Water Teapot

Water Teapot
S2: Kalau gagal?


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik.


•••


"Dokter kami mau melakukan prosedur itu semuanya,"'ujar Iis pada Dokter Tanto.


"Semuanya?"


"Iyah semuanya, Operasi suami saya, inseminasi buatan, bayi tabung. Semuanya..!?" Iis sudah tidak peduli lagi dengan biaya, sudahlah kita coba semuanya. Kasarnya biar capek, sakit dan frustasi sekalian kalau gagal.


Dokter Tanto hanya bisa tersenyum, sepertinya pasangan didepannya sudah sangat-sangat frustasi dengan semuanya.


"Oke, bisa. Saya akan jadwalkan semuanya. Bapak dan Ibu nanti bisa datang sesuai jadwal yang ada," ujar Dokter Tanto.


"Jadi nanti Dokter kabarin saya sama istri saya?" tanya Juan bersemangat.


"Iya, tapi ingat Pak, ini semua hanya usaha kita, untuk hasilnya kita harus kembalikan pada yang maha kuasa. Kita tidak bisa memaksa," Lagi, Dokter Tanto memperingatkan Juan dan Iis. Jangan salah, Dokter Tanto sudah sering melihat pasangan suami istri yang menggebu-gebu di awal dan saat mengetahui hasilnya mereka langsung down. Perceraian? Wah jangan salah, berkali-kali Dokter Tanto menjadi saksi perceraian yang terjadi pada pasien-pasiennya.


Dan entah kenapa Dokter Tanto merasa pasangan dihadapannya ini juga akan mengalami hal tersebut. Suaminya yang menggebu dan istrinya yang seakan pasrah dan tidak peduli.


"Dokter, kami pasrah. Kalau di kasih syukur, kalau tidak juga kami nerima," ujar Iis sambil tersenyum.


"Kalau nggak dikasih, jangan sampai bertengkar yah," nasihat Dokter Tante sambil tersenyum.


"Kami nggak bakal bertengkar, Dok. Kami udah kenyang bertengkar," ujar Iis sambil melirik Juan yang entah kenapa masih memberikan perhatian penuh pada Dokter Tanto.


"Oke, nggak usah saya jadwal-jadwalin kalau gitu. Lusa, kalian balik lagi kesini. Biar kita lakuin operasi Pak Juan, besok masuk kamar rawat yah," ujar Dokter Tanto sambil mengedipkan matanya.


"Oke," jawab Juan antusias.


•••


Keesokkan harinya Juan, Iis, Mamih dan Papih sudah datang ke rumah sakit untuk menjenguk Juan.


"Juan, kamu yakin mau operasi?" tanya Mamih yang terus menatap Juan.


"Iya Mih, Juan mau usaha. Juan mau sehat," ujar Juan sambil berbalik menatap Mamihnya yang dari tadi melihatnya dengan tatapan was-was.


"Aduh, Mamih takut ada apa-apa. Gimana kalau salah operasi dan malah jadi operasi ganti kelamin," cerocos Mamih sambil menepuk pahanya.


"Mamih, jauh banget khayalannya," sergah Iis sambil menahan tawanya. Ucapan Mamih kadang-kadang membuat Iis tidak habis pikir. Kadang imajinasi Mamih ketinggian.


"Kan bisa jadi, kalau kepotong semuanya gimana? Terus berubah jadi operasi ganti kelamin, aduh celaka yang ada. Bisa-bisa anak Mamih ganti nama dari Juan ke Yuanita," ujar Mamih sambil memijat-mijat keningnya.


"Lah, bukannya malah seneng yah? Akhirnya kita punya anak perempuan," ujar Papih sambil menjentikkan jarinya senang. Cita-citanya punya anak perempuan akhirny terlaksana juga.


"Yah, nggak pake cara itu juga kali, Pih," ujar Mamih sambil memukul bahu Papih kesal.

__ADS_1


"Papih nih, dari dulu yah, Yang. Pingin banget anaknya perempuan, dulu aku inget banget, aku dibeliin sepeda warnanya pink. Astaga ampe si Dimas ngetawain aku dong. Pas aku protes alesannya apa coba..."


"Apa?" tanya Iis sambil mengulum senyumnya, tidak bisa dibayangkan melihat Juan menggunakan sepeda berwarna pink.


"Katanya warna pink cocok sama personality aku dan biar imut katanya. Astaga aku lempar itu sepeda langsung, bahkan aku kasih itu sepeda ke Sarah," ujar Juan sambil menatap Papih.


Papih hanya bisa terkekeh mendengarkan perkataan Juan, iya dulu dia pernah memberikan sepeda berwarna pink yang didepannya ada keranjang dengan corak bunga hibiscus. "Tapi, kan bagus, Juan. Papih tuh suka kalau kamu pake yang girly-girly gitu."


"Tapi, Juan laki-laki Pih, astaga..." protes Juan kesal.


Iis hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah suaminya. Umur suaminya sudah 39 tahun, tapi didepan orang tuanya sepertinya umur Juan berubah menjadi 9 tahun. Anak akan selalu menjadi anak saat bertemu dengan orang tuanya, berapapun usianya.


"Aduh, ini malah ngomongin masa lalu. Ini gimana kalau Juan salah potong? Aduh Mamih masih was-was ini," ujar Mamih sambil mengusap-ngudap keningnya.


"Nggak bakalan, Mih. Percaya sama aku, Dokter Tanto sudah terjamin kualitasnya," ujar Iis meyakinkan Mamih.


"Aduh, Iis nanti kalau kepotong semuanya, kamu ikhlaskan kalau Juan berubah?" tanya Mamih.


Iis sebenarnya ingin tertawa super keras. Tapi, melihat kesungguhan Mamih dalam memberikan pertanyaan yang ada, membuat dirinya langsung memberikan wajah seserius mungkin. "Iis, bakal selalu ada sama Juan, apapun yang terjadi, Mih," ujar Iis sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin.


Mamih yang mendengar jawaban Iis langsung merasa lega. Mamih memang sedikit parnoan, apalagi menyangkut kesehatan Juan. Anak kesayangannya, yah... pasti kesayangan, lah wong anaknya cuman Juan doang.


•••


"Yang sini," pinta Juan pada Iis sambi menepuk kasur.


"Kemana? Itu kasur cuman buat seorang Mas, sempit ah, aku tidur disana aja," ujar Iis sambil menunjuk sofa bed dihadapannya.


"Mas, badan kamu tuh gede, nggak muat aku ah," protes Iis, badan Iis kecil, tapi nggak mungkin juga muat kesana.


"Ayolah Yang, sini," rengek Juan lagi.


Iis akhirnya pasrah dan mencoba berbaring disamping Juan dengan penuh perjuangan, akhirnya Iis bisa tidur dengan posisi yang lumayan nyaman disamping Juan.


"Yang, besok aku operasi doain aku berhasil yah," ujar Juan sambil menciumi pucuk rambut Iis.


Iis langsung mengangkat tangannya melakukan posisi berdoa dan mulai berdoa, "Tuhan, tolong kalau suami saya ini akan menjadi seorang suami yang baik, panjangankan lah umurnya dan selamatkan lah dia dari operasinya, buat semoga dia sehat dan kembali menjalankan aktifitasnya dengan lancar...."


"Aamiin," jawab Juan sambil mengeratkan pelukkannya dengan lebih erat lagi.


"Tapi, kalau dia bukan suami yang baik. Percepat saja segalanya, percepat umurnya, percepat...."


"Woi... woi... woi... bibir, bibir," ujar Juan kesal sambil menepuk-nepuk paha Iis kesal.


"Hahahaa...." Iis tertawa keras.


"Kamu tuh, bibir yah, minta aku gigit," ujar Juan kesal.


"Eh, tapi kenyataan tau. Kalau kamu macem-macem aku mau doa kenceng-kenceng biar kamu dipercepat aja," canda Iis.

__ADS_1


"He...He... enak aja, nggak ada yah," ujar Juan.


"Nggak ada apaan? Nggak ada yang salah?" tanya Iis sambil membalikkan badannya memposisikan dirinya menjadi ada di bawah badan Juan. Juan sudah memenjarakan Iis dibawah tubuhnya.


"Yang, can I call you my everthing, call you my only girl, You're the only one who runs my world, Yang," ujar Juan sambil menatap Iis.


(Yang, bisa kan aku bilang kamu semunya buat aku, nyebut kamu satu-satunya gadisku. Dan kamu satu-satunya orang yang menjalankan duniaku)


Iis tersipu dan tersenyum mendengar perkataan Juan, tapi entah kenapa Iis ingat perkataan Juan dari sesuatu.


"Bentar, kamu teh lagi nyanyi? Itu mah lirik lagu ih... gombal kok pake lirik lagu," ledek Iis sambil tertawa pelan.


Juan langsung salah tingkah saat Iis mengetahui kalau gombalannya dari lagu call you mine-Jeff Bernat. Lagu yang Iis suka akhir-akhir ini.


"Iya, lagu buat kamu," elak Juan sambil mendekatkan mukanya ke muka Iis.


Iis tersenyum sambil menyentuh bibir Juan, "Suara kamu jelek, kaya bebek. Mending denger suara penyanyi aslinya aja," ujar Iis sambil menekan tombol play di handphonennya dan langsung mengalun lagu You Mine-Jeff Bernat.


"Aku lebih hebat bikin kamu teriak dibawah badan aku, dari pada nyanyi, Yang," ujar Juan sambil mengecup bibir Iis pelan.


"I need Proof (aku butuh bukti)" bisik Iis sambil mengalungkan tangannya ke leher Juan.


Juan tersenyum Smirk sambil menciumi ceruk leher Iis dengan pelan, lembut dan sensual. Ciuman yang selalu menjadi pembuka untuk dirinya memuaskan dirinya sendiri dan memuaskan Iis. Pembuka untuk melakukan sesuatu yang membuat mereka melayang ke langit ke tujuh. Menikmati, sesuatu yang hanya mereka tau....


call you my own, and can I call you my lover


Call you my one and only girl


(Can I) call you my everything, call you my baby


You're the only one who runs my world


(Can I) call you my own, and can I call you my lover


Call you my one and only girl


(Can I) call you my everything, call you my baby


You're the only one who runs my world


-You Mine: Jeff Bernat-


•••


Untuk prosedur dan tek tek bengek semuanya jujur Kaka Gallon nggak tau. Jadi, mohon maaf kalau ada yang salah. Tolong di mengerti, Maaf yah....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon

__ADS_1


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️ Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2