
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Adipati hanya bisa menatap Taca yang dari tadi bolak-balik mengambil barang-barang untuk di packing. Mereka akan berangkat ke Itali seminggu lagi, tapi Taca ngotot untuk membereskan semuanya sekarang.
Masalahnya bukan hanya kengototan istrinya, tapi, kenapa barang-barang yang dibawa Taca benar-benar membuat Adipati hampir tertawa.
“Mi Amore?”
“Śi,” jawab Taca sambil mengangkat summer dress berwarna gold ditangannya.
“Kita mau kemana sebenernya?” tanya Adipati sambil menunjuk koper dihadapannya.
“Itali, emang mau kemana, Di?” tanya Taca sambil menatap Adipati.
“Iya, tapi ngapain kamu bawa senter, raket nyamuk, rice cooker, dan astaga Amore ngapain kamu bawa jas hujan?” pekik Adipati sambil menunjuk barang-barang yang ada didalam koper milik Taca.
Taca langsung mendekati Adipati dan memeluk Adipati dari belakang, “Itu senter kalau mati lampu, raket nyamuk kalau banyak nyamuk, dan rice cooker buat masak nasi. Kamu tau kan Abah pasti bakal jerit-jerit mau minta makan nasi,” terang Taca.
“Jas hujan?”
“Yah, kalau hujan dipake lah,” jawab Taca.
“Amore, disana juga ada. Ngapain kamu bawa ini semuanya, udah bawa rice cooker aja. Yang lainnya nggak usah,” jawab Adipati.
“Tapi....”
“Amore, kita mau ke itali bukan mau ke gunung,” ucap Adipati lagi.
“Tapi, kan kata Papah, di kampung,” rengek Taca, Taca tidak ikhlas benda-benda tersebut di ambil dari dalam kopernya.
“Sekampung-kampung Itali, mereka masih punya senter dan raket nyamuk atau pilih salah satu senter atau raket nyamuk?” Adipati langsung memberikan pilihan pada Taca.
Taca berpikir sebentar, tiba-tiba senyum merekah diwajahnya. Dengan cepat, Taca mengambil senter dan raket nyamuk dari tangan Adipati. Taca langsung meninggalkan Adipati.
“Amore, kamu mau kemana?” tanya Adipati.
Tak berapa lama berselang, Taca kembali sambil membawa raket nyamuk dengan design yang berbeda. Adipati langung menggoyangkan kepalanya, tanda dia meminta penjelasan pada Taca.
“Aku bawa raket nyamuk aja. Karena, ini....” Taca langsung memencet tombol di salah satu bagian raket nyamuknya.
Adipati langsung tertawa kecil saat melihat sorot lampu dari bagian belakang raket nyamuk yang dibawa oleh Taca.
“Astaga, Amore pinter kamu yah,” kekeh Adipati sambil mengacak rambut Taca.
“Biar praktis, hehee...” ucap Taca lagi.
“Tapi, beneran kamu mau bawa semua ini?”
“Iya, biar kalau ada apa-apa nggak susah,” jawab Taca santai.
__ADS_1
“Nggak sekalian bawa tenda?” canda Adipati.
Taca menatap Adipati dengan mata berbinar, “Astaga, Di. Ide kamu brilian, aku mau bawa tenda aja,” ujar Taca sambil membalikkan badan bermaksud untuk mengambil tenda milik Adipati yang ada di gudang.
“Nggak usah,” ujar Adipati sambil memeluk perut Taca. “Jangan menambah beban pesawat, ntar keberatan oleng itu pesawat,”
“Ngaco kamu, ih,” kekeh Taca.
“Kamu yang ngaco, Amore. Mau ke Itali tapi bawa barang sebanyak ini, parah,” ucap Adipati.
“Kan persiapan, Di,” ujar Taca.
Tok... tok... tok...
Terdengar suara pintu kamar mereka di ketuk dari luar. Taca langsung menatap Adipati.
“Siapa?”
“Buka aja,” ujar Adipati sambil melepaskan pelukkannya.
Taca dengan cepat membuka pintu kamarnya, matanya membulat saat melihat siapa yang ada diluar kamarnya.
“Eta si bule mana?” tanya Abah santai.
“Abah!? Kapan kesini?” tanya Taca.
“Ini baru nyampe, mana si bule?” tanya Abah lagi.
“Didalam, mau apa?” tanya Taca bingung, mau apa Abah mencari Adipati.
“Terus?” tanya Taca bingung.
“Ada bidadari Abah juga, Abah mau minta parfume biar seungit (wangi) ini,” ujar Abah sambil mencium ketiak kanan dan kirinya bergantian.
“Bidadari? Siapa?” tanya Taca bingung.
“Mamihnya Juan?” ujar Abah sambil mengacungkan kedua jempol tangan kanan dan kirinya.
“Abah, yang bener deh. Masa Mamihnya Juan mau diembat juga. Abah, itu Papihnya Juan masih idup, Bah,” ucap Taca kesal sambil memukul bahu Abah pelan.
“Nih, Taca dengerin.”
“Apa?” tanya Taca penasaran.
“Hidup mah nggak ada yang tau, bisa aja tiba-tiba Papihnya Juan, ekkk...” ucap Abah sambil menjulurkan lidahnya dan menutup kedua matanya.
“Abah..!? Astaga bener-bener yah, udah ah sana. Adipati nggak punya parfume..!” ujar Taca sambil mendorong Abah menjauh dari kamarnya.
Taca benar-benar kesal dengan kelakuan Don Juan si Abah, bener-bener nggak tau umur. Masalahnya, kenapa yang diincer Mamihnya Juan sih, emang nggak ada yang lain apa?
“Neng tapi, Abah butuh parfume ini, badan Abah bau banget. Abah dari Citeko belum mandi ini,” ujar Abah sambil menciumi kedua ketiaknya di kanan dan di kiri.
“Pake ini aja,” ujar Taca sambil mengambil salah satu kaleng semprotan di atas lemari.
__ADS_1
Abah mengambil kaleng semprotan yang diambil Taca, “etdah, doraka maneh ka bapak soranga,” ujar Abah.
(Haduh, durkaha kamu sama bapak sendiri)
Taca hanya bisa menahan tawanya mendengar perkataan Abah, “Udah pake itu aja, biar sehat.”
“Masa Abah pake Bayg*n yang ada bukannya lengket Mamihnya Juan, malah kembali ke yang maha kuasa atuh, Ta...” ujar Abah sambil menatap Taca.
Taca dengan gemas mengambil botol spray bayg*n dari tangan Abah dan mundur 10 langkah kebelakang menjauh dari Abah.
“Ngapain Ta?” tanya Abah bingung, kenapa anaknya tiba-tiba mundur kebelakang seperti ini.
“Biar Abah wangi alami..!!” ucap Taca sambil menyemprotkan baygon ke arah kanan Abah. Taca serem juga kalau Abah keracunan bayg*n, bisa di sambit Aa Riki dan Kang Rozak yang ada.
“Astaga Taca, kualat kamu, Nak..!” teriak Abah sambil berlari menjauhk Taca yang masih asik menyemprotkan bayg*nnya.
“Biar wangi alami, Bah, wangi eucalyptus.” kekeh Taca sambil menyimpan kembali botol semprotnya di rak terdekat.
“Kualat kamu, Taca,” teriak Abah sambil tersenyum pada Taca.
“Biarin, awas aja kalau gangguin istri orang, inget umur Abah,” balas Taca sambil tersenyum.
“Kamu nggak mau punya Mamah baru apa?” tanya Abah lagi.
“Mau, tapi nggak Mamih Juan juga Abah, bosen Taca punya Kakak laki-laki semuanya,” teriak Taca lagi. “Kali-kali punya kakak perempuan,” ujar Taca lagi.
“Nanti Abah bikin ade baru gimana? Buat nemenin Kama, Kalila sama Kafta,” usul Abah.
“Idih Abah, inget umur...!” ujar Taca kesal.
Abah hanya terkekeh sambil berjalan meninggalkan Taca yang hanya bisa menatap punggung Abah. Abah ada-ada aja, suka ngaco.
“Abah, Abah... panjangkan umurnya ya tuhan, aamiin,” ujar Taca sambil berbalik.
“Kamu ngapain nyemprot bayg*n banyak-banyak? Ngeliat kecoa?” tanya Adipati.
“Eh... iya, kecoanya gede banget, udah bangkotan pula, ditambah genit,” jawab Taca asal sambil berjalan masuk kedalam kamarnya.
“Hah... kecoa jenis baru?” tanya Adipati.
“Iya, kecoanya peranakan Sunda-Jawa,” jawab Taca asal.
•••
Abah demen yeh ama Mamih, demen yang bening-bening....
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon