Water Teapot

Water Teapot
Poros hidup...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sehari setelah Taca keluar dari rumah sakit, Adipati mengajak Taca pergi.


"Amore.."


"Hmmm..." jawab Taca sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi.


Adipati yang sedang mengemudikan mobilnya hanya bisa memandang sekilas pada leher jengjang Taca, " Amore, kita ke rumah Papa yah, terus anterin aku kesuatu tempat, mau ?" tanya Adipati.


"Boleh, emang kita mau kemana," tanya Taca lagi.


"Mau ngenalin kamu sama seseorang yang paling aku sayang, Amore." ujar Adipati sambil mengelus rambut Taca.


"Siapa ?" tanya Taca penasaran.


"Liat aja nanti..."


"Kamu bukannya paling sayang sama aku yah ?" tanya Taca kepedean sambil menunjukkan gigi putihnya.


"Iya, aku paling sayang, cinta, nya..nya..nyaah sama kamu.." Adipati kesulitan mengucapkan kata nyaah, lidah Adipati masih sering keserimpet untuk mengucapkan bahasa Sunda.


"Hah... nyaah, kamu nyaah sama aku ?" tanya Taca kaget.


"Iya.."


"Tau kata itu dari mana ?" tanya Taca lagi.


"Abah, Abah pernah bilang kalo cuman cinta gampang ningalin, kalau nyaah udah ngak bisa ningalin lagi, apa yah kalau kata Abah nyaah itu diatas rasa cinta," ujar Adipati sambil menatap Taca dibalik kaca mata hitamnya.


Wajah Taca langsung memerah apa yang dikatakan Adipati benar, nyaah kata dalam bahasa sunda yang sebenarnya Taca tidak bisa jelaskan dengan kata-kata. Tapi ada kata-kata dari orang-orang ditempat Taca, kalau punya suami atau istri jangan cuman cinta aja, harus sampai tahapan nyaah...


"Hei..kok malah senyum-senyum sendiri." ujar Adipati pada Taca.


"Ngak, ngak papa, Di," ujar Taca sambil mencium pipi Adipati tiba-tiba.


"Haduh, kenapa ini Mrs. Berutti hobinya cium-cium udah ketularan mesum Mr. Berutti, Yah ?" Goda Adipati sambil mengusap rambut Taca.


•••


Adipati dan Taca sudah sampai dirumah Gio, Adipati memarkirkan mobilnya kemudian mengajak Taca masuk kedalam rumah.


"Wah, tumben Aden pulang," ujar Bi Rea sesaat melihat anak majikannya tersebut datang.


"Iya, Bi. Papa mana, apa dia di rumah kaca ?" tanya Adipati sambil memberikan buah-buahan untuk Gio pada Bi Rea.


"Iya Den, ada dirumah kaca, Ibu Taca apa kabar ?" tanya Bi rea sambil tersenyum.


"Baik, Bi Rea," ujar Taca sambil menyungingkan senyumnya.


Bi Rea bersyukur didalam hatinya karena Den Adipati bertunangan dengan Taca bukan Becca yang kemarin pernah bikin kepala Bi Rea pusing karena kelakuannya yang absurd.


"Yuk kita ketempat, Papa.."


"Dah, Bi Rea..."


•••


"Tenang aja, Bah... semua sudah diatur, pokoknya Abah tinggal datang, aja. Saya juga senang kalau dipercepat. Tenang pestanya nanti aja, yang penting sah dulu, kan..." Gio sedang mengobrol dengan Abah via sambungan telepon saat Taca dan Adipati masuk kedalam rumah kaca.


"Papa..."

__ADS_1


Gio langsung menatap sumber suara kemudian tersenyum saat melihat Adipati dan Taca masuk kedalam rumah kaca.


"Bah, si mesum udah datang sama Taca, nanti sambung lagi, yah," ucap Gio sambil memutuskan sambungannya.


"Abah ?" tanya Taca bingung


"Si mesum ?" Tanya Adipati.


"Hahahahaa... iya tadi Papa telepon Abah, ternyata kita punya selera musik yang sama, jadi sering telepon-teleponan."


"Terus si mesum itu siapa ?" tanya Adipati.


"Yah, kamu lah. Kamu itu orang paling mesum yang pernah Abah Taca kenal, katanya. Hahahaaa..." jawat Gio sambil tertawa renyah.


"Hadeuh... biarin aja aku mesum, aku mesumnya ke Taca kok..." rengek Adipati sambil melipat tangannya di dada.


"Hahahahaaa... ada apa kamu kesini ?" tanya Gio penasaran.


"Aku kesini sama Taca mau minta izin buat ketemu..."


"Boleh, pergilah. Kenalin Taca. Jangan lupa belikan sebuket mawar putih yah. Simpan disana dari Papa." ujar Gio sambil menahan tangisnya.


Taca keheranan melihat Gio yang biasanya ceria tiba-tiba berubah sedih bahkan sampai menahan air matanya.


"Papa kenapa ?" tanya Taca sambil merangkul badan Gio kemudian duduk disamping Gio.


Gio hanya bisa tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan Taca, kemudian menggenggam tangan calon menantunya tersebut. "Ngak, papa. Pergilah dengan Adipati, salam untuknya..."


Gio langsung berdiri dari duduknya kemudian berjalan meningalkan Taca dan Adipati. Entah kenapa Taca seperti melihat Gio berubah dari seorang lelaki sehat dan kuat, menjadi lelaki ringkih yang membutuhkan pegangan hidup.


"Di, Papa..."


"It's oke, Amore... Papa cuman masih sedih, waktu belum bisa membuat Papa ikhlas."


"Hah..."


Taca hanya bisa menuruti Adipati mengikuti langkahnya entah mau dibawa kemana.


•••


"Papa kenapa ?" tanya Taca pada Adipati sesaar mereka sudah membeli sebuket mawar putih extra besar, kemudian menyimpannya di belakang mobil.


Adipati hanya diam dan menjalankan mobilnya menembus rimba metropolitan Jakarta.


"Di... Papa..."


"Papa belum bisa nerima kematian Mama, Papa selalu menyalahkan dirinya atas kematian Mama," ujar Adipati sambil menatap lurus kedepan.


"Maaf, emang Mama meningal karena apa ?" tanya Taca takut-takut.


"Mama meninggal karena melahirkan adik aku, Amore. Usia mama sudah usia rawan, usianya 48 tahun pada saat itu. Saat itu Papa disuruh memilih menyelamatkan mama atau adik aku, Papa tidak bisa memilih. Dokter butuh keputusan cepat, tapi Papa tidak memberi jawaban sama sekali. Akhirnya Dokter tidak dapat menolong Adik aku ataupun Mama."


"...."


"Semenjak itu, Papa ngak pernah senyum, jarang tersenyum. Papa seperti menyalahkan dirinya sendiri. Atas kematian Mama dan Anye," ujar Adipati sambil mengusap paha Taca.


"Anye ?"


"Adik aku namanya Anyelir Berutti, Amore." ujar Adipati sambil membelokkan mobilnya ke komplek pemakaman San Diego Hills.


Taca diam selama perjalanan melihat ke kanan dan kekiri komplek pemakaman tersebut, tidak tampak seperti komplek pemakaman yang menyeramkan, malah tampak seperti taman.



Adipati menghentikan mobilnya dibagian pemakaman privat, kemudian mengambil buket mawar putih dibelakang mobilnya.

__ADS_1


"Ayo Amore, aku kenalkan sama Anye dan Mama..." ujar Adipati sambil membuka pintu mobil.


Taca keluar dengan cepat, kemudian berjalan disamping Adipati, Adipati langsung menggenggam tangan Taca sambil sesekali menggesekkan punggung tangan Taca ke pipinya.


Tak berapa lama Taca melihat dia buah pusara didepannya, pusara yang tampak cantik dan terawat. disana Taca melihat ada vas bunga mawar putih yang masih segar.


