
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Mata Iis masih terbuka lebar, semalaman setelah menangis dengan hebatnya dan dipeluk oleh Juan. Iis sama sekali tidak bisa tidur, matanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Juan berusaha sekuat tenaga untuk menahan kantuknya untuk mendengarkan celotehan Iis. Tapi, sayangnya Juan tidak bisa menahan kantuknya dan tertidur.
Iis mengerjapkan matanya berkali-kali, sebenarnya tubuhnya sangat-sangat lelah tapi entah kenapa dia sama sekali tidak bisa tidur. Iis berusaha melepaskan belitan tubuh Juan. Saat ini Iis makin ahli melepaskan diri dari belitan pelukkan suaminya.
Kringgg....kringg.....
Suara jam weker terdengar nyaring di nakas kasur Iis. Iis langsung mematikan jam weker tersebut. Tatapan matanya kosong.
“Yang...” panggil Juan yang sudah terbangun dari tidurnya karena suara jam weker yang sangat keras.
“Mas, udah bangun?” tanya Iis sambil mengelus rambut Juan.
“Udah, kamu tidur?” tanya Juan sambil menatap kantung mata diwajah Iis.
“Nggak, aku nggak bisa tidur,” jawab Iis sambil mengusap kedua matanya menggunakan tangannya.
“Astaga Yang, nanti kamu sakit Sayang,” ujar Juan sambil menarik badan Iis kemudian memeluknya. “Kamu kalau sakit gimana? Yang, kamu udah pemakanan Ayah, kamu tidur aja yah, aku mohon Yang, aku nggak mau kamu sakit. Kamu makan aja cuman masuk 3 sendok,” cerocos Juan sambil mengusap-usap punggung Iis.
“Iya nanti akau tidur,” ujar Iis.
“Ya udah, yuk mandi. Biar kita siap-siap, aku mau tanya Saka juga,” ujar Juan sambil mengendong Iis ala bridal.
“Mas aku bisa jal...”
“Nggak usah, kamu nanti jatoh lagi, udah sekalian aku mandiin aku suapin deh, aku nggak mau kamu sakit,” ujar Juan sambil berjalan kekamar mandi.
“Mas, inget mandiin doang, jangan minta aneh-aneh,” Iis mengingatkan suaminya yang kadang suka mencari kesempatan dalam kesempitan.
“Hahahaa... ya sedikit pegang kan bonus, Yang,” kelakar Juan.
“Mas...” ujar Iis sambil menatap Juan.
“Iya nggak bakal aneh-aneh,” janji Juan sambil menutup pintu kamar mandi.
•••
Hampir semua prosesi pemakaman sudah dilakukan. Selama prosesi berlangsung Iis benar-benar tegar dan tidak menitikkan air mata sama sekali. Semua orang disekitar Iis hanya mengatakan sabar dan memberikan doa-doa terbaik untuk Ayah Iis.
Iis benar-benar diam dan menatap kosong kedepan. Rasanya air mata Iis sudah habis, berkali-kali Taca bertanya apa Iis baik-baik saja dan berkali-kali juga Iis menjawab kalau dia baik-baik saja.
__ADS_1
“Iis kamu nggak apa-apa?” tanya Taca saat jasad Ayahnya diturunkan secara perlahan diliang lahat.
“Nggak papa Taca,” jawab Iis tegar.
Dilihatnya mata suaminya yang dengan ikhlas turun ke liang lahat untuk membantu proses penguburan, disebelahnya ada Rozak dan Riki.
Sedikit demi sedikit tanah diturunkan ke liang lahat. Sedikit demi sedikit...
Sedikit...
Tiba-tiba Iis merasakan perasaan remuk saat melihat tanah mulai menutupi liang lahat. Astaga, tubuh Iis tiba-tiba lunglai, kakinya tidak bisa menahan beban tubuhnya lagi, Iis hampir ambruk. Untungnya Taca dibantu Adipati dapat menahan beban Iis.
“Iis...” panggil Taca lembut.
Iis menatap Taca, tiba-tiba napasnya sesak, jantungnya berdetak lebih cepat dari bisanya. Badannya bergetar hebat saking kuatnya Iis menahan tangisnya.
Oke... Anggap ini lebay. Tapi, entah kenapa saat melihat tubuh Ayah yang sudah masuk liang lahat dan menghilang tertutup tanah, ada perasaan yang menggerus Iis, ada perasaan ah... ini akhirnya, ini akhirnya dia tidak akan lagi bertemu dengan Ayahnya. Ini akhirnya....
