Water Teapot

Water Teapot
S2: Bom Waktu...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sudah empat hari Ayah sadar, Ayah melakukan banyak perawatan. Makin hari kesehatan Ayah makin membaik, cara berbicara Ayahpun makin hari makin jelas. Iis makin bersemangat mengurus Ayah.


“Yah, tau nggak. Bernard kan udah keterima masuk DT, kemaren pengumumannya. Dia keterima dan rangking pertama,” ucap Iis sambil menyuapkan makanan ke mulut Ayah dengan hati-hati.


“Ah, syukurlah. Moga Bernard bisa belajar dengan baik,” jawab Ayah sekenangnya, semenjak Ayah tau Bernard bukan anaknya, Ayah mulai sedikit dingin pada Bernard, berbanding terbalik dengan Iis yang dengan semangat menceritakan pada semua orang kalau Adiknya mampu masuk DT.


“Ayah makan yang banyak, biar cepet sehat. Nanti kita sama-sama ke DT, sekolahnya bagus loh, ada tempat berkudanya juga. Luas lagi, keren pokoknya,” cerocos Iis.


“Nak, Bernard bukan adik kamu, kamu masih mau ngurus dia?” tanya Ayah sambil menatap Iis.


Iis berdehem pelan sambil menyimpah piring di nakas terdekat, “Jujur Yah, semenjak Iis tau kalau Bernard bukan adik kandung Iis, rasa sayang Iis ke Bernard naik berpuluh-puluh kali lipat.”


“Kok bisa?” tanya Ayah bingung.


“Karena kalau sekarang Iis sayang sama Bernard, Iis ngak bakal ngerasa bersalah sama Ibu. Selama ini Iis tekan rasa saya Iis karena Iis ngak mau nyakitin hati Ibu. Iis perempuan, Yah. Kebayang seandainya Juan punya anak dari wanita lain dan ternyata anak Iis malah sayang banget sama Anak itu. Iis bakal sakit hati, Yah. Iis bakal hancur,” jawab Iis sambil menatap manik wajah Ayah yang makin hari makin berubah kelabu.


Ayah hanya tersenyum getir mendengar jawaban Iis. Apa yang dikatakan Iis ada benarnya juga. Ah bodohnya dirinya, saking inginnya punya anak laki-laki dia sampai menyakiti hati Istri dan Anaknya. Padahal mau laki-laki mau perempuan semuanya sama. Ego seorang pria..!


“Kalau sekarang malah Iis kasian sama Bernard, Ayahnya Idad mana mau ngurus dia, Bunda masuk penjara. Siapa yang bakal urus dia kalau bukan Iis? Untungnya Mas Juan baik mau ngebiayayain Bernard, Iis bersyukur punya suami sebaik Juan, Yah,” cercos Iis sambil mengusap lengan Ayah pelan


“Bahagia Nak..”ujar Ayah sambil mengusap rambut Iis.


Tok...tok...tok...


“Masuk,” ujar Iis saat mendengar suara ketukan di pintu kamar Ayah.


Klik...


Juan masuk bersama Saka dibelakangnya ada Bernard. Iis langsung mengembangkan senyumnya saat melihat Bernard, Juan dan Saka. Tapi....


Dibelakang Bernard ada 2 orang yang tidak Iis kenal menggunakan baju casual dan didepannya ada Bunda yang berjalan memasuki kamar Ayah.


“Ngapain dia disini?” tanya Iis cepat, sambil berdiri dan menunjuk Bunda, “Mas, ngapain dia disini?”


“Yang...”


“Mas, kamu mau bikin aku naek darah?” tanya Iis kesal pada Juan sambil membulatkan matanya pada Juan.


“Yang, ini...”


“Ayah yang minta, Bernard dan Bunda kesini, Ayah mau ketemu mereka,” ujar Ayah pelan.


“Ayah yang minta Bunda kesini? Kalau Bernard yang kesini mah ngak papa, ai Bunda mah beda lagi,” pekik Iis kesal sambil menghentakkan satu kakinya ke lantai.


