
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Pikiran buruk benar-benar terus berlarian dipikiran Juan. Siapa!? Siapa yang berani menyentuh istrinya!?.
Tiba-tiba Juan merasakan sakit didadanya, astaga rasanya Juan ingin berteriak dan melempar semua barang yang ada disana. Berani-beraninya Iis selingkuh...!?
Siapa? Rozak atau siapa, Brengsek...! Siapa yang berani menyentuh istri...!?
Klik...
Juan membuka pintu dengan tatapan siap mencaci maki Iis, tapi semua itu langsung terhenti saat merasakan sesuatu mendarat diwajahnya.
Pluk...
“YANG...!” sentak Juan marah.
“M...as...” isak Iis dipojokan kamar mandi.
Juan kaget melihat Iis menangis dipojokan kamar mandi. Kenapa Istrinya?
“Kamu kenapa?” tanya Juan sambil melangkah mendekati Juan, tapi kakinya menendang sesuatu.
‘Apa itu?’ batin Juan sambil memungut bungkus plastik berwarna hitam dikakinya, di bacanya tulisan diplastik itu.
“Pembalut wanita...” bisik Juan bingung.
“Mas, aku sangka aku hamil ternyata nggak, aku tadi ternyata kram perut karena datang bulan,” isak Iis sambil mengusap air matanya.
“Hah...”
“Aku nggak hamil...! Aku sangka aku hamil, ternyata nggak. Aku kesel jadi aku lempar aja pembalutnya terus kena kamu,” pekik Iis kesal sambil mengambil bungkusan pembalut lainnya dan melemparkannya kesembarang arah.
Tiba-tiba Juan merasakan beban di tubuhnya terangkat. Napasnya kembali normal, senyuman merekah di wajahnya. Iis nggak hamil, Iis nggak selingkuh. Rasanya Juan ingin menari poco-poco mendengar perkataan Iis.
“Mas...” isak Iis yang kesal karena suaminya malah tersenyum bahagia melihat dirinya terpuruk sendirian mengetahui kalau dirinya tidak hamil.
“Iya Sayang, ya udahlah nggak papa kalau nggak hamil juga, aku sama keluarga aku juga nggak maksa ‘kan,” ujar Juan mencoba menenangkan Iis yang masih meratapi nasibnya.
“Tapikan aku ingin punya anak, emang kamu nggak mau punya anak?” sentak Iis sambil menatap Juan kesal.
Lidah Juan kelu, siapa yang tidak mau punya anak, dia sangat-sangat menginginkan memiliki anak. Sepertinya rumahnya bakal sangat semarak bila memiliki malaikat-malaikat mungil yang berlari-lari atau menggangu aktifitasnya setiap harinya. Tapi, argh... sepertinya dia harus di test kesuburan lagi dan berharap hasil test yang dulu terjadi kesalahan.
“Mas, jawab..!” jerit Iis kesal sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan miliknya.
“Mau Yang, aku juga mau punya anak. Tapi, kalau belum dikasih mau gimana? Mau kamu teriak-teriak juga kalau kata tuhan, nggak yah bakal nggak dikasih sama sekali, Yang,” jawab Juan pelan.
“Peluk...” pinta Iis manja sambil merentangkan tangannya meminta dipeluk oleh Juan.
Juan dengan cepat mendekati Iis kemudian duduk disampingnya. “Yang, anak itu ‘kan rezeki, kalau belum dikasih kita mau apa? Mending sekarang kita pacaran dulu aja. Katanya kalau punya anak bakal sulit pacarannya.”
__ADS_1
Iis langsung memeluk Juan dengan erat saat Juan sudah duduk disampingnya. Tiba-tiba seperti ada penerangan diotak Iis, “Apa aku mandul yah Mas?”
“Ohok...ohok...” entah bagaimana caranya Juan tiba-tiba keselek dengan salivanya sendiri saat mendengar perkataan Iis.
“Mas...kenapa?” tanya Iis bingung melihat Juan terbatuk-batuk.
“Nggak papa, nggak papa. Aku cuman kaget kamu mikir kaya gitu,” ujar Juan.
“Ya abis gimana dong, aku udah usaha, kamu juga. Tapi, nggak hamil-hamil, berarti aku yang sakit,” ujar Iis sambil menahan air matanya yang sudah siap berloncatan keluar dari matanya.
“UDAH...UDAH STOP...!” bentak Juan kesal.
Iis terkesiap melihat Juan membentaknya, Juan tidak pernah sekalipun membentaknya sama sekali. Tapi, kenapa sekarang dia membentak Iis.
“Denger, aku nggak mau anak..! Denger yah, aku nggak mau anak. Cukup nggak usah ngomongin anak lagi, cukup...!” teriak Juan kesal.
“Tapi....”
“Nggak ada tapi-tapi, aku nikah sama kamu, yah karena aku cinta sama kamu, udah stop. Aku nggak pernah dan nggak akan pernah nggangap kamu pabrik anak..!” teriak Juan sambil menguncang badan Iis kesal.
“Tapi...”
“Keluarga aku juga nggak maksa kamu buat ngasih aku keturunan ‘kan. Terus kenapa kamu kaya yang maksa diri buat hamil?” teriak Juan kesal.
“Mas aku takut.”
“Takut apa lagi?”
Juan kaget dengan perkataan Iis, astaga almarhum Ayah Iis benar-benar merusah jiwa dan pikiran Iis. Rasanya kalau Ayah masih hidup ingin sekali Juan pertanyakan kewarasannya, gara-gara membuang berlian demi batu kali.
“Itu Ayah kamu, Yang. Aku bukan Ayah kamu, aku nggak akan pernah punya pikiran kesana...!” ujar Juan frustasi, saking frustasinya Juan menarik-narik rambutnya dengan gemas.
“Sekarang kamu bisa bilang gitu, kalau aku tetep nggak punya anak aja. Kamu pasti...”
“Bibir nih yah, bibir... kalau ngomong dijaga!” sentak Juan sambil mencubit bibir Iis dengan gemas.
“Tapi....”
“Tapi apaan? Tapi apaan? Udah ah, pokoknya aku nggak mau denger kata anak, bayi, hamil, pokoknya aku nggak mau denger apapun juga. Cukup, bisa stress aku liat kamu kaya gini,” Juan langsung berdiri.
“Mas ... kalau aku sakit, kamu masih mau nerima?” tanya Iis lagi sambil mengusap air mata yang terus saja jatuh walau Iis tahan dengan susah payah.
‘AKU YANG SAKIT, YANG...!!!’ pekik Juan didalam hatinya.
Juan dengan kesal mendekati Iis kemudian mengangkat Iis dengan ala bridal style, kemudian membawa Iis keluar dari kamar mandi.
“Mas, mau kemana?” tanya Iis sambil terus mengusap air mata di matanya.
Juan tidak menjawab pertanyaan Iis, dengan cepat Juan duduk disofa dan memangku Iis di pahanya. Juan langsung mengambil handphonennya kemudian menelpon seseorang.
“Mas...”
Setelah beberapa lama, tampak wajah Mamih di handphonen Juan.
__ADS_1
“Mamih,” isak Iis sambil mengusap air matanya.
Jantung Mamih mencelos saat melihat Iis yang menangis sesenggukkan, astaga apa Iis bener selingkuh!?
“Mih.”
“Kenapa Juan,” ujar Mamih sambil berdoa didalam hati.
“Tolong kasih tau Iis, bilang ke Iis kalau....”
“Kalau apa?” potong Mamih cepat, badan Mamih bergetar, ketakutan langsung melanda diri Mamih, bagaimana ini kalau Iis selingkuh dan hamil, mau taruh dimana muka keluarga Wijaya.
“Kalau Mamih nggak butuh Cucu,” ujar Juan.
“Mas,” isak Iis sambil mengusap air mata dimatanya.
“Hah...” Mamih bingung dengan perkataan Juan.
“Mamih maaf, ternyata Iis nggak hamil. Tadi, itu Iis kram perut karena datang bulan. Maaf yah, Mih,” isak Iis sambil mengusap kedua matanya.
“Syukurlah....”
“Hah? Kok syukur Mih?” tanya Iis bingung, kenapa Mamih malah bersyukur Iis tidak hamil.
Juan langsung membulatkan matanya dan berkata tanpa suara pada Mamihnya ‘Biar Juan yang bilang’.
“Nggak maksud Mamih, nggak papa. Mamih sama Papih nggak maksa kamu sama sekali, pokoknya yang penting kamu sehat dan ngurus Juan, Mamih udah seneng banget, Iis,” ujar Mamih sambil tersenyum senang.
“Tapi....”
“Denger Iis, Mamih sama Papih tidak mengharap cucu kok, udah nikmatin aja yah,” potong Mamih pada Iis.
Iis bingung, kenapa Mamih dan Nenek sama sekali tidak mengharapkan cucu. Bukan, biasanya mertua yang lain akan sangat-sangat ribut bila mantunya belum hamil !?
“Oke Mamih makasih yah, nanti Juan hubungin Mamih lagi,” ujar Juan sambil menutup sambungan video callnya dengan Mamih.
“Liat, Mamih aja nggak maksa kamu hamil, Yang. Udah pokoknya aku nggak mau kamu pikirin kata orang,” ujar Juan sambil mengecup kedua mata Iis.
“Tapi, temen-temen aku....”
“Kalau temen-temen atau siapapun nanya kenapa kamu belum hamil. Bilang aja, aku yang nggak mau kamu hamil.” Juan memberikan solusi paling mujarab untuk membungkam mulut-mulut julid emak-emak atau siapapun itu yang demen banget ngurusin hidup orang.
“Iya,” jawab Iis, Iis mengalah pada Juan. Tapi, di hatinya saat ini dia benar-benar menginginkan seorang malaikat mungil. Mungkin, dia akan melakukan suntik hCG tanpa memberi tahu Juan.
•••
SIAPA YANG KECELE CUNG....!!!
hahahaaaaa....
Tak mungkin dunk, Kaka Gallon bikin Iis semenderita itu. Iis itu tokoh kesayangan Kaka Gallon 🙈🙈🙈
Dibawah ada kolom komentar kalau mau ngamuk boleh kok 🙈🙈🙈
__ADS_1