Water Teapot

Water Teapot
Ngambek ala bapak-bapak


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sudah 2 jam Gio menasehati Adipati diruang kerja Adipati. Sayup-sayup terdengar suara Adipati atau Gio dari ruangan tersebut. Taca, Iis dan Juan duduk di meja makan.


"Taca, enak banget kamu punya mertua kaya Om Gio. Mertua idaman berdoa aku, punya mertua kaya gitu," ujar Iis.


"Yang, mama sama papa aku baik kok, yakin aku mereka bakal sayang banget sama kamu, ngak mungkin deh kamu di sia-sia in, Yang. Yakin aku," kata Juan tiba-tiba sambil menggenggam tangan Iis.


Iis langsung mendelik pada Juan, kepalanga nyaris pecah mendapatkan perhatian dari Juan ini. Ada rasa gemas pada kelakuan Juan, tapi entah mengapa Iis tidak bisa membenci kelakuan Juan sama sekali.


"Iya, kalau nikah sama kamu, kalau nikah sama yang lain gimana ?" tanya Iis sambil menjulurkan lidahnya kearah Juan.


"Oh tidak bisa, kamu tuh nikahnya sama aku. Udah suratan takdir, ngak bisa diubah pokoknya. Juan dan Iis selalu bersama pokoknya."


Bruppp...


"Ohokkk ohokkk ohokkk," Taca yang sedang minum air putih langsung keselek mendengarkan gombalan Juan yang sangat receh. Gombalan khas bapak-bapak.


"Gombalan bapak-bapak kaya gitu yah ?" ledek Taca sambil mengelap air yang menetes dari mulutnya.


"Umur kamu berapa sih Ju ?" tanya Iis tiba-tiba.


"38 tahun, Yang."


"Hah... terus kenapa kamu belum nikah sampai sekarang ? Kamu belok ?" tanya Iis sambil menyentuh pipi Juan dengan tangan kanannya.


"Ehh enak aja. Aku lurus, Yang. Aku kan nungguin bidadari jatuh dari surga. Nah, bidadarinya baru jatuh sekarang, namanya Iis."


Taca dan Iis saling tatap, kemudian tertawa keras sampai perut mereka sakit.


"Astaga, gombalan bapak-bapak beda yah," ledek Taca lagi sambil memeganggi perutnya.


Juan langsung mengembikkan bibirnya saat melihat Taca dan Iis tertawa terbahak-bahak.


"Iis, Juan ngambek tuh," ujar Taca sambil beranjak dari kursinya kemudian berjalan ke arah Adipati yang sudah keluar dari ruang kerjanya.


"Kamu marah ?" tanya Iis pada Juan.


"Hmm..." jawab Juan pendek sambil melipat kedua tangannya.


Iis langsung tersenyum gemas pada Juan yang marah mendengarkan ledekkan Taca.


•••


"Taca nanti kalau Adipati mulai ngak jelas lagi, kamu langsung hubungi , Papa," ujar Gio sambil mengusap rambut Taca dengan lembut.


"Iya Pa, nanti kalau Adipati aneh-aneh lagi Taca langsung hubungin Papa," ujar Taca sambil tersenyum manis pada Gio.


"Di, ingat pesan Papa yah. Jangan aneh-aneh pokoknya. Jantung Papa bisa copot kalau kamu bikin aneh-aneh sama Taca," Gio memperingatkan Adipati.


Adipati hanya diam sambil menatap kearah lain, masih ada perasaan kesal didadanya. Dia kesal dengan beberapa ucapan Gio, apalagi ucapan Gio mengenai Taca.

__ADS_1


"Adipati."


"Iya Pa. Aku capek aku mau tidur di kamar," ucap Adipati sambil pergi meningalkan Taca dan Gio didepan pintu keluar apartemen.


Taca dan Gio hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Adipati.


"Taca, sabar yah. Adipati sebenernya kolokan, keliatannya aja dingin, padahal manjanya minta ampun. Sabar yah Taca, titip Adipati," ujar Gio sambil pergi meningalkan Taca.


"Iya, Papa. Hati-hati dijalan, Pah."


Saat Taca berbalik dia dikagetkan dengan Juan dan Iis yang sudah bersiap untuk pulang.


"Juan, Iis mau pulang ?" tanya Taca.


"Yah.. duluan," jawab Juan dingin sambil menarik tangan Iis.


"Ta, pulang dulu yah. Ini Bapak-bapak ngambek ribet urusannya," bisik Iis sambil mengedipkan matanya.


"Oh, oke."


