
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Yang bener semprul, Iis gimana ini? Emang tadi lo kagak ada cita-cita buat cek bensin?” teriak Juan pada Dimas.
Dimas hanya bisa menggaruk kepala bagian belakangnya sambil menatap Yaraa, mencoba meminta bantuan kekasihnya. Yaraa merilik Juan langsung mengalihkan pandangannya ke tempat yang lain. Sumpah demi apapun tatapan Juan seperti orang yang siap membunuh.
“Kak, Ade takut liat muka Bang Juan,” cicit Yaraa.
‘Jangankan kamu, De. Kaka aja serem,’ batin Dimas sambil merapatkan diri ke arah Yaraa.
“Yeh, malah pelukkan. Ini gimana bini gue?” tanya Juan.
“Mas, sumpah yah. Ini sakit banget, aw... aw...” teriak Iis sambil mengoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Juan langsung mengelus punggung Iis pelan sambil membisikkan satu-satunya kata yang Juan ketahui detik ini. “Sabar... Sab...”
Plok...
Iis langsung memukul kedua pipi Juan dengan menggunakan kedua tangannya dengan keras sambil menjerit, “Juan Wijaya...!! Kamu mau anak kamu lahir di odong-odong, hah? Mau anak kamu di kasih nama Odongwati atau Odongwanto?”
“Nggak,” jawab Juan cepat, ya kali anaknya dikasih nama Odongwati Wijaya atau Odongwanto Wijaya, nggak banget sumpah.
“Kalau gitu, sekarang pikir gimana caranya aku bisa ke rumah sakit..!! Ini tuh SAKIT...!!” Iis berteriak dibagian kata sakitnya sambil menancapkan kesepuluh kukunya ke pipi Juan dengan sadisnya.
“SAKITT JUGA...” pekik Juan lebih keras lagi.
“Gendong, Juan gendong aja Iis nya cepet..!” usul Taca lagi, cepet gendong Iis.
Juan langsung menggendong ala bridal style Iis, Iis sudah tidak peduli lagi, dia benar-benar butuh kasur untuk berbaring. Terserah Juan mau bagaimana pun caranya.
“Heh... odong-odong edyan, sini lo,” teriak Kang Cendol sambil berdiri di motornya dan memutar-mutar centong khusus cendol.
Adipati hanya bisa menghembuskan napasnya, “Amore, kamu anter Iis dan Juan, biar aku yang urus ini tukang cendol,” ujar Adipati.
“Dek, kamu ikut Iis sama Taca aja yah, aku urus tukang cendol dulu,” ujar Dimas pada Yaraa. Yaraa langsung berjalan kesebelah Taca.
“Di, ati-ati yah, harus pulang kamu yah, aku belum mau jadi janda, cicilan panci belum lunas,” kelakar Taca sambil mengedipkan sebelah matanya pada Adipati.
Adipati langsung tersenyum kecil pada Taca, semenjak memiliki anak, Taca dan Adipati seperti berubah menjadi pasangan penuh komedi. Aura positif dan penuh keriangan Taca benar-benar mempengaruhi pribadi Adipati.
“Juan kesana,” tunjuk Taca.
Juan langsung mengikuti arahan Taca, yang menunjuk jalan didepannya. Mereka berlari seperti orang yang dikejar debt collector.
Saat sedang berlari seperti orang kesetanan, Iis tiba-tiba menjerit-jerit, Juan kaget bukan main melihat Iis yang menjerit keras.
__ADS_1
“Ayang kamu kenapa?”
Taca yang tahu bahwa Iis sudah benar-benar mau melahirkan, langsung panik. Rumah sakit masih jauh, tidak ada tenaga medis sama sekali. Masa Iis mau melahirkan disini. Nggak lucu masa ngelahirin di jalan raya.
“Iis sabar, aduh gimana ini. Rumah sakit masih jauh, bidan nggak ada bidan apa?” teriak Taca kebingungan sambil menegedarkan pandangannya kearah depan.
Yaraa yang sadang melihat kearah sebaliknya langsung menunjuk ke arah belakang Taca sambil berkata pelan. “Kak, kalau bidan bisa nggak?”
“Bidan? Bisa Yaraa. Tapi, mana ada bidan disini,” ujar Taca kebingungan sambil mengangkat keuda tangannya keudara. “Mana ada...!?”
“Itu,” ujar Yaraa polos sambil menunjuk kebelakan Taca.
Taca langsung menengokkan kepalanya kebelakang dan kaget saat melihat plang bertuliskan bidan andalan. “Eh, ada?”
“Ada itu,” jawab Yaraa polos.
“Ah... iya ada,” ujar Taca sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Juan, kita ke bidan aja,” usul Taca.
