jantung Adipati benar-benar menderu cepat ada rasa takut di dadanya. Dia tidak mau istrinya mengalami nasih yang sama dengan Ibunya.
“Nanti saya liat yah,” ujar Dokter Rindu tenang, kemudian pergi meningalkan Adipati.
Adipati langsung duduk di kursi tunggu, dia sama sekali belum masuk keruang bersalin. Dia tidak tau Taca ada diposisi kasur yang mana ruangan yang mana. Adipati terlalu takut untuk masuk kesana, wajahnya pias.
“Di... ngak nemenin Taca ?” tanya Iis pada Adipati.
“Nanti, Iis. Aku mau nenangin diri dulu, aku masih harus napas dulu, nanti aku nyusul. Didalem cuman ada 4 ruangan doang kan,” ujar Adipati mencoba untuk menenangkan diri. Iis yang mengerti langsung meninggalkan Adipati sendirian dan berjalan masuk kedalam ruangan bersalin.
Adipati duduk dan menahan napasnya, pikirannya kalut ada rasa ketakutan kehilangan Taca. Air matanya hampir merembes keluar, bisa apa dirinya bila hidup tanpa Taca, wanita yang sudah mengubahnya menjadi pria yang lebih bertanggung jawab.
“Di...”
“Papa,” ujar Adipati saat melihat Gio sudah berdiri disamping dirinya.
“Ngapain kamu disini ? Ngak nemenin Taca didalam ?” tanya Gio sambil duduk disamping Adipati.
“Sebentar lagi, Pah. Aku cuman takut Taca kaya...”
“Jangan ngaco, dulu Mama kamu bisa ningalin kita karena ada penyakit, Taca sehat gitu...”
“ADIPATIIIIII......”
Teriakan Taca terdengar dari dalam ruang bersalin membuat Adipati langsung menatap ruang bersalin.
“Tuh, mana ada orang ngak sehat bisa teriak sekeras itu. Udah sana temenin, bikinnya barengan ngeluarinnya juga barengan,” ujar Gio sambil mendorong bahu Adipati pelan.
Adipati tersenyum mendengar perkataan Gio, iyah bikinnya barengan ngeluarinnya juga barangan. Adipati pun masuk kedalam ruangan bersalin dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati untuk menemani Taca melahirkan.
Saat akan masuk kedalam ruangan dimana Taca akan melahirkan, Adipati mendengar teriakkan Taca yang extra keras.
“Aaaauuuuu sakit... mamah, Sakitt... Iis sakit banget ini sakit...!?”
“Sabar Ta,” ujar Iis sambil mencoba menenangkan Taca.
“Huhhh haaahh huhhh hahhh astaga sakit banget, huaaaaaa...” Taca menjerit sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, rasanya bagian kewanitaan Taca panasnya bukan main, pinggangnya sakit, Taca benar-benar tidak paham bagaimana melukiskan rasa sakitnya ini.
__ADS_1
Adipati dengan keteguhan hati seorang lelaki yang ingin menemani Taca melahirkan membuka pintunya. Saat membuka pintunya matanya langsung membulat dan napasnya langsung terhenti.
Pemandangan dihadapannya sangat-sangat mengguncang jiwanya, bagaimana tidak dihadapannya terpangpang nyata kewanitaan Taca yang merekah dan dibawahnya terdapat darah. Dokter Rindu memberikan instruksi berkali-kali agar Taca tenang dan mengatur napasnya. Ditambah dengan Taca yang menahan sakitnya dan sesekali berteriak.
Adipati terdiam menatap semua itu,
“Bu Taca saya gunting yah.”
“Iya..” jawab Taca pasrah, lakukan apapun yang bisa Dokter Rindu lakukan. Taca ingin sikembar keluar, sakitnya bukan main Tuhan.
Saat Dokter Rindu mengambil gunting dan menggunting sedikit bagian kewanitaan Taca, mata Adipati langsung membulat sempurna, tiba-tiba pandangannya kabur Dan...
BRAKKKKKK.....
Adipati pingsan didepan pintu ruang bersalin membuat orang-orang didalam ruangan menatap Adipati.
“Astaga Pak Adipati.”
“Adipati ?!”
“Adipati... AWWWWW SAKIT...!!!” teriak Taca keras karena merasakan lagi sakitnya.
