
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Di, sayang... bangun,” pinta Taca mendorong badan Adipati lembut.
Adipati yang sedang menikmati hari liburnya di sianh hari, terganggu dengan panggilan Taca. “Śi Amore, kenapa ?”
Adipati menarik Taca kedalam pelukkannya, Istrinya ini boleh jadi sudah memberikan anak 2 untuk Adipati, tapi kecantikannya tidak pernah hilang sama sekali.
“Aku mau izin ke tempat Iis boleh ?” tanga Taca sambil mengusap rambut gelap Adipati.
“Ngapain ?” tanya Adipati bingung, seingatnya baru kemarin Juan pulang dari Citeko, makanya hari ini Adipati meliburkan dirinya, karena Juan akan mengurus semua urusan perusahaan.
“Iis, kata Juan lagi sedih. Kostan milik Ibunya dijual sama Ibu tirinya, aku mau mgehibur dia. Mumpung anak-anak bobo. Bentar aja kok,” ujar Taca sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
Inilah yang paling Adipati suka dari istri mungilnya, Taca selalu meminta izin untuk pergi kemanapun, bahkan hanya untuk bertemu Abah di apartemen Aa Riki.
“Ya, boleh. Nanti kalau anak-anak bangun aku yang urus, asi kamu ada dikulkas kan ?” tanya Adipati sambil mengusap rambut Taca.
“Ada banyak...”
“Iya, pergi sana.” ujar Adipati sambil mengambil handphonenya kemudian membaca chat dari Juan.
-Gue mau ke tempat lo.
Adipati langsung membalas chat Juan dengan tanda ok.
“Juan juga mau kesini, kayanya ada masalah deh. Juan ngak biasanya gini,” ujar Adipati.
“Masalah Iis itu dari dulu Bunda, ngak ngerti deh Bapaknya Iis nemu Bunda dimana, aneh orangnya. Gila harta..!” ujar Taca sambil berdiri bersiap untuk pergi ketempat Iis.
“Amore, you forget something ?” tanya Adipati mendongkakkan kepalanya.
(Amore, kamu melupakan sesuatu ?)
Taca tersenyum sambil mendekati Adipati, dari atas Taca langsung mencium bibir Adipati berkali-kali.
“Cepet selesai dong masa nifas kamu, aku pusing ini,” ujar Adipati sambil mengusap rambut Taca.
Taca tersenyum kemudian berbisik ditelinya Adipati. “2 minggu lagi dan kamu bisa makan aku sepuasnya, Di,” Taca mengecup kuping Adipati memberikans sensasi yang membuat bulu kuduk Adipati meremang.
“I will eat you, Amore..” ujar Adipati sambil mengigit ibu jarinya menggoda Taca yang tersenyum kemudian berlalu dari sana.
“Mau makan apa, Den ?” tanya Bi Yuli tiba-tiba.
Adipati yang kaget dengan kedatangan Bi Yuli, “Makan Taca...”
__ADS_1
“Astaga Den, dosa. Masa Non Taca mau dimakan, Aden teh kanibal ?” tanya Bi Yuli sambil menatap aneh tuannya.
Adipati hanya bisa tersenyum, “Hahhaaa.. udah ah Bi, sana beresin kamar,” ujar Adipati yang pusing dengan tingkah Bi Yuli yang makin hari makin absurd.
•••
Adipati yang sedang asik membaca koran dikagetkan dengan kedatangan Juan yang tiba-tiba duduk didepannya.
“Ngagetin, Lo..” ujar Adipati santai.
“Sorry.”
“Ada angin apa lo kesini ? Kalau masalah perusahaan biasanya juga lo ngomong di perusahaan,” ujar Adipati sambil mengangkat alisnya.
“Gue mau minta tolong,” ujar Juan sambil menyerahkan sesuatu pada Adipati. Adipati membuka amplop, senyuman langsung merekah di mulutnya.
“Lo yakin ?” Adipati benar-benar bingung dengan pikiran sahabatnya ini.
“Yakin, gue udah capek ngeliat Iis nangis mulu. Pusing kepala gue. Cara itu satu-satunya yang bisa buat semuanya selesai. Dan ini..” Juan memberikan sesuatu pada Adipati.
“Astaga, jadi selama ini Ayah sama Bunda itu ngak nikah resmi ? Anaknya kok bisa sekolah, emang punya akte kelahiran ?” tanya Adipati bingung, kalau nikah ngak resmi kenapa bisa anaknya bisa sekolah. Sepemahamannya seorang anak bisa sekolah harus mempunya akte kelahiran dan sarat akte kelahiran itu harus ada surat nikah orang tua.
“Bisa, jadi di akte kelahirannya tidak ada nama Ayahnya, tapi menggunakan nama Ibunya,” ujar Juan santai.
Adipati hanya bisa menganguk-anggukan kepalanya, Adipati tidak ahli dalam hal birokrasi. Kepalanya bisa pecah bila berurusan dengan hal-hal berbau pemerintahan.
“Tapi, lo yakin kalau ini semua bener, Ayah Iis bakal ninggalin Bunda ? Lo liat sendiri Ayah Iis kaya orang ling-lung yang ada dia nerima-nerima aja pas tau kenyataannya,” ujar Adipati sedikit kesal dengan kelakuan Ayah Iis.