Juan sudah tidak peduli mau di bidan atau di rumah sakit, yang penting detik ini, dia sangat-sangat membutuhkan pertolongan medis.
•••
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Intan, salah satu bidan disana pada Juan, Taca, Iis dan Yaraa.
“Istri saya mau melahirkan ini,” teriak Juan pada bidan didepannya.
Intan langsung memeriksa keadaan vital Iis, kemudian dia pamit sebentar kebelakang untuk membersihkan tangannya dan mengenakan sarung tangan. Intan kembali dan melihat Iis yang sudah kepayahan.
“Bu, saya cek pembukaan yah,” ujar Intan sambil memasukan tangannya.
“Mas....!!!” jerit Iis saat merasakan tangan bidan yang sedang memeriksa pembukaan.
Juan bingung apa yang sebenarnya terjadi, seumur hidupnya, dia belum pernah melihat orang melahirkan. Seingatnya dia pingsan saat melihat Taca melahirkan.
Intan tersenyum saat mengetahui pembukaan Iis. “Ibu sudah pembukaan sembilan, jalan lahirnya terbuka lebar, Bapaknya seneng ketemu anaknya, yah?” canda Intan sambil menatap Juan yang sedang nyengir kuda.
“Pembukaan berapa Bu Intan?” tanya pasien disebelah kanan Iis.
“Pembukaan sembilan, ini mau lahiran bentar lagi,” ujar Intan sambil tersenyum.
“Wah, datang belakangan tapi udah pembukaan sembilan aja, saya baru pembukaan tiga ini,” ujar Ibu-ibu disebelah kiri Iis.
“Kalau saya empat,” ujar Ibu yang disebelah kanan Iis.
“Oke, gimana ibu-ibu, kita kasih semangat yah. Bu Iis siap?” tanya Intan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Juan dan Taca kebingungan maksudnya apa? Apa yang siap? Apa? Sedangkan, Iis yang sudah dalam keadaan pasrah atas segalanya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Oke siap Bu?” tanya Intan.
“Siap?” jawab Iis pasrah.
“Kalau saya bilang dorong-dorong yah bu, inget pernapasannya. Oke kita mulai,” ujar Intan.
Iis langsung mencengkaram lengan Juan erat, rasa sakit bercampur was-was, bahagia, sedih, marah, kesal, bingung dan kesal bercampur jadi satu.
“Dorong...”
Iis langsung mendorong dengan keras, berjuang untuk mengeluarkan anaknya, naoasnya memburu, keringat dingin karena menahan sakit langsung bermunculan disetiap jengkal tubuh Iis. Saat sedang mengeden, sayup-sayup Iis mendengarkan suara-suara dari sekelilingnya.
“Ayo Bu bisa...!”
“Bu, dikit lagi, ayoo Bu.”
“Semangattt Bu.....!!!”
“Ayo, Bu, udah Ibu nanti giliran sa.... aaaaa,” teriak salah satu Ibu-ibu disana.
Taca hanya bisa melongo melihat apa yang terjadi disekitarnya. Sejak kapan ada melahirkan berjamaah seperti ini? Oke memang ruangannya sangat memadai untuk melakukan proses melahirkan banyak wanita. Tapi, Taca sangka nggak sampai Ibu-ibunya saling menyemangati seperti ini.
Juan pun ikut kaget saat mendengar teriakkan disekelilingnya, sejujurnya Juan ingin tertawa terbahak-bahak, tapi, bisa dikeplak Iis detik ini juga.
“Ayo, Bu. Bisa sedikit lagi, kepalanya udah keliatan, sekali dorongan lagi ini,” Intan memberikan semangat pada Iis. Iis hanya bisa menganggukkan kepalanya saat mendengar perkataan Intan.
“Huaaaaaaa....” teriak Iis keras.
“AYOOO BUUUUU.....” teriak Ibu-ibu disekitar Iis menyemati Iis.
“Ibu bisa... ibu bisa... ayo... ayoo... ayoo ayoo ayoo...!!”
Tiba-tiba saja Ibu-ibu disekitar Iis tanpa dikomando melakukan yell-yell seperti saat menonton bola di stadion.
Iis yang seperti disemangati langsung mengeluarkan semua usaha dan tenaga terakhirnya dan mengeden dengan sangat cepat dan tepat...!
“Haaaaaa....”
“OEEEE.... OEEEE... OEEEE....”
•••
Yeah Iis udah lahiran...
Kaget yah, Kaka Gallon update jam segini? Iya lagi ingin aja update...
Ayoo jangan lupa Vote... 😘
Klo nggak bisa Vote juga nggak papa. Asal jangan lupa like, comment and shared ini novel somplok yang bab nya udah nyaingin sinetron tukang bubur naek haji 🤣🤣🤣
__ADS_1
Ciaoooo...