Water Teapot

Water Teapot
S2: 1A dan 3K


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sepanjang jalan pulang dari rumah sakit, Taca harus menahan emosinya karena kelakuan Abah, Abah sepertinya kena pubertas kedua. Abah menunjukkan photo-photo gadis-gadis cantik di tind*r. Semua yang Abah anggap cantik, langsung Abah beri tanda. Tapi, sayangnya dari 100 profile picture wanita-wanita cantik, tidak ada satupun yang mau match dengan Abah.


“Neng, Abah kurang ganteng apa? Kok nggak ada satupun yang mau sama Abah?” Abah mengerucutkan bibirnya sambil sesekali menggulirkan jari jemarinya di layar handphone miliknya.


Tangan Taca langsung mengambil handphone milik Abah, Abah nggak ganteng. Tapi, bisa dibilang lelaki itu masih ada kharismanya. Sebagai seorang anak, Taca sedikit kesal kenapa tidak ada yang mau sama Abah, hai... Abah itu ganteng lah, liat dirinya, alhmarhumah Tasya, Riki dan Rozak. Semuanya rupawan dan paripurna.


“Belum ada yang match? Coba pasang photo aku, pasti banyak yang....”


Perkataannya Adipati langsung terhenti saat mendapatkan tatapan maut dari Taca, tatapan yang mengisyaratkan ‘Mau-aku-suruh-tidur-diteras?’. “Cuman, saran Amore,” Adipati melanjutkan perkataannya.


“Saran ditolak, yang ada nanti kamu yang dikejar-kejar,” Taca kembali melihat layar handphonennya.


“Abah, ini photo profilenya?” tanya Taca.


“Iya, lucu kan. Katanya wanita itu lebih suka lelaki humoris, daripada lelaki ganteng,” ujar Abah dengan tingkat kepercayaan extra tinggi.


Taca hanya bisa mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, diarahkannya layar handphone milik Abah, ke hadapan Adipati.


Saat melihat layar handphoennya, tawa Adipati pecah. Adipati benar-benar salut dengan ke out of the box-an pikiran mertuanya ini. Bagaimana tidak, dimana orang-orang berlomba-lomba menunjukkan photo dengan bagian wajah terbaik mereka, bahkan menggunkan filter berlapis-lapis atau bahkan kamera tipu daya. Abah dengan santainya memajang photo bekantan. Ya... bekantan, mana ada cewe yang mau. Kecuali, wanita pecinta bekantan, mungkin.



“Abah, kalau photonya bekantan. Siapa yang mau match, kecuali perempuannya punya obsesi sama siluman bekantan,” ujar Taca gemas, “udah aku ganti aja pake photo Abah,oke.”


“Tapi, bekantan itu lucu,Neng. Hidungnya imut-imut gitu,” ujar Abah.


“Huep... udah nurut sama Neng, percaya sama Neng,” ujar Taca sambil mengutak-atik aplikasi dihandphone Abah.


Abah benar-benar pasrah pada keputusan Taca, tapi demi jodoh Abah tahun ini, Abah rela mengikuti keinginan Taca.


•••


Keesokan harinya saat sarapan pagi, Taca dikagetkan dengan kedatangan Iis. Iis langsung duduk disebelahnya dan memeluknya.


“Aw...aw... pelan-pelan, rambut aku ini. Rambut,” ujar Taca.


Rambut Taca tertarik oleh tangan Iis, “Maaf, maaf. Aku kaget denger cerita kamu, itu beneran kamu dirampok? Kok bisa, sih. Kamu makanya jadi orang jangan polos-polos banget, atuh,” cerocos Iis.


“Iya, maaf. Aku salah, nggak lagi-lagi jalan sedirian di sini, maaf yah,” Taca meminta maaf karena sudah membuat was-was Iis.


“Semaput aku kemarin, ampe-ampe si Mas aku marah-marahin,” Iis menunjuk Juan yang sudah duduk disebelahnya.


“Gue napas aja salah, Ta,” kekeh Juan sambil menarik stroller Liz lebih dekat lagi.


“Ya ampun, Iis. Aku nggak papa kok, cuman Adipati mukanya babak belur,” Taca menunjuk Adipati yang sedang asik meminum kopinya sambil membaca berita ekonomi di tabletnya.


Iis hanya bisa menepuk paha Taca, sahabatnya ini memang hobi bikin jantungnya olah raga. Nggak pernah jauh-jauh hidupnya dari mara bahaya.


“Kita ke Trevi Fountain yuk,” ajak Juan. “Besok ‘kan kita udah pindah ke Villa del Balbianello yang di lake como ‘kan, jadi mending sekarang kita ke Trevi Fountain.”

__ADS_1


Taca menatap Adipati disebelahnya, Adipati tampak malas untuk kesana. Trevi Fountain itu destinasi wisata yang cukup terkenal disana. Dan penuhnya jangan ditanya, dulu saking penuhnya Adipati hanya melihatnya dari balik jendela hotel kamarnya.


“Juan, penuh disana tuh,” keluh Adipati.


“Nggak aku jamin,” ucap Juan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Adipati hanya bisa menghela napas, didalam hatinya dia hanya berkata. ‘Yang orang itali itu sapa sih?’


“Jadi?” tanya Taca dan Iis berbarengan.


Adipati melirik wajah Taca yang penuh harap. Baiklah, mungkin dia harus menjadi turis di negara sendiri, demi kebahagiaan istrinya. “Oke, fine kita kesana setelah makan.”


Jawaban Adipati langsung membuat Taca dan Iis terpekik kegirangan.


•••


“Di, nggak penuh,” ujar Taca, mata Taca melirik ke kanan dan ke kiri. Sepertinya para wisatawan sedang malas untuk datang ke trevi fountain.


“Iya, nggak penuh,” ujar Adipati, Adipati mengambil koin dari kantung jaketnya, kemudian menyerahkannya ketangan Taca.


“Apaan ini?” tanya Taca bingung saat melihat koin ditangannya.


“Make a wish, Amore,” ujar Adipati.


(Buat permintaan)


“Ah... aku lempar koinnya terus buat permintaan gitu?” tanya Taca.


“Iya, sekarang lempar,” pinta Adipati.


Plung...


Terdengar suara koin yang dilemparkan kedalam kolam masuk kedalam air. Taca langsung mengatupkan kedua tangannya di dada, matanya terpejam, bibir Taca bergerak-gerak. Adipati gemas melihat bibir Taca yang bergerak-gerak.


“Permintaan kamu apa?” tanya Adipati.


Taca membuka matanya, lalu berbalik menatap Adipati, “Kalau aku kasih tau nggak bakal kejadian dong.”


“Bocorannya aja, gimana?” pinta Adipati.


“Emang ulangan apa pake ada bocorannya segala,” canda Taca sambil mendorong perut Adipati.


“Hei, aku suami kamu. Boleh lah kalau ada bocorannya, dikit,” rayu Adipati.


Taca mengelus rambut hitam Adipati pelan, menyusupkan setiap jengkal celah jarinya dengan pelan di bagian belakang kepala Adipati. Terima kasih dengan undakan tangga disana, Taca bisa sejajar dengan suaminya yang memiliki tinggi badan yang menjulang.


“Penasaran banget yah?” tanya Taca yang langsung dijawab anggukan oleh Adipati.


“Aku cuman berharap hidup aku bahagia, keluarga aku sehat-sehat semuanya. Aku berharap kamu makin sayang sama aku, Kama, Kalila, dan Kafta,” terang Taca.


“Udah itu aja, nggak ada yang lain?” tanya Adipati.


“Udah, hidup aku simple sekarang. Aku cuman butuh 1 A dan 3 K, dihidup aku,” jawab Taca.


“1A dan 3K?”

__ADS_1


“Iya, 1 Adipati...” ujar Taca sambil mengalungkan tangannya ke leher Adipati dan mengecup bibir suaminya. “Dan Kama, Kalila dan Kafta. 3K.”


Adipati langsung menyergap bibir Taca yang empuk, diciumnya bibir Taca dengan lembut, di sapukan lidahnya ke bagian bawah bibir Taca. Direngkuhnya manis bibir Taca.


Taca yang terlena hanya bisa mengikuti keinginan Adipati, di miringkannya wajahnya, dibuka mulutnya untuk memberikan akses pada Adipati untuk menikmati keseluruhan bibirnya.


Adipati mengerang, dia tau bila sudah seperti ini dia tidak akan merasa cukup hanya dengan mencium dan menikmati manisnya bibir Taca. Ini italia tapi bisa dikejar polisi bila dia meminta ‘jatah’nya di tengah keramaian. Otak Adipati berpikir cepat. Ekor matanya mendapati sebuah hotel kecil di depannya. Adipati langsung mengurai ciumannya.


“Ayo,” ujar Adipati.


“Hah, kemana, Di?” tanya Taca bingung, mau dibawa kemana dirinya.


Adipati menarik Taca untuk memasuki sebuah hotel di sana. Dengan cepat Adipati memesan sebuah kamar. Taca hanya bisa mengulum senyumannya, suaminya ini benar-benar penuh kejutan bila urusan kebutuhannya.


Ditariknya tangan Taca, tanpa Taca sadari mereka sudah berada didepan pintu kamar yang disewa dadakan oleh Adipati, dibukanya pintu kamar olen Adipati.


Baru empat langkah Taca masuk kedalam kamar dan mendengar suara pintu ditutup, Taca langsung merasakan bibir Adipati.


Adipati mendorong Taca kedinding terdekat, tangannya sudah bergerilia untuk membuka resleting belakang summer dress milik Taca.


“Di, pelan kalau sobek gimana?” Taca mengingatkan Adipati, Adipati yang hobi merobek semua pakaiannya, benar-benar harus diperingatkan.


Seperti tidak mendengar perkataan Taca, Adipati menarik summer dress milik Taca.


Brekkk...


Taca mendengar summer dress miliknya sobek, Taca akhirnya pasrah saat bajunya tergeletak tak berdaya di lantai.


“Di....” desahan Taca meloncat keluar saat merasakan jari Adipati ada dibagian pribadinya. Taca menjerit pelan karena bibirnya sudah dibungkam dengan cepat oleh Adipati.


Desahan demi desahan berloncatan keluar dari bibir Taca dan Adipati. Saat Taca hampir merasan kepuasannya hanya dengan jari milik Adipati, tiba-tiba Adipati melepaskannya.


“Di...” racau Taca yang kesal karena Adipati menarik jarinya.


“Ya, kenapa?” tanya Adipati dengan suara serak di kuping Taca.


“Kenapa di... A...” Taca kaget saat ada sesuatu memasuki tubuhnya, sesuatu milik Adipati yang mampu membuat Taca terbang ke langit ke tujuh. Sesuatu yang membuat dirinya melambung.


“Patience, Amore,” bisik Adipati sambil mengusap leher Taca dengan bibirnya, mengecupi setiap jengkal leher Taca, menikmatinya.


Lutut Taca langsung lemas saat Adipati menelusupkan kepalanya dilehernya, tangan Adipati menahan pinggul Taca tetap diposisinya sambil sediki meremas bagian belakang pinggulnya, memberikan sensasi yang membuat Taca mendesah dengan keras.


Desahan demi desahan meloncat keluar dari bibir Taca, saat Adipati menghentaknya dengan ritme yang sempurna, ritme yang disuka oleh Taca.


Dua insan itu saling memberikan kenikmatan bagi masing-masing, saling menghentak dan saling meraup kenikmatan duniawi, ditemani sinar matahari pagi kota Roma Itali...


•••


Maaf telat, aku udah pindah kota dan provinsi ini... hobi bener disini mati lampu. Jadi bakal telat update aja...


Kayanya PLN-nya harus digeruduk wkwkw...


Buat pemenang comment... ayo dm/pc aku yah...


Ciaooo....

__ADS_1


__ADS_2