Adipati berpikir sejenak, masalahnya itu ngak bakal kejadian sama Taca, dipegang pria lain aja Taca bisa histeris. “Gue yakin Taca ngak bakal kaya gitu, tapi kalau sampai kejadian auto gue balikin ke Abah.”
“Gue pun bakal ngelakuin hal yang sama, kalau sampai Iis ngelakuin hal itu, jadi gue yakin 100% Ayah bakal lakuin hal yang sama, kalau Ayah otaknya masih waras yah,” ujar Juan sambil mengambil minum didepannya.
“Masalahnya, Juan kalau lo lakuin rencana ini semua yang ada malah Ayahnya Iis yang kena stroke, bisa-bisa Ayahnya dapet tiket langsung menemui sang kuasa lebih cepat, Ju.”
Juan tersenyum sambil menyerahkan kertas berisikan data-data yang membuat Adipati tercengang. “Keluarganya Bunda lakuin ini semua ?” tanya Adipati kaget.
“Iya, mereka mafia tanah, kasusnya udah dimana-mana, Di. Bunda dulu pernah minjem uang 1 milyar buat ternak lele ‘kan, itu semua akal-akalan Bunda, dia butuh 1 milyar buat biaya operasional penipuan tanahnya,” ujar Juan penuh senyum kemenangan.
“Tapi, ini kalau dibongkar keluarga Bunda yang kena, Bunda ngak....”
Dengan senyuman penuh kemenangan Juan memberikan sesuatu pada Adipati. “Ini bisa bikin Bunda masuk bui.”
Juan memberikan kertas berisikan sebuah gambar plang notaris bernama Kokom Hollykom dan beberapa tanda tangan Bunda yang berpura-pura menjadi seorang notaris abal-abal, demi memuluskan pekerjaan keluarga Bunda sebagai mafia tanah.
Adipati tertawa terbahak-bahak melihat kepintara sahabatnya ini, Adipati selalu angkat topi dengan kelicikan Juan. Inilah yang membuat Adipati menjadikan Juan kawan bukan lawan, dia masih mau hidup tenang bersama keluarga kecilnya.
“Oke, bakal gue urus semuanya, sampai ke masalah Bernard pun aku urus, all in. Tau beres aja deh, Ju.” ujar Adipati sambil
“Jangan sampai Iis tau,” pinta Juan sambil menyerahkan semua map yang dibawanya kepada Adipati.
__ADS_1
“Ngak, jangankan Iis bahkan Taca juga ngak bakal tau, Ju. Tenang.”
Amunusi sudah siap, Juan tinggal menembakkannya, kemudian melihat Bunda dan keluarganya hancur berkeping-keping dan hancur sehancur-hancurnya.
•••
Ting tong
Iis membuka pintu apartemennya kemudian menemukam Taca yang sedang berdiri dan menatapnya dengan tatapan ceria.
“Taca.... sono(kangen)..!!!!”
Iis langsung memeluk Taca dengan erat, rasanya seperti sudah seabad Iis tidak bertemu dengan Taca.
“Iis, gimana Citeko? Gimana kabar si Rina, udah punya anak belom ?” tanya Taca penasaran dengan Rina istri lurah Citeko.
“Hhahahaha... Rina belum punya anak, udah jadi gosip banget di Citeko, dibilangnya Rina ngak subur. Ah udah jadi top gosip deh,” ujar Iis sambil menahan tawa melihat expressi puas dari wajah Taca.
“Biar tau rasa, biar Rina tau kalau di gosipin itu ngak enak,” ujar Taca geram, kesabarannya menjadi orang yang selalu jadi bahan gunjingan dikampungnya selama bertahun-tahun sudah habis.
“Sabar, Bu...”
“Hehehe... gimana kemarin, Is ?” tanya Taca sambil duduk disofa terdekat.
Iis menghela napasnya, ada rasa kesal didadanya. “Yah, gitulah aku udah ngak mau lagi ikut campur masalah Ayah, Bunda dan hutang-hutangnya.”
“Terus...”
“Aku udah janji sama Juan, aku bakal nyerahin semuanya sama Juan. Aku ngak bakal ngurusin apapun lagi. Juan yang bakal urus semuanya. Pokoknya kalau Ayah mau punya hutang lagi, Bunda mau punya hutang lagi atau apapun juga. Juan yang bakal ngurus semuanya.” ujar Iis pasrah.
Taca tersenyum mendengar perkataan Iis, benar kata Adipati, dia lebih baik jangan panik, Juan bukan orang bodoh yang bakal diam saja melihat Iis tersiksa gara-gara kelakuan Bunda dan Ayahnya. Juan bakal pasang badan dan mengerahkan semua sumber daya yang dimilikinya.
“Iis, percayain semuanya sama Juan yah, Juan pasti bakal lindungin kamu dari apapun juga.” Ujar Taca bijak.
“Iya, aku udah ngak bisa mikir lagi. Aku udah pasrah. Taca aku capek, aku mau hidup tenang. 26 tahun aku kaya gini. Capek Ta. Mana sekarang kostan Ibu aku udah ngak ada, udah aku ngak punya warisan apapun dari Ibu aku, aku ngak punya kenangan apapun lagi.....” isak Iis tiba-tiba.
“Ngerti kok, udah jangan nangis...” ujar Taca sambil memeluk Iis.
Iis menangis didada Taca, Iis menumpahkan segala kekesalannya dan kebenciannya pada Keluarganya. Iis capek...
•••
Percayakan pada Juan...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon