
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Tak henti-hentinya Iis melihat cincin dijarinya, rasanya hari-harinya lebih berwarna, Iis sebentar lagi akan punya seseorang yang akan selalu bersama dengan dirinya sampai nanti.
Iis punya tempat pulang.
Taca yang sudah mengetahui hal tersebut saat perjalanan pulang langsung memeluknya dengan erat, dan meminta Iis bercerita sedetail-detailnya. Ibu hamil satu itu sampai-sampai memaksa Iis untuk tidak tidur selama perjalanan pulang.
"Bu Lizbet," panggil seseorang dari pintu ruangan prakteknya.
"Iya..."
"Ini Bu, ada yang mau menemui Ibu, tapi dia belum punya janji sama Ibu," ujar orang tersebut.
"Oh ya, ngak papa suruh masuk aja," ujar Iis sambil membereskan berkas-berkas dihadapannya kemudian memasukkannya kedalam laci.
"Auntyyy...."
"Caca.." ujar Iis kaget melihat Caca.
"Iis..."
"Nenek Lia, astaga Nenek kok bisa disini," ujar Iis sambil tersenyum pada Nenek Lia.
"Kata Nenek, Nenek kangen aunty, jadi katanya mau kesini aja," celoteh Caca riang.
"Astaga, Nenek kan bisa aku yang kesana, nanti Nenek capek loh," ujar Iis sambil mendekati Nenek Lia kemudian mencium tangan Nenek Lia.
Nenek Lia tersenyum melihat prilaku Iis yang sangat santun. "Kamu bisa anterin saya belanja buat dirumah ?" tanya Nenek Lia.
"Bisa, Iis udah selesai kok, sama Caca juga ?" tanya Iis sambil mengendong Caca.
"Iya.. iya..." pekik Caca sambil memainkan rambut Iis.
"Oke let's go..." ujar Iis sambil berjalan dibelakang Nenek Lia.
•••
Selama diperjalanan Caca sangat antusias, semua benda Caca tunjuk dan ceritakan. Celotehannya benar-benar tidak berhenti sepanjang jalan.
"Ca, kamu semangat banget ngobrol sama Aunty Iis, biasanya kamu diem aja, sekarang lagi cerewet ini," ujar Nenek Lia.
"Masalahnya Uu aunty Iis itu baik, cantik lagi," ujar Caca.
"Iya, makanya kita jodohin Aunty Iis sama Uncle Dimas, gimana ?" ujara Nenek Lia sambil mengacungkan jempolnya.
"Nenek, aku udah tunangan Nek," ujar Iis sambil menunjukkan cincin di tangannya.
Nenek Lia langsung melihat cincin tersebut dengan kaget, cincinnya sangat mirip dengan cincin miliknya. "Cincin dari tunangan kamu ?"
"Iya, Nek. Dari tunangan aku, bagus ngak Nek ?" tanya Iis sambil tersipu-sipu.
Nenek Lia menatap Iis dengan tatapan penuh sayang, entah kenapa Nenek Iis menyukai Iis yang supel, ramah namun santun didepannya. "Bagus, Nak. Nenek juga punya, tapi udah Nenek kasih ke anak Nenek," ujar Nenek sambil mengusap kepala Iis.
"Oh, yah... Nenek dikasih sama siapa ?" tanya Iis penasaran.
Nenek Lia tersenyum kemudian menepuk paha Iis lembut, "Sama suami Nenek, dulu suami Nenek itu orang biasa, tapi ulet giat kerja keras dari muda. Nenek sama Kakek itu nikah ngak punya apa-apa Iis, nikah seadanya di KUA. Ngak mewah-mewah, terus Kakek janji sama Nenek kalau udah sukses bakal beliin cincin, nah cincin itulah yang dikasih."
"Sekarang cincinnya dimana Nek, biar kita bisa samaan," ucap Iis semangat sambil menatap Nenek.
"Ada di anak Nenek, buat cincin nikah dia sama istrinya." ujar Nenek Lia sambil tersenyum manis.
"Oh... ah jadi kaya cincin turun temurun gitu yah ?" tanya Iis.
"Iya, bisa dibilang, makanya kamu mending kembaliin cincin itu ketunangan kamu, terus tunangan sama Dimas, gimana ?" tanya Nenek Lia.
__ADS_1
Iis langsung tertawa kecil, "Ngak ah, biarin Dimas jadi jomblo ngenes."
"Hahahaaa... ya udah kalau ngak mau sama Dimas, mau sama cucu Nenek yang satu lagi ? Jomblo lapuk ?" Nenek Lia benar-benar berjuang keras untuk menbuat Iis menjadi bagian dari keluarganya.
"Ngak deh Nek, kata Nenek cucu Nenek yang satu lagi begajulan, ngak bisa diatur, nyebelin terus apa lagi Nek?" tanya Iis.
"Banyakan negatifnya sih kalau cucu Nenek yang pertama."
Iis langsung bergidik mendengar penjelasan Nenek Lia, Iis langsung membayangkan seorang lelaki tatoan, rambut gondrong, berotot dan memiliki Janggut panjang berwarna warni, tanpa sadar bulu kuduk Iis meremang.
"Kamu beneran ngak mau sama cucu nenek ?" tanya Nenek Lia lagi.
"Ngak Nek, makasih saya merasa cukup sama tunangan saya," jawab Iis tenang.
"Ya udah, kabarin Nenek kalau putus yah," ujar Nenek Lia sambil menepuk paha Iis pelan.
"Jangan sampai Nek," ujar Iis sambil memukul kepalanya pelan.
Setelah sampai disupermartket Nenek, Bu Surti, Caca dan Iis langsung mengambil barang-barang yang akan dibeli.
Ting
Suara notifikasi chat berbunyi dari handphone Iis.
-Ngapain kamu di Ranch Market ?-
Iis langsung tersenyum melihat Chat dari Juan, bukan Juan namanya kalau tidak bisa menemukan Iis kapanpun dan dimanapun.
"Siapa ?" tanya Nenek Lia saat melihat senyuman Iis yang merekah saat melihat layar handphonennya.
"Mas, tunangan aku, Nek," jawab Iis spontan sambil menatap Nenek Lia.
"Hadeuh, udah ini ngak ada harapan. Cinta mati kayanya kamu sama tunangan kamu," ujar Nenek Lia sambil mengambil Apel,
"Hehee.." Iis cuman bisa terkekeh.
Send
Ting...
-Sama Dimasnya ?!-
'Nah kan mulai deh cemburunya keluar' batin Iis sambil tersenyum lebar.
-Ngak cuman aku sama Nenek Lia doang-
Send
Ting..
-Awas kalau bohong, aku cari Dimasnya..!-
Dengan cepat Iis membalas Juan.
-Ngak bohong, udah jangan marah-marah, jemput aku aja nanti dibiro yah-
Send
Ting
-iya-
Oke fix Juan ngambek kalau cuman bales satu kata doang, Iis hanya tersenyum. Iis sudah tidak ketar ketir lagi kalau Juan ngambek sekarang.
"Aunty, Aunty mau beli ice cream ?" tanya Caca tiba-tiba.
"Iya, kamu mau ?" Iis menawari Caca.
"Mau, aku mau rasa pistachio almond," jawab Taca sambil mengapai-gapai ice cream diatasnya.
__ADS_1
"Bentar sama Aunty diambilin sayang, jangan loncat-loncat nanti jatuh," Iis langsung mengambilkan ice cream pilihan Caca kemudian memberikan pada Caca.
Iis langsung mengambil ice cream rasa Vanilla untuk menenangkan Juan.
"Kamu suka rasa Vanilla ?"
Iis langsung mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah sumber suara di sebelah kanannya.
"Eh.. kok kamu disini Dimas ?" tanya Iis kaget karena ada Dimas disana.
"Jemput Neneklah, aku kan cucu berbakti," canda Dimas sambil mengambil Ice cream rasa Jamoca Almond.
Iis dengan sopan mendorong tubuh Dimas agar menjauh. "Ya ampun berbhakti atau gara-gara ngak punya pacar jadi ngintilin Nenek mulu," canda Iis.
Dimas yang mengerti ketidaknyamanan Iis langsung mundur, memberikan ruang antara Iis dan dirinya.
"Hahahaa... dua duanya, berbhakti iya, ngak punya pacar juga iya," jawab Dimas.
"Ngak papa, Dimas. Jomblo itu bukan status..."
"Terus apaan ?" tanya Dimas penasaran.
"Tapi TAKDIR...!!!" canda Iis sambil tertawa renyah membuat Dimas mengerucutkan bibirnya.
"Jahat banget, awas aja aku doain kamu juga jomblo..."
Iis dengan cepat menunjukkan tangannya, Dimas langsung melihat cincin berlian disalah satu jari Iis.
"Maaf udah upgrade jadi tunangan," ujar Iis sambil tersenyum manis pada Dimas.
"Astaga, bener-bener kalah sebelum berjuang akutuh sama kamu, Iis," ujar Dimas sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Dimas mengakui semenjak bertemu Iis dia mulai suka memikirkan Iis, gadis manis yang supel dan bisa Dimas ajak ngobrol soal apapun. Sepertinya Dimas sedikit jatuh cinta pada Iis, tapi Dimas harus mundur, Iis benar-benar cinta mati pada pacarnya, eh maaf koreksi tunangannya.
"Iis, inget bulan depan Nenek ulang tahun, datang, yah. Sekalian bawa tunangan kamu, aku mau liat seganteng apa tunangan kamu tuh," ujar Dimas gemas
"Siapppp... awas minder nanti," canda Iis sambil menggendong Caca.
"Yang bisa bikin minder Uncle Dimas itu cuman Uncle Huang," ujar Caca sambil menatap Iis.
"Wah... kalau itu aku, nyerah..." ujar Dimas sambil berjalan disebelah Iis.
"Huang ?"
"Iyah, anak dari kakanya Papih, kalau itu tunangan kamu aku mundur, ngeri," ujar Dimas mengingat Abangnya yang satu itu.
"Hahahaa... tunangan aku baik kok, manis," jawab Iis.
Dimas hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Iis, ah seandainya Iis ngak punya tunangan....
•••
Siapakah huang ?
Apakah dia sejenis kh*ng huang ??
Hahahaaa...
Baca aja next chapternya...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1