Water Teapot

Water Teapot
S2: Dimas Wijaya...


__ADS_3

“Mau kemana Kaka?” tanya Yaraa saat Dimas menariknya untuk mengikutinya.


Dimas diam seribu bahasa sambil terus menarik Yaraa, menjauh dari Jason.


“Bentar dulu,” ucap Yaraa sambil menghentakkan tangannya keras-keras dan akhirnya bisa melepaskan pegangan Dimas. “Mau apa?”


“Ngapain kamu sama Jason disana? Kamu tau nggak dia siapa?” tanya Dimas pada Yaraa.


“Nggak tau, cuman tau dia Jason dan pernah tinggal di Osaka,” jawab Yaraa jujur.


“Kamu tau nggak dia tuh predator....”


“Hah... dia hewan?” tanya Yaraa kaget.


“Bukan, hadeuh ngaco lagi kamu,” Dimas langsung melambaikan tangannya di hadapan Yaraa.


“Lah, terus apaan?”


“Dia itu playboy, hobinya maenin perasaan perempuan. Udah dapet apa yang dimau, langsung ditingalin. Satu spesis sama Adipati,” cerocos Dimas.


“Bukannya Om Adipati setia yah?” Seingat Yaraa, Adipati adalah pria yang sangat setia pada istrinya Taca, kadang Yaraa hampir meleleh bila melihat perlakuan Adipati pada Taca. Romantisnya nggak bercela.


“Iya setelah nikah sama Taca, dulu sebelum nikah. Astaga Pacar resmi sama nggak resminya dimana-mana. Dari sabang sampai merauke. Bang Juan juga sama aja,” ucap Dimas.


“Terus, buat apa kamu kasih info ini ke aku?” tanya Yaraa bingung. Kayanya mengetahui latar belakang Juan dan Adipati juga Jason tidak ada keuntungannya untuk Yaraa.


“Biar kamu nggak deket-deket sama Jason,” Dimas memperingatkan Yaraa.


“Aku nggak deket-deket dia kok, dia aja yang deketin aku. Tadi, aku disana sendirian kok, dia aja yang deketin aku,” terang Yaraa.


“Lah, kok kamu sewot. Kok aku jadi curiga kamu yang deketin dia,” tuduh Dimas sambil menunjuk muka Yaraa.


“Hah... nggak, siapa juga yang mau deketin Jason. Kenal aja baru, Kaka kenapa sih?” tanya Yaraa.


“Lah terus ngapain kamu ketawa-ketawa tadi disana?” tanya Dimas.


“Astaga Kak, masa ketawa dilarang. Dia lagi ngelawak dan ternyata lawakannya pas, jadi aku ketawa. Masa oranb ngelawak aku diem aja kaya jalan tol,” Yaraa mulai bingung dengan perkataan Dimas.


“Ya, tapi nggak gitu juga, kaya bahagia banget kamu sama dia. Kaya nggak pernah aku ajak ketawa sama sekali,” Dimas tidak mengerti kenapa dia jadi marah seperti ini. Seingatnya tadi, Yaraa masih ngobrol dengan wajar. Tapi, entah kenapa tiba-tiba Dimas merasa kesal melihatnya.


“Lah, emang aku bahagia kok, buktinya aku ketawa sama Jason. Kamu kenapa sih, Kak?”


Dimas menghentak-hentakkan kakinya kesal, sifat cemburunya lagi-lagi menguasai dirinya. Sifat yang selalu membuat hubungan percintaannya kandas.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih? Aneh sumpah, Kak aku ini manusia, mahluk sosial. Wajar aku ngobrol sama orang, emang aku harus ngobrol sama siapa? Sama mahluk halus?” tanya Yaraa kesal, Dimas memang pacarnya. Tapi, Dimas nggak ada hak untuk melarang dirinya ngobrol dengan orang lain. Orangtuanya saja santai-santai saja melihat dia ngobrol dengan siapapun, selama orang tersebut bukan yakuza atau mafia Italia.


“Yah, nggak bisa Yaraa. Aku nggak bisa santai kalau ngeliat kamu ngobrol sama Jason. Hati aku nggak tenang,” ujar Dimas lagi sambil menyentuh dadanya.


Yaraa mulai kesal dengan Dimas, rasanya dia ingin melempar semua barang yang ada disekitarnya. “Hati kamu nggak tenang gimana sih? Kaka, Ade tuh bukan perempuan murahan yang mau sama siapa aja.”


“Buktinya, kamu gampang aja mau sama aku dulu, bisa jadi kamu sama Jason...”


Plak...


Tamparan keras langsung Dimas rasakan di pipinya. Perihnya bukan main, Dimas tidak menyangka tangan mungil yang selalu memberikan kehangangan dan rasa nyaman bagi Dimas, bisa memberikan rasa sakit dan perih juga.


“Kaka kalau ngomong dijaga yah,” pekik Yaraa kesal sambil mencoba mendorong badan Dimas, Yaraa tau percuma mendorong badan Dimas. Badan Dimas terlalu kekar untuk di dorong dengan tubuh mungil miliknya.


Dimas langsung menangkap tangan mungil Yaraa, “Kalau nggak ada apa-apa ngapain kamu nampar aku?”


Yaraa membulatkan matanya, rasa kesal langsung bergejolak didada Yaraa. Kelakuan lelaki didepannya ini benar-benar membuat dirinya kesal setengah mati. Masih untung di tampar bukan di lempar pakai pot bunga disampingnya.


“Terus maunya diapain? Kaka udah ngoceh nggak jelas. Nuduh aku yang nggak-nggak, Kak, Yaraa masih kecil, tapi Yaraa punya otak. Yaraa tau mana yang baik mana yang nggak. Yaraa bukan cewe murahan yang mau sama siapa aja,” isak Yaraa sambil menundukkan kepalanya berusaha menahan air matanya yang tiba-tiba keluar dari matanya.


Dimas tersentak saat mendengar tangis Yaraa. “Dek...”


“Apa? Mau bilang Ade murahan lagi?” tanya Yaraa.


“Kakak sih, Kakak kenapa sih? Kakak cemburu?” tanya Yaraa sambil mengoyangkan kedua tangannya berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Dimas.


“De....”


“Kak, cemburu boleh. Tapi, yang wajarlah. Cemburu kok kaya gini, ini bukan cemburu namanya. Tapi, ngekang. Ade nggak mau dikekang, Ade masih muda Kak, Ade masih ingin berteman sama banyak orang, pergi menjelajah kemana-mana. Ade nggak bisa kalau Kakak kaya gini.” Yaraa menghentakkan tangannya sekeras mungkin agar terbebas dari cengkaramam Dimas.


“Ade, Kakak tuh nggak suka kamu ngobrol sama laki-laki lain,” Dimas mencoba menjelaskan.


“Terus aku harus ngobrol sama siapa? Kak, Ade nggak suka di kekang yah. Ade nggak suka...!” teriak Yaraa sambil berbalik dan berlari menjauhi Dimas.


“Ade...!!!!”


Dimas berteriak dan berlari mengejar Yaraa yang sudah menghilang dibelokan.


•••


Yaraa berjalan dengan cepat, rasa kesal dan sakit hati benar-benar memburu didada Yaraa. Kelakuan Dimas benar-benar sudah tidak bisa ditolerir lagi.


Yaraa berbelok memasuki ruangan yang penuh dengan balon. Hampir semuanya berisikan balon dengan beraneka warna, didalam ada seorang petugas yang sedang membereskan perlengkapan untuk membuat balon.

__ADS_1


“Sorry, why so many ballon here? (Maaf, kenapa banyak balon disini?)” tanya Yaraa.


“Ah... this is for the wedding ceremony,” jawab pegawai tersebut ramah sambil meninggalkan Yaraa dengan balon-balon tersebut.


(Ini untuk acara pernikahan)


Yaraa mengambil beberapa balon diatasnya, menarik-nariknya sambil tertawa pelan. Dari dulu Yaraa menyukai balon, berbanding terbalik dengan Dimas yang membenci balon.


Saat sedang bermain dengan balon-balon yang ada, Yaraa mendengar suara derap langkah mendekatinya.


“Ade....”


Yaraa melepaskan balon ditangannya, kemudian menatap Dimas yang ada diluar ruangan, menatapnya dengan tatapan ketakutan.


“Apa?” tanya Yaraa pelan.


“Bisa kesini sebentar, Kaka mau ngomong masalah yang tadi. Kaka mau minta maaf, Kaka sala....”


“Kalau mau dimaafin sini masuk,” tantang Yaraa, rasa kesal karena diannggap wanita gampangan membuat Yaraa bersikukuh diam didalam ruangan penuh balon.


Dimas langsung menelan salivanya saat mendengar perkataan Yaraa, kekasihnya ini ternyata masih kesal pada dirinya.


“Ade, Kakak nggak bisa, Kakak phobia balon, sayang....” ucap Dimas lemas, melihat balon satu ruangan seperti itu hampir membuat Dimas pingsan.


“Kalau Kakak mau dimaafin, Kaka masuk kesini. Ade bakal maafin Kakak, asal Kakak mau masuk kesini...!” Yaraa benar-benar keras kepala saat ini. Yaraa tau Dimas akan pingsan ditempat kalau masuk kedalam ruangan penuh balon.


“De... Astaga, De... itu balon semua De...” cicit Dimas sambil menunjuk balon-balon yang ada diruangan itu.


“Masuk atau kita putus....!”


•••


Gimana dah tuh... masuk atau putus...!


tau ah... Yaraa dilawan 🤣🤣


Pakbu... Pakbu... yang baik, tolong itu tombol likenya di tampol pake jempolnya yah...


biar happy gitu kakak gallon...


Hahahaaa...


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2