Water Teapot

Water Teapot
S2: setitik masa lalu Iis


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Plakk...


“Jangan banyak ngomong kamu, uang itu punya aku semuanya. Kamu ngak punya hak..!”


“Kang, itu uang buat Iis kuliah Kang. Jangan diambil, kasian Iis dia mau kuliah di Bandung, Kang...” jerit Ibu sambil memeluk kaki Ayah dan menangis meraung.


“Ini uang, buat Kokom lahiran. Iis ngapain kuliah, suruh dia kawin sama Rozak...!” teriak Ayah sambil mendorong tubuh Ibu dengan keras.


“Ayah, Ibu...” tangis Iis pecah saat melihat Ayah yang menendang Ibunya dan bibir Ibunya yang robek karena ditampar Ayahnya.


“Iis...” teriak Ibu sambil memeluk anak semata wayangnya, tangis Ibu dan Iis pecah mereka saling berpelukkan.


“Kalian ini yah, berisik. Iis sudah kamu ngak usah kuliah buat apa, nikah kamu sama Rozak. Kamu juga jadi istri banyak omong, turutin si Kokom jadi Istri manut.”


“Ayah, Iis mau kuliah Yah... Iis mau kuliah, Iis mohon uangnya buat Iis kuliah,” pinta Iis sambil mengatupkan kedua tangannya dan bersujud di kaki Ayahanya.


“Ngak bisa, Kokom mau melahirkan. Dia harus di SC dan melahirkannya katanya harus di Melinda Hospital di Bandung, butuh uang banyak. Udah kamu nikah aja...!” bentak Ayah sambil mendorong tubuh Iis, Iis terjengkang kebelakang.


“Iis...” teriak Ibunya sambil memeluk Iis, tangis Ibunya pecah, ibunya sedih melihat Iis yang menangis karena tidak bisa kuliah.


“Iis mohon Iis mau kuliah, Yah..”


“IIS MAU KULIAH...!?”


“AYANGGGGG....!”


Deru napas Iis terdengar dengan jelas, keringatnya mengalir deras baju yang digunakan Iis basah hampir setengahnya. Saat ini posisi Iis sedang terduduk sambil menatap lurus kedepan air matanya sudah merembes.


‘Mimpi...’ batin Iis sambil terus berusaha bernapas dengan baik.


“Ayang, kamu kenapa ?” tanya Juan kebingungan sambil menyodorkan gelas berisi air putih yang selalu tersedia disamping nakas temoat tidur mereka.


Iis dengan rakus meminum air putih yang disodorkan oleh Juan, saking ketakutannya Iis meminumnya secara serampangan membuat Iis tersedak.


“Ohokkk...ohokk...”


“Astaga Yang, pelan-pelan. Kamu mimpi apa sayang ?” tanya Juan sambil memukul pelan punggung Iis.

__ADS_1


“Ohokk...ohokkk...” rasa sakit langsung menjalar kehidung Iis, air yang tadi Iis minum merengsak masuk kehidungnya, sakitnya bukan main.


“Ayang, minumnya pelan-pelan,” dengan gemas Juan menyimpan gelas yang tadi diminum Iis di nakas.


“Iya, maaf..”


“Kamu mimpi apa ? Kamu mau kuliah lagi ?” tanya Juan mengingat apa yang diucapkan Iis tadi.


Iis tersenyum sambil mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya dan mengambil napas banyak-banyak untuk menetralisir perasaannya.


“Ngak, Mas.. cukup s2 aja ngak usah sosoan jadi s3. Ngak ada cita-cita jadi dosen,” Iis menunjukkan giginya yang putih pada Juan, berusaha untuk bercanda agar pikirannya tidak berfokus pada mimpinya tadi.


Juan menatap Iis, ini kali pertama Juan melihat Iis begitu rapuh, “Sini.” Juan langsung memeluk Iis erat.


“Aku cuman mimpi masa lalu, aku mimpi Ayah sama almarhum Ibu.”


“Iya, terus kenapa kamu bisa teriak-teriak ketakutan gini, mimpi Ayah sama Ibu tapi kok kaya mimpi dikejar setan,” ujar Juan.


‘Iyah setannya namanya Kokom..!’ batin Iis.


“Aku mimpi dulu, dulu aku mau kuliah. Aku mau banget kuliah tapi sayangnya aku bodo Mas, jadi akhirnya aku kuliah di universitas swasta di Bandung, Aku keterima disana, Ibu seneng banget dan bilang bakal bayar uang pangkal dan lainnya, katanya Ibu punya tabungan. Akhirnya aku ke Bandung buat daftar ulang dan lain-lain. Pas pulang aku lihat Ibu lagi bersimpuh dikaki Ayah memohon....”


Juan diam mendengarkan cerita Iis, kenapa kisah hidup Iis sesedih ini. Kayanya dulu Juan mau kuliah, kuliah aja mau dimanapun Papih dengan sigap membayar semuanya.


“Memohon biar uang buat kuliah aku ngak diambil untuk membiayain melahirkan Bunda, iyah uang buat kuliah aku dipake Bunda melahirkan. Padahal uang itu Ibu kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil kostan miliknya. Saat aku datang bibir Ibu robek karena ditampar Ayah, kepala aku bocor karena di dorong Ayah dan terantuk lantai,” Iis mengambil tangan Juan dan membimbing tangannya untuk mengusap bagian belakang kepala Iis yang sedikit bergelombang.


Rahang Juan mengeras, giginya bergemeretuk. Rasanya ingin Juan kembali ke masa lalu kemudian menendang calon ayah mertuanya dan memukuli Bunda.


“Ayah bilang, lebih baik aku nikah sama Kang Rozak, buat apa kuliah ngak guna.”


“Terus kamu akhirnya kuliah gimana ?” tanya Juan bingung.


“Aku dibantu Abah, Taca kan dapat beasiswa Djarum. Jadi biaya kuliah ditanggung setengahnya. Nah biaya setengahnya itu buat bayar kuliah aku, sisanya Aa Riki sama Kang Rozak bayarin dari gaji mereka. Makanya aku tuh udah anggap keluarga Taca itu keluarga sendiri, aku dibantu banyak sama mereka. Aku bersyukur ada orang-orang baik seperti mereka, Mas.” ujar Iis sambil tersenyum.


“Tapi kamu ngak nikah sama Rozak ‘kan, kamu bukan janda ?” tanya Juan yang lebih berfokus dengan kata-kata Iis nikah aja sama Kang Rozak.


“Ngak lah, mana ada janda segelan, ngaco kamu mah. Kang Rozak sama kaya kamu nafsua...”


“Hah gimana ? Siapa yang nafsuan ? Kamu diapain aja sama dia ?”


Iis langsung menyesali kata-katanya, cemburunya Pak Juan ini benar-benar diatas normal. “Bukan siapa-siapa.”


“Kamu ngapain aja sama Rozak, hei..”

__ADS_1


Iis langsung menahan tawanya melihat Juan yang panik. Iis dengan cepat merebahkan dirinya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


“Ihh Ayang, kamu ngapain aja sama Rozak, kamu pernah ngelakuin kaya yang kita lakuin dikamar mandi dan di mobil sama Kang Rozak ?”


“Tau ah Mas, tidur udah jam 3 subuh ini,” ujar Iis tampa bergerak sedikitpun di balik selimut.


Tiba-tiba Iis merasakan ada tangan yang mengelus perutnya dan hembusan napas dilehernya. “Ngapain aja sama Rozak, Yang...”


Iis menahan tawanya dan berbalik menatap Juan yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Aduh, Mas apa yang aku lakuin sama Kang Rozak emang penting, yah ?”


“....”


“Ya udah aku kasih tau, tapi kamu harus kasih tau juga kamu ngapain aja sama Cicil dan Tere, mau ?” tanya Iis gemas.


“Ngak mau..!” ujar Juan cepat bisa abis dia di tendang sama Iis kalau tau dia ngapin aja sama dua mantan tunangannya.


“Nah kan, aku juga ngak mau, udahlah itu masa lalu, Mas. Sekarang aku sama kamu, udah itu aja, titik..!” ujar Iis sambil menarik Juan kepelukannya, Juan pasrah dan menghirup wangi tubuh Iis.


“Iya..” jawab Juan.


“Sekarang tidur yah, nanti malam kita mau ketemu Papih sama Mamih ‘kan. Aku kangen Mamih,” ujar Iis sambil mengusap punggung Juan. Tiba-tiba...


Tut...


“Astaga Mas... kenapa kamu kentut didalem selimu, astaga bau...!!!!” pekik Iis sambil berusaha keluar dari dalam selimut tapi ditahan oleh Juan.


“Hahhahaaa... disini aja kamu, nikmatilah wangi surgaaaa...!?” canda Juan sambil menahan Iis yang sudah mengap-mengap mencium bau kentut Juan yang baunya hanya tuhan, Iis dan Juan yang tau.


“MASSS BAUUUUUUU....!!!!!!”


“HAHAHHAAAA...”


•••


Hadeuh Juan jahilnya emang yah 😑😑😑


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2