
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Da... Da... Daaaaaa,” Kalila menjerit keras saat Iis mengangkatnya untuk memandikannya.
“Astaga kenapa, Nak. Mandi dulu sama Tante yah, nanti main lagi sama Om,” ujar Iis sambil mengayun Kalila pelan. Kama yang sudah selesai dimandikan sedengn di peluk oleh Juan.
“Da.... Da...” Kalila mendorong-dorong badan Iis dengan gemas. Kalila kesal karena waktu bermainnya dengan Juan diganggu Iis.
“Nanti main lagi sama Omnya, kita mandi dulu yah sayang,” ujar Iis sambil terus berjalan ke arah kamar mandi.
Juan tertawa melihat kelakuan Kalila yang kesal karena diambil dari pelukkannya. “Kalila tau, Yang. Kalau aku lelaki penuh kasih sayang,” canda Juan dan langsung mendapat senyuman manis dari Iis.
“Siapa dulu dong, suami aku...” canda Iis.
Juan terkekeh sambil menciumi badan Kama yang sudah wangi khas bayi. Wangi kesukaannya kedua didunia ini. Wangi pertama? Tentu saja wangi badan Iis.
Setelah selesai memandikan Kalila yang sangat-sangat penuh dengan tawa dan cerocosan bayi. Iis kembali ke tempat Juan dan Kama. Iis mendapati Juan dan Kama yang sedang bermain Peek a Boo (cilukba kali yah kalau bahasa indonesianya)
“Peek a...”
“Bo...” kekeh Kama sambil menatap Juan dengan tatapan paling menggemaskan yang pernah Juan liat.
“Bo... bo... bo...” Kalila menunjuk-nunjuk Juan.
“Mau main sama Om Juan?” tanya Iis sambil berjalan mendekati Juan.
“Bo... Bo...” ujar Kalila lagi sambil menepuk kedua tangannya sambil tersenyum manis.
“Coba Tante tanya, gantengan mana Om Juan sama Daddy?” tanya Iis.
Kalila yang baru sebelas bulan tampak mengerucutkan bibirnya kemudian mengoyangkan kepalanya ke kanan dan kekiri dan menggerak-gerakkan badannya. “Da da.. da...”
“Ah, Daddy lebih ganteng?” tanya Iis sambil tertawa geli melihat tingkah Kalila yang benar-benar menggemaskan. Iis benar-benar ingin menciumi pipi Kalila setiap saat.
“Dadadaaaaaa,” ujar Kalila sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan imut.
“Ih, ini apaan gosip aja yah, kamu sama Kalila,” Juan tiba-tiba jalan mendekati Iis sambil menggendong Kama.
“Gosipin kamu sama Adipati. Kata Kalila gantengan Adipati dari pada kamu, Mas,” ujar Iis sambil mencium Kalila sampai-sampai Kalila tertawa lepas.
“Enak aja, gantengan Om tau.”
“Gantengan Daddy yah?” tanya Iis yang langsung dijawab anggukan oleh Kalila.
“Ya udah, kalau kata kamu gantengan siapa?” tanya Juan pada Iis.
Iis mengangkat tangannya kemudian menggoyangkan tangan kanannya ke kanan dan kekiri seperti tanda ada masalah dalam olah raga diving. “Kurang lebih...”
“Yang, gantengan siapa aku atau Adipati?” tanya Juan penasaran.
__ADS_1
“Hmm... aku...”
“Yang jawab Yang,” Juan memeluk Iis sambil mencubit bagian belakang pinggul Iis dengan gemas.
“Aw... Mas, nanti Kalila jatoh ih,” Iis membalas Juan dengan mencubit perutnya.
“Sakit, Yang. Nanti Kama jatuh,” ujar Juan sambil tertawa renyah.
Kama dan Kalila yang melihat tingkah Juan dan Iis hanya bisa tertawa sambil mengeluarkan suara-suara khas bayi yang menambah ceria suasana di apartemen Juan yang bisanya sepi.
“Abisnya, Kamu tuh. Ngasih pertanyaan yang udah jelas-jelas jawabannya,” ujar Iis sambil memperbaikki gendongannya.
“Kan penasaran walau aku tau jawabannya aku ‘kan,” ucap Juan percaya diri.
“Hah yakin, Mas? Orang buta juga tau yang ganteng itu Adipati,” canda Iis sambil berlari meninggalkan Juan yang kaget mendengar ucapan Iis.
“He... sini kamu, istri nyebelin. Sini...!” ujar Juan sambil mengejar Iis.
Iis dan Juan berkejar-kejaran sambil menggendong Kama dan Kalila yang entah kenapa malah tertawa senang, bahkan seperti menyemangati Juan dan Iis yang berlari mengelilingi sofa diruang tengah.
“Hahahaa... maaf Mas, kenyataan hidup memang menyakitkan. Jujur Mas, Adipati lebih ganteng dari Mas,” canda Iis sambil mengedipkan salah satu kelopak matanya.