“Bu Iis tolong itu Pak Adipati,” ujar Dokter Rindu tenang sambil kembali fokus kembali pada Taca.
“Iya...” jawab Iis pasrah.
Iis dengan cepat berjalan kearah Adipati kemudian menepuk-nepuk pipi Adipati. “Di, bangun Di...”
“Ayang, kamu ngapain ?” tanya Juan tiba-tiba dari ujung ruangan.
“Mas, tolong...”
Juan langsung berlari kearah Iis kemudian membantu Iis mengangat badan Adipati, saat setengah berhasil mengangkat Adipati...
“Aaaaaaa...... huhuhuhuhuuu astaga sakit,” isak Taca yang berusaha mengatur napasnya, menyimpan energinya.
Juan spontan menatap Taca, sialnya dia melihat adegan berdarah-darah. Dan...
Brukkkk....
“Mas... astaga kenapa jadi pingsan berjamaah gini ?!” pekik Iis kaget.
Dokter Rindu hanya melirik sekilas kemudian menyuruh dua suster disana untuk membantu Iis mengangkat Juan dan Adipati.
“Sini biar saya bantu,” ujar suster tersebut.
“Aduh maaf yah, kenapa jadi ngurusin tunangan saya sama suami Taca,” ujar Iis malu karena tunangannya ini tiba-tiba pingsan.
“Oh sudah biasa Mbak, sering kok saya liat suami yang pingsan,” ujar Suster memakluminya.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya Adipati dan Juan sudah terduduk diruang tunggu, Iis dengan sigap memberikan minyak angin pada Juan agar dia sadar sambil sesekali memeluk Juan.
Sedang Adipati diurus papa Gio dan Abah.
“Sadar maneh bule ?” tanya Abah santai saat Adipati sadar.
“Bah, Pah tadi itu apa, kenapa bentuknya jadi kaya gitu, astaga padahal dulu bentuknya lucu, imut, mengemaskan, kenapa jadi porak poranda gitu...” tanya Adipati polos mempertanyakan bagian kewanitaan Taca yang baru saja dia liat tadi.
Abah dan Gio langsung saling tatap dan tertawa keras mendengar- perkataan Adipati yang tidak ada filternya.
“Hahahahahaa... sabar Bule, nanti juga bentuknya ciamik lagi, Ready to use..! (Siap digunakan)” ujar Abah sambil menahan tawanya melihat kelakuan Adipati yang kaget.
Adipati menatap Gio dan Abah dengan tatapan masih berusaha menerima kenyataan yang ada, karena bagian tubuh Taca yang paling dia suka saat ini bentuknya porak poranda. Padahal, bentuknya dulu sangat Adipati suka, damba, puja. Pokoknya itu adalah tempat paling nyaman didunia ini..! (oke mulai ngelantur Adipati ini, dasar mesum *author)
“Udah nanti juga bentuknya bagus lagi, dikecosss (jahit) nanti sama dokter, nanti rasanya masih sama bahkan lebih yahutttt,” ujar Abah sama-sama sablengnya.
Adipati hanya bisa menganggukan kepalanya mendengar perkataan Abah.
“Maaf, ada yang namany Adipati ?” tanya suster dari balik pintu ruang bersalin.
“Saya..” jawab Adipati pelan.
“Pak, Ibu Taca membutuhkan Bapak, Bapak Kuat ?” tanya Suster sambil menatap manik mata biru Adipati yang menunjukkan sorot ketakutan.
“Siap..” jawab Adipati terbata-bata.
“Bener Pak ?” tanya Suster itu lagi karena tadi saja Adipati pingsan dan harus diseret oleh 2 orang dan beratnya jangan ditanya.
Adipati menelan salivanya dengan susah payah, kemudian mengatur napasnya dengan baik. “Siap, Sus.”
“Oke..”
Adipati pun melangkahkan kakinya dengan lutut yang bergetar hebat. Melangkah keruangan dimana Taca berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.
•Bikinnya bareng-bareng, ngelahirinnya bareng-bareng•
•••
Semangat Bapak Adipati, tarik napas dalam-dalam...
Kamu bisaaaaaa !?
Ada pengalaman kan saat melahirkan ? Hahahaa...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon