
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Saya tidak mau Iis menikah sama anak kurang ajar kaya kamu...!” teriak Bunda sambil menunjuk wajah Juan. Wajah Juan memerah menahan marahnya.
“Saya ibunya dan saya melarangnya...!” Bunda berteriak lebih keras lagi, berharap suaranya bisa terdengar oleh semua orang di Citeko, berharap semua orang tau ketidak setujuannya terhadap pernikahan Iis dan Juan.
“SEJAK KAPAN KAMU JADI IBU SAYA ?” bentak Iis berang. Seingatnya monster satu ini tidak pernah berperan menjadi Ibunya. She just a toxic stepmother..! (Ibu tiri yang memberikan pengaruh buruk)
“Sejak saya nikah sama Bapak kamu yang jompo..!” teriak Bunda berang sambil menunjuk Ayah Iis dengan tatapan benci. Lelaki didepannya sudah tidak berguna, uangnya sudah habis. Harusnya dia mencari lelaki sekaya keluarga Juan. Mungkin, nanti kalau keluarga Juan kesini dia bisa mencoba sesuatu, pikiran jahat Bunda berkelana.
Sebelum menjawab Iis mendengus kesal, “Yakin,kamu pernah berperan jadi Ibu saya ? Semenjak Ibu meningal apa yang kamu lakuin ?”
“Saya ngurus kamu, kamu saya kasih makan setiap hari...” ujar Bunda mulai salah tingkah.
“Hahahaa... lucu Bu Kokom ini, mohon maaf semenjak Ibu saya meninggal saya makan, minum, jajan, hidup, sekolah sampai beli apapun dari uang kostan Ibu saya. Kamu ? Kamu malah tiap bulan merongrong saya meminta jatah kostan. Wajarkah, seorang emak-emak meminta uang pada gadis umur 17 tahun ?” Iis mengenang semua kelakuan busuk Ibu tirinya.
“Tapi saya Ibu kamu sekarang, kalau saya ngak setuju pernikahan kamu sama Juan, kamu mau apa ?” bentak Bunda tidak mau kalah.
“Ayah, ayah setuju Iis nikah sama Juan ?” tanya Iis pada Ayahnya yang sedang dibantu Juan untuk berdiri.
Ayah menatap mata Iis, gadis kecilnya, anak kesayangannya yang selalu menderita. Kemudian, menatap Bunda, wanita yang sudah memporak-porandakan kehidupan pernikahannya, seandainya waktu bisa diulang Ayah tidak pernah mau berkenalan dengan Bunda.
“Ayah restui, Nak. Berbahagialah dengan Juan, jangan pikirkan Ayah,” ujar Ayah sambil tersenyum.
“Ngak bisa, saya ngak mau punya mantu kaya Juan...!!” ujar Bunda berang.
“Astaga, Yang. Izinin aku buat ngasih pelajaran Ibu tiri kamu,” ujar Juan kesal, rasa-rasanya dia ingin merobok mulut Bunda.
“Ngak usah, nanti juga dia bakal kena karmanya sendiri,” ujar Iis sambil berdiri dan menuntun Ayah kekamar bersama Juan, mengabaikan Bunda yang berteriak-teriak histeris.
“SAYA NGAKK SETUJUUUU...!! POKOKNYA TIDAK..!!” teriak Bunda terus menerus.
•••
Juan kaget setengah mati saat masuk kedalam kamar Ayah, bola matanya hampir loncat dari rongganya saat melihat kondisi kamar Ayah mertuanya itu. Juan benar-benar bingung ada manusia yang bisa tinggal di kamar se berantakan dan sekotor ini, debu sangat tebal. Juan berjuang untuk tidak bersin tapi tidak berhasil.
“Huachimmm... Huachimmm...” Juan bersin berkali-kali karena debu yang sangat tebal. Juan alergi debu, mau tidak mau dia terus bersin berkali-kali.
__ADS_1
“Maaf yah, kamar Ayah banyak debunya, terakhir yang beresin Iis,” ujar Ayah sambil tersenyum lemah sambil menyenderkan tubuhnya di headboard tempat tidurnya.
Juan mencoba tersenyum sambil terus bersin berkali-kali. Iis yang kasian melihat Juan yang bersin terus-terusan langsung meminta Juan untuk kembali ke rumah Abah.
“Mas, mending Mas kerumah Abah deh, nanti besok baru kesini lagi. Aku, Icih sama ibu-ibu yang lain bakal bersihin dulu rumah ini. Kamu ngak kuat debu ‘kan,” ujar Iis sambil menyentuh lengan Juan.
“Ya udah aku kerumah Abah dulu, kalau ada apa-apa telepon aku, yah.” ujar Juan sambil mengelus rambut Iis.
“Ayah, Juan ke rumah Abah dulu,” pamit Juan.
“Iya, Nak. Hati-hati yah,” ujar Ayah sambil tersenyum lemah.
Juan pun keluar dari kamar Ayah, sambil sesekali bersin. Juan benar-benar tak kuasa, dia tidak kuat debu.
“Yah, pindah Jakarta yuk, biar Iis yang urus Ayah, Ayah ngak diurus disini, udah yuk...” pinta Iis sambil mengambil selimut kemudian menyelimuti tubuh Ayahnya.
