Water Teapot

Water Teapot
S2: Matahari Abah...


__ADS_3

Abah termenung melihat Taca yang sedang duduk di ambanh jendela. Taca dengan senyumannya yang manis, sedang berpose dengan manisnya. Wajah Taca benar- benar mengingatkan Abah dengan istrinya. Wanita yang dicintainya.


Diambilnya dompet dari saku celananya, ditatapnya sebuah photo wanita manis menggunakann kebaya putih menatapnya. Senyumannya benar-benar selalu membuat leleh hati Abah. Diusapnya pelan photo itu, Abah rindu, Abah rindu gadisnya, rindu ibu dari anak-anaknya, rindu cinta pertama dan terakhirnya.


Pikiran Abah langsung melayang, melayang ke hari naas itu. Hari dimana Abah kehilangan mataharinya. Hari dimana matahari itu meningalkan Abah dan menitipkan dua matahari kecil untuk Abah jaga. Hari dimana, Ambu meninggalkannya.


“Abah, udah atuh itu masa si Rozak dijungkir balikin gitu. Tega kamu mah,” teriak Ambu dengan perut yang membulat sempurna.


Badannya sudah sangat-sangat berat, mengandung usia 9 bulan dan anak kembar, benar-benar membuat Ambu kewalahan. Ditambah kelakuan dua anaknya Rozak dan Riki yang sedang dalam masa-masa yang sangat membutuhkan perhatian.


“Abah, Ih. Gimana kalau kepala Rozak bocor kamu teh,” ucap Ambu sambil memukuli bahu suaminya kesal.


“Ambu, Abah tuh sedang mendidik Rozak menjadi jiwa yang kuat,” canda Abah sambil membalikkan kembali badan Rozak ke posisinya seharusnya.


“Jiwa kuat dari mana Abah, gimana kalau si Rozak jadi bodo gara-gara, dibolak balik sama Abah kaya gitu,” pekik Ambu sambil memukul bahu Abah kesal.


“Lah, si Rozaknya aja malah ketawa ini,” ucap Abah sambil mengacak rambut anak keduanya dengan sayang.


“Mana ngerti anak segede biji ketumbar gitu arti bahaya, Abah. Udah ah, Ambu mau kepasar dulu, gula sama garem abis. Terus sekalian mau bayar arisan,” ujar Ambu sambil membenarkan tali tasnya.


“Kamu yakin? Itu kamu udah sembilan bulan,” ucap Abah sambil menurunkan Rozak dari pangkuannya.


“Nggak papa, kata bidan lahirannya masih lama, nanti malam jangan lupa,” ucap Ambu sambil malu-malu meong menatap Abah.


Abah langsung tersenyum bahagia melihat tatapan Ambu yang menggoda, “Iya atuh, nanti malem pasti Abah bakal jengukkin anak Abah.”


Abah mengacungkan kedua jempolnya sambil memajukkan mululnya seperti ikan lele. Sontak, hal itu membuat Ambu tertawa lepas melihat tingkah suaminya.


“Udah ah, Ambu pergi dulu,” ucap Ambu sambil pergi meninggalkan Abah dan Rozak.


Abah langsung memberikan ciuman jauh untuk istrinya yang entah kenapa dari hari ke hari makin cantik saja.


“Siapa yang mau mandi?” tanya Abah sambil menggendong Rozak masuk kedalam rumah.


“Rozakkkk...!!” teriak Rozak sambil tersenyum pada Abah.


•••


Abah sudah bolak balik didepan pekarangan rumahnya, berkali-kali dia menanyakan ibu-ibu yang pulang dari pasar. Apa yang membuat Ambu sampai detik ini belum pulang dari pasar.

__ADS_1


Abah melirik jam di tangannya, sudah jam 4 sore, jantung Abah kembali berdetak cepat, astaga apa yang terjadi dengan istrinya.


“Abah, Ambu mana? Riki lapar,” ucap Riki sambil menarik-narik baju Abah.


Abah mengusap kepala Riki, sebenarnya dirinya juga ingin bertanya kemana istrinya itu, tapi dia bingung mau bertanya pada siapa?


“Bentar lagi pulang yah, Nak,” ucap Abah pada Riki.


“Abah... Abah...”


Abah langsung menatap orang yang datang memanggil dirinya. “Apo? Ada apa?”


Apo berlari mendekati Abah, napasnya memburu dengan cepat. Abah kebingungan melihat temannya itu berlari kearah dirinya seperti dikejar setan.


“Kenapa, Po?” tanya Abah bingung.


“Istri kamu, istri kamu,” ujar Apo sambil menepuk-nepuk bahu Abah.


“Ambu kenapa? Istri saya kenapa?” tanya Abah. Perasaan Abah langsung tidak enak, kenapa dengan istrinya?


