Water Teapot

Water Teapot
S2: Anak tetangga...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sesampainya di restoran, Juan dan Iis tertawa terbahak-bahak saat melihat Adipati, Taca, Kama dan Kalilah menggunakan baju yang sama baik bentuk dan coraknya. Semuanya menggunakan kemeja bercorak Doraemon.


Oke kalau Taca, Kama dan Kalila yang menggunakannya pasti terlihat lucu dan imut. Tapi, seorang Adipati menggunakan kemeja bergambar Doraemon, oke memang Adipati menjadikan kemeja itu luaran, kancing kemejanya dibuka seluruhnya dan bagian dalamnya menggunakan kaos berwarna hitam. Tapi, ayolah muka gahar baju Doraemon!? Sepertinya semesta sedang ingin mempermalukan seorang Adipati Berutti.


“Don’t ask, don’t look, don’t think and don’t remember..!?” Adipati memeringatkan pada Juan yang sudah duduk disampingnya sambil menarik-narik kemeja Adipati.


(Jangan tanya, jangan liat, jangan berpikir dan jangan mengingatnya)


“Suer, Bro. Lo lebih keliatan berwibawanya, ntar kekantor pake kemeja ini bagus, Bro,” ujar Juan sambil menahan tawanya.


“Jangan ngide...”


“Wah, bener juga. Di, besok kamu ke kantor pake kemeja ini yah, bagus kayanya. Lebih berwarna, jadi biru-biru gitu, Di,” ujar Taca sambil tersenyum manis pada Adipati.


“Amore....”


“Please, Di. Ini yang maunya bayinya loh, bukan aku,” ujar Taca sambil mengerling nakal pada Adipati.


Adipati hanya bisa menghela napas dan menggangukkan kepalanya. Sepertinya, ngidam Taca saat ini makin aneh. Adipati benar-benar harus sabar.


“Di, lo beneran bakal pake....”


“Harus lah, Juan. Nanti aku telepon yah, Di. Nanti kita video call, oke,” Taca tersenyum manis pada Adipati.


“Oke,” ujar Adipati pasrah.


Juan hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan kanannya, menyembunyikan mulutnya yang tertawa tanpa suara.


“Mas,” ujar Iis sambil membulatkan matanya, meminta Juan lebih behave (menjaga prilakunya).


“Sorry, Yang,” ujar Juan.


Akhirnya mereka makan dengan tenang dan damai, walau selama makan, beberapa orang berkali-kali menahan tawanya melihat pakaian Adipati yang sangat-sangat absurd. Muka Adipati ditekuk delapan. Berbanding terbalik dengan Taca yang terus tersenyum sambil menyuapi Kalila.


Iis yang membantu Taca menyuapi Kama hanya bisa menahan tawanya melihat kelakuan pasangan suami istri somplak didepannya.


“Iis, tadi kalian jadi kedokter?” tanya Taca setelah selesai makan.


Adipati dan Juan saat ini sedang pamit undur diri untuk duduk dimeja lainnya karena ingin membahas masalah perusahaan.


“Iya, tadi aku bantuin Mas Juan buat diperiksa,” ujar Iis polos.


“Ah, terus hasilnya kapan?” tanya Taca.


“Mungkin tiga hari lagi,” jawab Iis sambil menepuk-nepuk punggung Kama.

__ADS_1


“Aku doain yang terbaik yah, Iis,” ujar Taca sambil tersenyum.


“Aamiin, doain aja yang terbaik buat aku sama Mas. Tapi, apapun hasilnya aku tetep bakal disamping, Mas,” ujar Iis sambil mendudukkan Kama di sampingnya.


“Kamu kenapa, Ta?” tanya Iis heran melihat wajah Taca yang tadinya ceria berubah sendu.


“Aku tuh, sebenernya ngidam yang rada nakal sama Adipati. Tapi, aku nggak bisa lakuin gara-gara ada Kama dan Kalila,” ujar Taca sambil mencium kening Kalila.


Kalila yang memiliki mata biru seperti Adipati namun memiliki rambut yang rada coklat seperti Gio, bener-benar tempak lucu dan cantik. Sedangkan, Kama yang memiliki bola mata Taca dan rambut Adipati tampak lucu berguling-guling didekat Taca. Mereka kembar, tapi tidak identik.


“Nakal? Mau ngapain?” Iis menatap Taca. Taca dengan malu-malu kucing mendekati Iis dan berbisik dikuping Iis akan ngidamnya yang memang sangat nakal.


“What!? Kamu teh nggak salah minum obat?” tanya Iis kaget.


“Nggak, aku ingin coba aja, tapi ah... aku ribet sama Kama dan Kalila,” ujar Taca sambil menggaruk dahinya.


“Kamu ngidam nggak ada yang waras yah dari dulu,” ujar Iis sambil menepuk keningnya.


“Hehehee... nggak tau pingin aja, ah... tapi udah lah nggak papa,” ujar Taca sambil tersenyum pasrah, biarkan ngidam nakalnya ini hanya menjadi kenangan saja.


Iis merasa kasihan pada Taca, “Ehm... ya udah Kama sama Kalila titip ditempat aku aja sekarang, nanti kamu jemput kalau ngidam aneh kamu selesai, gimana?” saran Iis.


Senyuman langsung merekah di bibir munggil Taca. “Beneran?”


“Iya, jemput mereka besok, nggak papa kok,” ujar Iis sambil mengusap rambut Kama.


Taca langsung menepuk tangannya kemudian beranjak dari duduknya sambil menggendong Kalila dan berjalan ke arah Adipati.


“Di, kita pulang yuk, aku lagi ngidam,” ujar Taca sambil menarik tangan Adipati manja.


“Ngidam apa? Jangan bilang kamu nyuruh aku pake baju badut terus main sulap, aku nggak bisa,” ujar Adipati sambil menggelengkan kepalanya.


Iis tiba-tiba datang sambil menggendendong Kama dan menyerahkan pada Juan. Juan dengan senang hati menggendong Kama. Iis langsung mengambil Kalila dari gendongan Taca.


“Udah sana pergi, besok bawa Kama sama Kalila. Sekalian beli coklatnya yang banyak, bikin lengket dah tuh kasur dikamar,” cecar Iis sambil mengedipkan matanya ke arah Taca.


Taca langsung tersenyum kemudian menarik Adipati, “Amore maksudnya apa? Kama sama Kalila titip Iis? Susunya?”


“Nanti gue beli,” ujar Juan, entah kenapa Juan sangat bersemangat untuk mengurus Kama da Kalila.


Adipati menatap Taca, “Kita mau ngapain sih?” Adipati penasaran.


“Rahasia, sebelumnya kita beli coklat yang banyak, biar manis,” ujar Taca sambil mengedipkan matanya pelan pada Adipati.


“Dadah...” ujar Iis sambil melambaikan tangannya pada Taca dan Adipati yang meninggalkan Kama, Kalila, Juan dan Iis.


“Yang, Kama sama Kalila seharian sama kita?”


“Iya, Mas. Sampai besok. Kasian Taca, ngidam ngelakuin yang aneh-aneh sama Adipati,” ujar Taca sambil memasukkan Kalila ke stroller.


“Aneh-aneh?” tanya Juan bingung sambil memasukkan Kama kedalam stroller.

__ADS_1


“Iya, pokonya mau ngelakuin sesuatu lah,” jawab Iis cepat, dia malas menerangkan apa yang akan dilakukan Taca dan Adipati yang berhubungan dengan kasur dan coklat. Iis tidak mau meberikan ide apapun juga pada Juan.


“Asik, jadi rumah bakal ribut kalau ada Kama sama Kalila,” ujar Juan sambil mendorong strollernya.


“Ah, Yang kita ke tempat mainan dulu yah,” ujar Juan lagi.


“Ngapain?” tanya Iis bingung.


“Beli mainan lah, biar mereka nggak bosen,” ujar Juan.


“Oke, ayo,” Iis mengiyakan keinginan Juan untuk membeli mainan untuk Kama dan Kalila.


•••


Sesampainya dirumah, Iis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat banyaknya mainan yang ada. Juan benar-benar seperti kesetanan, Juan hampir membeli semua mainan yang ada di toko mainan.


Detik ini didepan mata Iis ada dua buah sepeda merk Iimo, dua buah tas dorongan Tayo, ayunan berserta perosotan, boneka hewan dengan berbagai bentuk dan ukuran, mobil-mobilan, buku-buku berwarna, piano berwarna pink dan merah, drum, perlengkapan masak-masakkan lengkap, mainan mobil remote dan yang bikin Iis sampai tidak habis pikir, Juan membeli hampir 50 pasang baju untuk Kama dan Kalila.


“Mas, ini bukan buat main Kama dan Kalila satu hari, tapi buat main Kama dan Kalila seumur hidup, Mas..!?” gerutu Iis kesal sambil menatap Juan.


Juan sama sekali tidak peduli dengan amukkan Iis, Juan malah asik membacakan cerita untuk Kama dan Kalila.


Iis hanya bisa melihatnya sambil tersenyum karena melihat betapa akurnya, Mas Juan dengan Kama dan Kalila.


Juan terus membacakan buku cerita untuk Kama dan Kalila, sampai Kama dan Kalila tertidur nyenyak dan memeluk buku tentang gadis berkerudung merah. Juan tersenyum kemudian mengusap rambut Kama dan Kalila, tidak lupa dikecupnya dahi Kama dan Kalila.


Air mata Iis tiba-tiba jatuh dari matanya saat melihat Juan yang dengan telatennnya menidurkan Kama dan Kalila.


“Yang,” panggil Juan bingung kenapa Iis menangis. “Kamu kenapa?”


Iis hanya bisa memeluk suaminya kemudian menciumi ceruk leher Juan, “Mas, kita berdua yah, selamanya.”


Juan tersenyum sambil memeluk Iis lembut, “Iya, kita berdua aja, kalau sepi kita bisa minjem anak tetangga ‘kan,” canda Juan sambil mencium pipi Iis dan menunjuk Kama dan Kalila yang tertidur pulas di kasur yang Juan gelar diruang tengah apartemen mereka.


Iis tersenyum sambil mengusap rambut Juan, hati Iis pedih, tapi, entah kenapa Iis merasakan rasa bahagia disaat bersamaan.


“Iya... kita pinjem anak tetangga,” ujar Iis sambil memeluk Juan.


•••


Tolong jangan minta adegan Adipati+Taca+coklat+kasur... semaput nanti Kaka Gallon 🤣🤣🤣


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2