
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Iis masuk kedalam restoran yang sudah disepakati oleh Radi dan dirinya. Iis mengenakan blezer dan rok span selutut tak lupa mengenakan sepatu high heels andalannya. Rambutnya ditata sedemikian rupa membuat Iis tampak cantik dan terlihat profesional.
"Iis...." teriak Radi saat melihat Iis masuk kedalam restorant.
Berbeda dengan Iis, Radi hanya mengunakan kemeja dan celana jeans. Radi bergaya se casual mungkin.
"Udah lama ?" tanya Iis sambil duduk didepan Radi.
"Ngak baru aja, pesen dulu," ujar Radi sambil memberikan buku menu kearah Iis yang langsung diambil oleh Iis.
"Cantik amat, mau kemana ?" tanya Radi melihat penampilan Iis. Iis bukan tipe wanita cantik, tapi demi apapun bila Iis sudah berdandan bakal banyak yang menoleh melihat Iis.
"Abis ini aku mau jadi pembicara di seminar Ibu dan Anak," jawab Iis sambil memilih makanan yang dia mau.
Iis dan Radi langsung memesan makanan pada pramusaji restoran.
"Diliat-liat kamu cantik loh, Iis," goda Radi pada Iis. Memang dulu saat kuliah banyak yang suka dengan Iis tapi langsung mundur saat tau betapa bar-barnya Iis. Apalagi waktu itu status Iis masih kekasih Kang Rozak, jangan harap ada yang bisa mendekati Iis.
"Makasih," jawab Iis kalem. "Terus kamu mau ngomong apa ?".
Radi makin tersenyum melihat Iis yang langsung to the point, "Aku masih ngak bisa move on dari Taca," ujar Radi.
"Basi.... terus kalau kamu ngak bisa move on, salah Taca ?" ujar Iis sambil menatap Radi kesal.
"Ngak, tapi aku ngak mau Taca sama Adipati. Adipati ngak ada bagus-bagusnya. Dia ngak cocok sama Taca."
"Terus yang bagus siapa ? Yang cocok siapa ?"
"Aku..."
"Wake up, Rad. Udah siang ini, jangan jadi pahlawan kesiangan didalam kehidupan Taca..!" ujar Iis gemas dengan kekeras kepalaan Radi.
"Adipati ngak cocok buat Taca, Iis...!"
"Tau darimana Adipati ngak cocok, Rad. Kamu emang Tuhan yang tau nasib manusia ?" tanya Iis lagi.
"Iis, jatuh cinta yang tepat itu seperti menemukan puzzle yang belum lengkap pada diri kita, dan Adipati bukan puzzle yang tepat buat Taca," ujar Radi meyakinkan Iis.
"Ngaco lagi kan loe, beneran mau ngobrolin tentang kecocokan sama aku ?" tantang Iis kesal sekaligus geram pada Radi.
"Iis, kamu sama Juan cocok makanya kalian bisa bersama, tapi Taca sama Adipati ngak...!" Radi meyakinkan Iis lagi, demi apapun Iis harus berpihak padanya dengan cara dan alasan apapun.
"Radi, aku tanya, kamu Tuhan bisa tau mana yang cocok mana yang ngak ?" tanya Iis lagi.
__ADS_1
"Ngak perlu jadi tuhan buat tau kalau Taca sama Adipati itu ngak cocok," ujar Radi kesal.
"Radi, tau ngak menurut penelitan ngak ada orang yang cocok dan tepat untuk kita, kecocokan akan terjadi saat kita beradaptasi dan menyamakan frekuensi. Dan Taca sama Adipati udah ditahapan itu. Jadi, tolong Rad.. tolong lupain Taca lepasin Taca, jangan jadi pahlawan kesiangan...!?" ujar Iis lagi sambil mengecek handphonenya yang tiba-tiba berbunyi.
Zzzrrrttt zrrtttt
Saat Iis mengangkat teleponnya, pramusaji sedang menghidangkan makanan dan minumannya.
"Iya, Mas," ujar Iis saat mengangkat teleponnya.
"Kamu ngapain di restoran, makan siang sama siapa kamu? Kamu ngak jadi seminar ?" tanya Juan langsung.
'Gimana caranya mas tau aku disini sih, punya ilmu apa sih Juan Wijaya ini...!' batin Iis sambil celingukkan ke kanan dan kekiri takut ada Juan disana.
"Aku lagi makan siang sama temen, Mas," jawab Iis jujur sambil mengucapkan terima kasih pada pramusaji.
