Water Teapot

Water Teapot
I can treat you better


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


"Maksud kamu apa, Rad ?" tanya Taca kesal setelah menutup pintu pantry.


"Ini kenapa, tangan kamu kenapa ?" tanya Radi sambil menyingsingkan kedua lengan blouse Taca.


"Bukan apa-apa, Rad. Bukan urusan kamu juga kan," jawab Taca kesal sambil memperbaikki blousenya.


"Bukan urusan aku ? Semua yang terjadi sama kamu itu urusan aku, Ta..!!" bentak Radi sambil menunjuk muka Taca.


"Bibir kamu kenapa? Dia nampar kamu ?" tanya Radi lagi sambil menatap bibir Taca yang luka.


Taca mengambil napas dalam-dalam, ada apa dengan otak Radian Hasta ini ? Hampir bertahun-tahun tidak ada kabar, ningalin Taca seenak jidatnya aja. Sekarang tiba-tiba datang kembali kekehidupan Taca berusaha untuk menyelamatkan Taca dari Adipati yang menurutnya brengsek, Ada apa sama hidup dia,sih ?


"Bukan urusan kamu, Radi...! Hidup aku sekarang udah ngak ada urusannya sama kamu lagi..!" bentak Taca kesal rasanya ingin Taca melempar meja pantry kekepala Radi.


"Ngak bisa, Princess. Apa yang terjadi sama kamu itu tanggung jawab aku....!!" Radi bersikeras, entah apa yang ada diotaknya sekarang. Ketakutannya akan nasib Taca yang akan bernasib sama seperti Kak Cindy membuat Radi kalap.


"Astaga Radi, ini lebam bukan karena Adipati mukulin aku, ini juga bukan karena Adipati," pekik Taca sambil menunjuk bibirnya.


Rasanya ingin Taca berteriak kalau lebam dan luka dibibirnya karena kebodohan Radi yang terus menerus menchat dirinya, memaksanya untuk meningalkan Adipati.


"BOHONGGG...!!!" teriak Radi frustasi, dia ingat dengan jelas saat pertama kali Kak Cindy berbohong akan luka-lukanya.


"ARGHHHHH..." geram Taca kesal sambil mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Kamu bohong kan, itu luka lebam Taca. Adipati pasti mukulin kamu kan..!!!" Radi benar-benar marah digeretakan giginya.


"ASTAGA RADI, aku bilang bukan yah bukan..!? Kamu maunya apa sih ?" Taca benar-benar geram dengan pendapat Radi.


"Bohong, Taca... tingalin dia, tingalin Adipati...!!! I CAN TREAT YOU BETTER, THAN HE CAN...!!!".


(Aku bisa memperlakukanmu lebih baik dari pada yang bisa dia lakukan)


Taca terkejut mendengan perkataan Radi, orang gila mana yang bilang bisa memperlakukan dia lebih baik dari pada Adipati.


"Maksudnya ?"


"Taca, please tingalin Adipati, aku ngak sangup liat kamu kaya gini..! Kamu bukan samsak hidup..." ucap Radi meyakinkan Taca.


"Terus kalau aku tinggalin Adipati, aku harus sama siapa ? Kamu ?!" bentak Taca sambil menahan tangisnya. "Dan aku bukan samsak hidup, Adipati ngak pernah mukul aku..!?".


"Kamu bisa sama aku, Princess. Kita ke Singapura sekarang juga. Kita menikah, aku cinta sama kamu...!!!!" Radi berjuang meyakinkan Taca.


"Hah ???!"


"Iya, aku cinta sama kamu, Taca..."

__ADS_1


"BULLSHITTT...!!!" jerit Taca kesal.


(Bohong)


"Aku ngak bohong, Ta... aku cinta kamu."


"Aku udah kasih kesempatan itu sama kamu dulu, mungkin kamu lupa. Tapi kamu ningalin aku tanpa kabar. Aku nunguin kamu di Tafso, Rad. Aku nunguin kamu sama Iis. Aku pake dress terbaik aku, aku dandan secantik mungkin buat kamu. Tapi kamu kemana ?? Kemana kamu ?" jebol sudah, Taca meluapkan semua perasaan kecewanya pada Radi, Taca sudah tidak peduli bila ada orang yang mendengarkan teriakkannya.


Radi terdiam, lidahnya seperti diambil kucing. Dia ingat kejadian itu. Dia ingat hari dimana dia harus menjemput Kak Cindy, pergi ke Singapura, handphonennya yang tertingal membuat dia kelabakan mencari cara untuk menghubungi Taca.


"Ngak bisa jawabkan...!!! Jawab Rad, kemana kamu saat aku kasih kesempatan ? Kemana ???" maki Taca geram sambil mendorong dada Radi berkali-kali, sesekali terdengat isakan tangis Taca.


Radi benar-benar diam seribu bahasa, pikirannya kalut. "Taca denger..."


"Mau denger apa ? Sekarang kamu nyuruh aku ninggalin Adipati, otak kamu konslet !? Kamu yang ningalin aku, Rad. Aku ingetin sekali lagi. KAMU YANG NINGALIN AKU, BUKAN ADIPATI....!!!" jerit Taca sambil memukuli badan Radi geram, sudah Taca tak sangup menahan emosinya. Emosi yang dia simpan selama bertahun-tahun pada Radi benar-benar tumpah saat ini juga.


"Dengerin aku, aku bisa jelasin semuanya. Kasih aku kesempatan, Taca... aku mohon," pinta Radi sambil menahan pukulan Taca.


"Kesempatan, kesempatan kamu bilang. Aku udah kasih kamu kesempatan, dulu..."


"Aku chat kamu, Taca.. tapi kamu blok semua nomer aku, kamu tutup semua akses aku buat hubungin kamu...!!!"


"Setelah 8 bulan kemudian..!!! Kemana aja kamu selama 8 bulan, lupa sama aku, hah ?" bentak Taca sambil mengusap air matanya.


"Handphone aku hilang Taca, aku ngak tau nomer kamu, aku juga disibukkan dengan urusan aku." Radi menjelaskan, dia benar-benar bingung menghadapi Taca yang emosional.


"Hahahaa... kamu bisa tanya Joko, Iis atau bahkan kamu bisa ke Indonesia kan. Banyak jalan, Rad..! Jangan egois kamu Radi...!" bentak Taca sambil berjalan menjauh dari Radi.


"Udah stop, aku udah maafin kamu. Tapi aku mohon sama kamu. Jangan ganggu hubungan aku sama Adipati. Dia lebih baik dari kamu," ucap Taca sambil memutar gagang pintu pantry.


"Uang...."


Taca menghentikan gerakkannya, kemudian membalikkan badannya menatap Radi.


"Maksudnya apa ?" tanya Taca bingung.


"Kamu tunangan sama Adipati karena uang kan. Karena dia Kaya ?" tanya Radi, Radi benar-benar menahan amarahnya sampai-sampai dia tidak sadar apa yang dikatakannya.


Taca mengerjapkan matanya, mendekat pada Radi. "Gimana ?"


"Oh come on, kamu bisa kuliah juga karena bantuan Beasiswa Djarum kan. Kamu bukan dari keluarga berada, Taca. Jadi kalau kamu bertahan sama Adipati karena masalah Finansial, aku juga bisa memberikan semua yang Adipati kasih ke kamu...."


"......"


"Orang tua ku punya bisnis hotel di Singapura, dan kalau kamu mau tau, kenapa aku bisa dengan mudahnya bekerja disini, karena keluarga aku punya 10 persen saham diperusahaan ini...!"


Taca kaget dengan ucapan Radi, sepicik itukan pikiran Radi pada Taca. Sehina itukan Taca di mata Radi. Taca akui Taca bukan orang sekaya Radi, Juan atau Adipati. Tapi demi apapun dia punya harga diri.


"Tampan ? Aku juga tampan Ta... aku bisa memperlakukan kamu lebih baik dari Adipati, Ta... jadi aku mohon dengan sangat, tingalin Adipati. Aku cinta sama kamu Ta..!"


PLAKKKKKK PLAKKK...

__ADS_1


Kemarahan Taca benar-benar tidak bisa Taca bendung, air matanya jebol. Penghinaan Radi benar-benar membuat Taca sedih. Dia tidak pernah berpikir Radi bisa punya pikiran seperti itu. Taca menampar Radi bolak balik.


"Jaga ucapan kamu Radian Hasta...!?" taca menahan amarahnya dengan kesal.


"TERUS APA ? APA YANG BIKIN KAMU BERTAHAN DARI ORANG SEBERENGSEK ADIPATI...!?" teriak Radi sambil mencengkram Kedua tangan Taca.


"APA ???" teriak Radi lagi.


"Karena Adipati tidak pernah ninggalin aku. Adipati tetap disebelah aku apapun yang terjadi. Saat dia tau trauma aku, disaat aku hampir gila, disaat keluargaku meminta berbagai macam hal diluar nalar. Adipati tetap disamping aku....!" bentak Taca sambil melepaskan cengkraman Radi.


"Tapi dia brengsek, reputasi di...."


"Tapi lebih brengsek kamu, Rad... inget satu hal. KAMU YANG NINGGALIN AKU. KAMU, RADIAN HASTA, KAMU YANG NINGGALIN AKU, BUKAN ADIPATI BERUTTI...!!!" potong Taca cepat sambil membuka pintu pantry dan membantingnya keras.


BRAKKKK...


Radi terdiam, diambilnya gelas dipantry kemudian dilemparkannya ke lantai.


"ARGHHHHHHH...!!!!" Radi mengambil beberapa gelas lagi kemudian melemparkannya kembali kelantai.


Taca yang masih bersandar dipintu pantry langsung merosot terduduk, tangisannya pecah. Entah apa yang Taca tangisi, Taca bingung tapi dia benar-benar menangis sambil menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh orang lain.


"Princess, sorry..." terdengar bisikkan Radi dari balik pintu pantry. Radi tau Taca masih ada di balik pintu.


"Kamu yang ningalin aku, Rad..." ujar Taca sambil terbata-bata.


"Sorry..."


"Biarkan aku bahagia sama Adipati, aku mohon..."


"Sorry, Ta...Sorry." Radi memukul pintu pelan. "Sorry sama ucapan aku barusan, aku ngak ada maksud... sorry, Ta...."


Taca memejamkan matanya rasa sakit hati atas perkataan Radi masih Taca rasakan. Tapi demi apapun, Taca tidak bisa marah pada Radi.


"Radi, aku mohon aku cinta sama Adipati. Biarin aku bahagia... selamat tingal Rad..." ucap Taca sambil berdiri kemudian berjalan menjauhi pantry kantor yang sepi.


Radi diam kemudian mengusap kasar rambutnya. "Ngak bisa, Ta... aku cinta sama kamu. Adipati bakal nyakitin kamu, Ta...".


•••


Yeh... Radi minta di sambit koran abah deh. Ngomong sekata-kata ckckckkckk...


udah yah, udah ngak nanggungkan hahahhaaa...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2