
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Bunda bangun dengan badan yang sangat sakit. Sekujur tubuhnya sakit, bagaimana tidak saat ini dia tertidur beralaskan tikar berwarna hijau yang sudah kumal. Tas miliknya dia jadikan bantal dan selimut yang dia gunakan adalah sebuah sarung kumal yang wanginya hanya tuhan dan dirinya yang tau.
Kemarin siang Bunda dijemput paksa oleh mobil polisi, Kokom dituduh melakukan penipuan. Semua ini terjadi karena kebodohan Adiknya, andai adiknya tidak memintanya untuk menjadi notaris abal-abal mungkin saat ini dia sedang asik bergosip dengan teman-temannya di pasar. Ah...andai dia tidak tergiur uang yang ditawarkan Bobby adiknya.
“Heh... kenapa lo masuk sini?”tanya seorang wanita dengan badan tambun dan memiliki tato ditangan kanannya.
“Saya?”tanya Bunda sambil menatap wanita itu dengan tatapan Jijik. Dirinya masih yakin kalau dia bisa kelur penjara dengan cepat. Juan, lebih tepatnya uang 2 milyar dari Juan pasti mampu menyuap polisi.
“Iya lo lah, emang siapa lagi?”dengus wanita lainnya yang melihat kokom dengan tatapan jijik.
“Cuman kesalahan, ngak mungkin orang sekaya saya masuk bui. Semuanya cuman kesalahan,saya ini mertua dari orang kaya,”dengan pongah Bunda berkata sambil menepuk-nepuk tas miliknya.
“Hadeuh...kaya lo? Mana sini bagi duit,”teriak wanita bertubuh tambun itu sambil menarik paksa tas Bunda.
“Eh kurang ajar kamu, balikin tas saya..!!!”bentak Bunda sambil berusaha untuk mendekati wanita tambun itu, sayangnya badannya dihadang oleh wanita yang tadi menatap Bunda dengan tatapan jijik.
Seketika itu juga tubuh Bunda yang kecil terpelanting dan membentur dinding sel penjara yang kecil. Sakit, tapi lebih sakit harga dirinya.
Dengan cepat wanita bertubuh tambun itu mengelurkan isi tas Bunda, dijatuhkannya semua isi tasnya ke lantai membuat semua barang didalamnya tumpah keluar.
“Astaga make up aku,”teriak Bunda sambil berjalan kearah barang-barangnya.
Wanita bertubuh tambun itu mengambil dompet milik Bunda dan mengeluarkan semua isinya. Semua uang didalam dompet Bunda diambil, tak lupa wanita itu mengambil rokok yang ada ditas Bunda, rokok adalah barang sangat mahal didalam penjara. Harga rokok bisa bertambah berkali-kali lipat bila dijual dipenjara.
“Lumayan juga,”ujar wanita itu lagi sambil menghitung uang Bunda yang berjumlah dua juta rupiah.
“Eh..maling lo yah, balikin duit gue,”teriak Bunda sambil berusaha mengambil uang miliknya kembali.
Dengan cepat wanita bertubuh tambun itu mendorong Bunda hingga ke dinding sel penjara yang dingin dan berjamur. Di tekannya dada Bunda menggunakan kedua tangannya, Bunda langsung merasakan sesak yang sangat luar biasa. Bunda berusaha untuk mengambil oksigen, napasnya sesak, dadanya seperti terbakar karena kekurangan oksigen.
‘Yakin ini gue bakal mati, sial gue ngak mau mati. Gue masih ingin foya-foya dari duit Iis,’batin Bunda.
Dengan cepat tangan Bunda mencakar dan memukul kesegala arah, berusaha untuk membuat wanita bertubuh tambun didepannya melepaskan dirinya.
__ADS_1
“Bungkam mulutnya, cepet..!”perintah wanita bertubuh tambun itu pada wanita satunya. Wanita bertubuh tambun itu takut bila Bunda berteriak akan membuat para polisi datang untuk melerai mereka. Wanita itu tidak mau kehilangan uang sebesar dua juta dan sebungkus rokok kretek yang tadi dia temukan.
Dengan patuh temannya membungkam mulut Bunda dengan keras, sialnya hal itu membuat Bunda makin kesulitan bernapas, muka Bunda berubah pias. Sial pasti dia akan menghadap sang pencipta lebih cepat.
“Lo mau hidup?”tanya wanita tambun itu lagi, hal itu langsung dijawab anggukkan oleh Bunda. “Bagus, nanti kalau ada kelurga lo lagi minta duit 5 juta, lo orang kaya ‘kan.”
“O...o..ke...”cicit Bunda, untuk mengatakan kata Ok di balik sebuah tangan yang membungkam mulutnya saja sangat sulit.
Setelah mengatakan Oke, wanita tambun tersebut melepaskan Bunda, dengan cepat Bunda mengambil napas dalam-dalam. Paru-paru Bunda kembali bersorak gembira mendapatkan kembali oksigen.
