Water Teapot

Water Teapot
S2: Waktu


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis yang sedang tertidur mendengar suara-suara gaduh disekitarnya, entah sudah berapa kali badannya tersenggol oleh seseorang yang berlalu lalang di sekitanya.


Mata Iis mengerjap dengan cepat saat melihat para suster dan dokter yang berlari didepannya pontang-panting membawa berbagai macam peralatan dan perlengkapan medis.


“Bu Lizbet maaf, Ibu silahkan duduk di sana yah. Kami sedang berusaha sekuat mungkin untuk menyadarkan Pak Apo,” ujar seorang Suster sambil memapah Iis yang masih setengah sadar untuk duduk di sofa.


“Ha...” Iis tidak paham dengan kalimat panjang yang di bicarakan oleh suster yang memintanya untuk duduk di sofa. Kesadaran Iis yang masih mengawang-ngawang membuat Iis hanya terdiam melihat kejadian yang terjadi didepannya.


“Coba pompa ... cek oksigen, suntik obat ....”


Suara Dokter terdengar samar dikuping Iis, Iis terpaku melihat semuanya. Ditatapnya Ayah yang hanya diam tak bergerak. Tapi, wajah Ayah tersenyum dan masih seperti yang terakhir Iis liat, wajah Ayah seperti tidur nyenyak.


Suara alat rumah sakit tiba-tiba terdengar nyaring ditelinga Iis, seperti menggedor kesadarannya, menampar jiwanya agar sadar, agar mengerti dengan peristiwa yang terjadi dihadapannya.


“Ayah ....” Iis berkata sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.


Tiba-tiba pergerakkan suster dan dokter terhenti, mereka memandang Ayah dengan pandangan ikhlas, kemudian saling pandang.


Satu-satunya Dokter disana melihat jam ditangannya, kemudian menganggukkan kepalanya sebelum berkata, “Catat, waktunya Suster. Jam 13.15 WIB,” ujar Dokter sambil menolehkan kepalanya menatap Iis yang diam.


Iis benar-benar diam entah karena kaget atau karena bingung. Rambutnya yang acak-acakkan karena hasil kepanggan Ayah yang tidak rapih ditambah Iis yang tertidur tadi, menambah efek nelangsa di wajah Iis.


“Bu Wijaya.”


Iis bangkit saat nama keluarga barunya di ucapkan oleh dokter, berjalan kearah ranjang rumah sakit. Seorang suster menutupi wajah Ayahnya dengan kain putih polos.


Iis diam sambil terus menatap Ayahnya yang sudah tertutup kain putih polos, tangan Iis bergetar hebat dengan cepat disibakkannya kain putih tersebut.


“Ayah, bangun ....”


“Bu ....” panggil Dokter sambil meminta suster dibelakang Iis siaga.


“Ayah....”


“Bu ....”

__ADS_1


“AYAH BANGUN ....!!!” teriak Iis sambil memeluk tubuh Ayahnya yang masih hangat, masih terasa dengan jelas dipikirannya betapa hangat dan lembutnya tangan Ayahnya yang membelai rambut Iis dan mengepangnya dengan serampangan. Iis masih ingat, itu baru terjadi bebeberapa jam yang lalu ...!


“AYAH ....!”


Teriakkan Iis tidak mampu membangunkan Ayahnya, teriakkan dan isakkan Iis tidak dapat mengganti detik, menit dan jam, yang telah Iis sia-siakan dengan Ayahnya. Rasanya Iis ingin menghentikan waktu dan terus bersama Ayah, bercerita dan saling menguatkan. Rasanya Iis ingin mengambil kembali waktu yang telah Ayahnya sia-siakan. Sayangnya waktu terlalu kejam bagi Iis. Waktu hanya memberikan sedikit bagi Iis dan Ayah. Waktu berkata ini akhirnya Ayah....


Waktu sedang kejam pada Iis, Waktu sedang menunjukkan kuasanya pada Iis. Waktu sedang senang melihat Iis meraung meminta dan memohon untuk Ayah kembali.


Dan waktu berkata TIDAK...!


•••


Juan dan Adipati yang baru selesai rapat, berjalan santai bermaksud untuk berbincang diruangan Juan.


“Aduh, kepala gue sakit, beneran kita harus kerja sama ini sama pihak ketiga. Pembayaran sekarang harus cashless,” ujar Adipati sambil mengurut dahinya.


“Ngapain kerja sama, mending kita bikin program sendiri. Jadi, kita bisa dapet double untung, nanti gue yang bikin. Gampang kok ....”


“Loe gila itu bisa habisin duit banyak,” sentak Adipati kesal, Juan sedang sangat ambisius kali ini. “Gue kagak mau bangkrut yah, mau dikasih makan apa anak kembar gue dirumah,” ujar Adipati sambil menyikut bahu Juan.