“Ahh...” Ayah meringgis sakit saat menggerakkan punggungnya. Pukulan Bunda benar-benar memberikan sakit di tubuh ringkih Ayah.
“Ayah, duduk,” pinta Iis sambil mengambil minyak kayu putih dari nakas. Dengan cepat Iis membuka pelan baju Ayah. Napasnya terhenti saat melihat punggung Ayahnya, air mata Iis jatuh.
“Yah.. Iis mohon ikut Iis yah, ke Jakarata.”pinta Iis saat melihat punggung Ayahnya yang seperti tulang terbalut kulit. Kurus, sangat kecil tonjolan-tonjolan tulang Ayah tampak jelas, pantas saja Ayah selalu menolak untuk melepaskan bajunya.
Bekas-bekas pukulan Bunda memberikan tanda merah di punggung Ayah, Iis dengan bergetar mengusapkan minyak kayu putih kepunggung Abah. “Ke Jakarta yuk Yah, Ayah ngapain disini, Ayah ngak diurus. Udah Ayah ke Jakarta sama Aku. Aku bisa urus Ayah, kamar di apartemen Juan ada banyak.”
“Atuh, Iis teh kudu kumaha, Iis teh cape hirup Iis kieu-kieu wae. Iis kudu kumaha, Yah. Kieu salah kitu salah. Iis kudu kumaha ?” Iis menangis sambil menyembunyikan kepalanya di punggung Ayah.
(Gimana, Iis itu harus gimana, Iis capek hidup gini-gini aja. Iis harus gimana, Yah. Gini salah gitu salah. Iis harus gimana ?)
Ayah membalikkan badannya kemudian memeluk Iis, “Iis kudu bagja...!! Hampura Ayah teu bisa ngabagjakeun Iis, Ayah salah, ieu kabeh salah Ayah. Ayah teu bisa nahan nafsu, Ayah nu salah, lamun Ayah teu keukeuh hayang boga budak lalaki. Moal jiga kieu hirup urang teh. Ayah menta hampura, Iis.”
(Iis harus bahagia...! Maafin Ayah ngak bisa membahagiaakan Iis, Ayah salah, ini semua salah Ayah. Ayah ngak bisa nahan nafsu, Ayah yang salah, kalau Ayah ngak maksa ingin punya anak laki-laki. Ngak akan kaya gini hidup kita itu. Ayah minta maaf, Iis.)
“Ayah...”
“Iis tingali Ayah, ieu kahoyong Ayah, Ayah hayang maneh BAGJA...! Tong pikiran Ayah, pokokna maneh kudu Bagja, nyak, janji ka Ayah maneh kudu Bagja, maneh sorangan Iis, maneh kudu kuat, maneh kudu bagja...!” ujar Ayah sambil mengusap air mata yang turun di pipi Iis.
(Iis lihat Ayah, ini keinginan Ayah, Ayah ingin kamu bahagia..! Jangan pikirin Ayah, pokoknya kamu harus bahagia, yah, janji sama Ayah kamu harus bahagia, kamu sendirian Iis, kamu harus kuat, kamu harus bahagia..!)
Sesak... hati Iis sesak mendengar perkataan Ayahnya. Tangis Iis meledak. “Ayah....”
“Udah, jangan dengerin omongan Bunda. Lusa keluarga Juan datang, biar Ayah yang ngomong. Pokoknya Ayah setuju, Ayah ingin kamu bahagia. Kamu bahagia sama Juan ?” tanya Ayah.
__ADS_1
Iis menatap mata Ayah sambil tersenyum, “Iis bahagia Yah, Iis siap akan semua konsekuensinya. Iis bahagia...”
“Udah, itu aja... kalau kamu bahagia Ayah cuman bisa memberikan restu Ayah, pergi sana kemakan Ibu kamu besok. Tiap minggu Ayah suka kesana buat bersih-bersih makan Ibu. Minggu ini kamu mau kesana ngak ?” tanya Ayah sambil mengusap rambut Iis.
“Mau...”
“Ya udah, sekalian kita kenalin Juan yah. Ayah yakin kalau Ibu masih ada dia bakal paling cerewet ngurusin semuanya,” ujar Ayah mengenang Ibu Iis sambil tersenyum. Wanita yang sangat baik, wanita yang disia-siakan oleh dirinya.
“Iya, Yah....”
•••
Maaf banyak bahasa sundanya, hehehee...
tapi tenang ada bahasa Indonesianya juga, enjoy...
Semuanyaaaa haii...
Kaka Gallon disini, akhirnya kaka galon punya GC, mari kita ngobrol disana.. tapi biar asik yang mau masuk ada passwordnya.
Pas masuk jawab pertanyaan ini yah, semuanya...
Pertanyaannya
1 apa merk mobil yang sering dipakai Juan ?
2 siapa nama kucing Cicil ?
3 bahasa Italy jika kau bukan istriku, aku akan melemparmu ke sungai ?
Dan pas masuk jangan lupa intro yah, sayang-sayangku..
yuk mari kita ngobrol di GC, happy-happy yah semuanya...
Oh sama GC buat 18+ yah jangan kurang nanti sawan denger obrolan yang ada hahaha
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon