Water Teapot

Water Teapot
S2: Lahiran anak kucing...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Yaraa yang kaget melihat situasi yang baru terjadi didepannya, hanya bisa melonggo. Ditambah detik ini dia sedang melihat pemandangan kecos meng kecos atau bahasa Indonesianya jahit menjahit.


Badan Yaraa langsung bergidik saat melihat Intan dengan santainya menjahit bekas lahiran Iis. Iis pun hanya bisa pasrah saat jarum itu menghujam dirinya dan tentu saja Juan kena imbasnya.


Juan hanya bisa tersenyum sambil menahan rasa sakit karena kuku-kuku Iis yang menancap sempurna di lengannya. Pelajaran penting bagi Juan, saat Iis melahirkan lagi nanti, pastikan kuku istrinya terpotong sempurna. Karena, kalau tidak terpotong sempurna siap-siap badannya habis kena cakar.


“Sudah yah, Pak nanti Bapak bisa langsung liat anaknya, yah. Anak Bapak lagi di mandiin dulu sama bidannya. Tenang nggak bakal ketuker, warna kaennya beda,” ujar Intan tenang dan santai.


“Iya, Makasih Bu,” jawab Iis sambil tersenyum manis.


“Nanti, pindah yah ke ruang pemulihan. Nanti kalau udah normal bisa langsung pulang,” jawab Intan santai.


“Hah... pulang? Nggak dirawat dulu atau apa gitu” tanya Juan bingung, seingatnya dulu saat Sarah melahirkan Caca, walau normal, Sarah dirawat selama dua hari di rumah sakit. Kenapa, Istrinya sudah diperbolehkan pulang?


Intan menatap Juan bingung, dipikirannya kalau sudah sehat, ngapain diem di bidan lama-lama. “Maaf, Pak. Kalau sudah sehat lebih baik pulang, nanti bisa dilakukan pemulihan di rumah saja.”


“Tapi, Bu. Masa udah lahiran langsung pulang, emang istri saya kucing apa?” protes Juan.


Iis langsung memukul Juan pelan, “Ngaco, emang gini kali. Kalau udah lahiran yah, pulang.”


“Tapi, kamu bukan kucing, Yang. Sarah aja lahiran di rumah sakit normal dan dirawat dulu dua hari,” terang Juan.


“Sarah lahiran dimana?” tanya Iis sambil menatap Juan.


“Mount Elizabet Singapura, karena waktu itu Sarah lagi ada urusan di Singapura,” jawab Juan santai.


Mendengar perkataan Juan rasanya Iis ingin mencubit perut Juan, sedangkan bidan Intan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Bedalah, ini di Bidan, Mas. Prosedurnya beda, udah ah... kamu sana liat bayinya, jangan lupa adzanin terus doa didalam hati, biar kelakuannya nggak kaya kamu,” kekeh Iis sambil mengelus pipi Juan pelan.


“Beda yah? Ya maaf, ini perdana dikeluarga aku lahiran di bidan,” jawab Juan polos, seumur hidup dia belum pernah mengantar kelurganya lahiran di bidan.


Iis tersenyum saat mendengar perkataannya, sekarang benar-benar terlihat perbedaan dirinya dengan Juan, melahirkan di bidan, paraji, dukun beranak, bahkan dirumah adalah makanan sehari-hari Iis saat di Citeko dulu. Sedangkan, Juan semua keluarganya melahirkan di rumah sakit terbaik.


“Udah sana, dedenya butuh Papihnya, inget azanin sambil doa didalam hati biar kelakuannya nggak kaya kamu,” ujar Iis sambil tersenyum.


“Iya, Yang... aku doa kenceng ini, aku pas liat dia lahir aja ketar ketir pas tau jenis kelaminnya,” ujar Juan sambil tersenyum.

__ADS_1


Juan dan Iis sama sekali menolak untuk mengetahui jenis kelamin anaknya. Meraka benar-benar ingin dikejutkan pada saat lahirannya dan ternyata, Juan benar-benar dikejutkan dengan jenis kelaminnya. Walaupun, sejujurnya Jenis kelamin itu yang diinginkan Juan. Tapi, setelah ngobrol panjang lebar dengan Adipati, Juan jadi ngeri sendiri.


“Hahahaa... kenapa ketar ketir?” Iis tertawa renyah.


Juan hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya. “Nggak kenapa-kenapa. Udah ah aku ke ketempat dede dulu,” jawab Juan sambil mengecup kening Iis.


“Takut, udah gede anaknya ketemu laki-laki kelakuannya sesemprul kamu yah?” goda Iis sambil menjulutkan lidahnya.


“Itu dia,” jawab Juan akhirnya, astaga Juan benar-benar bisa gila kalau seandainya anak perempuannya ini ketemu pria kelakuannya sesemprul dan sebangsul dirinya. Arg... pengawasan extra ketat ini, tuh.


•••


Diluar Juan melihat Yaraa yang berwajah pias sedang terduduk menatap ke dinding kosong dihadapannya. Juan tadinya ingin pergi meninggalkan Yaraa, tapi melihat betapa piasnya wajah Yaraa, Juan mau tidak mau akhirnya harus menyapa Yaraa.


“Yaraa, kamu kenapa?” tanya Juan sambil menepuk bahu Yaraa dan duduk disampingnya.


Yaraa menatap wajah Juan dengan tatapan ketakutan, wajahnya extra pias.


“Yar, kenapa lo?” tanya Juan, nggak lucu juga pacara Dimas yang masih belia ini tiba-tiba sekarat di bidan.


“Itu... itu...”


“Itu apaan? Liat hantu lo?” tebak Juan asal.


“Gue tadi liat...” ujar Yaraa sambil menggerakkan tangan kanannya seperti gelombang air.


“Nggak ini lebih parah daripada mabok odong-odong, Bang. Ini tuh....”


“Abang gimana Iis?” tanya Dimas tiba-tiba dari arah pintu. Dimas dan Adipati, sudah datang, mereka dapat kabar dari Taca, bahwa Iis melahirkan di bidan bukan di rumah sakit. Lebih baik sih, daripada di jalan.


“Dim, Iis baik-baik aja, tapi, ini pacar lo kenapa?” ucap Juan sambil menunjuk Yaraa.


Dimas menatap Yaraa yang sedang menatap balik dirinya dengan tatapan yang sangat-sangat ketakutan dan kaget. Dimas langsung panik, kenapa dengan kekasih kecilnya ini.


Yaraa bukan tipe perempuan yang gampang menjerit, Yaraa melihat kecoa atau tikus pun dia sama sekali tidak teriak, saking santainya. Tapi, kenapa sekarang Yaraa sampai seperti ini?


“De, Ade... Ade kenapa?” tanya Dimas khawatir sambil menepuk-nepuk pipi Yaraa pelan, wajah Yaraa yang putih karena Yaraa blesteran Jepang-Indonesia, benar-benar terlihat pias.


“Dim, gue ama Juan kedalam dulu, yah,” ujar Adipati sambil menepuk bahu Dimas. Dimas langsung menganggukkan kepalanya. Dimas benar-benar fokus pada Yaraa.


“De, sayang kamu kenapa?” tanya Dimas sambil menatap Yaraa lagi,


“Kak... Ade baru liat sesuatu yang nyeremin,” ujar Yaraa sambil menatap Dimas lekat-lekat.

__ADS_1


“Liat apaan? Hantu?” tanya Dimas lagi.


Yaraa langsung menggelengkan kepalanya cepat, sejujurnya Yaraa lebih baik melihat hantu daripada melihat hal mengerikan tadi. Peristiwa tadi adalah peristiwa yang sangat-sangat, Wow sekali.


“Bukan hantu, ini lebih nyeremin daripada hantu, bahkan lebih menakutkan daripada hantu,” jawab Yaraa jujur.


Dimas makin bingun, kenapa dengan kekasih belianya ini, kenapa dia kok jadi seperti ini? “Kamu kenapa?”


“Tadi, aku liat alat kelaminnya Mbak Iis di jahit, di jahit Kak, terus berdarah-darah...!?” pekik Yaraa frustasi.


Dimas yang mendengar penjelasan Yaraa hanya bisa menahan napasnya. Jujur, Dimaspun kalau melihat yang seperti itu, Dimas pasti akan pingsan di tempat.


“Aku nanti kalau nikah sama kamu, terus hamil dan ngelahirin, aku mau dioperasi aja. Bisa gila aku kalau ngelahirin normal. Bisa gila,” pekik Yaraa frustasi.


Dimas tersenyum sambil mengusap pipi Yaraa pelan, “Nanti kalah kamu nikah sama aku dan hamil, dua minggu sebelum melahirkan. Kamu diem aja di rumah sakit. Nggak usah kemana-mana, biar nggak ribet kaya Iis sama Juan,” ujar Dimas sambil tertawa pelan.


“Hahhaaa... pake odong-odong?” kekeh Yaraa sambil menutup bibirnya dengan kedua tangannya.


“Iya,”balas Dimas.


“Asataga tadi tukang cendolnya gimana, Kak?” tanya Yaraa, sepertinya Yaraa sudah melupakan peristiwa berdarah yang dilihatnya tadi.


“Udah aku bayar, malah dia bantuin nyariin bensin buat odong-odongnya, nanti kita pulang naek odong-odong yah,” jawab Dimas sambil tersenyum.


“Hahahaa... pacaran sama kamu tuh aneh yah, aku banyak pengalaman. Mulai, dari naik mobil paling mahal sampai naik odong-odong, dong,” kekeh Yaraa sambil mengusap bahu Dimas pelan.


Dimas langsung menghembuskan napas lega saat melihat Yaraa kembali ceria, wajahnya tidak lagi pias. “Tapi suka kan?”


Yaraa melihat Dimas sambil mengangkat sebelah alisnya. Lalu mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuk tangan kanannya, “Hmm... suka nggak yah?”


Cup...


Dimas dengan gemas mengecup bibir Yaraa cepat, Yaraa yang dikecup Dimas kaget. “Kaka...”


“Kalau ditempat sepi, udah abis kamu Dek,” canda Dimas sambil duduk disebelah Yaraa.


Yaraa hanya bisa tersipu-sipu mendengar perkataan Dimas. Yah, ternyata perkataan Mbak Iis ada benarnya juga. Pacaran dengan lelaki lebih tua, enak juga.


•••


Yakin kalau Kaka Gallon bikin cerita Yaraa dan Dimas, kalian berdua bakal hidup tenang? Melahirkan dengan tentram ? Ohh... tidak semufah itu Fergusoooo....


Lahiran anak pertama itu harus spektakuller di novel Kaka Gallon, nggak percaya? Tanya Taca dan Iis 🤣🤣

__ADS_1


Ciaooo....


Penguman pemenang tanggal 20 Maret 2021 yah. Untuk pemenang point udah ada. Tapi ini Kaka Gallon masih galau buat komentar terkocak... masalahnya komentarnya bikin ngakak semuanya 🤣🤣🤣


__ADS_2