
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Taca berjalan bersama Siska dan Tian kemudian masuk kedalam lift.
"Kalian sampai kapan disini ?" tanya Taca pada Siska dan Tian.
"Besok juga kita pulang, Ta. Kita disini udah 3 hari. Ini juga kita bisa liburan gara-gara Tian dapat libur dadakan. Kalau ngak ih.. susah," ujar Siska sambil mengerling manja pada Tian.
"Kamu kerja apa, Tian. Kok liburnya aneh gini," ujar Taca bingung ini hari weekday.
"Aku tuh budak korperat, Ta" kekeh Tian.
"Hah.... serem amat. Emang ngak enak kerja diperusahaan kamu ?" tanya Taca penasaran.
"Ngak sih, gajinya sepadan. Aku sekertaris di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Boss aku kadang suka minta yang aneh-aneh. Tapi so far so good, sih," ujar Tian sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gajinya sesuai lah, Ta. Bisa nabung buat nikah," tawa Siska terdengar renyah.
Taca langsung mengingat Sherlly dan Saka sekertaris pribadi Adipati dan Juan. Mereka bekerja tanpa kenal waktu, sesekali Taca suka memarahi Adipati yang menelepon Sherlly dijam-jam istirahat orang normal hanya untuk mengirimkan berkas atau file.
"Kamu kerja dimana Ta ?"
"Aku ? Aku udah resign, suami aku larang aku kerja," jawab Taca jujur, semenjak menikah dengan Adipati, Adipati menyuruh Taca resign. Taca awalnya menolak tapi setelah dinasihati Abah, Taca mengalah dan resign dari perusahaan. Saat ini Taca sedang berpikir untuk kuliah lagi.
"Wah sayang banget. Taca kamu sayang banget sama suami kamu yah, ampe sebegitunya," ujar Siska pada Taca.
"Iya, bucin akut kali yah," canda Taca sambil tersenyum senang.
Tring....
Pintu lift terbuka Siska dan Tian langsung keluar dari dalam lift sambil melambaikan tangannya pada Taca.
"Nanti calling-calling yah..." ujar Siska sambil melambaikan tangannya pada Taca.
"Byeee..." balas Taca sambil melambaikan tangannya juga.
Taca melihat keluar melakui jendela lift, senyumannya mengenbang Taca suka melihat pemandangan Singapura yang indah. Adipati berkata anggap saja ini pra-honeymoon sebelum honeymoon sesungguhnya di viterbo.
Ting....
Taca langsung bergegas keluar tapi langkahnya tertahan...
"Taca panjang umur, temenin aku dulu..." ujar Juan sambil menarik Taca kembali masuk kedalam lift.
__ADS_1
"Apaan, mau ngapain ? Ih... Adipati udah nungguin." ujar Taca keberatan, Taca benar-benar ingin bertemu suaminya, mungkin setan mesum sudah merasuki pikirannya Taca tiba-tiba ingin kelonan bersama Adipati sepanjang sore ini.
"Please.... bentar doang, aku mau pulang ini ke Indonesia," paksa Juan sambil memencet tombol lift ditutup.
"Astaga Juan, kalau mau pulang aja, ngapain nyeret-nyeret aku," Taca benar-benar keberatan mengikuti Juan.
"Please, aku butuh pendapat kamu, aku mau beliin Iis cincin tunangan, aku mau nikah aja sama Iis. Ngak sanggup aku tidur sendirian..." cerocos Juan.
"Emergency aja pokoknya ..!!!"
"Halah, 911 whats your emergency maksudnya ???" ujar Taca kesal.
"Aku bisa sakit kalau ngak nikah sama Iis, sakit ngak ada yang kelonin kalau aku tidur."
Hampir saja tawa lolos dari bibir Taca saat mendengar alasan Juan mengapa dia mau menikahi Iis, "Pak Wijaya, kamu selama 37 tahun hidup bisa kan tidur sendirian tanpa Iis, kenapa sekarang tiba-tiba harus tidur bareng Iis ?"
Juan menaikkan sebelah alisnya, "Ngak tau, aku ngak paham. Pokoknya aku mau nikah sama Iis secepatnya."