“Astaga Yang, kamu beneran yah, kalau nggak cinta udah aku kurung kamu. Sini kamu...”
“Da...da ba... buu....” Kama menunjuk-nujuk Kalila sambil menjulurkan lidahnya.
“Da.... tataaaaaataaaa,” teriak Kalila.
“Tatata.... da ta...” Kama membalas teriakkan Kalila lebih keras lagi.
“Yang, kok ini yang berantem jadi Kama sama Kalila yah?” tanya Juan sambil menahan tawanya. Astaga Kama dan Kalila benar-benar menggemaskan.
“Nggak tau, aku nggak kuat liat mukanya Kalila liat ini,” kekeh Iis sambil menunjuk muka Kalila yang entah mengapa membuat Iis tertawa.
Juan yang melihat Kalila pun langsung tertawa. “Yang sini duduk,” pinta Juan sambil menepuk kursi disampingnya.
“Tapi, jangan ngambek yah. Jangan ngambek kalau Adipati lebih ganteng dari kamu,” ujar Iis.
Juan langsung memicingkan matanya, “Iya, udah. Bodo amatlah Adipati lebih ganteng dari aku. Terserah, yang penting kamu nikahnya sama aku, cintanya ama aku,” ujar Juan sambil menciumi pipi Iis dengan gemas.
“Nah, tuh tau,” ujar Iis.
Juan dan Iis terduduk sambil menikmati suasana yang ada. Iis menyenderkan kepalanya ke bahu Juan. Rasanya lelah mengurus dua anak bayi dan satu bayi besar. Tapi, asik.
“Cape Mas,” ujar Iis sambil menggosok-gosokkan wajahnya di bahu Juan.
“Sama, tapi ini anak berdua malah bikin ngakak mulu, kebayang udah gedenya bisa baku hantam,” kekeh Juan.
“Nanti kita pinjem mereka lagi gimana, Yang?” tanya Juan yang langsung dijawab Anggukan oleh Iis.
“Ya udah nanti kamar tamu aku jadiin kamar bayi deh, biar kalau Kama sama Kalila kesini, mereka bisa bobo disana,” ujar Juan lagi sambil menciumi pipi Kama dengan gemas.
Iis hanya bisa tersenyum dan menyentuh perutnya. Didalam hatinya Iis berdoa sekencang-kencangnya, agar ada keajaiban untuk membuat perutnya bisa merasakan kehidupan kecil. Sekali saja, satu saja. Iis mohon....
__ADS_1
•••
Iis terbangun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Iis, Juan, Kama dan Kalila tertidur saking kecapeannya bermain.
Iis mengedarkan pandangannya, saat ini mereka ada di ruang keluarga. Juan tertidur pulas disampingnya. Tapi, tunggu sebentar, dimana Kama dan Kalila?
Iis panik dan mencari ke sekelilingnya, nihil. Astaga kemana Kama dan Kalila.
“Mas...Mas...”
“Hmm...” ujar Juan sambil mengucek-ngucek matanya.
“Kama sama Kalila mana?” tanya Iis panik.
“Kan tidur di...” Juan menunjuk bagian samping perutnya tapi tidak ada siapa-siapa disana.
“Astaga Kama, Kalila,” Juan langsung berdiri dan meneriaki nama Kama dan Kalila.
Iis pun ikut panik dan mulai mencari Kama dan Kalila diruangan kelurga.
“Mana Mas?” Iis berlari kesana kemari dan mereka terhenti di depan ruangan kerja Juan.
“Yang, sebentar...” Juan menaruh tangannya di depan bibirnya.
“Apa...”
Juan membuka pintu ruangan kerjanya dan tersenyum lega saat melihat Kama dan Kalila sedang berguling-guling diruangan kerja Juan sambil memainkan plastik.
“Tuh, ada.” kata Juan sambil menunjuk Kama dan Kalila yang tertawa mematap mereka.
“Astaga Kama, Kalila kamu bikin Tante jantungan tau...” ujar Iis sambil mendekati Kama dan Kalila yang asik menghentak-hentakkan plastik dengan tangannya.
“Na.. na... daaa.”
“Kayanya kita harusnya beli pagar deh,” usul Juan.
“Mas, Kama sama Kalila cuman tinggal sehari bukan sebulan,” ucap Iis gemas.
“Aku beli aja ah,” ujar Juan sambil ngeloyor pergi meninggalkan Iis, Kama dan kalila.
“Terserah lah, Mas,” ujar Iis sambil mengulum senyumnya.
•••
Mau nanya aja...
Milih yang mana nih...
gantengan yang mana? Kalau kaka gallon sih milih dua-duanya aja 🤣🤣🤣
Oh buat adegan Taca+Adipati+kasur+coklat maaf nggak bisa dibikin wkwkkw...
TOBATTTTT.... hahaaa...
__ADS_1