
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Mas, udah datang ?" tanya Iis sambil tersenyum manis.
"Udah," ujar Juan sambil duduk di sebelah Iis kemudian mengambil tangan Iis lalu mengusap-usap tangan Iis dipahanya.
"Hai, Juan. Apa kabar ?" tanya Radi basa basi sambil tersenyum pada Juan yang hanya dijawab tatapan tajam Juan.
"Baik, udah selesai gangguin pacar orangnya ?" tanya Juan sinis sambil menatap Radi tajam.
"Mas..."
Radi tersenyum menatap Juan, Radi tidak menyangka Juan lebih galak dan sangar dari Adipati. Juan benar-benar menunjukkan siapa yang berkuasa disana.
"Gue ngak ganggu siapa-siapa, gue cuman mau Iis bantuin gue buat ngobrol sama Taca," ujar Radi.
"Ayang, kekamar mandi kamu..."
"Hah... ngapain ?" tanya Iis bingung saat diminta untuk kekamar mandi oleh Juan.
"Sana kekamar mandi, sekarang..."
"Buat ap.."
Juan langsung menatap Iis tajam, membuat Iis terdiam, Iis langsung tau Juan cemburu. "Oke, aku kekamar mandi dulu yah."
Setelah Iis pergi meningalkan meja, Juan benar-benar menatap Radi dengan tatapan membunuh.
"Juan, gue ngak punya maksud apa-apa sama Iis," Radi tau Juan orang yang berbahaya, macam-macam sama keluarga Wijaya sama aja dengan cari mati.
Juan terus menatap Radi seperti bersiap akan memakannya, "Bisa ngak sih lo jangan deketin pacar orang, dulu Taca sekarang pacar gue. Ngak laku atau gimana ?" tanya Juan kesal sambil menyilangkan tangannya kedadanya.
"Gue ngak ada maksud ganggu Iis, gue cuman minta tolong," Radi menjawab pertanyaan Juan setenang mungkin, padahal hatinya udah ketar ketir.
Juan tersenyum mengejek, "Oke, bakal gue bilang ama Adipati buat izinin lo ketemu Taca. Tapi, awas kalau gue sampai liat lo megang, liat, bahkan berpikir tentang Iis, gue ancurin hidup lo sama keluarga lo. Gue bikin usaha lo hancur, ngerti lo Mr. Hasta," ultimatum Juan sambil menatap Radi dengan tatapan 'Gue ngak main-main'.
"Oke, Bro... gue ngak ada masalah sama Iis. We just friends..." ujar Radi sambil mengangkat kedua tangannya di dadanya menandakan Radi menyerah.
Brakkk....
Juan menendang bawah meja dengan kakinya sambil terus menatap Radi dengan tatapan membunuh. Tendangan Juan membuat beberapa orang memandang Juan dan Radi, sedangkan Radi kaget melihat air muka Juan.
"Sekarang mending lo pergi, sebelum gue telepon seseorang untuk bikin usaha baru bokap lo di Indonesia ambruk...!!!" usir Juan sambil melemparkan handphonenya didepan Radi, menunjukkan nomer telepon seseorang yang mampu mengporak-porandakan usaha Ayahnya.
"Oke fine, gue pergi..." ujar Radi sambil beranjak dari kursinya kemudian pergi meningalkan Juan yang masih menatap tajam Radi, memastikan Radi benar-benar meninggalkan restauran tersebut.
"Dasar ngak punya otak...!" dengus Juan kesal sambil mengambil handphonenya lagi.
Tak berapa lama Iis kembali dari kamar mandi dan hanya melihat Juan disana.
"Mas, Radi dimana ?" tanya Iis sambil menatap Juan bingung. Pergi kemana Radi,
__ADS_1
Juan langsung menatap Iis, Juan tersenyum melihat Iis yang tampak sangat menarik dan manis dengan make up simple namun terlihat profesional.
"Kamu mau kemana, Yang. Cantik amat," ujar Juan sambil mencium tangan kanan Iis.
"Ehhh.. masa aku cantik, Mas. Beneran ?" tanya Iis sambil tersenyum malu, jarang-jarang Juan memujinya seperti ini.
"Iya, kamu cantik. Mau kemana sih pacar aku ini ?" tanya Juan sambil menjawil hidung Iis.
"Eh... aku mau ke acara seminar Ibu dan Anak," ujar Iis malu-malu.
"Kapan ?"
"Nanti jam 3, kenapa ?" tanya Iis penasaran.
"Ngak papa, aku anter yah. Aku udah ngak ada kerjaan juga. Aku anter, yah..."
"Boleh, tapi nanti bakal banyak Ibu-Ibu sama anak kecil. Kamu ngak papa ?" tanya Iis.
"Ngak papa."
"Oke..."
•••
Sesampainya ketempat seminar, sudah banyak orang yang datang walaupun seminar masih diadakan sekitar 1 jam lagi. Tapi, anak-anak dan ibu-ibu sudah bersiap di sana.
