Water Teapot

Water Teapot
Mas Juan...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Taca melakukan pemotretan sendirian dan syuting video. Adipati sama sekali dilarang bertemu Taca sampai nanti acara ijab kabul. Beberapa kali Kang Rozak, Aa Riki dan Abah menemui Taca dan tak henti-hentinya memuji kecantikan Taca.


Beberapa warga Citeko yang diundang pun memberikan selamat pada Taca, ada Anak Bi Yuli, Icih yang datang membawa oleh-oleh pisang, membuat kru WO kebingungan menyimpan pisang tersebut.


Tak lupa ada Rina yang datang bersama Entis dan Ceu Ningsih. Dan seperti biasa bibir Rina dan Ceu ningsih langsung julid.


"Taca.. kok nikahnya cepet banget, hamil yah maneh (kamu) ?" tanya Rina yang langsung disikut oleh Entis. Entis yang sudah menyerah melawan Adipati hanya bisa tersenyum melihat Taca, mengikhlaskannya.


Taca dan Iis hanya bisa menghela napasnga mendengat tuduhan Rina. Sedangkan Kania yang baru datang kaget mendengarkan tuduhan Rina yang tidak ada akhlaknya.


"Maksud Mbak apa, yah ?" tanya Kania bingung dengan ucapan Rina.


"Ngak ada maksud apa-apa, cuman saya sama anak saya aneh aja, nikah kok buru-buru banget," ujar Ceu Ningsih sambil tersenyum.


"Yah ngak gitu juga ngomongnya, Bu," ujar Kania geram. Iis langsung menyentuh tangan Kania kemudian mengelengkan kepalanya.


"Yang waras ngalah, Kania," bisik Iis sambil memberikan senyuman terbaiknya pada Rani, Entis dan Ceu Ningsih.


"Ceu, gimana hotelnya enak ?" tanya Iis tiba-tiba.


"Iya, enak itu sewanya berapa yah, nanti kita honeymoon disana aja yah, Kang, 10 hari kayanya enak," rengek Rina sambil mengamit tangan Entis.


"Di Kempinski ? " tanya Kania sambil menatap Rina, "Kalau kamar yang disewa sama Pak Gio kemarin aku liat datanya di meja Sherlly tuh sekamar 4 juta/malam," jawab Kania polos.


Rina langsung diam, Rina benar-benar penasaran seberapa kayanya Adipati, ada rada iri dihati Rina, kenapa Taca selalu mendapatkan sesuatu yang lebih dari dirinya.


"Mbak...pindah kekamar, yah.. saya mau bikin video bareng bridesmaid," ujar photografer sambil membenarkan lensa kameranya.


Dengan cepat Iis dan Kania mengandeng Taca menjauh dari Rina, Entis dan Ceu Ningsih, menjauh dari kejulidan mereka bertiga.


•••


"Kenapa loe ?" tanya Adipati sambil mengenakan Jas miliknya. Adipati membenarkan manset jasnya.


"Juan diam sambil melihat keluar jendela, "Gue kesel sama Iis.."


"Kenapa ?"


"Masa dia mangil si Rozak Kang, ke gue nama doang. Kan kesel yah." ujar Juan sambil menatap Adipati.


"Astaga, Ju. Taca aja manggil nama gue doang, gue baik-baik aja," ujar Adipati yang tidak habis pikir dengan pikiran sahabatnya itu.


"Tapi kan Taca ngak punya mantan, jangankan pacaran Taca tau semuanya dari elo..! Beda sama Iis yang pernah pacaran sama Rozak. Gue rada cemburu.."


"Hadeuh, loe tuh yah, semenjak pacaran sama Iis cemburuannya bener-bener diluar nalar. Ya udah emang lo mau dipanggil apaan ? BAPAK WIJAYA ?" tanya Adipati sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Tau lah, udah siap ?" tanya Juan sambil berjalan kearah pintu keluar.

__ADS_1


"Siaplah, lebih cepat lebih baik..!"


"Nafsu amat loe mau nikah," goda Juan pada Adipati.


"Iyahlah, susah tau ngajak Taca nikah banyak bener alesannya," ujar Adipati sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.


•••


"Mas..mas.."


Juan tetap berjalan tidak sadar ada yang memanggilnya. Tidak pernah ada yang memanggilnya Mas.


"Mas.. ihh... Mas Juan Wijaya.."


Juan langsung menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya lalu melihat Iis yang berjalan mendekatinya dengan bibir yang dikerucutkan.


"Mas ?"


"Iyah Mas. Kamu bilang aku ngak boleh manggil kamu nama doang. Ya udah aku panggil Mas. Atau mau aku panggil Kakek Juan ?" tanya Iis kesal sambil berjalan makin dekat lagi dengan Juan.