‘Tuhan.... ampuni semua dosa Ayahnya, lindungilah dia, sayangilah dia, tempatkan lah dia ditempat yang paling indah. Ampuni dia....’batin Iis sambil menutup mulutnya menahan tangis yang mencoba melesak keluar dari mulutnya.
Kaki Iis yang sudah tidak mampu menompang tubuhnya membuat Iis terjatuh dengan sempurna ditanah, berlutut sambil menatap liang lahat Ayahnya. Matanya bertabrakan dengan tatapan mata Juan.
“Mas...”
“Iya,” cicit Iis sambil berjuang menahan tangis dan menelan salivanya. Iis langsung merasakan pelukkan dari Taca yang tiba-tiba sudah berlutut disebelahnya.
•••
Iis hari itu benar-benar tegar, Iis hanya tersenyum lemah pada orang-orang yang berbela sungkawa pada dirinya. Juan tidak pernah melepaskan Iis dari pelukkannya, sedangkan Taca bulak balik membawakan minum dan mengurus acara pengajian yang akan dilangsungkan di rumah Iis.
Iis hanya bisa menggenggam tangan Juan, entah bagaimana ceritanya akhirnya Iis dan Juan berkomunikasi lewat genggaman. Seperti mendapatkan kekuatan dari Juan Iis selalu tersenyum pada semua orang, walau senyum yang diberikan oleh Iis hanya senyuman lemah.
Bernard duduk disamping Iis sambil menangis di bahu Iis. Tanggis Bernard terdengar sangat lirih di kuping Iis. Iis berkali-kali menepuk paha Bernard.
“Kamu kuat Bernard, ada Teteh disini, ada Mas Juan juga. Nggak usah sedih yah,” ucap Iis sambil menatap mata Bernard.
“Iya, Teh,” ujar Bernard sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan kecilnya.
•••
Para pelayat yang berbelasungkawa sudah pulang, Taca dan Adipati sudah pamit pulang. Bernard sudah tidur dikamarnya. Rumah Iis benar-benar kosong.
Iis duduk diruang tamu sambil menghela napas, berusaha untuk tidak menangis lagi. Rasanya Iis sudah capek menangis. Diliriknya peci hitam yang selalu Ayah pakai setiap harinya. Digenggamnya peci milik Ayah, diciumnya peci itu, dengan cepat wangi khas milik Ayah tercium dengan cepat oleh Iis.
“Yah, Ayah udah ngak sakit lagi ‘kan. Ayah udah ketemu Ibu ‘kan?” monolog Iis sambil menatap peci milik Ayahnya.
__ADS_1
“Ayah...” cicit Iis sambil memeluk peci milik Ayahnya. Iis benar-benar memeluk tubuhnya sendiri.
“Yang...” panggil Juan sambil berjongkok dihadapan Iis.
“Mas...”
“Udah Sayang, udah yah. Ayah udah tenang disana,” ujar Juan.
Iis tersenyum sambil menatap Juan. “Mas, aku cuman bingung...”
“Bingung kenapa?” tanya Juan.
“Aku sekarang sendiri, aku nggak punya siapa-siapa. Aku sendirian, Mas. Aku udah nggak punya Ayah dan Ibu. Aku yatim piatu,” ujar Iis sambil mengigit bagian bawah bibirnya, menahan air matanya yang sudah mulai berusaha meloncat keluar.
“Aku anak tunggal, aku nggak punya adik, aku nggak punya kakak. Aku sendirian Mas.”
“....”
“Aku sendirian hidup didunia ini, aku nggak punya siapa-siapa,” ujar Iisa.
“Kata siapa?” tanya Juan sambil mengambil tangan Iis kemudian mencium tangan Iis.
“Kata aku, aku sendirian Mas. Kalau ada apa-apa sama aku, siapa yang bakal nyari aku? Aku bener-bener nggak punya orang tua lagi, aku yatim piatu, Mas,” cicit Iis sambil mencium pucuk rambut Juan.
“Ngaco kamu, Yang,” ujar Juan sambil mengelus pipi Iis.
“Tapi aku sendirian Mas...”
“Kamu nggak sendirian, kamu punya aku...”
Detik itu juga tanggul air mata milik Iis jebol, Iis langsung memeluk Juan dan menagis sekencang-kencangnya.
Tuhan telah membawa seoarang lelaki yang sudah mengurus dan merawatnya dari kecil. Namun, tuhan telah memberikan gantinya. Seorang lelaki yang sudah menjadi suaminya, yang akan merawatnya dan menemaninya sampai akhir hayatnya. Tuhan memang baik...
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1