"Hadeuh... ya udah emang mau cari cincin dimana? Tapi ini koper gimana, aku ngak mau narik-narik koper, koper ini emang ringan tapi malesin tau narik-narik koper gini," kelu Taca sambil melihat koper berwarna hijau miliknya.
"Gampang nanti titip resepsionis, udah pokoknya temenin yah," ujar Juan sambil menarik tangan Taca untuk keluar dari lift yang langsung ditepis Taca.
"Jangan pegang-pegang bahlul...!?" ujar Taca kesal karena tangannya ditarik Juan.
"Hahahahaa.... astaga lupa ayo, cepet," ujar Juan sambil nyengir kuda.
•••
"Mr. Wijaya ini cincin yang anda pesan," ujar pegawai Cartier sambil meletakkan nampan didepan Juan dan Taca.
Taca mengedipkan matanya melihat dua buah cincin didepannya, dua buah cincin dengan masing-masing memiliki satu buah mata berlian yang satu berwarna pink yang satu lagi berbentuk kotak.
"Kamu udah beli ini dua-duanya ?" tanya Taca.
"Iya.. tinggal diambil," ujar Juan sambil menunggu penilaian Taca akan pilihannya.
"Terus ngapain kamu nyuruh aku liat kalau udah dibeli, MAEMUNAHHHH...!!!! Mau pamer ?" cecar Taca kesal, demi apapun lebih baik dia tadi langsung kekamar, mandi lalu kelonan dengan Adipati.
"Kalau udah dibeli yah bawa aja langsung, tau gini aku tadi kekamar ketemu Adipati terus kelonan dikamar ampe besok, Juan...!!!" pekik Taca lagi kesal.
Juan hanya bisa terkekeh mendengarkan alasan Taca, "Kayanya kamu udah ketularan jin mesumnya Adipati yah, Ta..."
Taca langsung menatap Juan kesal, "Ih... biarin aja mesum sama suami sendiri, kalau sama kamu baru aneh."
"Mau sama aku juga ngak papa kok, aku sama Adipati sering berba..."
Brukk...
__ADS_1
Taca langsung memukul Juan dengan tas miliknya dengan kesal, " lo sangka beras raskin dibagi-bagi...!"
"Sakit ih... galak amat," ujar Juan sambil mengelus bahunya.
"Kamu sih, ngaco." ujar Taca sambil melihat cincin didepannya dan langsung menunjuk cincin berlian berwarna pink didepannya. "Yang ini bagus, Iis suka warna pink. Pasti dia suka ini," ujar Taca.
"Yang ini ?" tanya Juan
"Iya, yang itu" jawab Taca sambil tersenyum senang.
Juan langsung meminta pegawai Cartier mengiapkan segalanya, kemudian Taca dan Juan meningalkan ruangan tersebut.
•••
"Emang mau ngasih cincinnya dimana ?" tanya Taca sambil memencet lantai 55 di lift. Saat ini Juan dan Taca sudah sampai kembali di hotel.
"Ada deh, nanti juga kalian ikut yah. Biar meriah," ujar Juan sambil memencet lantai 56.
Taca hanya bisa tersenyum menatap Juan yang tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Sepertinya Iis sudah mendapatkan seseorang yang bisa menjaganya dan meraihnya disaat lelahnya, Taca sangat bersyukur akan hal itu.
"Juan..."
"Hmm..."
"Jaga Iis yah, jangan sakitin dia. Bahagiain dia, dia udah aku angap sodara sendiri, aku tau semua hal tentang Iis, jangan bohongin dia, yah...." ujar Taca sambil tersenyum pada Juan.
Juan tersenyum mendengar permintaan Taca, "Iyah Mrs. Berutti, aku bakal jaga Iis, percaya sama aku."
"Jujur adalah kunci, Juan. Iis paling ngak suka dibohongin, dia lebih suka tau kenyataan dari mulut kamu langsung daripada dari orang lain, inget ini baik-baik yah," ujar Taca sambil tersenyum pada Juan.
Senyum Juan pudar mendengar perkataan Taca, ada satu kebohongan yang dia jaga hingga saat ini. Juan terlalu takut untuk mengungkapkannya. "Iya Ta...".
"Oke, see you..." ujar Taca sambil berjalan keluar lift.
•••
Jujur adalah kunci ☺️
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1