•••


"Kamu masih marah, Ju ?" tanya Iis saat mereka sudah sampai di mobil Juan. Juan bersikeras mengantar Iis pulang.


"Ngak."


Iis hanya menghela napas, marah bapak-bapak kaya gini yah. Ribet...!!


"Ya udah aku minta maaf kalau aku sama Taca salah," ujar Iis lagi.


'Astagaaaaaaa makjan marah bapak-bapak kaya anak Tk, yah' batin Iis kesal.


Iis mulai memutar otak gimana caranya bikin bapak-bapak satu ini ngak marah lagi. Ada satu caranya, tapi, apa Iis yakin dengan perasaannya. Iis langsung menatap lelaki bangsul disebelahnya. Moga feelingnya benar.


"Ju, ini kaca gelap kan mobil ?" tanya Iis sambil melihat kekanan dan kekiri.


"Gelap."


Rasanya Iis ingin menendang tulang kering Juan yang irit ngomong. Iis hanya bisa diam, bersabar. Sepanjang perjalanan pun mereka diam.


"Udah sampai," ujar Juan singkat sambil membukakan safety belt Iis.


Saat membukakan safety belt Iis, wajah Juan dan Iis saling berhadapan.


"Sekarang atau ngak sama sekali," batin Iis.


Iis langsung memegang kedua pipi Juan dengan kedua tangannya, kemudian mengecup bibir Juan sekejap.


Juan yang kaget mendapatkan kecupan singkat dari Iis langsung mengedipkan matanya.


"Kamu..."


"Udah, jangan marah ah, bapak-bapak jelek kalau marah-matah tau."


"Kamu tadi..."

__ADS_1


Muka Iis langsung berubah merah, seumur hidup Iis tidak pernah mengecup laki-laki duluan.


"Denger, mau kamu umurnya 38 atau 50 tahun pun, kamu tuh pacar aku. Jangan marah lagi yah, please. Aku bisa migrain kalau liat kamu marah-marah mulu," ujar Iis sambil mengecup kembali bibir Juan.


Juan yang saat ini tidak mau kecolongan lagi, langsung menekan bibirnya lebih lama dengan bibir Iis, memiringkan wajahnya, kemudian meminta Iis membuka mulutnya lebih lebar agar Juan bisa menjelajah bibir Iis dengan lebih leluasa lagi.


Iis yang baru pertama kali dicium seliar itu, benar-benar kewalahan menghadapi ciuman Juan, akhirnya Iis pasrah dan mengikuti semua permainan Juan. Tangan Juan sudah menelusup masuk kebalik blouse milik Iis mengusap punggung Iis.


Tok tok tok...


Mendengar suara ketukan diluar mobil, otomatis membuat Iis mendorong Juan. Juan yang kesal acara bermesraan dengan Iis, terganggu langsung membuka kaca mobilnya.


"Iyah..."


"Maaf Pak, maju kedepan Pak. Bapak menghambat lalu lintas, Pak."


"Oh oke, maaf yah."


Juan langsung menutup kaca mobilnya kemudian mencari parkiran, setelah dapat parkiran. Juan langsung menatap Iis sambil tersenyum.


"Sampai dimana tadi, Yang ?" ujarnya sambil mendekati Juan.


Iis langsung mundur mendekati pintu mobil, "sampai disini aja yah, Yang. Aku masih perawan," jawab Iis cepat sambil mengambil Tasnya dan menjadikan penghalang antar Juan dan Iis.


Mendengar perkataan Iis, mata Juan berbinar-binar.


"Jadi kita pacaran, Yang."


"Iyah dengan syarat kamu harus puasa sampai kita nikah. Aku ngak mau dibunuh Papa aku," cicit Iis sambil menatap Juan.


"Kan Papa kamu ngak bakal tau," rayu Juan.


"Ihhh ngak mau, pokoknya syarat aku itu. Kamu puasa sampai kita nikah dan kamu harus setia."


Juan langsung tersenyum menatap Iis yang masih menyender pada pintu mobil, memberikan jarak antara dia dan Iis.


"Ok Yang, aku terima. Sekarang kita pacaran, yah. Sini aku mau peluk," ujar Juan sambil menarik Iis kepelukannya.


•••


Bapak Juan udah reda marahnya, tinggal Bapak Adipati nih... hihihihiii...


Cerita cinta Juan sama Iis selesai sampai sini yah. Nanti dilanjut lagi di karya aku lainnya yah. Karena masih ada masa lalu kelam Juan sama Iis. Hehehee...


sabar yah ceritanya lebih absurd pokoknya. Kebarbaran Iis bakal menyebabkan banyak masalah. Heheheee...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2