Juan yang baru saja mengantarkan Adipati untuk melakukan photoshoot untuk video pernikahannya langsung tersenyum. Dengan cepat Juan melihat kanan kirinya, setelah aman dia langsung memeluk Iis dengan erat.


"Panggil lagi.."


"Mas Juan.."


Juan langsung mencium kening Iis kemudian memeluknya lagi, "Panggil lagi, Yang.."


"Iya, Yang. Kenapa ?"


"Mas, mau ke Kempinski sekarang atau aku bareng Kang Rozak sama.."


"Kamu pokoknya perginya sama aku, ngak usah deket-deket Rozak. Udah sini sama aku aja.." ujar Juan sambil mengandeng tangan Iis kemudian membawanya berjalan ke arah tempat parkir.


"Iya, Mas.." jawab Iis cepat.


'Mas...' batin Juan bahagia mendengar panggilan Iis pada dirinya.


"Iis, Pak juan..." panggil seseorang dibelakang Juan dan Iis.


"Kania, Radi.." ujar Iis bingung kenapa si Radi ada disini. Rasa-rasanya Om Gio tidak mengundang Radi.


"Ngain lo disini ?" tanya Iis galak pada Radi.


"Dia bareng aku, Is.. dia plus one aku," ujar Kania sambil tersenyum pada Juan dan Iis.


"Awas yah, kalau kamu macem-macem atau punya maksud terselubung buat bikin ancur acara ini aku gebuk kamu pake sutil..!" ancam Iis pada Radi.


"Ngak lah.. ngapain aku kesini cuman mau ngasih selamat sama Taca," ujar Radi sambil memberikan senyuman misteriusnya.


Iis langsung memicingkan matanya tidak percaya dengan kata-kata Radi.


"Udah, ah. Iis sama Pak Juan mau langsung ke venue ?" tanya Kania dan langsung di jawab anggukkan oleh Iis dan Juan.

__ADS_1


"Oh, oke kalau gitu sampai ketemu disana yah, dadah.." ujar Kania sambil menarik tangan Radi menjauh Iis dan Juan.


Sepeninggalannya Kania dan Radi, Perasaan Iis tidak enak. "Mas, perasaan aku beneran ngak enak deh, Radi kaya mau bikin perkara."


"Udah, biarin aja Yang, bisa apa dia kalau Taca sama Adipati udah ijab kabul, mau di sangka Pebinor ?" ujar Juan.


•••


Radi diam menatap apartemen milik Adipati yang saat ini penuh dengan aktifitas, mulai dari orang yang mengurus lampu, kamera, makanan sampai air minum.


"Mau minum, Pak..." tawar Bi Yuli sambil melihat Radi yang sedang bengong menatap ruang tamu apartemen Adipati.


"Oh makasih, maaf Bi.. hmm Taca dimana yah ?" tanya Radi sambil melirik ke kanan dan kekiri.


"Neng Taca dikamarnya lagi siap-siap. Kalau Abah tuh lagi duduk disana," ujar Bi Yuli sambil menunjuk Abah yang sedang duduk menikmati secangkir kopi hangat sambil melihat pemandangan kota Jakarta.


"Abah ? Siapa Abah ?" tanya Radi bingung apa hubungannya Taca dengan orang bernama Abah.


"Abah itu bapaknya Neng Taca, Den," jawab Bi Yuli sambil memberikans segelas teh ke tangan Radi.


"Oh..." Radi mengambil cangkir dari tangan Bi Yuli, mengesap sedikit Teh milikknya. Tiba-tiba ada sebuat ide melintas di kepalanya.


'Mungkin, bisa dicoba' pikir Radi sambil tersenyum licik.


Dengan cepat Radi berjalan mendekati Abah yang sedang minum kopi.


Setelah sampai didepan Abah, Radi langsung mengenalkan dirinya, "Siang Om, kenalkan nama saya Radi, saya sahabat Taca di kampus, Om," ujar Radi sambil menyodorkan tangannya.


Abah menatap Radi sambil tersenyum kemudian menyambut tangan Radi "Oh, temannya Neng Taca ?"


"Iya, Om. Boleh saya duduk disini ?" tanya Radi sambil duduk didepan Abah.


"Duduk aja, ngapain minta izin kalau udah duduk, hadeuh.." jawab Abah sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Om. Ehm.. Om saya boleh bicara serius sama Om ?"


Abah menatap Radi dengan tatapan bingung. "Bicara apa ?" tanya Abah.


"Ini tentang Adipati, Om..."


•••


Ku tak sanggup... ohhh ku tak sanggup...!!!!!


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2