"Hmm.. Papa kemarin pasti kesini, Amore. Bunganya masih segar," ujar Adipati sambil menyimpam buket bunga mawar putih disana.


"Mawar putih ?"


"Bunga kesukaan Mama, mama suka mawar putih dan Anyelir," jawab Adipati sambil berjongkok di pusaran ibunya.


Taca mengekor dibelakang Adipati sambil mengusap punggung Adipati lembut.


"Mah.. hai.. gimana kabar Mama ? Kabar Adipati baik, Ma," ujar Adipati sambil menelan salivanya.


"Ma, Adipati mau mengenalkan Mama sama seseorang.." ujar Adipati sambil menarik tangan Taca.


"Namanya Taca Safina Trina, dia...dia...dia..." Adipati berjuang menahan tangisnya, rasa rindu pada Mamanya benar-benar menusuk tubuhnya.


"Di...sayang," pangil Taca sambil mengecup pelan punggung Adipati.


"Dia poros hidup aku, Mah..."ujar Adipati sambil menahan tangisnya, rasa rindu pada Mama Adipati membuat Adipati menangis.


Taca memeluk pinggang Adipati, memeluk lelaki yang akan menjadi suaminya. Lelaki yang akan mengambil alih tugas Abah untuk menjaganya. "Di..."


"Dia bakal jadi pendamping hidup aku, sampai aku menghembuskan napas aku, dia akan jadi ibu anak-anakku. Dia wanita sekuat, sebaik, semanis dan secantik Mama," ucap Adipati sambil menahan tangisnya berjuang mempertahankan intonasi suaranya.


Entah apa yang mendorong Taca, tapi tiba-tiba Taca mengusap nisan Mama Adipati, batu nisan tersebu bertulisan nama Rosse Berutti. Taca mengerti mengapa Mama Adipati sangat menyukai mawar.


"Mama, nama aku Taca. Aku bakal jaga anak Mama dan bakal menyayanginya mah. Mencintainya dan selalu merawatnya," ujar Taca


Adipati langsung menatap Taca, Taca kaget tiba-tiba mendapatkan ciuman di kedua mata, dahi, hidung, bibir, pipi dan rambutnya. Adipati menciumi seluruh wajah Taca dengan lembut.


"Di..."


"Makasih Amore, makasih kamu mau rawat aku, jangan pernah ningalin aku, jangan pernah tingalin aku, Amore aku mohon dengan sangat," mohon Adipati sambil memeluk Taca kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Taca.


Taca merasakan rasa basah di bahunya, Taca yakin Adipati menangis didalam diamnya, Taca langsung mengusap punggung Adipati kemudian menciumi rambut Adipati.


"Aku ngak bisa janji, Di."


Adipati langsung melepaskan pelukkannya saat mendengarkan jawaban Taca, "Maksud kamu ?"


"Tubuh, jiwa, raga, hati, rasa, semuanya milik kamu. Tapi napas dan nyawa aku milik tuhan. Aku bisa apa kalau tuhan sudah berkata aku harus pulang ?" tanya Taca sambil mencium kening Adipati.


Adipati menelan salivanya dengan kesusahan saat mendengar perkataan Taca. "Amore, jangan ngomong gitu, aku lebih baik mati dari pada lihat kamu mati, poros hidup aku kamu, Amore."


Taca diam, entah kenapa dia ingin bersikeras dengan pikirannya, tapi melihat raut wajah Adipati membuat lidah Taca kelu.


"Amore, mari menua bersama, kita hidup bersama selamanya. Jangan tingalin aku, aku janji dimakam Mama aku, aku akan selalu bersama kamu, setia sama kamu."


Taca menatap mata Adipati, mata biru dari lelaki miliknya. Ada tatapan penuh cinta disana. "Iya, Di..."


Adipati tersenyum kemudian memeluk Taca erat berharap semua perasaan cintanya bisa tersalurkan ke dalam tubuh Taca.


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2