"Temen ? Siapa..."
"Temen kuliah aku," Iis engan mengatakan dia makan bersama Radi.
"Temen kamu ngak punya nama ? Manusia macam apa didunia ini yang ngak punya nama ?" ujar Juan memaksa Iis menyebutkan. Siapa nama temannya.
Iis hanya bisa tersenyum, sifat Juan yang selalu ingin tau aktifitasnya kadang membuat Iis pusing. "Namanya Radi...."
"Ngapain kamu sama Radi ? Berdua doang ?"
"Hah... udah miskin si Radi ampe ngak mampu buat bayar psikolog, sampe minta tolong ke kamu ? Ngapain sih.. udah diem kamu disana," ujar Juan kesal mendengar penjelasan Iis.
"Hah... ngaklah mas, emang kita janjian. Mas mau kesini ?" tanya Iis bingung.
"Iya, tunggu kamu disana...!" perintah Juan sambil menutup teleponnya.
"Siapa Is ?"
"Mas Juan, katanya mau kesini," ujar Iis tenang.
"Oh..."
"Radi... kamu ngerti ngak omongan aku ?" tanya Iis.
"Aku bukan pahlawan kesayangan, Iis. Aku cuman orang yang ingin Taca bahagia...!" ujar Radi sambil menggulung spagetinya.
"Mata loe picek ? Buta loe tuh ? Taca kurang bahagia apa lagi, dia udah nikah sama laki-laki yang mau nerima dia apa adanya, bahkan sekarang Taca hamil..."
Bruakkkk
"RADIIII....!" pekik Iis kesal saat spageti carbonara muncrat dari mulut Radi hampir mengenai kemejanya.
"Sorry...sorry..." ujar Radi sambil meminum air mineral didepannya.
__ADS_1
"Kok bisa Taca hamil ?"
"Loe ngak tau gimana caranya bikin anak ?" tanya Iis kaget, ternyata ada yang lebih polos dalam hal seksual selain dirinya.
"Tau lah, aku ngak sepolos itu juga. Maksud aku kok bisa Taca hamil," ujar Radi tidak terima Taca hamil anak Adipati.
"Yah bisalah, dan udah halal juga mereka suami istri. Kecuali Taca istri orang baru deh aneh...!" ujar Iis gemas.
Radi terdiam, kalau Taca hamil beda ceritanya. Radi ngak mau merebut kebahagian anak didalam kandungan Taca, tapi....,
"Rad..."
"Aku ngak bisa Iis, hati aku sakit banget. " ujar Radi sambil menggenggam tangan Iis erat. "Aku ngak sanggup...!"
"Kamu bisa, Rad. Sakit aku tau. Sakit banget ngak gampang lupain orang yang pernah nari-nari di hati kamu. Tapi, percaya sama aku, kamu bisa kamu mampu."
"Aku butuh ngobrol sama Taca, kamu bisa bantu ?" ujat Radi pada Iis sambil menatap manik mata Iis.
Iis menghela napasnya kemudian mengelus tangan Radi lembut sambil sesekali menepuk tangan Radi.
"Aku coba yah, moga Taca diizinin sama Adipati. Aku ngak mau kalau Taca ketemu sama kamu tanpa Adipati tau. Dulu mungkin boleh. Tapi sekarang Taca sudah istri Adipati. Semuanya harus izin Adipati. Apalagi Taca lagi hamil," ujar Iis bijak.
"Aku mohon, Iis. Terakhir ini terakhir aku ketemu Taca. Aku cuman mau ngobrol sama Taca. Aku cuman mau, melegakan hati aku, Is.." ujar Radi sambil terus menggenggam erat tangan Iis.
"Aku ngerti, nanti aku coba bilang sama Taca, aku juga bakal ngomong sama Adipati, tapi aku ngak bisa maksa yah," ujar Iis sambil tersenyum manis pada Radi.
"Kamu manis Iis kalau senyum..." puji Radi tulus sambil menatap Iis.
"Makasih, udah muji pacar gue, tapi bisa dilepas aja tangannya...!" ujar Juan tiba-tiba sambil melepaskan tangan Iis dari genggaman Radi.
Radi dan Iis langsung menatap Juan yang sedang tersenyum ganas pada Radi siap menerkam Radi.
•••
Nanannananaaahhh...
hayooo lohhh...
Sapa yang ngidein kaka gallon bikin Juan cemburu juga sama Radi ngakuuu hahahahaa
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1