“Udah, emang Ayah yang minta kok, duduk Is,” pinta Ayah sambil tersenyum kecil.


Iis menurut, Iis langsung duduk disofa diantara Juan dan Bernard. Tangan Iis langsung mengusap paha Juan, kebiasaan kecil yang terjadi setelah Iis menikah dengan Juan.

__ADS_1


Bunda mendekat pada Ayah, “Ayah sehat, maaf Bunda nggak bisa ngurus Ayah, Bunda berharap bisa keluar dari penjara dan ngurus Ayah. Kalau seandaianya Juan mau...”


Iis yang mendengar perkataan Bunda rasanya ingin membawa pisau buah yang ada didekat nakas dan menggelitik Bunda menggunakan pisau buat tersebut.


“Nggak usah bawa-bawa mantu saya, Kom,” potong Ayah tegas. Sekarang, Ayah sama sekali sudah tidak ada beban lagi pada Kokom, semenjak tau Bernard bukan anaknya dan Juan mau mengurus Bernard, Ayah merasa bebannya sudah terangkat sepenuhnya.


Bunda akhirnya duduk di samping Ayah, sambil menatap sekeliling ruangan VVIP tempat Ayah dirawat.


“Tempatnya bagus yah, Tau nggak Yah, Bunda tidur sekamar berlima....”


“Mau berlima mau bersebelas juga Ayah ngak peduli, Kom,” jawab Ayah dingin.


Semua orang disana langsung diam mendengar perkataan Ayah. Dengan ekor matanya Juan menyuruh kedua polisi yang ada disana untuk kelur dari ruangan. Seperti mengerti tatapan Juan kedua polisi tersebut keluar dari ruangan tersebut dengan cepat.


Hening beberapa menit saat polisi keluar dari sana. Hanya terdengat napas Ayah.


“Kom, saya mau kamu jujur,” ujar Ayah sambil menatap Kokom, “Siapa sebenarnya ayah Bernard?”


“Yah....” ujar Iis sambil melirik Bernard yang langsung terdiam mendengar perkataan Ayah.


“Bernard udah gede, Bernard harus tau yang sebenarnya. Ayah ngak mau nyimpen bom waktu buat kamu Iis, mumpung Ayah masih hidup. Kalau Ayah udah ngak ada, Ayah ngak mau Kokom atau Bernard nyusahin kamu,” jelas Ayah.


“Teh...” bisik Bernard sambil menatap Iis kebingungan. Iis hanya bisa memeluk Bernard sambil berbisik kecil, “Apapun yang terjadi, kamu tetep Teteh sekolahin sampai kamu bisa berdiri dikaki kamu sendiri.”


Bernard langsung menganggukkan kepalanya pasrah.


“Kom, jawab.” ujar Ayah sambil menatap Kokom.


“Bernard anak kamu, Yah. Waktu itu saya di ancam Juan,” dusta Bunda sambil mengeluarkan jurus tangisan buaya miliknya.


“Juan?” tanya Ayah.


“Ape?” tanya Juan kesal, Iis langsung menepuk paha Juan.


“Juan ancam Bunda, katanya Juan bakal bikin Bunda mendekam lebih lama dipenjara....”


“Ini Pak,” ujar Saka dengan cepat menyerahkan kertas hasil test DNA Bernard.


Ayah dengan cepat membaca kertas hasil test DNA tersebut sambil tersenyum miris. Entah apa yang harus Ayah katakan saat membaca kedua surat hasil test DNA itu.


“Terus ini apa, Kom?” tanya Ayah sambil menyerahkan kertas tersebut pada Bunda.


Bunda mengambil surat itu, tangannya gemetar saat membaca hasil test DNA yang ada, Juan benar-benar mampu membuat dirinya mati kutu, padahal seingatnya kemarin surat hasil test DNA itu sudah Bunda sobek-sobek menjadi kepingan kecil.


Bunda langsung menyobek-nyobek kertas tersebut menjadi kepingan kecil, kemudian melemparkannya ke lantai. Bunda langsung menginjak-injak surat itu dengan kakinya.


“Bohong...semuanya bohong...!!” jerit Bunda, “surat-surat itu bohong, udah aku sobek semua surat-suratnya, udah ngak ada buktinya lagi. Bernard anak kamu...!”


Juan langsung menatap Saka, Saka yang mengerti arti tatapan Boss semprulnya itu langsung memberikan surat hasil test DNA yang baru pada Ayah, sebelum menerimanya surat tersebut langsung dirampas Bunda dengan membabi buta kemudian disobek menjadi kepingan kecil.


“Saka,” ujar Juan sambil menopangkan kaki kanannya ke kaki kirinya.


Saka hanya bisa mendengus kesal, nggak Bossnya nggak mertua bossnya nyusahin mulu. Saka langsung memberikan salinan surat hasil test DNA yang baru lagi pada Ayah.

__ADS_1


“Apa lagi ini...!!” pekik Bunda seperti hilang akal, dengan cepat Bunda mengambil kertas tersebut kemudian merobeknya lagi.


“Aduh Bu Kokom, mau Bu Kokom robek berapa kalipun saya masih punya copyannya,” ujar Saka kesal sambil menunjukkan satu rim (1 rim\= 500 lembar HVS) kertas HVS.


“Huaaaaa...” Bunda langsung mengambil 1 Rim kertas HVS dari tangan Saka kemudian melemparkannya kesembarang arah. “udah nggak ada..!”


Saka hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian mengambil sesuati di tas yang ada dibelakangnya, “Masih ada Bu Kokom, ini saya bawa 2 Rim lagi.”


Antara ingin marah juga tertawa, Juan dan Iis saling mengulum senyum. Saka benar-benar harus dinaikkan gajinya.


Bernard yang kebingungan mengambil salah satu kertas di kakinya kemudian membacanya. Napasnya langsung tercekat saat membaca tulisan dikertas itu.


“KOKOMMM...!!!” bentak Ayah sambil menatap Bunda.


“Ayah, ini semua bohong, Bernard anak kamu, bukan anak Idad..!” mohon Bunda.


“Terus itu semua apa?” tanya Ayah sambil menunjuka kertas yang berserakan di lantai.


“Ayah...” rajuk Bunda sambil bersimpuh dipinggir kasur rumah sakit.


“Jawab Kom..!”


“Bernard... Bernard...”


“Jawab Kom, saya tidak mau padasaat saya meninggal kamu merongrong tentang masalah apapun pada Iis, jangan mentang-mentang Iis menikah dengan orang kaya kamu bisa merongrong anak saya..!”


“Bernard...” Bunda tidak bisa mengatakan yang sejujurnya. Bila Bunda mengatakan yang sejujurnya, Bunda takut dirinya tidak bisa meminta uang pada Iis.


“Ah sudahlah, kamu itu kepala batu. Saya sudah tidak percaya lagi sama kamu Kom,” ujar Ayah sambil menatap Kokom.


“Ayah,” ujar Bunda sambil menatap Ayah.


“Juan, kamu jadi saksi yah. Saka, coba videoin ini omongan saya,” pinta Ayah sambil menatap Saka.


Saka langsung mengambil handphonenya kemudian memvideokan Ayah.


Juan, Saka, Iis, Bunda dan Bernard bingung apa yang akan dilakukan oleh Ayah.


“Saya Apo Sandia melakukan ini dalam keadaan sadar dan tanpa dipaksa siapapun ....”


Hening seketika...


“Saya talak kamu Kokom Hollykom dengan talak tiga...!” ujar Ayah sambil menatap Bunda.


Detik itu juga Bunda pingsan...


•••


Maaf-maaf nih yah, Kakak gallon belum pernah liat orang nikah dibawah tangan terus di talak, referensi adegan ini aja gara-gara tadi liat di youtube adegan perceraian raja dangdut ama mbak malaikat di lift.


Jadi kalau ada yang tau caranya tolong komen. Takut salah juga, makanya adegan stop disini.


Jadi pokoknya Kokom udah dicerai sama Ayah dan inget ‘kan dulu Ayah sama Bunda itu nikah agama/siri, bukan resmi.

__ADS_1


Ciao....


__ADS_2