“Istri kamu kecelakan, angkotnya tabrakkan. Sekarang lagi dirumah sakit,” ucap Apo sambil menatap Abah dengan tatapan bela sungkawa.


Tiba-tiba saja Abah merasa ada guntur yang menyambar dirinya. Sebentar gimana ceritanya istrinya bisa kecelakaan. “Astaga Apo, kamu jangan bercanda, masa istri saya kecelakan. Ngaco kamu, Ambu tadi pagi masih ada, masih sehat masa kecelakaan?” tanya Abah panik.


“Kamu kerumah sakit sekarang, biar saya yang jaga Riki dan Rozak,” ucap Apo sambil mendorong-dorong tubuh Abah.


“Riki ikut Abah, Riki ikut,” pinta Riki sambil menarik-narik kemeja Abah.


“Iya, ayo. Apo, tolong jaga Rozak, Rozak tidur didalem,” ucap Abah sambil menggendong Riki dan berlari seperti kesetanan, keluar dari pekarangan rumahnya.


Mencoba berlari, berlari mengejar Ambu, Ambu istrinya. Kekasihnya.


•••


“Istri saya, ada istri saya?” tanya Abah sesaat sampai didepan meja penerima tamu rumah sakit.


“Istrinya yang mana yah?” tanya suster tersebut sambil menatap Abah.


“Istri saya yang kecelakan, yang sedang dalam hamil besar,” ucap Abah sambil mengetuk-ngetuk meja didepannya.

__ADS_1


Suster tersebut langsung ingat pasien yang baru saja masuk, seorang ibu yang sedang hamil anak kembar. Ibu tersebut kecelakaan dan saat ini sedang berjuang untuk melahirkan anak kembarnya.


“Iya, ada di ruang gawat darurat, Pak. Tapi, lebih baik Bapak bertemu dengan Dokter Alvy, sebentar saya panggilkan,” ucap Suster tersebut sambil beranjak dari duduknya.


Abah mengikuti suster tersebut sambil menggendong Riki. Muka Abah benar-benar panik detik ini, napasnya memburu dan jantungnya berdetak dengan sangat-sangat keras. Untaian doa Abah panjatkan dihati dan pikirannya. Tuhan selamatkan anak istrinya, selamatkan matahari miliknya.


•••


“Pak, Maaf saya harus meminta bapak untuk menandatangani surat persetujuan operasi. Tapi, saya tidak bisa menentukan siapa yang akan diselamatkan,” ucap Dokter Alvy sambil menyerahkan berkas-berkas yang harus Abah tanda tangani.


“Maksudnya?”


“Pendarahannya sudah terlalu parah, Pak. Saya harus melihat siapa yang harus diselamatkan, saya tidak bisa memberikan jaminan apapun juga,” ucap dokter Alvy.


Setelah Abah menandatangi surat tersebut, Abah menatap mata dokter dihadapannya. Tiba-tiba kaki Abah seperti tidak bertulang, Abah bersimpuh dikaki Dokter Alvy, Riki terjatuh pelan dilantai.


“Abah,” bisik Riki pelan, bingung kenapa Abahnya bisa bersimpuh dikaki seseorang.


“Pak....”


“Saya mohon, saya mohon selamatkan mereka Dok, saya mohon. Lebih baik saya mati daripada kehilangan mereka, saya mohon dengan sangat, Dok. Selamatkan matahari saya, selamatkan istri saya Dok,” tangis Abah pecah, air mata dari mata Abah berlomba-lomba keluar dari matanya.


Abah rapuh, mataharinya akan meningalkan dirinya. Bila mataharinya diambil, siapa yang akan menghangatkannya? Siapa yang akan meneranginya, membimbingnya, dan mencintainya?


Abah sudah tidak dapat bernapas, napasnya sesak. Rasanya dirinya ingin mengeletakkan dirinya dilantai rumah sakit dan berteriak-teriak menghujat tuhan. Apa salahnya Tuhan? apa?


Apakah dirinya kurang beriman? Apakah dirinya kurang dekat denganmu Tuhan? Apa? Apa salahnya? Apa salahnya sampai Abah diberikan cobaan sebrengsek ini?


“Abah, Ambu mana? Dede kenapa? Abah, Riki takut,” Isak Riki sambil mendekati Abah dan memeluknya. Riki kecil sama sekali tidak paham apa yang terjadi. Yang dia tau saat ini adalah Abah sedang menangis dan Ambu tidak ada disana.


“Pak, saya akan berusaha sekuat mungkin,” jawab Dokter Alvy sambil menepuk bahu Abah dan pergi meningalkan Abah bersama Riki.


Abah hanya bisa berdoa, Berdoa demi keselamatan Mataharinya. Jiwanya...


•••


Maaf mengandung bawang dan maaf telat update...


Semuanya jangan lupa di pencet tombol likenya sama kasih vote dan point buat Kaka Gallon yah, biar semangat nulis aku nya ❤️

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2