“Kasih ASI lah, lo puasa dulu jangan ikut minum,” kekeh Juan sambil membuka pintu masuk kedalam ruangan miliknya. Ditatapnya Saka yang sedang mengangkat teleponnya.


Selama rapat Juan mematikan handphonennya, Juan paling tidak suka diganggu bila sedang rapat. Juan menatap Saka yang memiliki air muka kaget bercampur sedih. Kenapa, lagi sekertarisnya itu, jangan bilang dia diputusin pacarnya.


“Pak ...” panggil Saka sambil menutup sambungan telepon.


“Iya ...” jawab Juan sambil menatap sekertarisnya itu.


Saka terlihat ragu untuk menyampaikan berita yang baru didengar olehnya. Adipati merasakan getaran di saku celanannya. Diambilnya handphone dari sakunya kemudian dilihatnya layar handphonennya.


“Amore ... bentar gue angkat telepon Taca dulu,” ujar Adipati sambil sedikir menjauh dari Juan dan Saka.


“Saka, ada apa?” tanya Juan lagi.


“Pak, tadi pihak rumah sakit telepon, katanya mereka sudah berkali-kali nelpon Bapak tapi nggak bisa,” ujar Saka.


“Iya ‘kan tadi saya rapat, kamu tau ‘kan kebisaan saya, nggak pernah angkat telepon.”


“Iya Pak, tadi rumah sakit bilang Ayah Bu Lizbet meninggal jam 13.15 WIB ....”


“Saka jangan bercanda,” potong Juan, dia sedang tidak mau bercanda kali ini.

__ADS_1


“Bener Pak, Ayah Bu Lizbet meninggal. Masalahnya, kata pihak rumah sakit. Bu Lizbet histeris katanya Bu Lizbet sampai pingsan berkali-kali...”


“Astaga Saka, kenapa ngak bilang dari tadi,” bentak Juan sambil melirik jam tangannya. Jam 16.54.


“Maaf Pak, saat ini jenazah Pak Apo sudah dimandikan dan siap diantar ke rumah duka, tapi karena Bu Lizbet histeris dan pingsan berkali-kali juga tidak dapat diajak komunikasi jadi mereka bingung. Mereka berusaha menghubungi semua nomer kontak yang bisa dihubungi,” ujar Saka.


“Saka siapin semuanya di Citeko, Iis pasti ingin pemakamannya di Citeko, Saka siapin semuanya,” ujar Juan sambil mengambil kunci mobilnya miliknya.


“Pak, mobil Bapak lupa di isi daya, Pak,” Saka mengingatkan Juan.


Juan menggeretakan giginya, astaga cobaan apa lagi ini ?


“Pake mobil gue,” ujar Adipati sambil melempar kunci mobil Mercedes Benz GLS miliknya. “Gue nunggu jemputan Taca, Taca mau kesini nanti dari sini Gue langsung ke Citeko. Ada Rozak di rumah sakit, katanya Iis histeris parah.”


Juan langsung berlari seperti kesetanan saat mengetahui istrinya histeris dan yang paling membuat telinganya jengah ada Rozak disana. Dia harus meredam rasa cemburunya dan rasa kecewanya pada dirinya sendiri karena tidak mampu berada disamping Istrinya saat istrinya membutuhkan dirinya.


Saat masuk lift Juan mengambil handphonenya kemudian menyalakannya. Seketika itu juga berpuluh-puluh notifikasi keluar di handphonenya dengan cepat. Hampir semuanya dari hanphonen istrinya, ada beberapa dari kolega. Ada dari Mamih, Taca, pihak rumah sakit, bahkan dari Abah.


Dibukanya chat dari Istrinya, jantungnya mencolos saat melihat chat-an dari istrinya. Astaga kenapa dia matikan handphonennya.



Ting...


Sesaat pintu lift terbuka Juan langsung berlari seperti kesetanan menuju mobil Adipati. Jantungnya bertalu dengan cepat. Dia ingin memeluk istrinya, merengkuhnya dan menenangkan Iis. Juan tau Iis histeris parah detik ini.


Argh... andai dia bisa mengulang waktu dan tidak mematikan handphonennya. Sayangnya waktu tersenyum pada Juan dan berkata maaf Juan, waktu itu jahat. Waktu tidak bisa diputar ulang, tidak akan pernah bisa.


•••


Waktu adalah pengobat, waktu adalah sesuatu yang selalu kita anggap remeh, tapi waktu itu adalah sesuatu yang jahat dan tampa ampun bisa memberikan rasa pengesalan sekaligus juga memberikan kesembuhan dari rasa penyesalan yang sama.


Jadi, hargailah waktu.


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2