
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Saat ini Iis sedang menemani Mamih Liliana berbelanja kebutuhan rumah, kata Mamih mumpung ada waktu, karena Mamih tidak pernah bisa berbelanja kebutuhan rumah tangga. Biasanya Assisten Pribadi dan Assisten rumah tangganya yang mengurus semuanya.
“Akhirnya Mamih bisa belanja lagi,” ujar Mamih Liliana pada Iis.
Iis hanya tersenyum disebelah Mamih sambil mendorong trolly belanjaan yang sudah penuh dengan berbagai macam daging, telur dan buah-buahan.
“Nanti dari sini Mamih mau beli barang-barang buat dibawa ketempat kamu nanti, kaya tas, sepatu, baju...”
“Ngak usah, Mamih. Barang-barang aku masih bagus, jangan,” Iis langsung memotong perkataan Mamih Liliana.
Mamih langsung menatap Iis dengan tatapan kesal. Benar kata Juan, Iis susah untuk dikasih barang apapun. “Udah, Juan ini yang bayar, nih..” Mamih Liliana menunjukkan kartu kredit milik Juan.
“Lah, kok ada di Mamih ?” tanya Iis bingung, seingat Iis semua kartu kredit dan kartu debit Juan sudah Iis kembalikan saat Iis meninggalkan apartemen Juan dulu.
“Juan kasih Mamih, nih pegang sama kamu semuanya, Juan tuh cukup pegang satu kartu debit, dan kamu yang isi uangnya tiap bulan,” ujar Mamih sambil memberikan semua kartunya ke tangan Iis.
“Aku yang tentuin ?” Iis bingung, Juan yang kerja kenapa dia yang tentuin.
“Iya, kamu yang tentuin. Terserah kamu kasih berapa, Juan ngak bakal ngambek kok. Jadi kalau mau beli apa-apa dia bakal ngomong sama kamu,” ujar Mamih Liliana sambil memasukkan tissue dapur.
Iis menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Juan harus dikasih uang berapa ? Mana Iis tau, melihat kehidupan Juan yang gemerlap ngak mungkin Juan cuman dikasih 2 juta/bulan. Kayanya 2 juta buat Juan cuman buat beli camilan doang. Terus harus dikasih berapa !?
“Kenapa, bingung ?” tanya Mamih Liliana yang langsung dijawab anggukan oleh Iis. Mamih langsung membisikkan sejumlah uang ditelinga Iis.
“Segitu ?!” Iis kaget, uang jajan Juan bahkan sebanyak gaji Iis selama 2 tahun.
“Iya, kasih aja segitu. Juan ngak bakal ngambek kok, nanti kalau dia mau beli apa-apa bakal bilang sama kamu, Ok...”
“Ok..” jawab Iis pasrah, sepertinya dia harus benar-benar menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga Juan.
Setelah berjalan-jalan dan membali beberapa barang untuk Iis, terdamparlah Mamih Liliana dan Iis di sebuah rumah makan yang menyajikan makanan western.
Iis hanya bisa meringis melihat daftar menu didepannya, kenapa ngak ada nasi ? Sebagai gadis beas (nasi) Iis benar-benar tersiksa dengan kesukaan makanan keluarga Juan.
“Kamu pesan apa Iis ?” tanya Mamih Liliana.
“Samain aja kaya, Mamih...” jawab Iis sambil menutup buku menunya kemudian mengembalikannya pada waiters.
“Oke...”
Mamih pun memberitahukan makanan yang diinginkannya, mendengar namanya saja Iis sudah pusing. Pulang dari sini Iis bakal makan nasi liwet deh beneran.
“Iis Ayah kamu orangnya kaya apa? Keluarga kamu gimana, oh sama rumah kamu itu di Citekonya, dimananya? Oh Ibu kamu kaya apa? Kamu punya saudara ngak ?” cerocos Mamih Liliana.
Iis hanya bisa mengulum senyum saat mendengar pertanyaan Mamih Liliana yang bertubi-tubi. “Aku jawab yang mana dulu ini ?”
Mamih langsung tersenyum malu, sadar kalau kecerewetannya membuat calon mantunya bingung. “Satu-satu aja, Iis. Yang paling gampang aja dulu gimana kabar Ibu kamu ?”
__ADS_1
Iis tersenyum sedih, Mamih Liliana benar-benar tidak tau cerita hidupnya. Ada rasa dia ingin menyembunyikan cerita kehidupannya. Tapi, Iis yakin bila dia menyembunyikannya itu hanya akan membuat masalah baru.
“Ibu saya udah meninggal, Mih..”
“Eh.. Mamih ngak tau, maaf...”
“Ngak papa Mih, kan udah ada penggantinya,” potong Iis cepat, Iis tidak mau dikasihani hanya gara-gara menjadi seorang piatu.
“Siapa ?”
“Mamih...” jawab Iis cepat sambil memberikan senyuman terbaikknya pada Mamih Liliana. “Mamih mau kan jadi Ibu aku?”
Mamih Liliana menyimpan gelasnya dimeja, wanita didepannya ini benar-benar mampu merebut hatinya tanpa Mamih sadari. “Mau, Iis mau... Mamih mau jadi Mamih kamu, tapi syaratnya kamu jaga Juan yah..!”
“I promise..”
Pembicaraan mereka terjeda sebentar saat seorang waiters meletakkan piring-piringnya di meja makan. Iis hanya bisa menatap sedih piring dihadapannya, ‘duh gusti, abdi hoyong sangu’ (ya tuhan, aku mau nasi).
“Iis..”
Panggilan Mamih menyadarkan Iis dari lamunannya yang sangat menginginkan nasi. “Iya Mih..”
“Terus sekang Ayah kamu gimana ?”
