
“Taca... ini,” tanya Iis sambil menunjuk gaun pengantin berwarna putih susu di hadapannya.
Taca menarik Iis kearah gaun pengantin tersebut, “Bagus ‘kan, cantik...”
“Kamu mau pake baju nikahan beda-beda? Ini buat malem?” tanya Iis bingung, karena dari panjang dressnya pasti bakal kepanjangan di Taca.
“Nggak, mana muat ini di aku, bisa tenggelam aku,” jawab Taca kalem.
“Terus buat apaan? Mau kamu sembah?” tanya Iis kesal sambil menunjuk dress pernikahan yang tampak sangat cantik dihadapannya.
“Nggak lah, ngapain nyembah baju nikah, mending nyembah keris,” kekeh Taca.
“Haiz... nyembah keris? Ya kali kamu dukun,” kekeh Iis sambil mengusap gaun pengantin dihadapannya, “ini buat siapa?”
“Nggak tau, tapi disini sih tulisannya,” Taca membuka kartu ucapan yang ada ditangannya.
“Untuk ibu dari anakku, Lizbet... mari kita menikah lagi. Kita lakukan malam pertama yang penuh dengan naf....”
“Astaga Taca, siniin,” pekik Iis sambil berusaha untuk mengambil kartu ucapan ditangan Taca. Wajah Iis sudah memerah, semerah kepiting rebus.
“Nafsu, aku akan membawamu kelangit ketujuh berkali-kali dan....”
“Taca... udah ah malu, siniin,” ucap Iis sambil berusaha mengambil kartu tersebut dari tangan Taca.
“Hahahaa... iya maaf-maaf, nih,” ucap Taca sambil menyerahkan kartu ucapan dari Juan ketangan Taca.
Iis langsung membuka kartu ucapannya, “Taca... kamu tuh yah, jahilnya nggak robah,” ucap Iis saat membaca kartu ucapan yang diberikan Taca pada dirinya.
Ternyata disana hanya tertulis
You look so amazing in this dress, Yang
-Juan Wijaya-
“Taca, Juan nggak nulis aneh-aneh ih, dia cuman nulis aku bakal keliatan wow pake dress ini, kamu tuh yah, kompor..!” pekik Iis kesal.
“Hahahaa... tapi muka kamu ampe merah gitu, jangan-jangan suka yah, diajak ke langit ke tujuh,” ledek Taca sambil menjulurkan lidahnya.
“Tau ah, Taca,” ucap Iis kesal.
Taca langsung memeluk sahabatnya itu, “Udah jangan marah, cobain bajunya. Kita nikah bareng-bareng,” kekeh Taca.
“Nikah bareng-barang, gimana maksudnya? Nikah masal gitu?” tanya Iis kaget.
“Iya, mau yah. Mau kan, kan,” pinta Taca.
Iis hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Nggak ah, denger ini momen kamu, kamu yang harus jadi ratu hari ini. Bukan aku, aku mah udan kemaren,” tolak Iis.
__ADS_1
Jawaban Iis sama sekali tidak mengangetkan Taca, Taca yang sudah kenal lama dengan Iis, mengenal betul kelakuan Iis. Taca yakin Iis akan menolaknya, makanya saat ide menikah bersama dicetuskan oleh Juan, Taca sudah memperingatkan Juan, kalau Iis akan menolaknya. Akhirnya Juan membuat rencana cadangan.
“Ya udah, kalau kamu nolak. Gaunnya diginiin aja yan,” ujar Taca sambil membuka kaitan di gaun pengantin didepannya, membuka bagian ekor dan bagian roknya, membuat gaun bentuk princess itu berubah menjadi gaun berbentuk model duyung yang sangat cocok di tubuh Iis yang tinggi.
“Eh, kok bisa, kok bisa jadi kaya gitu?” tanya Iis takjub.
“Bisalah, jadi kamu juga bisa pakai gaunnya biasa aja, gimana? Mau kan?”
Iis langsung menjawab dengan anggukan, tanpa menunggu waktu lama Iis langsung menggunakan dress dan dimake oleh MUA yang ada disana.
Hari ini Ratunya tetap Taca, tapi Putrinya adalah Iis.
•••
Adipati sedang menatap pantulan dirinya di cermin, senyuman mengembang dari bibirnya. Melihat sosoknya tidak ada yang akan percaya kalau dirinya adalah ayah dari tiga anak. Ketampanannya masih benar-benar terpancar dengan jelas dari wajahnya.
“Iis nolak nikah lagi,” tiba-tiba Juan berkata sambil membuka jas miliknya, dengan cepat dia membawa jas berwarna navy dan menggunakannya.
“Yah elo nape sosoan mau nikah ulang bareng, kurang duit lo, ampe nggak bisa bikin acara sendiri?” ledek Adipati.
“Hemat pangkal kaya, Bro... asas ekonomi tau,” ucap Juan.
Sedang asik-asiknya mengobrol tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting.
Brakk...
Spontan Adipati dan Juan langsung melihat kearah pintu, mata mereka membulat saat melihat Dimas yang sudah jatuh tersungkur di lantai.
“Bang tutup pintunya, Bang. Demi semua demit di dunia tolong tutup pintunya sekarang juga,” teriak Dimas sambil menendang-nendang pintu dengan ujung sepatunya.
“Nape sih lo?” tanya Juan bingung sambil berjalan kearah pintu dan bermaksud menutupnya. Tapi, ada sesuatu yang menghalanginya.
“Hai, Bang Juan,” mata Juan melotot sempurna saat melihat apa yang dibawa oleh gadis manis dihadapannya.
“Yaraa, kamu ngapain bawa-bawa itu?” tanya Juan sambil menunjuk benda yang dibawa Yaraa.
“De... Ade, Kaka cinta sama Ade, Kaka sayang sama Ade, tapi beneran nggak usah bawa-bawa itu,” teriak Dimas sambil menunjuk benda yang dibawa oleh Yaraa.
“Kaka, Ade cuman disuruh bawa ini sama panitianya, nanti bakal dilepasin,” ujar Yaraa bingung, kenapa Dimas sampai berkata seperti itu.
Adipati mendekati Juan, tawanya hampir meledak melihat betapa ketakutannya Dimas dengan benda yang dipeganh oleh Yaraa.
“Kenapa?” tanya Adipati.
“Si Dimas, dia emang dari dulu phobia balon, dia paling takut balon. Terus sekarang Yaraa bawa-bawa balon yah auto belingsatan itu Dimas,” ujar Juan sambil menunjuk Dimas.
“Kaka takut balon?” tanya Yaraa sambil berjalan mendekati Dimas.
__ADS_1
Dimas yang sudah tidak mampu berkata-kata lagi langsung memundurkan badannya. Menyeret badan berototnya menjauh dari kekasih mudanya.
“Ade, tolong,” pekik Dimas sambil berdiri dan berlari keluar ruangan melewati Yaraa. Menyengolnya sampai Yaraa hampir terjatuh bila seandainya tidak di tahan oleh Adipati.
“Eh, makasih om,” jawab Yaraa kikuk, siapa yang tidak kikuk dipeluk oleh om-om ganteng nan sexy bernama Adipati.
“Udah sini balonnya, kejar Dimas, sawan dia liat balon,” pinta Adipati sambil mengambil bolon dari tangan Yaraaa.
Yaraa langsung memberikan balonnya kepada Adipati. Tapi, entah kenapa Yaraa meminta satu balon berwarna pink. “Aku minta satu yah, Om,” ujar Yaraa sambil berlalu dari sana.
“Om?” tanya Adipati.
“Iya, Om Adipati ‘kan?” tanya Yaraa.
“Kamu pangil saya Om? Umur saya sama Dimas cuman beda dikit, kamu panggil saya Om?” tanya Adipati lagi, entah kenapa ada perasaan kesal dipanggil Om oleh Yaraa.
Yaraa mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat Adipati, kelakuannya membuat Adipati dan Juan rasanya ingin mencubit pipi Yaraa. Yaraa terlalu imut, Yaraa tidak cantik tapi imut. Terlalu imut malah, Dimas beruntung mendapatkan Yaraa.
“Terus mau saya panggil apa? Engkong?” tanya Yaraa dingin.
“Hahahaa.... Engkong Adipati.” Juan tertawa keras sekali saat mendengar Yaraa berkata dengan dinginnya.
“Om, udah Om aja, sekarang sana cari pacar kamu tuh,” usir Adipati frustasi karena dipanggil engkong.
“Oke, dadah Om Adipati, dah Om Juan,” ujar Yaraa sambil berlari mengejar Dimas.
Adipati hanya bisa tersenyum simpul. “Sialan pacarnya si Dimas, manggil Dimas kaka, giliran manggil gue Om terus Engkong, dasar labil,” maki Adipati sambil menyerahkan balon ke tangan Juan.
“Om, kenapa balonnya dikasih ke aku, Om?” ledek Juan sambil mengambil balon dari tangan Adipati.
“Lo sama aja, Juan. Gue mau nikah, ya kali gue nikah bawa-bawa balon. Lo sangka mau karnaval?” tanya Adipati kesal sambil membenarkan kerah kemejanya.
“Gue juga mau nikah, Om,” canda Juan lagi.
“Berisik lo, sumpah Juan,” bentak Adipti kesal karena ketengilan Juan.
•••
Dorrr...
Bonchapter dimulai yah...
Mari kita mulai dengan Yaraa dan Dimas...
Ah... sama yang minta cerita Abah nikah, maaf aku tak bisa membuatnya... biarkan Abah menduda sampai akhir hayatnya...
hohohohooo....
__ADS_1
Inget itu yang dibagian kiri bawah, iya itu tombol like harap di pencet, jangan diangurin aja hohohooo...
XOXO GALLON