“Inget 5 juta atau lo jadi jongos gue selama di sel ini...!!” bentak wanita bertubuh tambun itu lagi.
“Iya...”jawab Bunda pasrah, dia yakin sebentar lagi Ayah atau siapapun akan menemui dirinya, 5 juta bukan jumlah yang besar untuk Ayah atau Iis. Ah apalagi Iis, semenjak menikah dengan Juan lagaknya sudah seperti Nyonya.
“Ah...sama mau ngingetin aja, apa yang kamu rasain disini belum ada seberapanya dari pada apa yang bakal kamu rasain di Rutan nanti, disana itu Rimba..!!”Wanita bertubuh tambun itu menakut-nakuti Bunda. Bunda yang belum pernah masuk rutan hanya bisa menelan salivanya.
•••
Saat ini Ayah, Iis dan Juan sudah duduk manis diruang tunggu kepolisian. Ayah ingin menemui Bunda. Sedangkan Bernard menolak ikut, dia ingin sekolah, perkataan Juan kemarin membuat Bernard lebih semangat belajar. Dia ingin menjadi idolanya dan Juan akan memberikan jalannya, dia tidak akan menyia-nyiakannya sama sekali.
“Bapak Ibu, tunggu sebentar yah. Saya bakal panggil Bu Kokomnya,”ujar polisi bertubuh tegap.
“Iya” jawab Juan santai.
“Ayah,”panggil Bunda sambil duduk bersimpuh di kaki Ayah.
“Kom kamu tuh ngelakuin apa lagi sih? Sejak kapan kamu jadi notaris? Lah wong SMA aja kamu ngak lulus..!”ujar Ayah sambil mengelus rambut Kokom.
“Bunda cuman ngikutin keinginan Bobby, Yah. Bunda ngak tau apa-apa,”ujar Bunda sambil mengeluarkan air mata buaya miliknya.
“Alah ngak tau apa-apa tapi dapet juga baguan duitnya,”potong Juan sambil memainkan handphone ditangannya, Juan benar-benar muak dengan opera sabun didepannya ini. Keluarga Iis ini jalan ceritanya kehidupannya lebih memuakkan daripada alur cerita sinetron yang tayang setiap malam di salah satu tv swasta.
“Mas...” cicit Iis sambil mengelus paha kanan Juan. Juan langsung mendecak kesal sambil menangkap tangan Iis.
“Bunda ngak tau apa-apa, Juan. Bunda cuman ikut arus aja, tolong Bunda. Keluarin Bunda dari sini..!”pinta Bunda sambil mengusap air matanya.
“Susah Kom, Idad dan pihak KPR ngak mau cabut laporan,”ujar Ayah.
Wajah Bunda berubah muram, astaga dia tidak mau dipenjara, dia tidak mau merasakan dinginnya lantai penjara untuk kedua kalinya lagi, ditambah ada 2 wanita yang siap memukulinya.
__ADS_1
“Tapi, kasian Bernard. Dia sama siapa kalau ibunya di penjara?”tanya Bunda, senjatanya adalah Bernard, Ayah pasti akan luluh kalau sudah membawa-bawa tentang Bernard.
Ayah langsung menelan salivanya, Bunda benar-benar menyimpan kartu as miliknya.
“Bernard baek-baek aja, malah mau saya sekolahin, nggak usahlah mikirin Bernard. Baek-baek lah kamu dipenjara,”potong Juan sambil menatap Bunda dengan tatapan meremehkan.
Bunda diam, saat mendengar perkataan Juan. Sial sekarang Bernard tidak bisa dijadikan sebagai tameng miliknya lagi.
“Maaf Bu, waktu kunjungan sudah habis,”ujar polisi.
“Ah... sebentar..” Bunda meminta waktu untuk melakukan sesuatu. Bunda langsung berjalan kearah Iis kemudian berjongkok didepan Iis, seperti melakukan gerakan memohon.
“Eh...” Iis bingung dengan kelakuan Bunda.
“Iis, Bunda minta maaf kalau Bunda punya salah sama kamu. Maafin Bunda yah,”ujar Bunda sambil menatap Iis dengan tatapan paling nelangsa yang pernah Iis liat.
Hati Iis sedikit terketuk dan terenyuh, mungkin sel penjara sedikit mengubah kelakuan Bunda. “Iya, nggak papa.”
“Makasih Iis, kamu beneran udah maafin Bunda?”tanya Bunda sambil menatap anak tirinya itu.
“Iya Bunda, Iis berusaha untuk memaafin Bunda. Kalau Bunda udah sadar Iis merasa bersyukur sekali,”ujar Iis sambil berusaha untuk tersenyum setulus mungkin.
“Syukurlah kalau kamu udah maafin Bunda, Iis. Iis bunda ada permintaan..”
“Permintaan apa Bunda?”tanya Iis yang sudah sedikit luluh pada Bunda.
“Ehm... Bunda boleh minta uang 5 juta?”
“WHAT THE..!!!!!”
•••
Bunda oh bundaaaaaa.....
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon