Water Teapot

Water Teapot
Bonus Part ( Malaikat Kecil)


__ADS_3

“Kama, Kafta … hei, ngapai kalian di sana?” Adipati memanggil anak keduanya itu.


“Daddy sini, aku liat bidadari,” ucap Kama sambil memanggil Adipati.


Kedua anak itu sedang asik mengintip di balik semak-semak. Mereka sedang asik melihat seorang anak gadis yang sedang bermain masak-masakkan.


“Cantik banget, dia baru pindah ke sini kayanya,” ucap Kafta sambil terus menatap gadis manis itu.


“Astaga … umur kalian masih enam dan sembilan tahun tapi, kelakuan dah mirip Daddy.” Adipati menggaruk kepalanya pelan sambil berjongkok untuk melihat siapa yang sedang mereka intip.


“Cantik yah, Daddy,” ucap Kafta dan Kama berbarengan.


Adipati mengerjapkan matanya, seingatnya sebulan yang lalu saat dirinya dan keluarganya pergi ke Italia untuk berlibur rumah sebelahnya masih kosong. Kenapa sekarang tiba-tiba ada orangnya.


“Cantik sih tapi, astaga … kalian masih kecil udah mikir yang aneh-aneh aja.” Adipati mengusap pucuk rambut kedua jagoannya itu. Ternyata, titisan bangsul sudah terlihat pada diri mereka.


“Kalian ngapain?” tanya Taca saat melihat Adipati dengan kedua jagoannya itu menatap oagar tetangga. “Kalian ngapain?”


“Sini Amore, anak-anak kita dah suka ama anak tetangga.” Adipati menarik tangan Taca pelan memintanya untuk berjongkok.


“Liat apa sih kalian nih?” tanya Taca bingung sambil ikutan menatap pagar tetangga. “Awas aja kalau liat Mamah muda atau Janda meresahkan.”


Tawa Adipati terdengar pelan dan merdu di kuping Taca. “Ngapain Amore. Nggak ada enaknya aku nyari janda, ngurus kamu satu aja dah pusing aku,” kekeh Adipati sambil mengecup bibir Taca pelan.


“Yah … terus kalian ngapain?” tany Taca penasaran, ekor matanya langsung melihat sesosok anak perempuan yang sedang bermain rumah-rumahan.


“Kata Kama sama Kafta itu cantik,” ucap Adipati.


“Iya Mih, cantik banget. Kayanya bawaannya kalem nggak kaya Mamih cerewet,” ucap Kama santai dan seketika itu juga Kama merasakan keplakkan dari koran di bahunya.


“Daddy sakit.”


“Jangan ngomong gitu ke Mamih, Daddy nggak suka.” Adipati membulatkan matanya.


“Maaf Daddy, Maaf Mamih.” Kama berkata pelan mengakui kesalahannya.


“Ya udah nggak papa jangan diulang yah, itu anak kok kaya Liz yah?” ucap Taca.


“Eh … iya mirip Liz.”


“Liz?” tanya Kama dan Kafta berbarengan.


“Iya, anaknya tante Iis dan om Juan. Aduh kita udah lama nggak ketemu mereka terkahir kita ketemu tiga tahun yang lalu, Di,” kenang Taca yang ternyata sudah lama tidak bertemu dengan Iis dan Juan. Rindu.


“Iya tapi, kamu yakin itu anak Juan sama Iis?” tanya Adipati.


“Yakin, Di. Mirip Iis mukanya itu liat,” ucap Taca sambil menunjuk anak perempuan itu. “Udah ah aku mau kesebelah. Mau buktiin.”


Taca berlalu dari sana meninggalkan mereka bertiga karena ingin tau siapa orang yang tinggal di sebelah rumah.


“Daddy, cantik banget yah Kama kalau nikah mau sama perempuan secantik itu,” ucap Kama.


“Kafta juga, anggun banget Daddy. Keliatannya baik banget.” Kafta tidak mau kalah dengan Kama. Karena ini pertama kalinya Kafta melihat wanita secantik itu.


“Kama, Kafta,” ucap Adipati sambil mengusap kepala kedua anaknya.

__ADS_1


“Iya,” jawab mereka serempak.


“Dengerin Daddy, kalau kalian cinta dan suka sama seseorang perjuangkan sampai ke titik darah penghabisan yah. Jangan pernah menyerah buat dapetinnya, ngerti.”


Kama dan Kafta saling tatap, sejujurnya Kama tidak mengerti apa yang Daddyjya bicarakan tapi, mereka tidak peduli. Mungkin suatu saat nanti apa yang di katakan Daddynya akan berguna bagi mereka.


“Oke,” ucap Kama santai.


Kafta melihat anak perempuan itu dengan pandangan lain. Berkali-kali Kafta berkata di dalam hatinya. “Perjuangkan.”


•••


“Ayang, mana Khalid?” tanya Juan sambil mengecup bibir Iis yang sedang membuat roti untuk Liz dan Khalid.


“Khalid di atas dan Liz di luar lagi bikin acara minum teh atau apalah itu.” Iis menunjuk Liz yang asik bermain upacara minum teh ala putri disney.


“Astaga … pake baju apa dia sekarang?” tanya Juan saat melihat anak kesayangannya itu sedang menuangkan teh.


“Snow white dan dia lagi menunggu pangeran berkuda putih buat nikah. Astaga … anak zaman sekarang bikin kepala aku sakit, umur lima tahun mau nikah,” protes Iis sambil menggelengkan kepalanya.


“Enak aja, mau aku sembelih apa itu pangeran berkuda putihnya hah?” cecar Juan.


“Aduh … ini juga sama aja, eh … Mas inget nanti Liz bakal gede, bakal nikah. Bakal ninga—“


“Nggak bisa, siapa yang berani ambil anak aku? Aku yang gedein aku yang bikin sama kamu. Kamu lupa Yang, gimana susahnya kita bikin dia?” tanya Juan dengan kesal.


“Ih … yah masa Liz bakal jadi perawan seumur hidup? Kamu ngaco Mas,” ucap Iis kesal. “Udah ah … kamu makin ngaco aku mau mandi.”


“Mau ke mana?” tanya Juan.


“Cium dulu,” pinta Juan sambil memeluk Iis erat. “Bunyi yang lama, nggak kilat.”


“Banyak amat permintaannya,” ucap Iis sambil mencium bibir Juan sesuai keinginannya.


Juan menggigit bibir Iis sambil meremas bokong istrinya itu sambil berbisik, “Nanti malam lagi yah.”


“Iya … nanti malem, udah aku mau mandi Ah ….”


Sepeninggalannya Iis Juan langsung mendekati Liz yang sedang bermain upacara minum teh.


“Hai cantik, lagi apa?” tanya Juan sambil duduk di hadapan Liz.


“Papih, sini aku lagi upacara minum teh. Aku mau nunggu pangeran berkuda putih buat nikahin aku.”


Juan langsung meringis mendengar perkataan gadis kecilnya itu, masih segar dipikiran Juan saat menggendong Liz yang mungil, sekarang tiba-tiba anaknya itu meminta menikah dengan pangeran berkuda putih. Rasanya Juan ingin menangis. “Liz.”


“Apa?” tanya Liz.


“Boleh nggak kalau Papih jadi pangeran berkuda putih kamu,” ucap Juan sambil mengusap pipi gembil Liz.


“Nanti Mamih marah nggak?”


“Nggak Mamih nggak akan marah,” ucap Juan sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan menyelipkan di jemari tangan Liz.


“Apa ini?”

__ADS_1


“Mulai sekarang pakai terus cincin ini, sampai nanti ada pangeran berkuda putih yang bakal gantiin posisi Papih buat jaga dan sayangin kamu,” Juan berkata sambil menepuk punggung tangan Liz.


“Wow bagus Papih,” ucap Liz sambil menatap cincin berwarna pink yang tersemat di jarinya.


“Suka?”


“Iya.”


“Nah sekarang janji ke Papih, nggak usah cari pangeran berkuda putih dulu sampai usia kamu delapan belas tahun.” Juan berkata sambil mengecup pipi anaknya pelan.


“Oke Papih.”


Seketika itu juga Juan merasakan rasa lega di dadanya. Sepertinya dia bisa sedikit tenang dan bernapas lebih lama.


•••


Dor hahaha bingung yah ada bonus part?


Yupz … ini bonus part aku berikan pada pembacaku sayang. Yupz hari ini tanggal 1 Agustus 2021 akan ada novel baru dari Gallon.


Novel tentang Liz, Kama, Kafta, Khalid, Kalila, Andi (Bernard namanya aku ganti yah) dan Richie (anak Riki dan Cicil di Mr and Mrs Trina).


Judulnya adalah ……



Kalian bisa langsung cari di Noveltoon yah dengan kata kunci Janda Semakin di Depan.


Beware : Dengan membaca novel ini kalian sudah bersedia dengan tulus mengikuti kisah hidup Aurora Lunaira Julisha Wijaya


Oke See You ❤️❤️


Ah bonus Visual di Janda Semakin di Depan.








(Ini tadinya namanya Bernard yah aku ganti namanya jadi Andi)



(Bagi yang belum tau ini anak Riki Trina dan Cicil Bouw)


Oke selamat menikmati ke sintingan gallon dalamenceritakan kehidupan Anak-anak keluarga Berutti dan Wijaya.


Xoxo Gallon yang Hobby Kelon.

__ADS_1


__ADS_2