Seminar yang diadakan oleh salah satu TK Internasional di Indonesia yang sudah memiliki banyak cabang di Indonesia.
"Bu Lizbet, udah datang ?" ujar Bu Anis saat melihat Iis dan Juan datang bersama-sama.
"Ah, Bu Anis. Kepagian yah ?" ujar Iis sambil tersenyum.
"Ah..." Iis langsung memijat dahinya, bisa ribet kalau operator laptopnya ngak ada.
"Kenapa Yang ?" tanya Juan sambil melihat Iis.
"Operator laptopnya ngak ada, terus mereka ngak punya penggantinya," ujar Iis bingung.
"Oh, ya udah aku aja, cuman mindah-midahin slide doang kan ?" tanya Juan sambil mengambil tas laptop dari tangan Iis.
"Iya..."
"Ya udah aku aj..."
Brukkk...
Juan merasakan ada yang menabrak kakinya, Juan langsung melihat seorang anak laki-laki menabrak Juan.
"Sakit..." ujar anak tersebut karena menabrak kaki Juan hingga terduduk.
Juan kemudian berjongkok dan membantu anak tersebut berdiri, "Sakit, nak ?".
"Iya, maaf yah Uncle, tadi aku ngak liat. Jadi tabrak kaki Uncle," ujar anak lelaki itu sambil tersenyum.
"Mama kamu mana ?"
__ADS_1
"Mama aku disana," ujar anak itu sambil menujuk seorang ibu-ibu muda yang sedang berbincang dengan orang lain.
Juan menggendong anak itu kemudian membersihkan lutut anak tersebut pelan, "Nanti kalau jalan hati-hati, yah. Jangan lari-lari."
"Iya, Uncle, Lucas janji," ujar Lukas sambil memeluk Juan tiba-tiba.
Deg...
Jantung Juan berdetak keras saat lukas memeluknya, hanya pelukkan singkat seorang anak kecil membuat jantung Juan berdetak keras. Hatinya sakit, sakit karena dia tau dia tidak mampu memiliki anak seperti Lukas, atau anak seperti apapun didunia ini.
Iis mendekat pada Juan, "Hai, Namanya Lukas yah, nama aku Aunty Lizbet, ini Uncle Juan," ujar Iis sambil menyalami tangan kecil Lukas.
"Tadi, Lukas jatuh ?" tanya Iis sambil merangkul pinggang Juan.
"Iya, Aunty. Tadi Lukas jatuh tapi Lukas ngak angis, tadi Lukas ari-ari terus tabrak kaki Uncle," ujar Lukas sambil menatap Iis dengan tatapan jenakanya.
"Ngak papa, keren yah kamu ngak nangis walau sakit," ujar Juan sambil mengelus lembut rambut Lukas.
"Iya dong, Uncle. Kata mama anak laki-laki ngak boleh angis," ujar Lukas sambil menunjukkan gigi-giginya.
"Arghh Lukas keren," ujar Iis sambil mencubit pipi Lukas.
"Loh, Bu Lizbet udah punya anak ? Kapan nikahnya kok udah gede lagi anaknya ?" tanya Bu Anna yang baru datang dan bertemu dengan Iis.
"Eh... bukan, ini bukan anak saya. Ini tadi Lukas nabrak pacar saya," ujar Iis sambil tersenyum pada Bu Anna.
"Lah, ini Lukas anak kelas RS-1. Lukas sini sama Aunty yuk, kita ke Mama," ujar Bu Anna yang baru sadar anak tersebut adalah salah satu muridnya.
"Saya sangka anak, Bu Lizbet sama suaminya," tawa renyah terdengar dari mulut Bu Anna.
"Bukan, Bu..." ujar Iis sambil menyelipkan rambutnya kekupingnya.
"Hahaha... tapi udah cocok lah, pacar Bu Lizbet juga kayanya bakal jadi Ayah yang baik," ujar Bu Anna sambil tersenyum tulus pada Juan dan Iis, "Bu Lizbet saya duluan, yah."
Juan hanya bisa menelan salivanya mendengar perkataan Bu Anna. Ada rasa sakit dihatinya.
"Oh iyah..."
Sepeningalnya Bu Anna, Iis menatap Juan dengan tatapan puppy eyesnya. "Uncle, aku juga mau di elus..." ujar Iis berbicara dengan gaya anak kecil
Juan menatap Iis sambil menahan tawanya kemudian mengacak rambut Iis lembut, "Kalau, yang gini jangankan dielus. Minta diurus, dan dirawat bahkan dinikahin juga aku siap," ujar Juan sambil mencubit pipi Iis gemas.
"Oke,Uncle aku mau," ujar Iis sambil mengacungkan kedua jempolnya kehadapan Juan.
Juan hanya bisa tertawa melihat kelakuan Iis, andai tidak ada orang mungkin Juan sudah mencium Iis habis-habisan.
•••
Elus aku mas... kaka gallon siap hahaha
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon