Water Teapot

Water Teapot
S2: Skakmat


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Juan tersenyum melihat isi amplop tersebut, ada untungnya juga dia selama ini menahan nafsunya pada Iis.


Terdengar helaan nafas Papih saat melihat kertas didepannya. Ini bukti tak terbantahkan kalau Iis tidak pernah berhubungan badan dengan Juan. Papih kaget, kuat juga anaknya menahan hawa nafsunya saat tinggal dengan Iis.


“Hahahhahaaa....” tawa Dion membahana, seumur hidup baru dia menemukan wanita sepintar Iis.


Kertas itu ternyata sebuah surat pernyataan bahwa Iis masih perawan. Iya.. Iis di cek kegadisannya di salah satu rumah sakit swasta besar di Jakarta.


“Jadi gimana Pak Kevin Wijaya ? Masih bilang saya jual diri ? Gimana caranya saya Jual diri kalau saya masih perawan, HAH ??” tantang Iis sambil menatap Papih.


Skakmat...


Papih benar-benar kaget dengan ucapan Iis, apa yang dikatan Iis benar, gimana caranya Iis jual diri kalau dia masih perawan !?


“Bisa aja ini kamu rekayasa, kamu bayar dokternya..” Papih membela dirinya.


“Pa..”


“Shutt...” Iis menempelkan telunjuk tangan kanannya di bibirnya, memberikan tanda pada Juan untuk diam.


“Bapak bilang saya membayar dokternya ?” tanya Iis.


“Iya...”


“Bapak sudah mengetahui diri saya semuanya ‘kan. Bapak sampai tau hutang keluarga saya dan tabungan saya juga.”


Papih menganggukan kepalanya, dia tau semua finansial Iis, kemarin dia habis-habisan mencari informasi tentang Iis.


“Tabungan saya cuma ada 5 juta rupiah ‘kan,” ujar Iis lagi.


“Iya..” Papih tau berapa uang yang disimpan oleh Iis.


“Nah Bapak pikir deh, mana ada Dokter yang mau di sogok 5 juta buat bikin surat keperawanan. Ini surat keperawanan yah, bukan surat belum nikah. Saya diperiksa bener-bener dan kalau Bapak tetep bersikukuh bilang saya jual diri , sekarang juga saya berani test ulang. SAYA NGAK TAKUT...!” ujar Iis sambil menatap Papih. Bodo amat Iis dibilang kurang ajar, Papih benar-benar bikin Iis naik pitam.


“Tapi..”


“Apa mau ngomong apa ? Cek Bapak udah saya kasih ke Juan, cincin dari Juan udah saya balikin, semua barang dari Juan udah saya balikin. Apa Bapak mau ngomong apa Hah ?” tantang Iis sambil menyilangkan tangannya kedadanya.


Iis benar-benar sudah kesal setengah mati dengan Papih. Iis tau ini dosa, tapi ah sudahlah Iis sudah kesal. Kekesalannya yang paling besar saat melihat Juan yang tidak terurus semenjak Iis pergi.


“Terserah kalian, lah. Lakuin apapun yang kalian inginkan. Mau nikah, terserah. Mau apapun terserah, tapi satu hal yang pasti Juan masih harus bekerja disini. Dan kamu...” ujar Papih sambil menunjuk Iis dengan tajam.


“Urus anak saya..!” perintah Papih.


Iis tersenyum manis mendengar perkataan Papih, kemudian mengambil amplop dimeja.

__ADS_1


“I promise, Om.” ujar Iis.


Papih hanya diam menatap Iis ‘Ah... kenapa dia harus kalah dari wanita miskin didepannya,’ batin Papih. Wanita miskin ini benar-benar harus dienyahkan, tapi bagaimana caranya?!


“Jangan lupa janji, Bapak. Bapak tidak akan menggangu hubungan saya dengan Juan lagi,” ujar Iis.


“Iya, saya janji. Sudah sana pergi dari sini. Saya mau rapat..!” usir Papih.


•••


Rapat pun berlangsung lama, terjadi perdebatan alot antara beberapa anggota direksi, mereka menolak dengan keras Dimas yang menjadi CEO. Mereka ingin Juan yang menajadi CEOnya. Tapi, Juan menolak mentah-mentah jabatan tersebut.


Iis hanya bisa takjub melihat keadaan rapat disana, ternyata seperti ini yah rapat perusahaan besar. Ribet..!!!


“Bu Lizbet, ini kapan selesainya sih ?” tanya Bu Lisa sambil melihat jam ditanganya yang menunjukkan pukul 16.30 WIB.


“Ngak tau, Bu. Saya juga ngantuk ini, lapar juga..” jawab Iis sambil mengelus perutnya.


“Coba ditanya tunangan Ibu,” pinta Bu Lisa.


Setelah kejadian tadi rekan-rekannya tau kalau Iis adalah tunangan Juan. “Gimana caranya ? Handphone Mas Juan ada di sekertarisnya.”


“Haduh, bener-bener harus pasrah,” ujar Bu Lisa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Sabar, Bu..” Iis menenangkan Bu Lisa.


Akhirnya setelah diskusi panjang lebar, rapat pun bubar jam 17.50 WIB. Iis dan rekan-rekannya saling mengobrol sambil membereskan berkas-berkasnya.


“Bu Lizbet, pulang sekarang ?” suara Juan membuat semua orang menatap Juan.


“Mobil kamu kasih Saka aja, biar Saka yang bawa. Mana kuncinya ?” tanya Juan sambil mencari kunci mobil didalam tas Iis.


“Mas tapi..”


“Udah aku kasih Saka, yah. Mari..” ujar Juan sambil berlalu dari sana setelah menemukan kunci mobil.


“Wah, Bu Lizbet ini ngak bilang kalau Ibu tunangan Pak Juan,” goda Bu Lisa sambil menyentuh pundah Iis lembut.


“Hehee.. itu, saya juga ngak tau kalau kita mau ambil data disini,” ujar Iis sambil nyengir kuda.


“Nanti kalau nikah undang-undang, pokoknya saya datang bawa rantang,” canda Pak Sugito sambil mengacungkan jempolnya.


“Hahahhaa.. Siap Pak,” ujar Iis sambil tersenyum manis dan berjalan disebelah Bu Lisa.


Mereka semua bersanda gurau sambil sesekali tertawa lepas, melepaskan penat setelah bekerja seharian. Tampa terasa mereka sudah sampai di lobby kantor.


Iis melihat kekanan dan kekiri mencari mobil milik Juan sambil sesekali berbicara dengan 2 orang pekerja magang.


“Bu Lizbet, nyari apa ?” tanya salah satu pekerja magang.


“Nya..”

__ADS_1


Tiba-tiba mobil milik Juan sudah terparkir cantik di depan mereka, Juan langsung turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Iis.


“Ah makasih Mas, duluan.” ujar Iis sambil masuk kedalam mobil Juan. Sedangkan, Juan hanya tersenyum kemudian masuk kedalam mobilnya.


•••


“Mobil temen aku, Saka bawa kemana ?” tanya Iis sambil menatap Juan.


“Saka bawa pulang ke apartemen, besok kamu bisa bawa ke tempat temen kamu. Aku ngak bisa anter ada yang harus aku urus besok, ngak papa ?” tanya Juan sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


“Iy...” Kalimat Iis tertahan, saat melihat apa yang dikeluarkan oleh Juan dari saku celananya. Iis baru ingat seharian ini dia tidak menggunakan celana dalamnya. Terima Kasih Bapak Juan Wijaya...!


“Kecil juga yah Yang, celana kamu,” ujar Juan sambil merentangkan celana milik Iis.


Napas Iis tertahan saat melihat Juan sedang memainkan celana dalam miliknya. “Mas.. siniin celana aku, kamu bikin aku seharian ngak pake celana tau. Untung rok aku panjang, kalau ngak celaka.”


“Hahhaa...emang kenapa ?” goda Juan sambil terus memainkan celana dalam milik Iis.


“Dingin tau, udah sini kasih ke aku.” pinta Iis kesal sambil berusaha untuk mengambil celana dalam miliknya.


“Mau ini ?” tanya Juan sambil tersenyum nakal kemudian mengetuk pipinya dua kali dengan jari telunjuknya, menandakan Juan minta di cium pipinya.


“Pipi aja yah, ini lagi nyupir loh nanti kecelakan, berabe,” ujar Iis.


“Iya, cepet kalau ngak, ini ngak aku kasih, mau aku koleksi,” canda Juan.


“Mesum, masa ngoleksi celana dalam aku, sih. Tapi, kan dilemari juga banyak celana dalam aku, ngapain kamu bawa yang ini sih ?”tanya Iis bingung.


“Masalahnya yang ini spesial.”


“Spesial ?”


“Iya, spesial karena abis dipake sama kamu, Yang” kekeh Juan sambil terus memainkan celana dalam Iis dengan tangan kanannya.


Iis menyergit mendengarkan perkataan Juan, okai, baiklah kelakuan Juan benar-benar yah, bikin kepala sakit..!


“Terserah lah, Mas.. bawa aja bawa, bentar lagi nyampe apartemen aku bisa pakai celana aku yang lain,” ujar Iis sambil menggelengkan kepalanya, sepertinya menjalani hidup dengan Bapak Juan Wijaya akan sangat-sangat penuh dengan kejutan.


Iis tersenyum melihat Juan yang masih memainkan pakaian dalamnya, sepertinya Iis harus benar-benar siap lahir batin untuk hidup bersama sorang Juan Wijaya. Tapi, Iis sudah siap, Iis siap meyakinkan keluarga Juan kalau dia pantas dan sepadan untuk mendampingi Juan, bayi besar kesayangannya sampai akhir hayatnya.


•••


Juan kaka gallon mau nanya, itu pakaian dalem Iis ngak asem apa yah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣...


Oke abaikan kaka Gallon..


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2