Iis menghela napasnya pelan, inilah saatnya, Oos harus menceritakan semuanya. “Mih sebenarnya....”
Iis menceritakan semua masalahnya, Iis sama sekali tidak menutupi apapun juga. Tidak ada yang Iis tutupi sama sekali. Iis menceritakan segalanya, mulai dari kelauan Ayah, Bunda, Bernard. Semua hutang-hutang milik Bunda dan Ayahnya.
Mamih terdiam mendengarkan penjelasan Iis, Mamih benar-benar tau kapan menjadi seorang pendengar yang baik dan ini adalah saatnya.
Mamih kaget dengan perkataan Iis, “Mana mungkin Mamih nolak kamu Iis, Juan sudah jatuh sejatuh jatuhnya sama kamu. Cuman kamu yang bisa rawat Juan.”
“Juan bisa merawat dirinya sendiri sebelum ada aku...”
“Mamih nerima kamu, Mamih ngak peduli itu semua. Yang terpenting sekarang, Mamih udah setuju sama kamu. Terima kasih kamu udah jujur sama Mamih, jadi nanti Mamih bisa ancang-ancang kalau ketemu sama Kokom.”
“Iya, nanti Papih sama Mamih kalau ketemu Kokom biarin aja, jangan didenger. Kalau dia minta apapun JANGAN DIKASIH...!” Iis menekankan kata jangan dikasih sejelas-jelasnya pada Mamih.
Anggukkan Mamih menandakan Mamih akan melakukan semua yang Iis minta. Mamih akan benar-benar menjauhi manusia purba bernama Kokom.
•••
Sesampainya di apartemen dia kaget melihat rombongan tagonian, siapa lagi kalau bukan Abah, Taca, Kama dan Kalila beserta 2 baby sitter yang selalu bersama Taca kemanapun juga.
“Abah... Iis kangen,” ujar Iis sambil mencium tangan Abah.
“Hadeuh, Iis... katanya kamu mau ke Citeko ?” tanya Abah bersemangat.
“Iya Abah, Iis sama Juan mau ketemu Ayah, Juan mau melamar Iis secara resmi,” ujar Iis sambil duduk disebelah Taca yang sedang asik memakan cheese cake.
“Cheese cakenya enak, buatan kamu emang paling enak, Iis,” ujar Taca sambil mengigit sendoknya.
“Dasar gembul,” ujar Iis sambil mencubit pipi sahabat rasa sodaranya ini.
__ADS_1
“Iis, Abah doain lancar yah. Abah ngak bisa kesana, Abah masih ngurus si Riki, dia lagi nitih karir sama sahabatnya yang baru pulang dari Abu Dhabi..”
“Edy Edros ?” tanya Iis sambil menahan tawanya kemudian melihat Taca yang juga menahan tawanya.
“Iyah si Edros, dia sama Riki katanya mau buka restoran katanya. Kan si Edros bisa masak. Jadi mau joinnan.” ujar Abah
“Wah, Riki mau buka restoran ? Keren... eh terus sawah sama kebon di Citeko siapa yang urus ?” tanya Iis bingung. Abah tidak kaya, tapi sawah dan kebunnya lumaya menyerap tenaga kerja di Citeko.
“Kang Rozak sama Abah yang urus, Iis. Jadi, nanti pemasok beras buat restorannya Aa Riki yah Abah,” Taca menerangkan pada Iis.
“Modalnya juga dari Adipati, Mahar Taca yang Avanza dijual semuanya dijadiin modal buat usaha Aa Riki,” ujar Abah.
“Oh... ya udah ngak papa, biar aku sama Juan aja yang kesana. Ngak baka ada apa-apa juga,” ujar Iis sambil tersenyum, walau rasanya aneh pulang ke Citeko tidak ada Abah.
“Tapi..Iis kamu udah denger rumor dari Bunda ?” tanya Abah pelan.
“Apa ? Soal hutang dia yang berubah jadi 1,7 milyar ?” tanya Iis dingin, dia sudah ingin cepat-cepat menyelesaikan hutang Bunda. Rasanya pengen dia lempar uang 1,7 milyar ke muka si KOKOM KOMODO...!!
“Etdahhh udah nambahin aja hutangnya,” ujar Abah kaget dengan banyaknya hutang Kokom.
“Ngak salah !? Dia tuh uang segitu banyak buat apaan ? Itu uang di blender terus diminum ?” tanya Taca kaget.
“Ya kali, milyader minumnya jus duit..” ujar Iis kaget dengan pikiran Taca yang kadang suka nyeleneh, mirip seperti Abah. Like father like daughter (ayah dan anak perempuannya sama)
“Abah mah bukan berita yang itu, ini lain lagi beritanya. Tapi, berita hutang itu juga bikin Abah jantungan. Gimana kamu bayarnya ?” tanya Abah bingung, duit 1,7 milyar cari dimana ? Nuyul ???
Iis rasanya ingin menarik-narik rambutnya, berita apa lagi. Si Kokom ngelakuin dosa apa lagi, tuhan...!!!!!
‘Tuhann cabut saja nyawa si Kokom itu..!’ pinta Iis didalam hatinya kesal.
“Udah, soal hutang udah ada solusinya. Jadi Bunda kenapa lagi ?” tanya Iis penasaran.
“Jadi Kokom disinyalir....”
TENG TENG TEEEEEEENGGGGGGG......
•••
Goyang dulu Bang... digeol dulu.. *ahayyyy...
hihihihii... penasaran yah? Sama kaka gallon juga penasaran. Tapi, kayanya di bab selanjutnya juga ngak bakal kebuka sih.. kebukanya kapan?
Kapan-kapaaannn *pasang muka paling ngeselin...
🤣🤣🤣🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon